Bali, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengirimkan 179 delegasi untuk menghadiri Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII yang berlangsung di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali, pada 2–4 Oktober 2026. Forum nasional ini mengusung tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan”.

Pembukaan perhelatan dua tahunan ini ditandai secara simbolis melalui penyusunan puzzle oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Turut hadir memberikan pengarahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., serta Inspektur Jenderal Kemdiktisaintek, Ineke Indraswati, S.H., M.H., bersama jajaran Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri, Majelis Wali Amanat, serta para Rektor Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan non-LPTK se-Indonesia.

Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., mengimbau seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi strategis demi mewujudkan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Menanggapi hal tersebut, Menko Diktisaintek Prof. Brian Yuliarto menekankan pentingnya persatuan lintas sektor. “Semua perlu bersatu untuk membangun Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Sementara itu, Mendasmen Prof. Abdul Mu’ti menyoroti peran mendasar ruang kelas dalam transformasi pendidikan nasional. “Kalau kita ingin memperbaiki bangsa, tentu perbaikilah pendidikan, dan kalau ingin memperbaiki pendidikan, perbaikilah mulai dari dalam kelas,” ujarnya.

Pada hari kedua, sidang konvensi diisi oleh deretan pakar kependidikan yang membedah berbagai isu krusial. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., memaparkan materi “Digital Education and Artificial Intelligence”, di mana ia menekankan perlunya perguruan tinggi beradaptasi dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang terus mengubah paradigma kreativitas dan pembelajaran.

Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., dalam sesi “Inclusive Education and Transformative Curriculum”, menambahkan pentingnya kurikulum yang adaptif dan berdampak langsung pada kompetensi lulusan. Dari sudut pandang tata kelola, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., dan Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., menegaskan bahwa tata kelola perguruan tinggi yang inovatif merupakan syarat mutlak menuju 2045.

Prinsip keberlanjutan dan penguatan karakter turut disuarakan oleh Prof. Agus Setiawan, D.N., (Green Education) serta Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. (Synergy of the Three Educational Centers). Prof. Didi menyebutkan bahwa karakter lahir dari ekosistem pendidikan yang konsisten melalui keteladanan, pembiasaan, dan pengalaman bermasyarakat.

Guna memperkuat kualifikasi tenaga pendidik, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., memaparkan strategi revitalisasi peran guru melalui pengaktifan kelompok belajar dan pendampingan pelatihan di daerah. Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Drs. Ganefri, Ph.D., dan Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., mendorong LPTK untuk ‘naik kelas’ menjadi penghubung talenta, pedagogi, riset, dan inovasi berbasis mutu, transformasi, serta dampak (MTD).

Rangkaian KONASPI XII resmi ditutup dengan pembacaan Deklarasi Bali oleh Ketua LPTKNI dan penayangan Tari Jayaning Nateng Jagat. Dalam penutupan forum tersebut, disepakati pula bahwa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara resmi ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggara KONASPI XIII pada tahun 2028 mendatang. (Angga)