
Dinn Wahyudin
Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
Titimangsa 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah atau bertepatan dengan 13 Maret 624 Masehi. Bulan Ramadan pertama telah dipilih oleh Allah SWT dengan terjadinya peristiwa penting. Yaitu terjadi Perang Badar yang sangat heroik. Peperangan antara kaum Muslimin dan kaum jahiliyah terjadi di pertengahan bulan Ramadan tahun 2 H. Perang ini merupakan pertempuran besar pertama antara kaum Muslim dari Madinah yang dipimpin oleh Kangjeng Rosululloh melawan kaum Quraisy dari Makkah. Perang Badar inilah menjadi penciri bermulanya keruntuhan jahiliah dan tertegaknya syiar Islam melalui kalimah Allah.
Tampaknya api semangat Badar pada pasca Ramadan ini masih relevan untuk terus dipompakan pada masa kini. Barakan terus semangat Badar. Bara spirit Badar yang menjadi penciri Idul Fitri pertama lebih dari 14 abad lalu, tampaknya masih relevan untuk terus dipompakan pada masa kini. Paling tidak, ada lima hal penting mengapa semangat Badar masih relevan untuk terus dikembangkan. Nyalakan terus semangat Badar, sampai sekarang dan di masa yang akan datang.
Pertama, membarakan spirit Badar pasca Idul Fitri merupakan komitmen diri sebagai hamba Allah untuk terus berupaya kembali ke fitrah. Kembali ke fitrah adalah konsep yang erat kaitannya dengan Idul Fitri. Setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah di bulan Ramadan, umat Islam diingatkan untuk kembali ke keadaan yang suci, bersih, dan penuh ketakwaan. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi mendalam untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Berhamba secara sungguh sungguh kepada Sang Kholik guna melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi semua yang dilarangNya. Kembali ke Fitrah memiliki makna kembali ke kemurnian, kesucian, kembali ke asal, visi misi lahirnya ke dunia, dan tentang bekal apa setelah meninggal dunia.
Kedua, membarakan spirit Badar memiliki makna untuk terus meningkatkan semangat fiisabilillah (berkhidmat di jalan Allah) dan menguatkan prilaku mujahid (berjuang di jalan Allah). Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam perang Badar merupakan kombinasi sempurna antara spiritual tinggi, strategi taktis, dan kemanusiaan. Rosululloh memimpin dengan contoh, musyawarah, dan ketergantungan penuh kepada Allah, mengubah pasukan kecil yang kurang siap menjadi pemenang melawan kafir Quraisy. Dalam konteks saat ini, semangat Badar memiliki untuk siap “berperang” melawan kebodohan dan keterbelakangan. Berprilaku mujahid dengan berupaya keras mempertahankan tauhid, kebenaran dan konsisten melawan kebathilan dan berjuang di jalan Allah.
Ketiga, membarakan spirit Badar merupakan esensi betapa kolaborasi dan kerjasama harmonis antar masyarakat untuk tetap terpelihara. Spirit Badar telah dicontohkan Rosulullloh kepada para sahabat untuk kompak, tawakal dan tetap tangguh dalam memenangkan suatu pertempuran melawan kebathilan, kekufuran, dan ketidakadilan. Kolaborasi atau ta’awun (saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan). Spirit Badar adalah energi diri yang luar biasa untuk berkomitmen melawan kebathilan. Dalam perspektif global, spirit Idul fitri yang bercirikan peduli terhadap sesama, merupakan fondasi tumbuhnya kewargaan global (global citizenship) yang dilandasi oleh kepedulian sesama, saling hormat menghormati, dalam merawat warga dunia yang damai, sejahtera lahir batin.
Keempat, membarakan terus spirit Badar diyakini sebagai refleksi berserah diri kepada Sang Kholik disertai dengan bekerja keras dan belajar keras. Berserah diri (tawakkal) dan belajar keras (berusaha) adalah dua hal yang saling melengkapi, bukan bertentangan. Berserah diri setelah berusaha adalah kunci kesuksesan dan ketenangan hati. Dalam Al Quran Surah At Talaq 3, Allah SWT berfirman, Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.
Kelima, dalam konteks kekinian, menjaga marwah spirit Badar adalah arti lain memelihara komitmen diri untuk terus menguatkan iman, takwa, dan ikhtiar. Yaitu berupaya menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa. Spirit badar kekinian merupakan komitmen untuk maju bersama dan memberi kemaslahatan bersama. Spirit Badar adalah komitmen diri menjadi pembelajar sejati. A long live learner yang memberi maslahat untuk umat. Rahmatan lil Alamin. Islam memberi rahmat untuk Alam semesta.
Dalam konteks di atas, esensi dalam memaknai spirit Badar dalam pesan Idul Fitri, bukan sebatas pada pengungkapan rasa gembira karena berkesempatan berkumpul dengan keluarga, dan bisa saling memaafkan dengan handai taulan dan sesama. Spirit badar dan Idul Fitri juga mengekspresikan apa yang disebut dengan takaaful ijtimaa’i atau ibadah sosial. Yaitu memelihara rasa peduli terhadap nasib orang lain. Makna spirit Badar pasca Idul fitri adalah bagaimana umat Islam, secara individu ataupun kelompok bergotong royong dan sabilulungan untuk terus mengedapankan kebersamaan atau ta’awun untuk saing membantu dan peduli dengan sesama.

