Bandung, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus pelopor dan unggul dalam mencetak pendidik profesional melalui kegiatan Pengambilan Sumpah Profesi Guru bagi Lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 2 Tahun 2025. Acara ini berlangsung pada 25 November 2025 di Gymnasium UPI, bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional.

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 400-an lulusan PPG dari berbagai bidang studi ini menjadi momentum penting dalam perjalanan mereka sebagai calon pendidik profesional. Pengambilan sumpah dilaksanakan sesuai agama dan keyakinan masing-masing lulusan, disaksikan oleh pimpinan universitas, dosen, rohaniwan, serta tamu undangan.

Dalam kesempatan tersebut, UPI kembali menunjukkan perannya sebagai institusi yang konsisten menghadirkan pendidikan berkualitas dan berkomitmen mencetak guru-guru yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas serta siap mengabdi di seluruh pelosok Indonesia. Melalui PPG, UPI memberikan pembinaan akademik, praktik mengajar, dan penguatan karakter yang selaras dengan tuntutan profesi guru di era modern.

Sebagai kampus yang memiliki sejarah panjang dalam pendidikan guru, UPI kembali menegaskan bahwa PPG Prajabatan merupakan jalur penting dalam menyiapkan generasi pendidik masa depan. Lulusan PPG akan menerima ijazah profesi bergelar “Gr” (Guru), yang melengkapi gelar akademik sarjana mereka.

Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukiadi, M.A., menegaskan bahwa proses pendidikan profesi ini merupakan fondasi penting sebelum para calon pendidik memasuki dunia kerja.

“Setelah menyelesaikan S1, mereka kemudian menempuh PPG. Setelah itu, barulah mereka mendapatkan ijazah guru profesional. Selanjutnya mereka tinggal menunggu rekrutmen guru, baik ASN maupun non-ASN sesuai prosedur,” jelasnya.

Dalam penjelasannya, Rektor UPI mengungkap isu yang lebih luas: meskipun kebutuhan guru sangat besar di berbagai daerah, anggaran pemerintah untuk pengangkatan ASN/P3K masih terbatas. Dari perspektif pendidikan nasional, hal ini menunjukkan adanya gap struktural antara kebutuhan lapangan dan kapasitas negara. Lulusan PPG yang sudah memiliki kompetensi profesional berada pada posisi strategis, tetapi membutuhkan kebijakan yang presisi agar keahlian mereka terserap optimal untuk menjawab kekurangan guru di daerah.

Adanya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), Rektor UPI menegaskan bahwa guru tetap memiliki peran unik dan tidak dapat digantikan.

“AI bisa belajar, tetapi tergantung siapa yang melatihnya. Manusia punya empati, kasih sayang, kreativitas, hal-hal yang tidak dimiliki mesin,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya CPD (Continuous Professional Development) atau pembelajaran sepanjang hayat. Dengan berbagai platform belajar seperti melalui MOOC UPI di wajar.id, guru masa kini harus terus memperbarui kompetensinya secara mandiri.

Prof. Didi menegaskan bahwa menjadi guru adalah panggilan hati dan komitmen seumur hidup. Guru, menurutnya, adalah fondasi peradaban dan masa depan bangsa. Karena itu, UPI terus mengembangkan sistem pendidikan profesi yang adaptif, relevan, dan berdaya saing, sehingga lulusan PPG mampu menjadi agen perubahan di tengah tantangan global saat ini.

Acara juga diisi dengan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada perwakilan lulusan dari setiap fakultas, serta persembahan lagu “Himne Guru” sebagai bentuk penghormatan atas jasa para pendidik. Momentum ini semakin bermakna karena dilaksanakan tepat pada Hari Guru Nasional, menghadirkan suasana haru, bangga, dan syukur dari para lulusan, orang tua, dan sivitas UPI.

Di akhir acara, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia menyampaikan ucapan selamat Hari Guru, sebagai bentuk penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh guru di Indonesia yang telah mengabdikan diri bagi pendidikan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional. Terima kasih kepada seluruh guru Indonesia atas dedikasi dan pengabdiannya. Semoga para lulusan PPG hari ini dapat meneruskan semangat dan perjuangan mulia para guru pendahulu,” ujar Prof. Didi. (CS)