
Bandung, UPI
Riuh tepuk tangan membahana di Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada pelaksanaan Wisuda Gelombang II tahun 2026. Minggu, (10/5). Di antara ribuan toga yang bergerak searah, langkah Kayla Rida Maharani (23) terasa begitu mantap. Hari itu, ia bukan sekadar wisudawan, ia adalah simbol ketangguhan bagi mereka yang kerap dianggap terbatas oleh keadaan.
Kayla, seorang penyandang disabilitas tunarungu, resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Di balik senyum syukurnya, tersimpan narasi panjang tentang bagaimana seni dan cinta seorang ibu menjadi bahasa universal yang melampaui segala hambatan komunikasi.
Memilih Seni Rupa bukanlah kebetulan bagi Kayla. Ia memilih mengikuti jejak kedua orang tuanya yang juga berkecimpung di dunia kreatif. Namun, jalan yang ditempuhnya jauh lebih berliku.
Ujian terberat justru datang saat pandemi COVID-19 melanda. Tanpa akses penerjemah teks ke bahasa isyarat di ruang virtual, Kayla sempat merasa kehilangan arah. Di titik nadir itulah, ibunya hadir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
“Saya merasa sangat kesulitan dan ingin mundur, namun Mamah selalu memberikan semangat hingga saya bisa berjalan di detik ini dan lulus wisuda,” ungkap Kayla haru.
Selama kuliah daring, sang ibu setia mendengarkan setiap materi dosen dan mencatatkan poin-poin penting agar Kayla tak tertinggal. Begitu pun saat perkuliahan kembali tatap muka; keterbatasan memahami ucapan verbal dosen tidak memadamkan apinya. Kayla justru proaktif meminta materi tambahan dan mengupayakan kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam setiap sesi diskusi kelas.
Hebatnya, Kayla tidak hanya berfokus pada dirinya sendiri. Di kampus, ia juga menjadi motor penggerak edukasi bahasa isyarat bagi teman-teman “dengar” (non-disabilitas). Baginya, inklusivitas bukan sekadar fasilitas, melainkan kesadaran untuk saling memahami.
Pihak kampus UPI pun turut merespons positif semangatnya dengan terus mengupayakan koordinasi pembelajaran yang kondusif bagi mahasiswa disabilitas. Upaya kolektif ini membuktikan bahwa hambatan fisik bisa dijembatani dengan empati dan manajemen yang tepat.
Kini, Kayla telah resmi melangkah ke dunia profesional. Dengan ilmu yang ditimbanya selama bertahun-tahun, ia berencana mengembangkan usaha keluarga sembari terus berkarya di bidang seni rupa.
Sebelum meninggalkan almamater tercinta, Kayla menitipkan pesan mendalam bagi universitas dan rekan-rekan seperjuangannya. Ia berharap UPI terus bertransformasi menjadi “rumah” yang ramah bagi mahasiswa disabilitas melalui penyediaan akses yang lebih mumpuni.
Kepada adik-adik tingkatnya, terutama sesama teman Tuli, Kayla memberikan pesan pemungkas yang sarat semangat:
“Jangan takut dan khawatir. Pahami pembelajaran dengan cara terbaikmu, dan buktikan bahwa kita semua setara.” ujar Kayla.
Kisah Kayla adalah pengingat bagi kita semua bahwa di dalam keterbatasan, selalu ada ruang untuk pencapaian yang tak terbatas, asalkan ada tekad yang kuat dan dukungan yang tak putus. (Praptiningtyas; Caraka Muda)

