Bandung, UPI

Direktorat Sistem Teknologi Informasi dan Pusat Data (DSTI PD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkolaborasi dengan raksasa teknologi dunia, NVIDIA dan MSI, menyelenggarakan seminar bertajuk “NVIDIA Powers the World’s AI & Yours”. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor UPI Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Tri Indri Handini, M.Pd ini berlangsung di Auditorium JICA FPMIPA, Kampus UPI, Bandung, Senin (23/2).

Seminar ini bertujuan membangun sinergi strategis antara industri teknologi global dengan dunia akademik. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembelajaran berbasis teknologi masa depan, sekaligus mendorong mahasiswa dan dosen UPI untuk mengembangkan riset inovatif di bidang Artificial Intelligence (AI), machine learning, data science, hingga high-performance computing.

Direktur DSTI PD UPI, Dr. Cepi Riyana, M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan NVIDIA dan MSI sebagai mitra didasarkan pada posisi kedua perusahaan tersebut sebagai pemimpin pasar dalam perangkat keras pendukung AI, terutama teknologi GPU (Graphic Processing Unit).

“Kami mengemas seminar ini untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pemanfaatan AI dalam dua aspek utama: akademik dan karier. Dengan bantuan AI, mahasiswa diharapkan dapat belajar lebih produktif, berkualitas, bahkan mempercepat masa studi mereka,” ujar Cepi di sela kegiatan.

Lebih lanjut, Cepi menekankan bahwa wawasan dari para praktisi industri sangat krusial bagi mahasiswa agar mereka memiliki proyeksi dunia kerja setelah lulus. Melalui pengalaman para pakar yang sudah malang melintang di industri, mahasiswa diajak untuk melihat bagaimana AI diaplikasikan secara nyata di berbagai bidang pekerjaan.

Selain sisi teknis, seminar ini juga menyoroti aspek etika penggunaan AI. Dr. Cepi mengungkapkan bahwa UPI saat ini tengah menggodok regulasi yang lebih luas terkait penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan kampus.

“Aturan ini harus mengikat, idealnya di level Peraturan Rektor. Saat ini aturan AI di UPI sudah ada, namun masih terbatas pada pedoman penulisan karya ilmiah. Tantangan kita ke depan adalah menyusun regulasi yang mencakup publikasi, pengurusan hak paten, hingga penggunaan AI di berbagai disiplin ilmu yang beragam,” tambahnya.

Bagi calon pendidik di UPI, kehadiran AI dipandang sebagai alat bantu yang revolusioner. Dr. Cepi menjelaskan bahwa AI dapat membantu guru dalam merencanakan pembelajaran, membuat media ajar berbasis gambar, animasi, hingga video yang lebih imersif, serta mempermudah evaluasi pembelajaran.

Meski implementasinya berbeda-beda di setiap program studi, seperti perbedaan kebutuhan antara bidang Arsitektur, Matematika, Fisika, hingga Seni, pihak universitas sepakat bahwa penggunaan AI kini tidak lagi bisa dihindari.

“AI akan sangat membantu mewujudkan kebutuhan pembelajaran yang lebih kaya konten dan hemat waktu. Di masa sekarang, penguasaan terhadap teknologi ini menjadi sebuah keharusan bagi seluruh program studi,” pungkas Cepi. (DN)