Sumedang, UPI — Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak generasi muda mencari jawaban tentang agama lewat gawai di tangan mereka. Namun, tidak semua jawaban yang ditemukan di ruang digital memiliki dasar keilmuan yang kuat. Di sinilah kegelisahan Dr. Tedi Supriyadi, S.HI., M.Ag. bermula—seorang dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang yang melihat jarak semakin lebar antara khazanah keilmuan Islam klasik dan cara belajar generasi digital hari ini.

Literatur keislaman sangat kaya, tetapi tidak selalu mudah diakses atau dipahami oleh mahasiswa. Kitab-kitab rujukan yang selama berabad-abad menjadi fondasi keilmuan Islam kerap terasa jauh dari keseharian mahasiswa yang terbiasa dengan pencarian instan dan interaksi cepat.

Kegelisahan itu kemudian melahirkan sebuah gagasan: bagaimana jika literatur Islam klasik dapat diakses melalui teknologi yang akrab dengan generasi muda?

Ketika AI Bertemu Literasi Keagamaan

Gagasan tersebut diawali melalui proposal penelitian berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Literasi Keagamaan: Integrasi Interaksi Chatbot dan Maktabah Syamilah bagi Pendidikan Islam yang Transformatif”. Proposal ini mengantarkan Dr. Tedi Supriyadi sebagai Penerima Hibah Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition – The Impact Rankings) UPI Tahun 2025.

Melalui riset ini, Dr. Tedi akan mengembangkan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi langsung dengan Maktabah Syamilah, salah satu perpustakaan digital Islam terbesar di dunia. Integrasi ini memungkinkan pengguna—terutama mahasiswa—berinteraksi secara dialogis dengan sumber rujukan keagamaan yang kredibel, bukan sekadar membaca teks panjang tanpa panduan.

Alih-alih menggantikan peran dosen, chatbot ini dirancang sebagai pendamping belajar. Mahasiswa dapat bertanya, menelusuri konsep, hingga memperoleh rujukan kitab secara cepat dan terstruktur. Teknologi menjadi jembatan, bukan pengganti, antara tradisi keilmuan dan kebutuhan zaman.

Pendidikan Agama yang Lebih Inklusif

Lebih dari sekadar inovasi teknologi, proyek ini membawa dampak sosial yang nyata. Literasi keagamaan tidak lagi terbatas pada mereka yang memiliki akses fisik ke kitab atau kemampuan membaca teks Arab tingkat lanjut. Dengan bantuan AI, proses belajar menjadi lebih inklusif, interaktif, dan adaptif.

Bagi mahasiswa Kampus UPI di Sumedang, inovasi ini membuka akses yang lebih luas terhadap sumber keilmuan Islam yang otoritatif. Di tengah maraknya informasi keagamaan yang tidak terverifikasi di media sosial, kehadiran sistem berbasis AI yang terhubung langsung dengan rujukan klasik menjadi alternatif yang menenangkan sekaligus mendidik.

Kontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Inovasi ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Dengan memanfaatkan teknologi digital, proyek ini mendorong pembelajaran sepanjang hayat yang lebih merata dan relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui implementasi di lingkungan UPI, riset ini memperkuat posisi universitas sebagai institusi yang tidak hanya mengejar pengakuan global, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang transformatif. Pendidikan agama tidak lagi diposisikan sebagai disiplin yang tertinggal dari teknologi, melainkan sebagai bidang yang mampu berdialog dan tumbuh bersama inovasi.

Menyongsong Era Baru Pembelajaran Agama

Bagi Dr. Tedi Supriyadi, hibah EQUITY 2025 bukanlah garis akhir. Ia memandangnya sebagai langkah awal untuk membangun ekosistem pembelajaran agama yang lebih relevan, kritis, dan membumi di era digital.

Di ruang kelas dan layar gawai, chatbot itu kelak akan menjadi saksi perubahan cara belajar—bahwa memahami agama tidak harus terpisah dari kemajuan teknologi. Dari Sumedang, sebuah upaya kecil tengah bergerak: menyambungkan warisan keilmuan Islam dengan masa depan pendidikan digital, agar literasi agama tetap hidup, relevan, dan memberi arah di tengah perubahan zaman. (RK)