Bandung, UPI

Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengenal kehidupan akademik, tetapi juga menjadi awal keterlibatan mereka dalam menjaga lingkungan kampus. Melalui gerakan satu mahasiswa baru, satu pohon, mahasiswa diajak berkontribusi langsung menambah vegetasi dan membangun budaya keberlanjutan di lingkungan UPI.

Sebanyak 13.860 mahasiswa baru mengikuti MOKAKU UPI 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 bibit pohon tanaman keras telah terkumpul dan saat ini dirawat di sekitar gedung asrama UPI untuk selanjutnya ditanam ketika musim hujan.

Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, kontribusi mahasiswa baru tidak berhenti pada aktivitas selama masa orientasi, tetapi diarahkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang menjaga lingkungan.

“Kita berkewajiban mewariskan bumi yang lebih baik. Mengurangi pemanasan global, salah satu yang bisa kita lakukan adalah menanam pohon,” ujar Prof. Didi.

Menurut Prof. Didi, penanaman pohon juga menjawab kebutuhan lingkungan kampus yang masih memiliki sejumlah lahan yang dapat dihijaukan. Meskipun kawasan UPI relatif terbatas, penambahan vegetasi tetap dapat dilakukan secara bertahap untuk menciptakan lingkungan yang lebih teduh dan nyaman bagi sivitas akademika.

“Kampus ini sempit, kemudian ternyata masih banyak lahan-lahan yang perlu ditanami oleh pohon-pohon sehingga nanti kampus makin sejuk, udaranya makin tidak lagi panas dan itu bisa menjadi sarana mahasiswa untuk bermain, kemudian juga kita mendapatkan oksigen.” katanya.

Manfaat penghijauan tersebut tidak hanya dirasakan manusia. Penambahan pohon, termasuk tanaman yang menghasilkan buah, diharapkan dapat menyediakan ruang hidup bagi fauna seperti burung yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem kampus.

Bagi UPI, kondisi tersebut membuat penanaman pohon tidak sekadar berkaitan dengan memperindah kawasan kampus. Vegetasi menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem daratan sekaligus menghadirkan lingkungan belajar yang lebih sehat. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, langkah tersebut sejalan dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, terutama pada upaya menjaga keberadaan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Komitmen tersebut juga tidak berhenti pada kebutuhan penghijauan di lingkungan UPI. Apabila seluruh area kampus yang membutuhkan tanaman telah terpenuhi, bibit yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan bakti sosial berupa penanaman pohon.

UPI juga membuka kemungkinan menyalurkan bibit kepada pemerintah daerah atau pihak lain yang membutuhkan. Dengan demikian, kontribusi mahasiswa baru dapat bergerak dari lingkungan kampus menuju masyarakat.

Gerakan tersebut bukan kali pertama dilakukan. Prof. Didi mengatakan upaya serupa telah dilakukan selama tiga tahun, tetapi pelaksanaan tahun ini menjadi yang paling berhasil dari sisi jumlah bibit yang terkumpul.

“Memang saya sudah tahun yang ketiga berusaha untuk melakukan hal yang seperti ini, tapi ini yang paling sukses. Karena direncanakan jauh-jauh hari, kemudian disosialisasikan dengan baik, bukan hanya kepada para mahasiswa baru, tetapi juga kepada kakak-kakak seniornya panitia.” ujarnya.

Keberlanjutan program juga menjadi bagian dari rencana UPI pada tahun-tahun berikutnya. Penanaman pohon tidak diposisikan sebagai kegiatan satu kali, tetapi sebagai kebiasaan yang diharapkan terus tumbuh di lingkungan universitas.

Upaya membangun lingkungan yang lebih hijau di UPI juga terhubung dengan kegiatan penelitian. Prof. Didi menyebut pupuk organik yang digunakan untuk tanaman berasal dari hasil penelitian sivitas akademika UPI melalui proses komposting.

Pupuk tersebut telah digunakan untuk tanaman dan menunjukkan hasil yang baik. UPI juga mengembangkan penelitian mengenai pupuk di lahan universitas di Bumi Sariwangi.

“Kita juga punya lahan di Bumi Sariwangi, kita juga tanami pohon, kemudian di sana juga kita riset tentang pupuk, jadi tidak hanya di FPOK, kita juga riset tentang pupuk di lahan UPI yang ada di Sariwangi.” ujar Prof. Didi.

Pengembangan pupuk tersebut menunjukkan bahwa agenda lingkungan di UPI dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan riset. Hasil penelitian tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung perawatan tanaman, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan menjadi produk yang dapat digunakan masyarakat.

Dengan pola tersebut, gerakan satu mahasiswa satu pohon menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan pendidikan, kepedulian lingkungan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Penanaman pohon yang dimulai dari mahasiswa baru diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan bersama untuk menjaga lingkungan kampus sekaligus berkontribusi pada upaya menghadapi perubahan iklim dan menjaga ekosistem. (RK/CS)