Bandung, UPI

Menanggapi dampak masif banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera pada akhir 2025 lalu, Dr. Eng. Beta Paramita, dosen Arsitektur FPTI Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menginisiasi inovasi Cool Shelter. Sebanyak 10 unit hunian sementara (huntara) dibangun di Kabupaten Aceh Timur sebagai solusi hunian layak bagi warga terdampak bencana.

Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini menyasar lima desa di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yakni Desa Simpang Tiga, Meunasah Blang, Tanjong Dalam, Geudumbak, dan Grong-Grong. Hingga Maret 2026, lima unit pertama telah selesai dibangun dan mulai dihuni, sementara lima unit lainnya sedang dalam proses penyelesaian menggunakan sistem prefabrikasi (Prefab System).

Cool Shelter merupakan pengembangan dari program Cool House RAFLESIA (Rumah Reflektif Surya Indonesia), sebuah model hunian rendah karbon yang telah diterapkan pada lebih dari 70 unit rumah di berbagai provinsi sejak 2024.

“Pengalaman kami dalam merenovasi rumah tidak layak huni dengan teknologi reflektif menjadi dasar pengembangan Cool Shelter. Ini bukan sekadar tempat mengungsi, tapi hunian yang melindungi kesehatan fisik dan kenyamanan termal para penyintas,” ujar Dr. Beta Paramita.

Dirancang khusus untuk wilayah rawan air, Cool Shelter menggunakan sistem rumah panggung guna meminimalisir risiko genangan. Berikut adalah spesifikasi utama bangunan Dimensi & Kapasitas: Berukuran 4 × 12 meter (48 m²), satu unit mampu menampung 30 hingga 36 orang dalam kondisi darurat. Struktur: Menggunakan rangka baja ringan dengan pondasi umpak yang adaptif terhadap kontur tanah basah. Elevasi: Bangunan ditinggikan minimal 60 cm dari permukaan tanah untuk mencegah air masuk dan menjaga sirkulasi udara. Ketahanan: Material modular memudahkan mobilisasi dan bongkar-pasang, dengan estimasi umur bangunan mencapai 5 hingga 10 tahun.

Salah satu keunggulan utama Cool Shelter adalah penggunaan material reflektif surya dari cat BeCool® pada atap dan dinding luar. Teknologi ini berfungsi memantulkan panas matahari sehingga suhu di dalam ruangan tetap sejuk meski tanpa pendingin ruangan mekanis.

Sistem ventilasi silang juga diterapkan untuk memastikan aliran udara alami yang optimal. Hal ini sangat krusial untuk menjaga kualitas udara dan kesehatan pengungsi, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, di tengah kondisi pascabencana yang lembap.

Melalui kolaborasi lintas pihak ini, UPI menunjukkan bahwa inovasi akademik dapat menjadi solusi konkret dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologi di Indonesia. (DN)