
Bandung, UPI
Hilirisasi riset di perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar berakhir di jurnal ilmiah, melainkan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Dr. Eng. Beta Paramita, dosen sekaligus peneliti Arsitektur FPTI Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sukses menghadirkan Program RAFLESIA sebagai solusi hunian layak, murah, dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Hingga penghujung tahun 2025, lebih dari 70 unit rumah telah dibangun dan tersebar di enam provinsi, mencakup Aceh, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi bangunan tinggi dapat diadaptasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara nyata.
RAFLESIA merupakan pengembangan riset lanjutan dari material cat reflektif surya buatan dalam negeri. Teknologi ini bukan sekadar pelapis, melainkan bagian dari strategi desain rumah terintegrasi untuk menghadapi iklim tropis.
“RAFLESIA dirancang untuk menyediakan hunian yang aman dan sehat. Dengan memanfaatkan ventilasi alami serta material ringan yang efisien energi, kita dapat menekan biaya konstruksi sekaligus mengurangi beban tagihan listrik rumah tangga dalam jangka panjang,” ujar Dr. Beta.
Didjelaskan Beta Paramita Pengembangan hunian RAFLESIA memanfaatkan hasil riset tersebut dalam skala sistem bangunan, sehingga teknologi pendinginan pasif tidak hanya diaplikasikan sebagai produk material, tetapi sebagai bagian dari strategi desain rumah yang terintegrasi.

Menurutnya secara substansi, RAFLESIA dikembangkan untuk menyediakan hunian yang aman, sehat, dan adaptif terhadap kondisi iklim tropis. Perancangan rumah mempertimbangkan ventilasi alami, pencahayaan optimal, serta penggunaan material ringan dan efisien energi. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya konstruksi, tetapi juga mengurangi beban konsumsi energi rumah tangga dalam jangka panjang. Prinsip tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan serta mitigasi perubahan iklim yang menjadi prioritas nasional.
“Keberhasilan program ini tidak lepas dari model kolaborasi multipihak yang melibatkan industri material bangunan, tim teknis arsitektur, dan partisipasi aktif warga setempat. Proses ini menciptakan transfer pengetahuan, sehingga warga memiliki kapasitas untuk merawat dan memahami kemandirian energi di hunian mereka”, kata Beta Paramita.
Dari sisi kesehatan, keluarga yang menghuni rumah RAFLESIA melaporkan penurunan risiko penyakit akibat kelembapan dan panas berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa rumah yang sehat berdampak langsung pada peningkatan produktivitas keluarga.
Memasuki tahun 2026, Program RAFLESIA dijadwalkan akan memperluas jangkauannya ke kota-kota lain di Indonesia. Fokus utama tetap pada inovasi teknologi tepat guna dan efisiensi biaya guna menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan perumahan nasional.
Kontribusi nyata dari Dr. Eng. Beta Paramita melalui RAFLESIA menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak pembangunan nasional yang sistematis dan berintegritas. (DN)

