Sumedang, UPI

Kemampuan literasi dasar murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sumedang menunjukkan capaian positif. Hasil studi yang dipaparkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, S.Sos., M.E., menunjukkan sembilan dari 10 siswa telah lulus tes literasi dasar, tetapi kemampuan memahami, mengintegrasikan, dan menginterpretasikan informasi masih menjadi tantangan.

Hal tersebut disampaikan Eka dalam Sosialisasi dan Pendampingan P2MB Kampus Berdampak “Sauyunan” di Kampus UPI di Sumedang, Jumat (11/9/2026). Dalam presentasinya bertajuk “Dari Membaca Menuju Masa Depan: Menguatkan Literasi Membaca Murid SD di Kabupaten Sumedang”, ia memaparkan kondisi literasi sekaligus kebutuhan intervensi untuk meningkatkan kemampuan membaca murid.

Berdasarkan hasil studi yang dipaparkan, 92,8 persen siswa Sumedang pada keseluruhan jenjang yang diukur dinyatakan lulus literasi dasar. Literasi dasar tersebut mencakup kemampuan mengenal huruf, suku kata, dan kata. Namun, masih ditemukan sebagian siswa kelas 4 yang belum lulus literasi dasar, yakni sekitar 7,2 persen.

Tantangan semakin terlihat ketika kemampuan membaca yang diukur tidak lagi sebatas mengenali informasi dalam teks. Dalam contoh teks “Sepeda Impian Dani”, sebanyak 82,6 persen siswa kelas 3 di Sumedang mampu menjawab pertanyaan pada domain tekstual dan inferensial dengan benar. Namun, pada pertanyaan yang membutuhkan kemampuan integrasi dan interpretasi, capaian tersebut turun menjadi 57,1 persen.

Presentasi tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam domain integrasi dan interpretasi justru mengalami tren penurunan pada kenaikan kelas. Kondisi ini diartikan sebagai indikasi bahwa siswa belum sepenuhnya siap mengerjakan soal yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) sesuai dengan tingkat kelasnya.

Persoalan literasi juga berkaitan dengan kesenjangan antarkelompok siswa. Data yang dipaparkan menunjukkan capaian literasi dasar siswa dengan hambatan fungsional belajar jauh lebih rendah dibandingkan siswa tanpa hambatan. Tingkat kelulusan literasi dasar tercatat 82,86 persen pada siswa tanpa hambatan, sedangkan pada siswa dengan hambatan sebesar 14,81 persen.

Kesenjangan juga terlihat berdasarkan status sosial ekonomi dan bahasa yang paling sering digunakan. Pada kelompok status sosial ekonomi, tingkat kelulusan literasi dasar berada pada 76,76 persen untuk kelompok rendah, 81,83 persen kelompok menengah, dan 85,49 persen kelompok tinggi.

Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya intervensi literasi yang tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dasar. Dalam presentasinya, Eka menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan, mulai dari asesmen untuk mengetahui tingkat membaca murid, menciptakan lingkungan sekolah dan rumah yang kaya literasi, memperluas akses terhadap bahan bacaan, hingga memberikan umpan balik melalui interaksi dan dialog dengan anak.

Dalam konteks pengabdian masyarakat, mahasiswa UPI diharapkan dapat mengambil bagian dalam upaya tersebut. Di sekolah, mahasiswa dapat mendukung guru melakukan asesmen membaca dan menciptakan ruang kelas atau madrasah yang kaya teks. Sementara di lingkungan masyarakat, mahasiswa dapat membantu anak, terutama kelas 3–6 yang belum mampu membaca, serta mendampingi orang tua dalam meningkatkan kemampuan membaca anak di rumah.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan P2MB Kampus Berdampak tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Sumedang, peningkatan literasi dapat dimulai dari memastikan anak mampu membaca sekaligus memiliki kemampuan untuk memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi dari apa yang dibacanya. (RK/Angga)