
Bandung, UPI
Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya berharap Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus menghadirkan kesenian tradisional, khususnya wayang golek, sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Sunda. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam menampilkan seni tradisi dapat membantu menjaga keberlangsungan warisan budaya bagi generasi muda.
Harapan tersebut disampaikan Dadan saat tampil dalam pagelaran wayang golek bersama Grup Kesenian Wayang Golek Putra Giri Harja 3 dalam rangka Dies Natalis ke-72 UPI, Jumat (23/10/2026), di area parkir utara Kampus UPI, Bandung. Pertunjukan tersebut dihadiri sekitar 1.000 orang yang terdiri atas masyarakat sekitar, sivitas akademika, mahasiswa, dan pimpinan universitas.
Dadan mengaku senang mendapat kepercayaan dari UPI untuk menampilkan kesenian wayang golek yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Sunda di Jawa Barat. Ia menilai, penyelenggaraan pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
“Secara tidak langsung UPI telah ikut melestarikan budaya kita, budaya bangsa, khususnya wayang golek,” ujarnya.
Menurut Dadan, budaya memiliki hubungan erat dengan martabat suatu bangsa. Karena itu, keberadaan seni tradisional perlu dijaga agar tidak tergerus oleh perubahan zaman dan semakin berkurangnya perhatian generasi muda terhadap warisan budaya sendiri.
Ia berharap wayang golek dapat terus ditampilkan dalam berbagai kegiatan di lingkungan UPI. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi ruang pendidikan akademik, tetapi juga tempat masyarakat mengenal dan mengapresiasi kesenian tradisional.
“Mudah-mudahan dengan seringnya ditampilkan seni tradisi di UPI, menjadi benteng untuk kebudayaan Sunda,” katanya.
Dadan juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tetap terbuka terhadap budaya dari berbagai daerah maupun negara, tanpa melupakan identitas budaya sendiri. Menurutnya, ketertarikan terhadap budaya lain semestinya berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap tradisi yang diwariskan oleh masyarakatnya.
“Boleh kalian senang budaya orang lain, tapi tetap jangan melupakan budaya kita sendiri,” tuturnya.

Pada momentum Dies Natalis ke-72 UPI, Dadan berharap universitas tersebut terus berkembang dan menghadirkan kegiatan yang memberi ruang bagi pelestarian kesenian tradisional. Ia juga menyampaikan doa agar pimpinan, dosen, dan mahasiswa UPI senantiasa mendapat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Pagelaran wayang golek tersebut menjadi salah satu ruang pertemuan antara perguruan tinggi, masyarakat, dan seni tradisional. Melalui kegiatan semacam ini, warisan budaya Sunda diharapkan tetap dikenal dan diapresiasi oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman. (RK/RI/DN)

