Bandung, UPI

Menjadi wisudawan di usia muda bukanlah hal yang mudah. Di balik toga dan senyum bahagia saat wisuda, ada perjuangan panjang, rasa lelah, hingga proses pendewasaan diri yang tidak selalu terlihat. Hal itulah yang dirasakan Gionovie Khalisha Isaura wisudawan termuda pada Wisuda Gelombang 2 Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia.

Lahir pada Juni 2005, Gionovie mengaku tidak pernah menyangka dirinya akan dinobatkan sebagai wisudawan termuda di gelombang wisuda tersebut. Saat di beritahukan bahwa ia merupakan wisudawan termuda, ia merasa terkejut sekaligus bangga.

“Jujur saya sendiri kaget tiba-tiba dinyatakan sebagai wisudawan termuda, tapi di lain itu juga saya merasa bangga karena dinobatkan sebagai wisudawan termuda,” ungkap Gionovie sambil tersenyum.

Perjalanan Gionovie selama kuliah tidak selalu berjalan mulus. Sebagai mahasiswa Program Studi Keperawatan FPOK UPI, ia harus mampu membagi waktu antara tuntutan akademik dan kegiatan non akademik yang ia ikuti. Baginya, menentukan skala prioritas menjadi kunci utama agar semua dapat berjalan seimbang dalam perkuliahan.

Selama kuliah, Geovanie aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan dan terlibat sebagai panitia dalam berbagai kegiatan, salah satunya kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Keperawatan UPI. Kesibukan tersebut tidak membuatnya mengabaikan perkuliahan, karena ia tetap menempatkan akademik sebagai prioritas utama sebelum menjalani aktivitas lainnya.

“Kalau saya selama perkuliahan pasti memprioritaskan akademik terlebih dahulu. Setelah akademik selesai, baru saya mengikuti kegiatan di luar akademik,” tuturnya.

Di balik pencapaiannya, ia juga menghadapi tantangan yang sering dirasakan mahasiswa pada umumnya, yakni rasa malas dan kebiasaan menunda pekerjaan. Ia menyadari bahwa kemampuan mengatur waktu menjadi tantangan terbesar selama kuliah.

“Terkadang masih suka bilang ‘nanti aja deh ngerjainnya’. Tapi saya belajar untuk memotivasi diri sendiri supaya tidak terus-terusan malas,” katanya.

Sebagai mahasiswa keperawatan, banyak pengalaman yang membekas selama masa perkuliahan. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah saat menjalani OSCE (Objective Structured Clinical Examination), yaitu metode ujian praktik klinis terstruktur untuk mengukur kemampuan mahasiswa keperawatan dalam menangani kasus secara langsung.

Menurutnya, ujian tersebut selalu menghadirkan rasa tegang sekaligus tantangan yang membuat mahasiswa harus benar-benar siap secara mental maupun keterampilan.

“Deg-degannya terasa banget. Takut salah juga ada. Tapi setelah selesai, rasanya lega dan plong,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pengalaman lain yang paling ia ingat adalah ketika satu angkatan mendapat simulasi penanganan gawat darurat dan triase bersama. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diminta menentukan prioritas penanganan korban berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien.

Bagi Gionovie, pengalaman itu bukan hanya tentang pembelajaran akademik, tetapi juga tentang kebersamaan dan kekeluargaan bersama teman-temannya.

“Susah senangnya ada bareng. Kebersamaannya terasa banget,” katanya.

Di balik perjalanan studinya, terdapat momen pribadi yang turut memengaruhi pilihannya menempuh pendidikan di bidang kesehatan. Ia mengungkapkan bahwa orang tuanya pernah sakit dan memiliki harapan agar anak-anaknya dapat menjadi bagian dari dunia kesehatan.

Awalnya, ia sempat bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun, jalan hidup membawanya pada dunia keperawatan yang ternyata sudah dikenalnya sejak duduk di bangku SMK.

“Saya memang dari SMK sudah ambil jurusan keperawatan, jadi seperti melanjutkan saja,” jelasnya.

Perjalanan masuk kuliah pun tidak instan. Setelah sempat gagal diterima di kampus impian melalui jalur seleksi sebelumnya, Gionovie akhirnya mencoba jalur mandiri di UPI. Saat melihat adanya Program Studi Keperawatan di UPI, ia langsung merasa tertarik karena sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

“Waktu dinyatakan lolos di UPI, saya jujur senang banget,” kenangnya dengan eskpresi haru dan senang.

Selama menjadi mahasiswa, ia merasa menemukan banyak pengalaman baru. Ia bertemu teman-teman dari berbagai daerah, belajar hidup bersama dalam perbedaan, dan mendapatkan lingkungan yang suportif dari dosen maupun teman-temannya.

“Seru banget. Teman-temannya humble yang rasanya seperti keluarga,” tuturnya.

Sebagai mahasiswa termuda di lingkungannya, Gionovie juga tidak luput dari candaan teman-temannya. Ia sering dipanggil “bayi” hingga “bocah kematian”. Namun, alih-alih merasa minder, ia memilih menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang.

“Jangan pernah insecure atau rendah diri karena umur lebih muda. Justru tunjukkan kalau yang paling muda juga bisa,” pesannya kepada adik-adik tingkat.

Bagi Gionovie, usia bukanlah penghalang untuk berkembang, berprestasi, dan membuktikan kemampuan diri. Semangat, konsistensi, dan keberanian melawan rasa malas menjadi bagian penting dari perjalanan yang membawanya berdiri sebagai wisudawan termuda UPI Gelombang 2 Tahun 2026.

Gionovie berharap almamater tercintanya dapat terus berkembang menjadi universitas yang lebih baik ke depannya.

“Semoga UPI semakin bagus lagi dan lebih baik lagi ke depannya, pokoknya lebih dari kata lebih,” pungkasnya. (FauzanSaefulPattah; Caraka Muda)