Bandung, UPI

Usaha besar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Bagi Firda Khaerunnisa, perjalanan membangun bisnis makanan ringan justru bermula dari ruang tamu rumah orang tuanya, ketika ia masih menyelesaikan skripsi sebagai mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Berbekal produk sederhana berupa keripik kaca berbahan singkong, ia mulai merintis usaha yang kemudian berkembang dengan fasilitas produksi sendiri dan melibatkan banyak pekerja.

Kisah Firda dibagikan saat ia hadir sebagai perwakilan alumni dalam rangkaian Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 hari kedua. Pada hari itu, sebanyak 1.867 wisudawan mengikuti prosesi wisuda. Firda, alumni Program Studi Manajemen Pemasaran Pariwisata UPI angkatan 2017, hadir untuk berbagi pengalaman dan menyampaikan pesan kepada para lulusan yang tengah memulai babak baru kehidupan.

Ketika merintis usaha, Firda belum memiliki pabrik, mesin produksi canggih, maupun karyawan. Ia memulai dari apa yang tersedia, sembari tetap menjalani tanggung jawab akademik. Langkah awal itu tidak berhenti pada proses produksi. Ia juga aktif mencari pengetahuan dan kesempatan yang dapat membantu usahanya berkembang.

Firda dikenal gemar bertanya dan meminta informasi kepada dosen mengenai pelatihan bisnis maupun perlombaan. Dalam perjalanannya, ia mendapat bimbingan dari Ibu Yeni serta Dr. Lili Adi Wibowo dari Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB), meskipun Firda berasal dari Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS). Pendanaan melalui program Kompetisi Inovasi Bisnis Mahasiswa (KIBM) turut menjadi modal awal bagi perkembangan usahanya.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa merintis usaha tidak selalu harus menunggu semua sumber daya tersedia. Keberanian untuk memulai, kemauan mencari pengetahuan, dan kesediaan memanfaatkan kesempatan dapat menjadi bagian penting dari proses membangun bisnis.

Salah satu strategi yang dijalankan Firda adalah pemasaran melalui konten digital. Ia mengunggah sekitar lima hingga 30 video setiap hari di berbagai media sosial. Konten yang dibuat menampilkan proses produksi dan beragam produk, mulai dari keripik kaca, seblak instan, bakso aci, hingga keju aroma.

Konsistensi tersebut membantu produknya menjangkau pasar daring. Firda menyebut usahanya sebagai salah satu penjual makanan dan minuman pertama di platform perdagangan elektronik berbasis video di Indonesia. Strategi ini menunjukkan bahwa pemasaran digital bukan sekadar soal hadir di media sosial, tetapi juga tentang menjaga kesinambungan komunikasi dengan calon pelanggan.

Ketika usaha mulai menghasilkan keuntungan, Firda memilih untuk tidak menjadikan hasil tersebut sebagai alasan untuk bermewah-mewahan. Ia menginvestasikan kembali keuntungan bisnis untuk membangun fasilitas produksi dan membeli mesin. Pendanaan dari kementerian juga dimanfaatkan untuk pengadaan mesin produksi.

“Kita harus kuat mental, percaya diri, dan konsisten,” pesan Firda.

Bisnis Firda berkembang dengan empat pabrik, sekitar 200 karyawan, dan 15 produk, berdasarkan informasi dalam naskah sumber. Perkembangan itu menandai perubahan besar dari usaha yang dirintis saat menyelesaikan skripsi. Namun, kisah Firda tidak hanya berhenti pada pertumbuhan bisnis. Ia juga berupaya agar keberhasilan usahanya memberi manfaat bagi orang lain.

Firda berupaya melibatkan masyarakat sekitar melalui bisnisnya dan membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia juga beberapa kali diundang menjadi narasumber dalam pelatihan di UPI. Pengalaman yang diperolehnya selama membangun usaha menjadi bekal untuk berbagi pengetahuan dengan mahasiswa dan komunitas kampus.

“Apa sih yang enggak buat keluarga UPI,” ujarnya.

Ia mempersilakan para wisudawan untuk berkonsultasi mengenai bisnis. Sikap tersebut mencerminkan keinginannya untuk tetap terhubung dengan almamater dan berbagi pengalaman dengan generasi berikutnya sebagai satu keluarga besar UPI.

Bagi Firda, perjalanan membangun usaha menjadi bukti bahwa langkah awal yang sederhana tidak harus membatasi tujuan seseorang. Ia mengajak para lulusan untuk percaya pada kemampuan diri, menjaga konsistensi, dan berani melangkah meskipun belum memiliki semua yang dibutuhkan.

“Jika saya yang memulai dari modal tanpa pabrik saja bisa melangkah sejauh ini, maka saya yakin kalian yang berdiri hari ini bisa melangkah jauh lebih tinggi dari saya,” tuturnya.

Ia juga berpesan agar para lulusan membawa nama baik UPI, memberi manfaat bagi lingkungan sekitar, dan membuat Indonesia bangga.

Kisah Firda bukan resep instan untuk meraih keberhasilan. Perjalanannya justru menunjukkan pentingnya proses: berani memulai dari kemampuan yang ada, mencari ilmu dan bimbingan, konsisten memperkenalkan produk, serta mengelola kembali hasil usaha untuk mengembangkan bisnis. Dari ruang tamu rumah orang tuanya hingga mengembangkan usaha dengan fasilitas produksi dan ratusan pekerja, Firda membawa satu pesan bagi para lulusan: masa depan dapat dibangun melalui langkah-langkah kecil yang dijalani dengan tekun. (Arzanela Riva, Caraka Muda)