
Oleh
Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.
Kepala Pusat Unggulan Universitas (PUU) SAINS DATA ASTRONOMI DAN POLUSI CAHAYA (SADAR-POLYA)
Setelah awal Ramadan dan Idulfitri 1447 H yang dirayakan berbeda hari dengan Saudi Arabia, data astronomi untuk bulan Zulhijah ini membawa kabar optimis, bahwa perayaan Iduladha akan berlangsung secara serentak.
Konjungsi Akhir Zulkaidah
Di dalam keilmuan astronomi, peristiwa konjungsi (ijtimak) menandai momentum ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari. Menurut pengamat yang ditempatkan di pusat Bumi, konjungsi yang mengakhiri siklus satu lunasi ini terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 20:01 menurut waktu Greenwich, atau bertepatan dengan hari Minggu, 17 Mei 2026 pukul 03:01 WIB (= 04:01 WITA dan 05:01 WIT) di Indonesia. Bagaimanakah situasinya di Saudi Arabia? Mengutip laman Wikipedia, meskipun wilayah Kerajaan Saudi Arabia membentang antara 34° BT – 57° BT, untuk seluruh kawasan hanya digunakan satu zona waktu, yaitu menggunakan bujur standar 45° BT. Artinya, penunjukan waktu di seluruh wilayah lebih dulu 3 jam daripada Greenwich. Dari sini dapat dipahami bahwa peristiwa konjungsi geosentrik di atas terjadi pada hari yang sama dengan Greenwich (Sabtu), namun pada waktu yang berbeda, yaitu pukul 23:01 waktu Saudi Arabia. Tentu saja, waktu kejadian konjungsi yang selarut itu dipastikan berlangsung setelah terbenamnya Matahari di sana (18:55 waktu setempat). Artinya, pada waktu petang hari Sabtu 16 Mei yang bersesuaian dengan 29 Zulkaidah menurut penanggalan Kerajaan Saudi Arabia, perburuan Hilal penanda awal Zulhijah akan terkendala secara astronomis. Pada saat Matahari terbenam di hari tersebut (18:55), Bulan sudah lebih dulu menghilang di bawah ufuk (18:42), yang akan membuat Hilal belum wujud. Dengan demikian, sejak Sabtu 16 Mei pascaterbenamnya Matahari hingga Minggu 17 Mei saat Matahari kembali tenggelam, penanggalan Kerajaan Saudi Arabia masih bertanggal 30 Zulkaidah. Pada saat yang sama, bila merujuk kepada takwim standar KEMENAG RI, bulan Zulkaidah baru menapaki hari ke-29 di Indonesia. Karena di dalam penanggalan berbasis pergerakan Bulan, sebagaimana halnya kalender Hijriyah, jumlah hari dalam 1 bulan tidak mungkin kurang dari 29 hari dan tidak mungkin melebihi 30 hari, Minggu malam (17 Mei) pascaterbenamnya Matahari di Saudi Arabia, penanggalan mereka otomatis berganti ke tanggal 1 Zulhijah. Sementara di Indonesia, pada hari yang sama, Kementerian Agama baru akan menyelenggarakan sidang isbat (penetapan) tibanya 1 Zulhijah dengan memperhatikan hasil perhitungan astronomis (hisab) terhadap posisi Bulan dan laporan hasil observasi (rukyat) dari sejumlah titik pengamatan yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.
Visibilitas Hilal di Saudi Arabia dan Indonesia
Pada petang hari Sabtu, 16 Mei 2026, bertepatan dengan hari konjungsi menurut waktu Saudi Arabia, Hilal awal Zulhijjah masih bersembunyi di bawah ufuk barat. Ketika Matahari terbenam, Bulan berada di ketinggian −3°19′56″ (Gambar 1). Hilal yang merupakan bagian dari fase Bulan, dengan penampakan berupa sabit tipis, dengan demikian mustahil untuk dapat diamati pada saat tersebut.

Situasi berbeda akan dijumpai satu hari berselang, yaitu pada Minggu petang 17 Mei 2026. Ketika Matahari terbenam di Mekah pada pukul 19:14 waktu setempat, Bulan berada di ketinggian +10°39′28″ di atas ufuk arah barat, dengan jarak pisah (elongasi) dari Matahari sebesar 12°50′31″ dan iluminasi 1,07% (Gambar 2).

Dengan posisi Bulan setinggi itu di atas ufuk, model matematis kecerahan langit senja Kastner (1976), yang telah teruji memvalidasi sejumlah kasus Hilal rekor dunia, memberikan prediksi yang tegas. Kenampakan hilal pertama kali oleh pengamat di Mekah dengan modus pengamatan mata telanjang diprediksi terjadi pada pukul 19:24 untuk kondisi atmosfer bersih, dan 19:32 untuk atmosfer moderat. Waktu pengamatan terbaik (best time) yang menandai kontras tertinggi antara kecerahan hilal terhadap kecerahan langit senja, baru terjadi pada hampir pukul 20:00 waktu setempat (Gambar 3).

Bagaimana dari sisi Indonesia, yang secara geografis berada lebih timur daripada Saudi Arabia? Kota Sabang di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dipilih sebagai titik paling barat yang mewakili kepulauan Nusantara, menjadi lokasi paling representatif sekaligus paling berpeluang untuk keberhasilan rukyat. Di Sabang, pada saat Matahari terbenam pukul 18:47 WIB, Bulan berada di ketinggian +6°27′43″ di atas ufuk, dengan elongasi 10°32′40″ dan iluminasi 0,73% (Gambar 4). Meskipun kriteria imkan rukyat MABIMS Baru yang mensyaratkan ketinggian Hilal ≥ 3° dan elongasi ≥ 6,4° secara geometris terpenuhi di Sabang, visibilitas kasat mata masih bernilai negatif menurut model Kastner. Kecerahan Hilal dengan umur 16 jam 22 menit sejak konjungsi tersebut masih kalah terang dibandingkan kecerahan langit senjanya. Karenanya, model Kastner (1976) memberikan prediksi bahwa Hilal tidak akan dapat diamati dengan mata telanjang, namun akan dapat diamati dengan bantuan teleskop. Melalui penggunaan alat bantu optik dalam kegiatan observasi yang dilakukan, kontras hilal dapat ditingkatkan. Perhatikan masing-masing kurva yang ditunjukkan dalam Gambar 5 dan 6.


Ringkasan dari uraian di atas mengenai data awal Zulhijah di Saudi Arabia dan Indonesia, disajikan dalam Tabel 1 berikut. Dengan semua data astronomis yang tersedia, kesimpulannya sangat jelas, bahwa Kerajaan Saudi Arabia dan Indonesia akan memulai 1 Zulhijjah 1447 H pada Senin 18 Mei 2026, hari Arafah yang menandai puncak ibadah haji bertepatan dengan Selasa 26 Mei (9 Zulhijah), dan Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu 27 Mei 2026.
Tabel 1. Ringkasan Data Awal Zulhijah 1447 H
| Lokasi & Tanggal | Modus | Tinggi Hilal | Elongasi | Iluminasi | Rukyat (Model) | Kriteria MABIMS |
| Mekah — Sabtu 16 Mei | Mata telanjang + Teleskop | −3°19′ | 5°28′ | 0,26% | ✗ Tidak bisa | ✗ Tidak memenuhi |
| Mekah — Minggu 17 Mei | Mata telanjang | +10°39′ | 12°50′ | 1,07% | ✓ Terlihat jelas | ✓ Memenuhi |
| Sabang — Minggu 17 Mei | Mata telanjang | +6°27′ | 10°32′ | 0,73% | ✗ Tidak bisa | ✓ Memenuhi |
| Teleskop | +6°27′ | 10°32′ | 0,73% | ✓ Terlihat jelas | ✓ Memenuhi |
Sains, Persatuan, dan Masa Depan Berkelanjutan
Ada dimensi yang lebih dalam dari kebersamaan ini. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, fakta yang menjadikan setiap perbedaan dalam penentuan hari raya bukan sekadar urusan teknis, melainkan urusan martabat kolektif. Perbedaan yang berulang tiap tahun itu kerap menimbulkan situasi yang tidak nyaman, baik di lingkup keluarga maupun antarjemaah, dan pertanyaan yang sama terus muncul: mengapa kita tidak bisa merayakannya di hari yang sama?
Padahal alam semesta tidak berpihak kepada siapa pun. Bulan bergerak mengikuti hukum yang sama bagi semua orang di semua kawasan, baik yang menggunakan metode rukyat maupun hisab. Di sinilah astronomi dan fisika atmosfer berperan, bukan sebagai alat hitung satu golongan, melainkan sebagai bahasa bersama yang terbuka bagi semua pihak. Namun data saja tidak cukup. Sejarah penanggalan mengajarkan hal yang sederhana namun sering dilupakan, bahwa kalender yang menyatukan membutuhkan tiga komponen secara bersamaan. Pertama, kriteria tunggal yang diakui bersama, terlepas dari metode penentuan awal bulan yang digunakan. Kedua, wilayah keberlakuan kriteria itu, apakah satu kawasan, satu negara, atau seluruh dunia Islam. Ketiga, otoritas yang berwenang menetapkannya, yakni lembaga yang keputusannya diterima, bukan sekadar didengar lalu ditafsirkan berbeda-beda. Tanpa ketiganya hadir sekaligus, kalender pemersatu tetap tinggal sebagai wacana yang diulang tiap tahun tanpa kemajuan.
Sejarah sudah memberikan contoh untuk hal ini, sekaligus pelajaran untuk bersabar. Ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender baru pada 1582 melalui bulla kepausan Inter Gravissimas, dunia tidak langsung sepakat. Negara-negara dengan mayoritas umat Katolik seperti Italia, Spanyol, dan Portugal mengadopsinya dengan segera. Sementara, negara-negara berpenduduk mayoritas penganut Protestan dan Ortodoks menolaknya, dengan alasan yang mencampurkan persoalan keyakinan dan politik. Sebagai contoh, Inggris baru menggunakan kalender reformasi tersebut pada 1752. Yunani perlu menunggu lebih lama hingga tahun 1923. Proses penerimaannya memakan waktu lebih dari tiga abad. Namun hari ini, hampir seluruh dunia menggunakan kalender yang sama tersebut untuk keperluan sipil mereka. Jika Eropa yang sempat terpecah oleh Reformasi Paus bisa sampai di sana, umat Islam pun sangat mungkin untuk mewujudkan hal yang sama.
Kebersamaan dalam merayakan hari raya bukan semata persoalan ritual. Ini adalah investasi untuk kohesi bangsa dan ketahanan sosial, dan selaras dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB butir ke-16 tentang masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadilan. Iduladha yang serentak adalah tanda bahwa kita bisa duduk bersama, membaca data yang sama, dan sampai pada satu keputusan. Itu bukan hal kecil. Kubah langit dan Bulan yang sama telah berulang kali menyapa kita semua. Semoga kita mampu membaca tanda-tandanya dan menjawabnya bersama.

