
Bandung, UPI
Menjadi guru atau matematikawan seringkali diibaratkan seperti orang buta di dalam ruangan gelap yang mencari seekor kucing hitam, yang sebenarnya tidak ada di sana. Metafora unik ini disampaikan oleh Prof. Dr. Jarnawi Afgani Dahlan, M.Kes., dalam orasi pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kamis, (7/5).
Dalam acara yang digelar di Gedung Achmad Sanusi UPI tersebut, Prof. Jarnawi resmi dikukuhkan sebagai pakar dalam bidang Model, Strategi, Metode, dan Pendekatan dalam Pembelajaran Matematika pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA).
Sementara itu, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengukuhkan 14 Guru Besar yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 7–8 Mei 202., Pada hari pertama, sebanyak delapan Guru Besar dikukuhkan, sementara enam lainnya dijadwalkan dikukuhkan pada hari kedua.
Menurut Prof. Jarnawi, kesulitan siswa dalam memahami matematika seringkali bukan karena materinya yang mustahil, melainkan karena cara penyajiannya. Ia menekankan bahwa menguasai materi matematika saja tidak cukup bagi seorang guru; mereka harus jago dalam aspek pedagogi atau seni mengajar.
“Tanda dan simbol matematika seringkali sulit ditembus oleh logika siswa. Sumber masalahnya bisa jadi ada pada desain tugas yang diberikan guru yang masih terbatas,” ungkapnya.
Prof. Jarnawi memperkenalkan konsep “Desain Tugas” sebagai jantung dari pembelajaran yang efektif. Ia menjelaskan bahwa tugas matematika tidak boleh hanya sekadar soal hitung-hitungan kering, melainkan harus memenuhi empat prinsip utama Secara umum ada empat prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan tugas matematika. Keempat prinsip utama ini adalah inklusi, tuntutan kognitif, aspek afektif dan sosial pembelajaran matematika, dan perspektif teoretis terhadap pembelajaran matematika.
“Jika tugas dirancang dengan benar, siswa tidak hanya akan hafal rumus, tapi punya kemampuan berpikir yang kuat dan sikap sosial yang baik,” tambahnya.
Satu pesan penting yang ditekankan Prof. Jarnawi adalah menghilangkan stigma bahwa matematika itu sulit. Baginya, matematika adalah alat sederhana untuk memahami dunia.
Ia mencontohkan betapa dekatnya matematika dengan keseharian, mulai dari menghitung belanjaan, mengukur waktu, hingga membaca pola kehidupan.
“Matematika itu bukan soal rumus yang rumit. Dengan langkah kecil dan contoh nyata, matematika menjadi mudah, menyenangkan, dan bermanfaat. Setiap orang pasti mampu menguasainya!” pungkas Prof. Jarnawi dengan optimis.
Melalui orasi ini, diharapkan dunia pendidikan Indonesia, khususnya dalam bidang matematika, dapat bergeser dari sekadar menghafal menjadi proses berpikir yang kreatif dan berbudi pekerti.
Pembelajaran matematika yang sukses bermula dari desain tugas yang tepat. Guru diharapkan mampu merangkai materi yang kontekstual agar siswa tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter yang positif. (DN/Rija/RK)

