
Bandung, UPI
Perjalanan menuju kelulusan tidak selalu dimulai dengan langkah yang mudah. Bagi Neng Widiyanti Nurfadillah, wisuda menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik yang didahului oleh dua tahun masa jeda (gap year) sebelum akhirnya berhasil melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Wisudawan Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI tersebut mengungkapkan bahwa keputusannya mengambil gap year berangkat dari keinginannya untuk tetap mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri. Setelah belum berhasil lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui SBMPTN, Widi memilih mempersiapkan diri kembali agar dapat meraih kesempatan yang diharapkannya.
“Alasan simpel kenapa aku memilih gap year dan akhirnya berkuliah di UPI adalah karena aku mengejar negeri. Pada saat itu, SBMPTN aku gagal, jadi aku mengumpulkan niat, modal, dan pengetahuan lebih banyak lagi supaya bisa diterima di negeri. Salah satunya adalah UPI,” ungkap Widi.
Bagi Widi, kegagalan pada seleksi sebelumnya bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Dua tahun masa jeda menjadi bagian dari prosesnya untuk kembali mempersiapkan diri hingga akhirnya dapat menempuh pendidikan tinggi di UPI. Perjalanan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang mengantarkannya sampai pada momen wisuda.
Keputusan Widi memilih UPI juga berkaitan erat dengan latar belakang kehidupannya di Kota Bandung. Lahir dan dibesarkan di Bandung, ia menempuh pendidikan sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di sekolah negeri di kota tersebut. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri tanpa harus meninggalkan kota tempat ia tumbuh menjadikan UPI sebagai salah satu pilihan utamanya.
“Karena saya asli Bandung, lahir di Bandung, dan dibesarkan di Bandung. Dari SD negeri, SMP negeri, sampai SMA negeri juga saya di Bandung. Jadi, saya ingin perguruan tinggi negeri pun di Bandung. UPI ada di Bandung, makanya saya memilih UPI,” tuturnya.
Pilihan tersebut kemudian mempertemukan Widi dengan pengalaman akademik dan kehidupan kampus yang memberikan banyak ruang untuk mengenal lingkungan baru. Selama menjalani perkuliahan, ia merasakan bahwa UPI memiliki lingkungan kampus yang luas dengan berbagai tempat dan kegiatan yang dapat dieksplorasi mahasiswa.
Menurutnya, pengalaman menjadi mahasiswa UPI bahkan belum sepenuhnya selesai untuk dijelajahi meskipun ia telah menjalani perkuliahan selama empat tahun. Masih adanya tempat yang belum dikunjungi dan kegiatan yang belum diikuti menjadi kesan tersendiri selama masa studinya.
“Kesan saya, ternyata UPI ini sangat amat luas. Bahkan selama empat tahun pun saya masih sering menemukan tempat-tempat yang belum saya ketahui. Masih banyak sekali kegiatan yang belum saya ikuti,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebagai mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan proses akademik di dalam kelas, tetapi juga dengan kesempatan untuk mengenal lingkungan kampus dan memperluas pengalaman selama menempuh pendidikan tinggi.
Kini, melalui momentum Wisuda UPI Gelombang IV Tahun 2026, perjalanan Widi menjadi pengingat bahwa setiap mahasiswa memiliki jalan yang berbeda untuk mencapai kelulusan. Tidak semua perjalanan berlangsung sesuai rencana, tetapi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tetap terbuka bagi mereka yang bersedia berusaha dan mencoba kembali.
Widi pun menyampaikan pesan kepada calon mahasiswa maupun mereka yang masih menunda pendidikan agar tidak kehilangan semangat dalam mengejar cita-cita.
“Siapa pun bisa menjadi apa pun,” pesannya.
Kisah Widi menghadirkan perspektif bahwa perjalanan menuju perguruan tinggi dan kelulusan tidak selalu berlangsung dalam satu kesempatan. Bagi dirinya, dua tahun gap year menjadi bagian dari perjalanan sebelum akhirnya menyelesaikan studi di UPI. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri dan bahwa ketekunan untuk kembali mencoba dapat menjadi bagian penting dalam meraih tujuan pendidikan. (Fauzan, Caraka Muda)

