
Malaysia, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui tim peneliti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan melaksanakan studi lapangan penelitian RQS UPI 2026 di Community Learning Center (CLC) Tunas Perwira dan CLC Sungai Kawa, Tawau, Sabah, Malaysia, pada 14–15 September 2026. Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada 16 September 2026 melalui wawancara bersama Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian RQS UPI 2026 berjudul “Pendidikan Kewarganegaraan Transnasional dan Penguatan Ketahanan Sosial Anak/Pemuda Migran Indonesia dalam Komunitas Perkebunan Lintas Negara: Pengembangan Civic-Resilience Education Model (CREM)”. Penelitian ini berfokus pada pemetaan praktik Pendidikan Kewarganegaraan, civic disposition, partisipasi komunitas, identitas kebangsaan, dan social resilience anak/pemuda migran Indonesia.
Tim peneliti UPI, Dr. Asep Mahpudz, M.Si., menjelaskan bahwa riset yang dilakukannya bersama Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. dan Dr. Sri Wahyuni Tanszhil, M.Pd. ini mengusung pendekatan komparatif untuk melihat perbedaan kondisi sosial peserta didik di dua lokasi CLC.
“Pemilihan kedua CLC tersebut dirancang sebagai studi komparatif untuk memahami bagaimana konteks lingkungan sosial dan perkebunan berkaitan dengan pengalaman pendidikan, interaksi sosial, identitas kebangsaan, civic disposition, dan ketahanan sosial peserta didik migran,” ujar Dr. Asep Mahpudz, M.Si.

Asep menambahkan bahwa penelitian ini menempatkan lembaga pendidikan migran tidak sekadar sebagai tempat belajar mengajar biasa di kelas.
“Rencana penelitian secara khusus menempatkan CLC bukan hanya sebagai ruang pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang sosial, ruang pembentukan identitas, dan ruang penguatan ketahanan sosial,” tegasnya.
Pada 14 September, tim melakukan pengumpulan data di CLC Tunas Perwira yang berada di luar kawasan perkebunan kelapa sawit melalui wawancara pengelola dan guru, survei serta wawancara peserta didik, diskusi kelompok, observasi, dokumentasi, dan data checking. Sementara pada 15 September, penelitian dilaksanakan di CLC Sungai Kawa yang berada di dalam kawasan perkebunan kelapa sawit, sebelum ditutup dengan wawancara Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur guna memperluas perspektif penyelenggaraan pendidikan Indonesia di Malaysia.
Dalam pengumpulan data tersebut, tim menggali sumber-sumber ketahanan sosial melalui aspek adaptasi, dukungan keluarga, dukungan guru dan CLC, solidaritas komunitas, serta partisipasi untuk mengidentifikasi praktik baik, hambatan, kebutuhan, dan peluang pengembangan CREM.
Hasil studi lapangan selanjutnya akan diintegrasikan dengan kajian teoretis guna mengembangkan Civic-Resilience Education Model (CREM). Kerangka analisis yang digunakan bergerak dari lingkungan, pengalaman migrasi, interaksi sosial, civic disposition, social resilience, praktik pendidikan CLC, hingga kebutuhan pemuda migran.

Studi ini diharapkan memperkuat kontribusi UPI dalam pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan yang responsif terhadap mobilitas manusia, keberagaman, pengalaman transnasional, serta kebutuhan penguatan ketahanan sosial generasi muda Indonesia di luar negeri. Luaran penelitian ini nantinya akan dipublikasikan dalam dua artikel ilmiah internasional bereputasi, yakni “Educating across Borders: Transnational Citizenship, Educational Rights, and Belonging among Indonesian Migrant Children in Sabah, Malaysia” dan “Cultivating Civic Culture in Transnational Communities: Citizenship Education and Social Resilience among Indonesian Migrant Youth in Sabah, Malaysia”. (DN)

