
Bandung, UPI
Momen kelulusan selalu membawa cerita haru dan bangga, tak terkecuali bagi Wan ale Salama. Mahasiswi asal Uganda, Afrika Timur ini baru saja menyelesaikan studi magisternya di UPI, Ia bersama tiga orang mahasiswa asing lainnya diwisuda pada hari Selasa (21/7/2026) di Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Hari itu bukan hanya menjadi penutup perjalanan akademiknya di Indonesia, tetapi juga awal dari mimpi yang lebih besar: kembali ke tanah kelahirannya untuk membangun pendidikan, yang bahkan beberapa tahun lalu ia ingat tidak pernah membayangkan dapat berbicara dalam bahasa Indonesia di negeri yang asing baginya.
Perjalanan Salma menuju Bandung berawal dari sebuah pencarian.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia ingin melanjutkan studi di sebuah universitas yang mampu membentuknya menjadi pendidik yang lebih baik. Dalam pencarian itu, satu nama terus muncul.
UPI.
“Orang-orang mengatakan kepada saya bahwa UPI adalah universitas pendidikan terbaik di Indonesia. Saya ingin menjadi dosen yang luar biasa, karena itu saya memilih UPI,” tuturnya.
Keputusan itu membawanya terbang ribuan kilometer dari Uganda menuju Indonesia—ke sebuah lingkungan yang sama sekali baru, dengan bahasa, budaya, dan kebiasaan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Hal pertama yang membuatnya terkejut justru bukan ruang kuliah atau materi perkuliahan. Melainkan makanan.
“Di Uganda tidak ada makanan pedas. Minggu kedua saya tinggal di sini, saya sampai sakit karena makanannya pedas,” kenangnya sambil tertawa. Kini, cerita itu berubah menjadi kenangan yang menggelitik.
“Sekarang kalau makan tanpa pedas malah rasanya tidak enak,” ujarnya disambut tawa.
Namun, tantangan terbesar ternyata bukan soal lidah.
Bahasa Indonesia menjadi ujian yang sesungguhnya.
Sebelum memulai perkuliahan, Salma telah mengikuti program pembelajaran bahasa Indonesia selama satu tahun. Bekal itu cukup untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, ketika memasuki ruang kelas, ia dihadapkan pada bahasa akademik yang jauh lebih kompleks.
“Bahasa Indonesia akademik sangat berbeda dengan yang saya pelajari sebelumnya. Saya sempat kesulitan memahami materi di kelas,” katanya. Beruntung, para dosen membantunya dengan menjelaskan kembali materi dalam bahasa Inggris ketika diperlukan sehingga ia perlahan mampu mengikuti ritme pembelajaran.
Alih-alih menyerah, Salma memilih membangun kebiasaan belajar yang tidak biasa.
Ketika sebagian orang beristirahat, ia justru membuka buku.
“Saya lebih suka belajar pada malam hari. Saat semua orang tidur, tidak ada WhatsApp atau Instagram yang mengganggu. Saya bisa lebih fokus berpikir,” ungkapnya.
Rutinitas sederhana itu menjadi salah satu kunci yang membantunya menyelesaikan studi.
Meski datang dengan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi, pengalaman belajar di UPI justru melampaui bayangannya.

“Saya belajar jauh lebih banyak daripada yang saya bayangkan. Pengalaman saya di sini benar-benar berbeda dan membuat ekspektasi saya terhadap pendidikan menjadi lebih tinggi,” tuturnya.
Di luar ruang kelas, Salma menemukan pelajaran lain yang tidak tertulis dalam silabus.
Ia mengaku jatuh hati pada keramahan masyarakat Indonesia.
Baginya, pengalaman paling membahagiakan bukan hanya ketika mengikuti perkuliahan, tetapi juga saat berinteraksi dengan orang-orang di pasar, di jalan, maupun di lingkungan sekitar.
“Saya senang karena orang Indonesia selalu siap mengajak saya berbicara. Meskipun saya orang asing, mereka tetap menerima saya dengan baik,” katanya.
Di kampus, ada pula sosok dosen yang meninggalkan kesan mendalam.
Pembimbing proposal penelitiannya kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Salma terdiam. Sebagai satu-satunya mahasiswa internasional di kelas, ia sering merasa gugup ketika harus menjawab.
Namun, belakangan ia menyadari bahwa setiap pertanyaan itu bukan untuk menjatuhkannya.
Melainkan untuk membantunya tumbuh sebagai peneliti.
“Beliau kemudian berkata kepada saya, ‘Salma, apakah kamu kaget ketika saya bertanya seperti itu?’ Saat itu saya sadar bahwa beliau hanya ingin saya belajar lebih baik,” kenangnya.
Kini, setelah resmi menyandang gelar magister, Salma tidak memiliki rencana untuk menetap di Indonesia.
Ia ingin pulang.
Bukan karena perjalanan ini telah usai, melainkan karena ia merasa telah membawa pulang bekal yang cukup untuk membangun negaranya.
Ia bercita-cita menjadi pengembang kurikulum di Uganda.
Menurutnya, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan kurikulum yang dapat menjadi pembelajaran berharga bagi negaranya.
“Saya ingin kembali ke Uganda dan membantu melihat bagianmana dari kurikulum kami yang masih perlu dikembangkan. Saya ingin ilmu yang saya pelajari di Indonesia dapat bermanfaat bagi masyarakat di negara saya,” ujarnya.
Bagi keluarganya, kelulusan ini menjadi kebanggaan tersendiri. Mereka menyaksikan bagaimana Salma berhasil melewati perjalanan yang tidak mudah hingga akhirnya siap mengabdikan ilmunya sebagai dosen dan pendidik di tanah kelahirannya.
Sebelum mengakhiri perbincangan yang berlangsung sesaat setelah prosesi Wisuda Gelombang III Tahun 2026 selesai, Salma juga menyampaikan harapannya bagi UPI.
Ia berharap UPI terus memperkuat layanan bagi mahasiswa internasional, terutama melalui program orientasi khusus yang menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh mahasiswa asing. Menurutnya, langkah sederhana itu akan membantu mereka lebih cepat beradaptasi dengan kehidupan akademik di Indonesia.
Tak lupa, ia menitipkan pesan kepada calon mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan studi di UPI.
“Datanglah dengan hati yang terbuka. Anggap orang-orang yang kalian temui sebagai keluarga. Dengan begitu, tempat yang awalnya terasa asing akan menjadi rumah untuk belajar dan bertumbuh,” pesannya.
Di luar Gedung Gymnasium, para wisudawan mulai meninggalkan kampus dengan langkah menuju masa depan masing-masing.
Sementara bagi Salma Wan Ale, perjalanan itu akan membawanya kembali melintasi benua.
Dari Bandung menuju Uganda.
Membawa pulang bukan hanya gelar akademik, tetapi juga keyakinan bahwa pendidikan mampu menjembatani perbedaan bahasa, budaya, dan jarak—serta menjadi bekal untuk menghadirkan perubahan bagi masyarakat di tempat ia berasal. (Naufal Dlorif Efendi)

