Bandung, UPI

Pengembangan riset dan inovasi nasional membutuhkan koordinasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan pemerintah. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam persiapan Forum Dialog Strategis Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTN-BH) bersama BRIN yang dibahas di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (22/9/2026).

Sekretaris MSA PTN-BH sekaligus Ketua Senat Akademik UPI, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, S.H., M.Si., mengatakan selama ini pengelolaan riset antara BRIN, PTN-BH, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi masih perlu dibangun dalam pola kerja yang lebih terkoordinasi.

“Ini menjadi satu momentum penting untuk kita bisa kerja bareng, bagaimana menghasilkan riset dan inovasi yang betul-betul bisa menyelesaikan masalah-masalah bangsa kita dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat,” ujar Prof. Yadi.

Menurut Prof. Yadi, kebutuhan kolaborasi juga berkaitan dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi. Melalui kerja bersama, perguruan tinggi dapat berbagi sumber daya manusia, laboratorium, dan kegiatan riset sehingga pengembangan penelitian dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan tidak saling tumpang tindih.

Latar belakang tersebut kemudian menjadi dasar dilaksanakannya rapat koordinasi di UPI. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan MSA PTN-BH dengan Kepala BRIN sebelumnya dan menjadi bagian dari persiapan forum dialog yang akan berlangsung di BRIN pada 28–30 September 2026.

Prof. Yadi menjelaskan, forum tersebut juga menjadi pertemuan perdana antara MSA PTN-BH dan BRIN dalam format dialog bersama. Karena itu, rapat di UPI diarahkan untuk menghasilkan rumusan awal yang dapat dibawa ke pembahasan berikutnya.

Dalam pembukaan rapat, Prof. Yadi menyampaikan bahwa MSA PTN-BH kini melibatkan 26 PTN-BH. Menurutnya, keberadaan forum bersama tersebut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk saling berbagi pandangan dan menyusun usulan terkait arah riset, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia peneliti.

Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan penelitian, tetapi juga pada penyelarasan agenda riset. Prof. Yadi menyebut salah satu pembahasannya berkaitan dengan rancangan Agenda Riset dan Peta Jalan Riset Indonesia yang sedang disiapkan BRIN bersama Kementerian Dikti Saintek.

Selain penyelarasan agenda riset, forum juga akan membahas pemanfaatan AI dalam tridarma serta pengembangan SDM peneliti. Prof. Yadi menilai diperlukan kesepahaman agar kebijakan pemanfaatan AI di lingkungan PTN-BH tidak berjalan berbeda-beda dan tetap memberi ruang bagi inovasi.

Melalui forum dialog tersebut, MSA PTN-BH dan BRIN diharapkan dapat membangun kesamaan pandangan dan menghasilkan rekomendasi bersama yang dapat ditindaklanjuti dalam pengembangan riset dan inovasi nasional. (RK/RI)