
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus memperkuat budaya inovasi dan perlindungan kekayaan intelektual di lingkungan kampus. Melalui peran aktif Direktorat Inovasi, Hilirisasi dan Science Techno Park UPI (DIHSTP UPI), berbagai hasil riset dosen dan peneliti kini tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga diarahkan menjadi teknologi terapan yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat dan dunia industri.
Memasuki triwulan pertama tahun 2026, UPI mencatat capaian membanggakan dengan terbitnya delapan paten dan paten sederhana baru hasil pendampingan teknis DIH-STP UPI. Berbagai inovasi tersebut berasal dari lintas disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, pendidikan, teknologi rekayasa, kebencanaan, hingga kecerdasan buatan dan lingkungan.
Direktur Inovasi, Hilirisasi dan Science Techno Park UPI menyampaikan bahwa penguatan ekosistem kekayaan intelektual menjadi salah satu langkah strategis universitas dalam membangun budaya akademik yang inovatif dan berdampak nyata. Menurutnya, perguruan tinggi saat ini dituntut tidak hanya menghasilkan penelitian berkualitas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas melalui proses hilirisasi.
“UPI terus mendorong para dosen, peneliti, dan sivitas akademika untuk menghasilkan inovasi yang terlindungi secara hukum melalui paten, desain industri, merek dagang, hak cipta, maupun bentuk kekayaan intelektual lainnya. Langkah ini penting agar hasil riset kampus memiliki nilai tambah, dapat dikembangkan bersama mitra industri, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain penguatan paten, DIHSTP UPI saat ini juga tengah menyoroti pentingnya perlindungan desain industri, merek dagang, serta berbagai bentuk kekayaan intelektual lainnya sebagai bagian dari strategi komersialisasi inovasi kampus. Produk-produk inovasi yang telah memiliki perlindungan hukum tersebut nantinya akan diarahkan untuk proses lisensi, pengembangan usaha, hingga hilirisasi bersama mitra industri agar memiliki dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Adapun delapan inovator penerima paten dan paten sederhana setelah mendapatkan pendampingan teknis dari DIHSTP UPI meliputi
- Lisna Anisa Fitriana — Formula Minuman Sachet dari Ekstrak Brokoli (Brassica olaracea) dan Pegagan (Centella asiatica) untuk Meningkatkan Daya Ingat
- Lisna Anisa Fitriana — Komposisi Bahan untuk Menurunkan Glukosa Darah berupa Kombinasi Ekstrak Kulit Manggis dan Pegagan
- Triannisa Rahmawati — Sistem Pembelajaran Kimia Nanoteknologi dengan Etnosains Berbasis Realitas Berimbuh
- Budi Mulyanti — Mikroaktuator Elektromagnetik untuk Pompa Mikro dengan Inti Ferit
- Selly Ferani — Alat Ukur Suhu dan Kuat Medan Magnet Berbasis Arduino Nano dan Sensor Hall
- Arjuni Budi Pantjawati — Meja Getar untuk Simulator Tanah Longsor
- Wildan Aprizal Arifin — Metode Prediksi Tinggi Gelombang Laut Menggunakan Memori Jangka Pendek-Panjang (LSTM) dan Pembobotan Jarak Tebalik (IDW)
- Ahmad Mudzakir — Kit Percobaan Ionometalurgi: Pungut Ulang Logam Berharga Menggunakan Cairan Ionik
Berbagai inovasi tersebut saat ini diproyeksikan untuk memasuki tahap hilirisasi dan penjajakan lisensi bersama mitra industri. Melalui skema tersebut, teknologi hasil penelitian UPI diharapkan dapat berkembang menjadi produk dan solusi nyata yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing bangsa.
DIH-STP UPI sendiri terus memperluas peran sebagai pusat penguatan inovasi kampus, mulai dari pendampingan kekayaan intelektual, inkubasi bisnis, pengembangan startup berbasis riset, hingga fasilitasi kerja sama industri. Kehadiran DIHSTP UPI menjadi bagian penting dari transformasi UPI menuju universitas yang unggul, inovatif, dan berdampak.
Dengan meningkatnya jumlah paten dan inovasi yang siap dihilirisasi, UPI menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem riset yang produktif dan berorientasi pada kebermanfaatan. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi UPI sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam bidang pendidikan, tetapi juga aktif melahirkan inovasi strategis untuk masa depan Indonesia. (Andri Yunardi)

