
Kab. Banggai Laut, UPI
Puluhan warga dari dua desa pesisir duduk melingkar, bukan untuk mendengarkan ceramah, melainkan untuk merancang sendiri masa depan kampung halamannya sebagai desa wisata. Itulah suasana yang mewarnai Training & Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dari Objek Wisata, menuju Pengalaman Wisata: Membangun Desa Wisata Lantibung bersama Integrated Tourism Model”, yang digelar untuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Lantibung.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai oleh Dr. Epin Saepudin, M.Pd., bermitra dengan Dr. Leni Anggraeni, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Dr. Sunarto Amus, M.Si. dari Universitas Tadulako (UNTAD). Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Banggai Laut, Noldi W. Musa, S.Sos., M.Si., serta dihadiri Kepala Desa Lantibung, Kepala Desa Dungkean, dan sekitar 50 anggota Pokdarwis dari kedua desa.
Yang membedakan kegiatan ini dari pelatihan pariwisata pada umumnya adalah pendekatannya. Materi tidak disampaikan sebagai kuliah satu arah, melainkan dirancang sebagai ruang belajar dan berbagi bersama warga — sebuah pendekatan yang lekat dengan konsep pemberdayaan kewargaan (citizenship empowerment) yang selama ini menjadi fokus riset Dr. Leni Anggraeni. Baginya, keberhasilan sebuah desa wisata tidak semata bergantung pada keindahan alam, tetapi pada sejauh mana warganya diberdayakan untuk menjadi subjek aktif yang mengelola, bercerita, dan mengambil keputusan atas ruang hidupnya sendiri.

Semangat itu tercermin dari data yang dipaparkan: kontribusi kunjungan wisata Desa Lantibung terhadap total wisatawan Sulawesi Tengah pada 2025 baru mencapai 1,3 persen — sebuah angka kecil di tengah potensi laut yang indah, budaya bahari, dan keramahan warga yang khas. Tiga persoalan utama pun teridentifikasi: kemampuan bahasa Inggris warga yang masih terbatas, promosi destinasi yang belum kuat, dan absennya sistem informasi wisata yang terpadu.
Dalam sesi refleksi bersama, peserta diajak membandingkan dua cara pandang: cara lama yang pasif menunggu wisatawan datang sendiri dengan informasi seadanya, versus cara baru di mana warga aktif menyambut, merancang perjalanan, dan menyuguhkan cerita serta pelayanan yang berkesan. Cara pandang baru inilah yang dibingkai sebagai sebuah perjalanan lima tahap — mulai wisatawan tahu, datang, merasakan, bercerita, hingga akhirnya kembali lagi — dengan Pokdarwis berperan aktif di setiap tahapnya, bukan hanya saat wisatawan sudah tiba di lokasi.
Untuk mewujudkannya, tim pengabdian memperkenalkan Integrated Tourism Model yang bertumpu pada tiga kunci: penguatan SDM agar warga bertransformasi dari “penjaga” menjadi “tuan rumah” sejati; penguatan sistem informasi destinasi lewat peta, plang, dan QR code di setiap titik wisata; serta storytelling digital berbasis kearifan lokal, di mana sejarah dan tradisi bahari desa digali, dikemas jadi narasi, dan dibagikan lewat QR code maupun media sosial.
Sesi FGD menjadi puncak kegiatan. Dalam kelompok kecil, peserta memetakan skenario pengalaman wisatawan sehari penuh di Lantibung — dari momen kedatangan di pagi hari hingga kepulangan dengan kesan yang membekas di malam hari — sekaligus menggali cerita rakyat, tradisi laut, dan tokoh-tokoh keluarga yang berpotensi menjadi bahan konten storytelling digital desa. Kegiatan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh setiap kelompok, memuat komitmen konkret: apa yang akan dikerjakan, siapa penanggung jawabnya, dan kapan target waktunya.

Kolaborasi lintas kampus antara ITB, UPI, dan UNTAD, yang didukung penuh oleh Disparbud Kabupaten Banggai Laut serta pemerintah Desa Lantibung dan Desa Dungkean, diharapkan menjadi model pemberdayaan warga pesisir yang dapat direplikasi di destinasi wisata rintisan lain di Indonesia. Pesan penutup yang digaungkan dalam kegiatan ini pun sederhana namun kuat: Lantibung bukan sekadar tempat, melainkan sebuah cerita — dan warganyalah yang paling berhak menuturkannya. (Leni Angraeni)

