Bandung, UPI

Menembus batas ruang kuliah konvensional, Mahasiswa Pencinta Alam Civics Hukum (MAPACH) Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menggelar Ekspedisi Kerinci 2026.

Berlangsung maraton pada 17–26 Juni 2026 di Kabupaten Merangin dan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, ekspedisi ini tampil beda. Alih-alih hanya berfokus pada ketangguhan fisik mendaki gunung, MAPACH UPI justru menempatkan penelitian budaya kearifan lokal dan pengabdian masyarakat sebagai inti dari aktivitas akademik mereka.

Rangkaian misi Tri Dharma Perguruan Tinggi ini dikemas secara apik melalui beberapa tahapan krusial di lapangan Fase Pengabdian: Mahasiswa menyambangi Pondok Pesantren Al-Khafidh Merangin untuk menggelar sosialisasi interaktif nilai-nilai kewarganegaraan, penguatan karakter kebangsaan, serta toleransi di tengah kemajemukan. Fase Riset Budaya: Tim peneliti MAPACH melakukan observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan para tua-tua adat di Kecamatan Koto Baru, Kota Sungai Penuh, untuk mengupas tuntas Tradisi Adat Kenduri Sko.

Tradisi Kenduri Sko yang diwariskan turun-temurun di Kerinci bukan sekadar ritual kosmetik. Tradisi ini terbukti menjadi mekanisme sosial dalam memperkuat solidaritas, menjaga legitimasi hukum adat, merawat mekanisme musyawarah, hingga menumbuhkan tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian lingkungan.

Dalam kacamata ilmu kewarganegaraan, nilai-nilai yang hidup dalam Kenduri Sko merupakan fondasi utama terbentuknya budaya kewargaan (civic culture). Pembelajaran kewarganegaraan dinilai jauh lebih bermakna ketika mahasiswa mengalami langsung praktik gotong royong dan kepemimpinan kolektif di tengah masyarakat, bukan sekadar menghafal teori di balik meja.

“Kami memandang alam dan masyarakat sebagai laboratorium pembelajaran yang utuh. Di sini, mahasiswa tidak hanya dilatih memiliki ketangguhan fisik, tetapi juga kepekaan sosial, kemampuan riset, serta kesadaran bahwa nilai kewarganegaraan itu nyata hidup di tengah masyarakat,” jelas Pembina MAPACH, Dr. Asep Mahpudz, M.Si.

Senada dengan hal itu, Ketua Prodi Pendidikan Kewarganegaraan UPI, Dr. Syaifullah, M.Si., menegaskan bahwa hadirnya mahasiswa di tengah komunitas adat merupakan bentuk pembelajaran transformatif yang autentik.

“Saat berdialog dengan tokoh adat dan mengidentifikasi praktik demokrasi lokal, mereka sedang membangun civic knowledge, civic skills, dan civic dispositions secara bersamaan,” tegas Syaifullah.

Sebagai penutup rangkaian ekspedisi akademik, tim MAPACH UPI melakukan pendakian menuju puncak tertinggi di Sumatra, Gunung Kerinci (3.805 mdpl). Menariknya, pendakian ini tidak diposisikan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai media pembentukan karakter (character building).

Melalui medan ekstrem Kerinci, disiplin, kepemimpinan, kerja sama kelompok, kemampuan mengambil keputusan cepat, serta kepedulian terhadap konservasi lingkungan pegunungan para mahasiswa diuji secara nyata.

Selain menghasilkan temuan ilmiah, ekspedisi ini sukses memperluas jejaring kolaborasi antara UPI dengan masyarakat adat Jambi, pondok pesantren, serta organisasi kepemudaan daerah setempat.

Aksi nyata ini menjadi bukti sahih perwujudan visi UPI sebagai Leading and Outstanding University yang selaras dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB—khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 15 (Ekosistem Daratan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (AM/DN)