Bandung, UPI

Pengembangan pendidikan khusus tidak cukup hanya dengan mengadopsi praktik dari negara lain. Perbedaan budaya dan konteks sosial membuat setiap gagasan internasional perlu dikaji sebelum diterapkan di Indonesia, sementara riset yang lahir di dalam negeri juga memiliki potensi untuk menjadi rujukan internasional.

Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam The 16th International Conference on Special Education in the Southeast Asia Region (ICSAR) 2026 yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Khusus (PKh), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Auditorium Gedung Pascasarjana Baru Lantai 7, Kampus UPI, Kamis (8/10/2026).

Ketua Program Studi PKh UPI, Dr. dr. Riksma Nurahmi Rinalti Akhlan, M.Pd., mengatakan forum internasional penting bagi Indonesia untuk belajar mengenai berbagai bentuk pelayanan pendidikan khusus yang telah dikembangkan di negara lain. Namun, proses belajar tersebut perlu disertai kemampuan membaca perbedaan budaya.

“Indonesia ingin melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya. Tentu saja kita harus banyak belajar dan juga melakukan kolaborasi,” ujarnya.

Ia mengatakan sejumlah program yang berkembang di luar negeri sangat mungkin diadaptasi atau diadopsi untuk konteks Indonesia. Di sisi lain, perbedaan budaya menjadi salah satu pertimbangan agar praktik tersebut tidak diterapkan begitu saja tanpa penyesuaian.

Perspektif tersebut juga menempatkan penelitian Indonesia bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan dari luar negeri. Menurutnya, riset pendidikan khusus yang dikembangkan di Indonesia juga memiliki kualitas dan sebagian telah mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Karena itu, forum seperti ICSAR memiliki dua fungsi sekaligus: membuka akses terhadap perkembangan pengetahuan dari negara lain dan menyediakan ruang bagi akademisi Indonesia untuk memperkenalkan hasil penelitian mereka.

“Prinsipnya ingin berbagi, ingin saling belajar dan tentu saja melakukan banyak aktivitas bersama,” katanya.

Kegiatan ICSAR 2026 sendiri telah berkembang menjadi jejaring yang lebih luas sejak pertama kali digelar pada 2009. Pada penyelenggaraan ke-16 ini, jejaring tidak hanya melibatkan perguruan tinggi dari Asia Tenggara, tetapi juga Jepang, China, hingga Hongaria.

Pertukaran pengetahuan tersebut kemudian dilanjutkan melalui workshop yang menghadirkan kesempatan bagi peserta dari Indonesia maupun luar negeri untuk belajar langsung bersama para ahli. Dengan format tersebut, pengetahuan yang dibahas dalam konferensi dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman belajar yang lebih praktis.

Bagi Program Studi PKh UPI, forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman internasional dengan kebutuhan pendidikan khusus di Indonesia. Pendekatan tersebut penting agar pengembangan layanan tetap terbuka terhadap perkembangan global sekaligus relevan dengan karakter masyarakat dan lingkungan pendidikan Indonesia. (RK/RI)