Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Dalam peribahasa Sunda, terdapat sebuah ungkapan sederhana namun sarat makna. Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok. Peribahasa ini mengandung pesan makna bahwa perlunya ketekunan, kesabaran, konsistensi, dan kekuatan usaha yang dilakukan secara terus-menerus.

Secara harfiah, cikaracak berarti tetesan air yang jatuh dari suatu tempat. Ninggang batu berarti mengenai batu. Sedangkan laun-laun jadi legok berarti perlahan-lahan batu tersebut menjadi berlubang atau cekung. Gambaran sederhana ini menyampaikan pesan bahwa sesuatu yang tampak kecil dan lemah sekalipun, apabila dilakukan secara konsisten, dapat menghasilkan perubahan yang luar biasa.

Filosofi tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kekuatan besar atau langkah spektakuler yang terjadi secara tiba-tiba. Banyak keberhasilan justru dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara disiplin dan berulang. Sebagaimana tetesan air yang lembut mampu mengikis batu yang keras. Demikian pula usaha manusia yang dilakukan dengan sabar dan penuh keyakinan akan mampu mengatasi berbagai hambatan. Tidak ada proses yang sia-sia apabila dijalani dengan kesungguhan.

Konsistensi

Peribahasa cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok juga dapat menjadi jembatan dialog budaya ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Secara literal translation, ungkapan ini dapat diterjemahkan menjadi Small drops of water hitting a stone, slowly but surely make a hollow.  Jika diterjemahkan secara lebih sederhana, A drop of water keeps hitting a rock, and eventually the rock gets a hole. Terjemahan ini tentu terdengar unik dan sedikit lucu bagi para penutur bahasa Inggris. Mereka mungkin membayangkan seekor batu yang “kalah” dalam pertandingan melawan tetesan air yang sangat kecil. Seolah-olah ada pertandingan tinju antara “Mr. Rock” yang kuat melawan “Little Water Drop” yang tampak lemah. Pada akhirnya sang tetesan air keluar sebagai pemenang karena memiliki satu senjata utama: konsistensi.

Sebagai pembanding, gagasan dalam filosofi Sunda cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok memiliki keselarasan dengan pemikiran para filsuf dan ahli Barat yang menekankan pentingnya proses, kebiasaan kecil, dan ketekunan dalam mencapai keberhasilan. Aristotle pernah menyatakan: We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. Artinya Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Keunggulan bukanlah sebuah tindakan sesaat, melainkan sebuah kebiasaan. Ungkapan ini menegaskan bahwa kualitas manusia dibentuk melalui tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Sejalan dengan itu, James Clear dalam Atomic Habits (2018) menjelaskan bahwa perubahan besar sering kali berasal dari perbaikan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Ia memperkenalkan gagasan One percent better every day.  Satu persen lebih baik setiap hari, yang menggambarkan bahwa kemajuan kecil yang dikumpulkan secara konsisten akan menghasilkan perubahan besar dalam jangka panjang.

Demikian pula filsof Tiongkok Kuno (Abad 6 sebelum Masehi), pemikirannya yang universal tentang proses perubahan.  A journey of a thousand miles begins with a single step. Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah kecil.

Pesan ini memperkuat pemahaman bahwa pencapaian besar tidak dimulai dari lompatan yang tiba-tiba, melainkan dari keberanian melakukan langkah kecil secara berkelanjutan.

Dalam khazanah budaya dan cerita rakyat Sunda, nilai tersebut sering tercermin dalam kisah-kisah kehidupan masyarakat yang menggambarkan perjuangan dan ketekunan. Salah satu gambaran yang dekat dengan filosofi ini adalah kisah seorang anak kampung yang memiliki semangat belajar tinggi meskipun hidup dalam keterbatasan. Setiap hari ia berjalan jauh menuju sekolah, membaca buku yang sederhana, dan terus berlatih menulis serta berhitung. Pada awalnya, usaha kecil tersebut tampak tidak menghasilkan perubahan besar. Namun, karena dilakukan dengan sabar dan tidak pernah menyerah, sedikit demi sedikit kemampuannya berkembang hingga akhirnya mampu meraih cita-citanya. Literasi dan numerasinya meningkat.

Pesan seperti itu banyak diwariskan dalam tradisi tutur masyarakat Sunda. Orang tua sering memberikan nasihat kepada anak-anaknya agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.  Ulah pundung ku hésé, sing sabar jeung getol, sabab cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.  Artinya, jangan berputus asa karena menemukan kesulitan; tetaplah sabar dan tekun, karena usaha yang dilakukan terus-menerus akan membuahkan hasil. Nasihat ini bukan hanya mengajarkan perlunya kerja keras, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap keberhasilan membutuhkan waktu, proses, dan kesetiaan terhadap tujuan.

Dalam kehidupan sehari-hari, peribahasa ini memiliki banyak penerapan. Seorang petani tidak memperoleh hasil panen hanya dengan menanam benih satu hari. Ia dituntut untuk mengolah tanah, merawat tanaman, dan menjaga sawah secara terus-menerus. Seorang pengusaha kecil tidak langsung menjadi besar, tetapi melalui pengalaman, inovasi, dan ketekunan dalam mengembangkan usaha. Demikian pula seorang pembelajar tidak langsung menjadi ahli, melainkan melalui latihan, membaca, mencoba, dan belajar dari kesalahan. Perubahan besar pada hakikatnya merupakan kumpulan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara berkelanjutan.

Pendidikan Modern

Dalam konteks pendidikan modern, peribahasa ini sejalan dengan gagasan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Transformasi pendidikan tidak dapat dicapai hanya melalui program besar yang bersifat sesaat, tetapi melalui komitmen yang konsisten dari seluruh ekosistem pendidikan. Peningkatan kualitas guru, penguatan budaya belajar, pengembangan literasi, inovasi pembelajaran, pemanfaatan teknologi, dan pendidikan karakter memerlukan proses panjang yang dilakukan secara bersama-sama.

Sekolah yang maju bukan dibangun dalam sehari, melainkan melalui kebiasaan baik yang terus dipelihara dan dikembangkan. Inilah esensi pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pada satuan pendidikan.

Filosofi Sunda ini juga memiliki hubungan erat dengan berbagai teori pendidikan modern. Dalam perspektif teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky, belajar dipandang sebagai proses aktif yang berlangsung secara bertahap. Murid membangun pengetahuannya melalui pengalaman, interaksi sosial, dan proses refleksi.

Pengetahuan tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang melalui pengalaman yang terus bertambah, sebagaimana tetesan air yang perlahan membentuk perubahan pada batu.

Dalam konsep pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) yang dikembangkan oleh UNESCO, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Manusia terus belajar sepanjang kehidupan melalui pengalaman, pekerjaan, lingkungan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya. Setiap proses belajar, sekecil apa pun, menjadi bagian dari pembentukan kualitas manusia.

Filosofi ini juga selaras dengan konsep peningkatan mutu berkelanjutan yang dikembangkan oleh W. Edwards Deming (1986) melalui siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA). Menurut Deming, peningkatan kualitas harus dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan penyempurnaan secara terus-menerus. Dalam pendidikan, peningkatan mutu sekolah, profesionalisme guru, inovasi pembelajaran, dan penguatan karakter murid bukan hasil dari satu kebijakan sesaat, tetapi buah dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ungkapan cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok merupakan filosofi kehidupan yang memiliki relevansi universal. Ia mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari usaha kecil yang dilakukan dengan tekun. Satu halaman buku yang dibaca, satu nilai karakter yang ditanamkan, satu inovasi pembelajaran yang diterapkan, dan satu langkah perbaikan yang dilakukan setiap hari merupakan bagian dari proses panjang membangun manusia unggul. Seperti tetesan air yang tidak pernah berhenti hingga mampu mengubah batu, pendidikan yang dijalankan dengan kesabaran, konsistensi, dan keyakinan akan melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Itulah makna “Mr. Rock Versus Ms. Water Drop”. Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.  Kerasnya batu kalah oleh tetesan air yang terus menerus.