Bandung, UPI

Alunan Himne Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membawa Ifan Mahdiyat Sofiana kembali pada kenangan masa kuliah. Di tengah rangkaian Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 hari ketiga, alumni Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 1994 itu kembali hadir di kampus yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Setelah menuntaskan penugasan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Budapest, Hongaria, ia kini bertugas sebagai Minister Counsellor pada Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Kepulangannya bukan sekadar kunjungan ke almamater. Ada kenangan, rasa haru, sekaligus kebanggaan yang hadir ketika ia kembali menyaksikan prosesi akademik yang dahulu juga menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa. Ia mengaku tak menyangka masih mengingat lirik Himne UPI ketika lagu itu berkumandang.

“Nangis ya. Dan ternyata, tidak menyangka saya masih ingat kata-katanya. Bumi Siliwangi. Tentunya bangga, apalagi melihat Rektor saat ini adalah mentor senior saya, Prof. Didi,” kenang Ifan.

Ingatan tentang Gedung Pentagon dan kegiatan OKMA membawanya kembali pada masa ketika kampus masih bernama IKIP Bandung. Ia masuk sebagai mahasiswa saat institusi itu masih berstatus IKIP Bandung dan lulus ketika namanya telah berubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Namun, menurut Ifan, perubahan nama tidak menghapus nilai yang ia bawa dari kampus: kemampuan belajar, menyampaikan pengetahuan, dan membagikannya secara bijak.

Bekal Pendidikan di Dunia Diplomasi

Bagi Ifan, latar belakang pendidikan bukan penghalang untuk berkarier di bidang diplomasi dan hubungan antarnegara. Sebaliknya, nilai-nilai yang dipelajari di UPI justru menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas yang menuntut kemampuan memahami persoalan, berkomunikasi, dan menyampaikan gagasan kepada beragam pihak.

“Ternyata karakter seorang pendidik itu banyak yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang diplomat. Alam UPI menginspirasi dan mempersiapkan saya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar bagi Indonesia,” ungkapnya.

Perjalanan awalnya di Kementerian Luar Negeri tidak selalu mudah. Ia harus mempelajari isu-isu yang sebelumnya terasa asing bagi lulusan Pendidikan Bahasa Inggris, antara lain ekonomi mikro, demokrasi, hingga tenaga kerja ilegal. Berhadapan dengan bidang baru menuntutnya untuk terus belajar, menggali informasi, dan berani mencoba.

Keterampilan mencari serta mengolah informasi yang diasah selama kuliah menjadi salah satu bekal untuk menghadapi tantangan tersebut. Pengalaman Ifan menunjukkan bahwa latar belakang akademik tidak harus membatasi ruang pengabdian seseorang. Pengetahuan dasar dapat menjadi titik berangkat untuk mempelajari hal baru, selama disertai kemauan beradaptasi dan terus mengembangkan diri.

Sebelum bertugas di Kementerian Perdagangan, Ifan menjalankan penugasan di KBRI Budapest. Ia pernah menjabat sebagai Minister Counsellor sekaligus Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud). Dalam masa transisi kepemimpinan di kedutaan sejak awal 2025, ia juga sempat mengemban amanah sebagai Kuasa Usaha ad Interim (KUAI) atau *Chargé d’Affaires*. Masa tugasnya di Hongaria berakhir melalui acara serah terima jabatan pada 30 Juli 2026.

Hold Your Head Up High: Percaya pada Bekal Diri

Berangkat dari pengalamannya, Ifan mengingatkan para lulusan agar tidak merasa rendah diri ketika memasuki dunia kerja atau bersaing dengan lulusan dari bidang yang lebih dekat dengan profesi tertentu. Menurutnya, lulusan UPI memiliki keistimewaan: tidak hanya dibekali ilmu sesuai bidang keahliannya, tetapi juga nilai dan kemampuan untuk membagikan pengetahuan kepada orang lain.

“Satu-satunya cara untuk tetap tampil adalah hold your head up high. Kita ini istimewa. Universitas lain mungkin hanya memberikan satu bidang keilmuan, tetapi kita dibekali dua hal: ilmu sesuai bidangnya dan ilmu untuk menularkan serta membagikan pengetahuan itu. Itu adalah tugas terbesar umat manusia,” tuturnya.

Pesan tersebut bukan ajakan untuk merasa lebih unggul dari orang lain, melainkan dorongan agar para lulusan mengenali bekal yang dimiliki dan menggunakannya dengan percaya diri. Dalam dunia kerja yang terus berubah, kemampuan memahami bidang sendiri sekaligus menjelaskan pengetahuan kepada orang lain dapat menjadi kekuatan yang relevan.

Terus Belajar di Tengah Perubahan

Ifan juga menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh atau *growth mindset*. Menurutnya, para lulusan perlu terus mengasah keterampilan agar tetap relevan dengan perubahan dunia kerja yang semakin dinamis dan tidak dibatasi ruang.

Ia menyoroti sejumlah kemampuan yang perlu dikembangkan, di antaranya berpikir analitis dan kritis, kemampuan memimpin serta menginspirasi kepercayaan, dan kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat. Bagi Ifan, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang menerima ijazah. Justru setelah lulus, proses belajar memasuki bentuk baru melalui pengalaman, tantangan, dan tanggung jawab yang dihadapi.

“Pada akhirnya, bukan universitas yang menentukan siapa diri kita, melainkan kita sendiri yang menentukan ingin menjadi apa. Kuncinya adalah refleksikan apa yang sudah dipelajari. Kita sebetulnya sudah dipersiapkan, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” pesan Ifan.

Kisah Ifan Mahdiyat Sofiana memperlihatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu mengikuti garis lurus sesuai nama program studi. Bekal dari kampus dapat tumbuh menjadi kemampuan yang berguna di bidang berbeda, asalkan seseorang bersedia terus belajar, berani menghadapi hal baru, dan percaya pada proses pengembangan diri.

Saat kembali ke UPI sebagai alumni dan tamu dalam Wisuda Gelombang IV hari ketiga, Ifan tidak hanya membawa cerita tentang pengabdiannya di luar negeri. Ia juga menyampaikan pengingat bagi para lulusan: kenali bekal yang telah diperoleh, terus tingkatkan kemampuan, dan gunakan ilmu untuk memberi manfaat. Sebab, masa depan bukan hanya ditentukan oleh tempat seseorang belajar, tetapi juga oleh cara ia memanfaatkan pembelajaran itu dalam perjalanan hidupnya. (Adia/Naufal, Caraka Muda)