
Subang, UPI
Tata kelola perguruan tinggi membutuhkan sistem kelembagaan yang kuat sekaligus kepemimpinan yang mampu menggerakkan komunitas akademik menuju tujuan bersama. Perpaduan keduanya menjadi salah satu pokok bahasan dalam Leadership Retreat Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Sari Ater, Subang, 21–22 Agustus 2026.
Perspektif tersebut disampaikan melalui materi Prof. Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., Sp.FM.Subsp.SBM, M.Si., DFM., Ketua Senat Akademik Universitas Padjadjaran, mengenai kedudukan, peran, dan fungsi Senat Akademik dalam meningkatkan kinerja akademik perguruan tinggi, serta Prof. Intan Ahmad, Ph.D., Anggota Majelis Wali Amanat UPI, mengenai tata kelola organ utama Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).
Dalam pemaparannya, Prof. Yoni menempatkan Senat Akademik sebagai bagian dari mekanisme checks and balances dalam tata kelola perguruan tinggi. Senat tidak hanya menjalankan fungsi normatif, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan mutu akademik melalui kajian, pertimbangan strategis, dan rekomendasi berbasis bukti.
Pengalaman Universitas Padjadjaran yang dipaparkan Prof. Yoni menunjukkan sejumlah produk kerja Senat Akademik berupa peraturan, pertimbangan dan tanggapan strategis, policy paper, serta policy brief. Pendekatan tersebut digunakan untuk merespons berbagai persoalan akademik dan kelembagaan melalui kajian dan data yang relevan.
Prof. Yoni juga memperkenalkan pergeseran pendekatan dari compliance-oriented governance menuju enhancement-oriented governance. Dalam pendekatan tersebut, Senat tidak berhenti memastikan kepatuhan terhadap aturan, tetapi ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dan keunggulan akademik perguruan tinggi.

Kepemimpinan Tidak Cukup Mengandalkan Jabatan
Sementara itu, Prof. Intan Ahmad membahas tata kelola tiga organ utama PTNBH, yakni Senat Akademik, Rektor, dan Majelis Wali Amanat (MWA). Ia membedakan governance dengan management: governance berkaitan dengan arah, kebijakan, pengawasan, akuntabilitas, dan keberlanjutan, sedangkan management lebih berkaitan dengan pelaksanaan dan operasional.
Ketika ditanya, mana yang lebih menentukan keberhasilan university governance: sistem kelembagaan yang kuat atau kepemimpinan yang kuat.
Menurut Prof. Intan, keduanya tidak dapat dipisahkan.
“Menurut saya itu kombinasi keduanya. Tetapi leadership yang bagus adalah mampu mengajak komunitas bahwa kita mau ke sana. Bukan karena SK.” ujar Prof. Intan.
Menurut Prof. Intan, pemimpin perlu mampu meyakinkan masyarakat akademik mengenai arah yang hendak dicapai. Kepemimpinan bukan sekadar penggunaan kewenangan formal, melainkan kemampuan membangun kesediaan komunitas untuk bergerak bersama.
“Leader itu akhirnya bagaimana meyakinkan masyarakat akademik dalam hal ini untuk bergerak ke arah yang kita sepakati bersama.” katanya.
Selain hubungan antara sistem dan kepemimpinan, Prof. Intan menyoroti pentingnya budaya collegiality dalam kehidupan akademik. Menurutnya, hubungan kolegial dibangun melalui sikap saling menghargai dan pengakuan terhadap kompetensi, bukan semata-mata berdasarkan status atau jabatan akademik.
“Kehormatan itu everybody earns this, respect bukan dipaksakan. Itu bisa terjadi apabila kita menghargai, namanya saling menghargai. Itu collegiality sebenarnya.” ujarnya.
Budaya tersebut, menurutnya, juga berkaitan dengan keberlanjutan kepemimpinan di perguruan tinggi. Para pemimpin senior perlu memberi ruang bagi akademisi lain untuk mengembangkan kapasitasnya sehingga tersedia calon-calon pemimpin baru.
“Tugas kita yang senior adalah melihat potensi-potensi untuk kita kembangkan sehingga nanti calon dekan, calon rektor, wakil rektor sudah banyak calon-calonnya. Yang penting kita beri kesempatan.” kata Prof. Intan.
Kejelasan Peran dalam Tata Kelola
Materi kedua pemateri menunjukkan bahwa sistem dan kepemimpinan harus berjalan dalam koridor kewenangan masing-masing organ. Dalam tata kelola PTNBH, Senat Akademik, Rektor, dan MWA memiliki fungsi yang berbeda, tetapi bekerja untuk tujuan institusi yang sama.
Ketua Senat Akademik UPI Prof. Dr. Yadi Ruyadi, S.H., M.Si., menilai kedua materi tersebut memberikan perspektif penting bagi anggota Senat Akademik UPI. Pengalaman Prof. Yoni memberikan gambaran mengenai praktik pengelolaan Senat Akademik, sementara paparan Prof. Intan memperluas pemahaman mengenai posisi Senat dalam tata kelola PTNBH.
Menurut Prof. Yadi, pemahaman mengenai peran masing-masing organ menjadi dasar bagi terbangunnya kerja sama yang sehat di lingkungan universitas.
“Dengan saling paham itu, Senat, Rektor, dan MWA UPI diharapkan bisa berkolaborasi, bersinergi, bekerja sama dan segala sesuatu persoalan yang harus diselesaikan di UPI ini diselesaikan bersama secara kolektif-kolegial.” ujar Prof. Yadi.
Perpaduan antara sistem kelembagaan yang jelas, kepemimpinan yang mampu menggerakkan komunitas akademik, serta budaya kolegial menjadi perspektif yang mengemuka dalam kegiatan tersebut. Ketiganya menjadi bagian dari tata kelola yang diarahkan untuk menjaga mutu akademik, akuntabilitas, dan keberlanjutan pengembangan UPI. (RK)

