Bandung, UPI

Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi Ainun, seorang guru di SLB Negeri Tasikmalaya, untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Setelah menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sejarah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), ia kini telah menyelesaikan studi S2 Pendidikan Khusus di kampus yang sama dan resmi diwisuda. Perjalanan kuliahnya, dari masa S1 hingga S2, menjadi cerita yang sarat pelajaran tentang ketekunan, perkembangan teknologi, dan harapan untuk lingkungan kampus yang lebih ramah bagi semua mahasiswa.

Ainun menuturkan, keputusannya melanjutkan S2 berangkat dari pengalamannya mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) sejak awal karier. Meski berlatar belakang S1 Pendidikan Sejarah, sejak awal ia memang langsung mengabdi sebagai guru di SLB. Karena itu, ketika kesempatan untuk kuliah S2 datang, ia memilih Pendidikan Khusus, yang dahulu dikenal dengan nama Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Ia ingin latar belakang pendidikannya sejalan dengan bidang pekerjaan yang dijalani sehari-hari. “Makanya sekarang ada kesempatan ngambil S2 di pendidikan khusus biar sesuai dengan lapangan kerjanya, tempat kerjanya,” ujarnya.

Ainun mengenang masa S1 sekitar 20 tahun lalu sebagai masa yang cukup berat. Saat itu, ia masih berusia muda dan teknologi pendukung bagi penyandang disabilitas netra belum seperti sekarang. Komputer bicara maupun laptop dengan pembaca layar belum tersedia, sehingga ia masih bergantung pada reader atau orang lain untuk membacakan materi. Di tengah keterbatasan itu, ia juga menghadapi persoalan keluarga yang membuatnya agak kewalahan dalam menjalani perkuliahan.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan masa S2. Kini ia memakai laptop dengan pembaca layar NVDA sehingga bisa mengetik dan mengerjakan tugas secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada bantuan reader atau orang yang melihat. Kemajuan teknologi ini membuat proses belajarnya jauh lebih leluasa dibandingkan dua dekade sebelumnya.

Ainun menempuh S2 melalui kelas kerja sama dengan sistem pembelajaran campuran (blended learning), yakni daring dan luring. Sebagian besar perkuliahan berlangsung secara daring, sedangkan pertemuan luring di kampus hanya beberapa kali dalam satu semester.

Meski sangat terbantu teknologi, Ainun mengungkapkan masih ada kendala pada aksesibilitas situs web UPI untuk mahasiswa dan dosen. Menurutnya, sebagian laman kurang ramah bagi pengguna pembaca layar. Di tengah era banyaknya aplikasi, ia pernah mengalami kesulitan saat mengunggah tugas karena bagian tertentu tidak terbaca pembaca layar. Kendala serupa juga ia temui ketika mengunggah tesis melalui tautan repository, yang menurutnya berjalan agak kurang lancar.

“Aksesibilitas internetnya itu seharusnya sesuai dengan ketentuan internasional,” tuturnya. Menurutnya, bagi penyandang disabilitas netra yang menggunakan pembaca layar, situs web kampus seharusnya dapat diakses dengan baik.

Dari sisi pelayanan, Ainun menilai orang-orang di lingkungan UPI sudah jelas ramah. Fasilitas lokasi kampus pun menurutnya sudah lumayan bagus. Namun, ia mengingatkan bahwa banyak tangga di sekitar kampus sehingga penyandang disabilitas netra perlu berhati-hati saat berjalan.

Ia juga mengaku masih perlu belajar kembali soal orientasi dan mobilitas di UPI. Kondisi kampus saat ini sangat berbeda dengan masa kuliahnya dulu, yang kini dipenuhi gedung-gedung bertingkat. Saat S1, ia hafal lingkungan kampus, sedangkan sekarang ia harus beradaptasi lagi. Ia menyebut seiring bertambahnya usia, sebagian denah kampus memang belum begitu ia hafal.

Di akhir wawancara, Ainun menyampaikan pesan kepada sesama mahasiswa disabilitas, terutama yang masih muda, agar tetap bersemangat dan terus belajar. Menurutnya, zaman sekarang adalah zaman teknologi informasi sehingga jangan sampai ada yang tertinggal dalam penguasaan teknologi.

Ainun juga mengajak orang tua yang memiliki anak disabilitas untuk tidak berkecil hati dan tetap semangat menyekolahkan, bahkan menguliahkan anak-anak mereka. Sebagai guru, ia mengaku masih menemukan murid-murid yang berada di tengah masyarakat dengan stigma negatif. Disabilitas, menurutnya, masih sering dianggap berada di kelas dua atau berbeda level dari nondisabilitas.

Padahal, menurut Ainun, para penyandang disabilitas memiliki banyak kemampuan terpendam yang perlu digali. Kemampuan itu hanya bisa berkembang jika mereka mendapat kesempatan belajar dan mengakses teknologi.

“Masyarakat kita tidak akan bisa pintar, termasuk disabilitas, kalau kita tidak terbuka dengan pendidikan dan teknologi. Jadi jangan terlalu banyak stigma. Pendidikan dan latihan itu penting sekali,” tegasnya. (Varrel/Fauzan/Praptiningtyas – Caraka Muda)