Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyiapkan pola kaderisasi mahasiswa berprestasi agar pengalaman dan capaian mahasiswa tidak berhenti pada prestasi individu, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pembinaan talenta mahasiswa berikutnya. Salah satu langkah yang disiapkan adalah melibatkan mahasiswa berprestasi dalam Rumah Prestasi UPI sebagai bagian dari proses transfer pengalaman dan pendampingan.

Langkah tersebut diungkapkan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI, Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., pada saat pemberian penghargaan kepada Nabila Dwi Seti Cahyani, mahasiswa Program Studi Arsitektur FPTI UPI angkatan 2023, yang meraih Juara III kategori Sarjana pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat Nasional 2026. Nabila juga terpilih mengikuti Student Exchange Support Program di The University of Kitakyushu, Jepang, selama satu tahun.

Prof. Yudi mengatakan, UPI memiliki Rumah Prestasi yang dikelola oleh Divisi Pengelolaan Talenta dan Kewirausahaan di bawah Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni. Rumah Prestasi menjadi salah satu program untuk menghimpun mahasiswa yang telah memiliki prestasi sekaligus menyiapkan talenta berikutnya.

“Nabila sudah mendapatkan rekognisi nasional, kemudian beliau akan kami rekrut sebagai salah satu task force di Rumah Prestasi tersebut untuk memberikan bukan saja sharing pengalaman, tetapi terlibat dalam pengelolaan menyiapkan para talenta selanjutnya dari setiap fakultas dan kampus UPI daerah,” ujar Prof. Yudi.

Menurut Prof. Yudi, pembinaan tersebut dilakukan melalui siklus mulai dari identifikasi talenta di tingkat program studi dan unit kerja. Mahasiswa yang memiliki potensi kemudian dihimpun, dipetakan kompetensinya, diarahkan pada ajang yang sesuai, serta memperoleh pembinaan dan pendampingan hingga mengikuti kompetisi atau pemilihan mahasiswa berprestasi.

Ia menilai kapasitas mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik. Potensi lain perlu ditemukan dan dikembangkan, termasuk minat serta bidang spesifikasi yang dapat menjadi fokus pengembangan prestasi mahasiswa.

“Tidak selesai untuk pada proses mengikuti perkuliahan dengan baik dan capaian prestasi yang baik di kuliahnya. Tetapi ada hal lain yang harus dieksplorasi bahwa potensi itu harus dikembangkan secara lebih luas,” katanya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan FPTI UPI, Dr. Mustika Nuramalia Handayani, S.T.P., M.Pd., mengatakan lahirnya mahasiswa berprestasi membutuhkan persiapan matang dan proses yang panjang. Dari capaian Nabila, FPTI melihat pentingnya konsistensi dan sinergi dalam pembinaan.

“Prestasi ini bukan hanya hasil kerja keras satu orang saja. Barangkali kita melihat bahwa mahasiswanya masuk panggung, tapi di sana banyak yang terlibat di dalamnya,” ujar Dr. Mustika.

Keterlibatan tersebut mencakup dosen pembimbing, pimpinan mulai dari program studi hingga universitas, tenaga kependidikan, serta keluarga. Karena itu, FPTI UPI terus merintis kaderisasi dan pembinaan sejak awal secara berkelanjutan.

Bagi Nabila, proses menemukan dan mengembangkan potensi merupakan bagian penting dari perjalanan mahasiswa. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berfokus pada kegiatan perkuliahan, tetapi juga melihat kebutuhan masyarakat dan menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan.

“Kita masih muda, masih banyak energi, kita harus bisa melakukan riset dan menanyakan apa kebutuhan masyarakat yang bisa kita fasilitasi,” tutur Nabila.

Nabila berharap prestasi yang diraihnya dapat menjadi pengalaman yang diteruskan kepada mahasiswa lain. “Prestasi yang Nabila dapat hari ini tidak hanya berhenti pada Nabila, tapi juga akan berlanjut ke mahasiswa-mahasiswa lainnya,” ujarnya.

Melalui Rumah Prestasi dan pembinaan berkelanjutan di fakultas, UPI menempatkan pengalaman mahasiswa berprestasi sebagai bagian dari proses menyiapkan talenta baru untuk berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional. (RK/RI)