
Jerman, UPI
Pertemuan dengan penerima Nobel Kimia 2025 Omar M. Yaghi menjadi salah satu pengalaman penting yang dibawa dosen Program Studi Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Chandra Wulandari, dari 75th Lindau Nobel Laureate Meeting (LINO75) di Jerman. Perjumpaan tersebut semakin menguatkan pandangannya bahwa riset fundamental dan aplikatif tidak harus berjalan terpisah, tetapi dapat saling menguatkan untuk menghasilkan teknologi, produk, hingga inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Chandra mengikuti LINO75 di Lindau, Jerman, pada 28 Juni–3 Juli 2026 sebagai salah satu dari tujuh delegasi Indonesia yang dipilih dan difasilitasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah mengikuti sesi dan berdiskusi dengan Omar M. Yaghi, ilmuwan yang bidang penelitiannya memiliki kedekatan dengan riset yang ditekuni Chandra.
Yaghi merupakan penerima Nobel Kimia 2025 bersama Susumu Kitagawa dan Richard Robson atas pengembangan metal-organic frameworks (MOFs). Material tersebut memiliki struktur berpori yang dapat dirancang untuk menangkap dan menyimpan molekul tertentu.
Pengembangan MOFs telah membuka berbagai kemungkinan pemanfaatan, antara lain untuk mengambil air dari udara di wilayah kering, menangkap karbon dioksida, menyimpan gas, serta mengatalisis reaksi kimia.
Dalam rangkaian LINO75, Yaghi juga menyampaikan kuliah bertajuk “Chemistry and AI for a Sustainable Planet and Hope” serta terlibat dalam Nobel Hour bersama para ilmuwan muda.
Bagi Chandra, perjumpaan tersebut memberikan gambaran konkret bahwa penelitian fundamental dan aplikatif dapat berkembang secara beriringan.
Penelitian yang berangkat dari upaya memahami fenomena dan membangun pengetahuan dasar dapat menjadi fondasi bagi lahirnya teknologi ketika dikembangkan secara konsisten dan dipertemukan dengan persoalan nyata.
Perspektif itu semakin kuat setelah Chandra melihat bagaimana para Nobel Laureates tidak hanya mendorong ilmuwan muda untuk terus mengembangkan riset fundamental, tetapi juga memikirkan bagaimana hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi teknologi, produk, dan start-up yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pengalaman tersebut menghadirkan perspektif penting mengenai hilirisasi riset.
Hilirisasi tidak semata-mata berarti membawa hasil penelitian secepat mungkin menjadi produk. Proses tersebut juga membutuhkan fondasi pengetahuan yang kuat agar teknologi dan inovasi yang dikembangkan memiliki dasar ilmiah yang matang.
Dalam konteks itu, riset fundamental dan hilirisasi bukan dua tujuan yang harus dipertentangkan. Riset fundamental menghasilkan pemahaman dan pengetahuan baru, sementara penelitian aplikatif membuka jalan agar pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi solusi.
Pertemuan dengan Yaghi semakin menguatkan pandangan Chandra bahwa kedua pendekatan tersebut dapat berjalan bersama untuk menghasilkan kontribusi yang lebih luas bagi kemanusiaan.
Pengalaman selama LINO75 juga mengajarkannya agar tidak terburu-buru menilai hasil penelitian sebagai kegagalan. Perjalanan para penerima Nobel menunjukkan bahwa penemuan besar sering kali lahir dari proses panjang yang dipenuhi ketidakpastian, penolakan, dan hasil yang tidak terduga.
Bagi perguruan tinggi, perspektif tersebut relevan dalam membangun ekosistem riset dan inovasi. Upaya mendorong hilirisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan penelitian fundamental, pengembangan kapasitas peneliti, serta pembentukan jejaring keilmuan yang memungkinkan sebuah temuan berkembang lebih jauh.
Pengalaman Chandra di Lindau pada akhirnya tidak hanya menghadirkan perjumpaan dengan salah satu ilmuwan terkemuka dunia. Pertemuan tersebut membawa pulang sebuah perspektif bahwa dampak penelitian tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat sebuah riset menghasilkan produk, tetapi juga oleh seberapa kuat pengetahuan yang dibangun sebagai fondasi bagi lahirnya inovasi.
Dari riset fundamental, terbuka jalan menuju aplikasi. Dari aplikasi, terbuka peluang menuju teknologi, produk, dan inovasi yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. (RK)

