
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menempatkan nilai keberagamaan dan toleransi sebagai bagian dari kehidupan mahasiswa dalam pelaksanaan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026. Di tengah lingkungan kampus yang mayoritas mahasiswa Muslim, mahasiswa baru dari berbagai agama tetap difasilitasi untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya selama rangkaian MOKAKU yang berlangsung hingga Jumat (21/8/2026).
Hal tersebut sejalan dengan identitas UPI sebagai kampus religius. Prof. Dr. Hj. Siti Nurbayani Kusumaningsih, M.Si., menjelaskan bahwa kewajiban beribadah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa, termasuk ketika mahasiswa tengah mengikuti kegiatan akademik maupun orientasi kampus.
“Sebetulnya kan tagline UPI-nya, kampus religius, pelopor dan unggul sebagai kampus religius,” ujar Prof. Siti.
Menurutnya, kegiatan perkuliahan dan aktivitas mahasiswa tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban beribadah. Karena itu, pelaksanaan MOKAKU turut mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa dari berbagai agama untuk menjalankan ibadah masing-masing.
Pada pelaksanaan MOKAKU tahun ini, hal tersebut terlihat ketika waktu istirahat digunakan mahasiswa untuk menjalankan ibadah. Mahasiswa Muslim diarahkan untuk melaksanakan salat, termasuk salat Jumat yang berlangsung pada hari terakhir rangkaian MOKAKU. Sementara mahasiswa Kristen juga mendapatkan ruang untuk melaksanakan kegiatan kerohanian bersama.
Pelaksanaan MOKAKU hingga Jumat menjadi salah satu hal yang berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Prof. Siti menyebut MOKAKU tahun ini menjadi pengalaman pertama karena rangkaian kegiatan berlangsung pada hari Jumat.
“Ini pertama kali diadakan MOKAKU di hari Jumat,” katanya.
Untuk pelaksanaan salat Jumat, mahasiswa baru tidak seluruhnya ditampung di Masjid Al-Furqan karena keterbatasan kapasitas. Sebagian mahasiswa kemudian diarahkan ke lokasi lain yang telah disiapkan, seperti Lapang Tenis dan tempat lainnya. Pelaksanaan tersebut juga dilengkapi imam dan khatib yang telah dipersiapkan untuk yang Muslim.
Sementara itu, mahasiswa Kristen menjalankan kegiatan kerohanian di lokasi yang telah ditentukan. Kegiatan tersebut mencakup doa dan pujian yang menjadi bagian dari bentuk ibadah mereka.
Bagi Prof. Siti, toleransi di lingkungan UPI tidak berhenti pada perbedaan agama. Keberagaman juga mencakup perbedaan suku, budaya, daerah asal, serta kebiasaan yang dibawa mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia.
UPI menerima mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, termasuk Papua, Nusa Tenggara Timur, Aceh, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Perbedaan tersebut kemudian menjadi bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus.
Prof. Siti mengatakan mahasiswa perlu saling merangkul, khususnya terhadap mahasiswa yang berasal dari daerah dengan latar budaya berbeda.
“Daerah seperti Papua, NTT atau Aceh dan juga Kalimantan di perbatasan itu sebetulnya menjadi aset kita dan mereka juga harus bisa dihargai dari nilai budaya lalu kemudian kebiasaan,” tuturnya.
Menurutnya, interaksi antarmahasiswa dapat menjadi ruang belajar untuk memahami perbedaan. Toleransi tidak hanya diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tetapi juga melalui interaksi positif yang memungkinkan mahasiswa memahami kebiasaan satu sama lain.
“Toleransi itu selain bukan saja terhadap saling menghargai dan saling menghormati, tapi juga mengajak kepada kedisiplinan sehingga toleransi itu dibalut dengan vibe-nya yang positif ke depannya,” katanya.

Prof. Siti juga melihat bahwa toleransi antarumat beragama di UPI telah tumbuh dalam kehidupan mahasiswa. Ia mencontohkan interaksi antara mahasiswa Muslim dan mahasiswa Kristen yang tetap saling mengingatkan mengenai kewajiban ibadah.
Ia bahkan pernah melihat mahasiswa Non muslim mengingatkan mahasiswa Muslim untuk melaksanakan salat ketika telah memasuki waktunya.
“Yang menegurnya adalah teman yang bukan seagama,” ujarnya.
Menurut Prof. Siti, hal tersebut menunjukkan bahwa toleransi dapat berkembang menjadi bentuk kepedulian antarmahasiswa. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling mengingatkan dan menghargai kewajiban masing-masing.
Praktik toleransi tersebut juga terlihat dari keberadaan organisasi kerohanian mahasiswa, salah satunya Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). Keduanya menjadi ruang bagi mahasiswa Kristen untuk bertemu, menjalankan kegiatan kerohanian, serta membangun relasi dengan mahasiswa yang memiliki keyakinan serupa.
Penanggung jawab penjaringan mahasiswa Kristen UPI, Giovani Abisden Soegiring Depari, mengatakan kegiatan penjaringan mahasiswa Kristen dalam MOKAKU telah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu mahasiswa baru Kristen tetap dapat menjalankan ibadah di sela-sela rangkaian kegiatan orientasi.
“Jadi kita melakukan penjaringan ini salah satu tujuannya itu untuk membawa mereka ibadah juga walaupun hanya singkat, tetapi sangat membantu biar mereka juga ketemu teman yang seiman dengan dia,” ujar Giovani.
Ia mengatakan mahasiswa baru Kristen memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut. Antusiasme terlihat dari mahasiswa yang bahkan menanyakan kemungkinan adanya kegiatan serupa pada hari berikutnya.
Bagi Giovani, keberadaan ruang ibadah di tengah mahasiswa yang berasal dari agama berbeda menjadi salah satu bentuk nyata toleransi.
“Toleransi dan interaksi dalam perbedaan agama itu sangat penting, karena itu yang mempersatukan kita,” katanya.
Sementara itu, Benedikt Senyurat dari UKM Kerohanian Mahasiswa Kristen UPI mengatakan bahwa mahasiswa baru dapat merasa lebih nyaman karena tetap memiliki ruang untuk menjalankan agamanya di tengah rangkaian MOKAKU.
“Mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri di agamanya dan mereka merasa terjaring oleh kita juga,” ujar Benedikt.
Ia berharap mahasiswa baru dapat terus menjalin silaturahmi dengan siapa pun tanpa membedakan agama.
“Semoga untuk mahasiswa baru tahun ini lebih bisa menjalankan silaturahmi dengan agama manapun, bisa menjalin juga toleransi dan tidak membeda-bedakan sesama lain,” katanya.
Prof. Siti menilai keberagaman yang hadir di lingkungan kampus merupakan bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa. Mahasiswa tidak dapat memilih latar belakang tempat mereka dilahirkan, termasuk suku, budaya, maupun agama yang mereka miliki sejak awal kehidupan.
Karena itu, interaksi selama berada di lingkungan kampus menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar memahami perbedaan.
“Sebetulnya secara harfiah kita tidak bisa memilih kita lahir dari mana, dari orang tuanya siapa, agamanya apa, karena kan kita given,” jelas Prof. Siti.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa perlu tetap menjaga sikap ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan, termasuk perbedaan yang muncul dari aktivitas organisasi maupun lingkungan di luar kampus.
Menurutnya, mahasiswa UPI harus mampu menempatkan identitas sebagai mahasiswa UPI ketika berada di lingkungan kampus, meskipun memiliki latar belakang organisasi dan pandangan yang berbeda.
“Kita satu UPI, tidak ada bendera ekstra kalau ada di kampus karena kita sama-sama mahasiswa UPI,” tuturnya.
Lebih jauh, Prof. Siti berharap toleransi tidak hanya berhenti sebagai nilai yang disampaikan dalam kegiatan orientasi, tetapi menjadi bagian dari karakter mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita beragama, kita tahu bagaimana saling menghargai, menghormati,” ujarnya.
Pelaksanaan MOKAKU UPI 2026 kemudian menjadi salah satu ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal keberagaman tersebut. Di tengah identitas UPI sebagai kampus religius dan mayoritas mahasiswa Muslim, keberadaan fasilitas ibadah bagi mahasiswa dari agama lain menunjukkan bahwa kehidupan religius di kampus juga berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap keberagaman.
Melalui praktik tersebut, MOKAKU tidak hanya menjadi momentum pengenalan lingkungan akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk belajar bahwa keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang merupakan bagian dari kehidupan bersama di UPI. (FauzanSP, Praptiningtyas-Caraka Muda)

