
Delapan tahun menempuh pendidikan di UPI memberi Ari Kurnianto, yang dikenal sebagai Yujeng Hensem, lebih dari sekadar gelar sarjana. Dari ruang latihan Lembur Bitung hingga panggung televisi, musik menjadi benang merah perjalanan karier dan kenangan hidupnya.
Bagi Ari Kurnianto, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bukan sekadar tempat menyelesaikan pendidikan tinggi. Kampus itu menyimpan jejak perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa seni musik, ruang untuk menempa kemampuan, bertukar gagasan, membangun persahabatan, hingga menemukan pasangan hidup.
Kini, namanya lebih dikenal publik sebagai Yujeng Hensem, sosok yang pernah mengisi program hiburan televisi seperti Opera Van Java (OVJ) dan Ini Talkshow. Di balik penampilannya di layar kaca, ada pengalaman belajar dan proses kreatif yang tumbuh selama menjadi mahasiswa Program Studi Seni Musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UPI, angkatan 2001.
Kenangan itu kembali hadir saat ia berbincang di sela pagelaran wayang golek dalam rangka Dies Natalis ke-72 UPI, Jumat (23/10/2026). Dalam percakapan tersebut, Yujeng mengenang masa kuliah sekaligus melihat perubahan almamater yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Luar biasa ya, banyak sekali perkembangan, baik itu dalam tata letak yang paling terlihat menonjol dan berbeda dengan tahun 2000-an,” ujarnya.
Bagi Yujeng, perubahan fisik kampus menjadi penanda perjalanan waktu. Banyak tempat yang dahulu akrab dengan kehidupan mahasiswa kini telah berubah fungsi atau tidak lagi seperti yang ia kenal. Namun, ingatan tentang ruang-ruang berlatih dan berkumpul bersama sesama mahasiswa seni tetap melekat.
Lembur Bitung, tempat kreativitas bertumbuh
Salah satu tempat yang paling membekas bagi Yujeng adalah Lembur Bitung. Bagi mahasiswa seni musik pada masanya, tempat itu bukan hanya lokasi perkuliahan praktik, melainkan ruang untuk berlatih, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kemampuan di luar jam kuliah.
Yujeng mengenang mahasiswa dapat menggunakan fasilitas latihan hingga malam. Mereka berlatih piano, mempersiapkan ujian praktik, memainkan alat musik bersama, hingga menyusun pertunjukan. Aktivitas tersebut membuat proses belajar terasa dekat dengan praktik berkesenian yang sesungguhnya.
Untuk berlatih piano saja, mahasiswa terkadang harus mengantre sejak pagi. Menjelang ujian, aktivitas di tempat itu semakin ramai karena mahasiswa mempersiapkan kemampuan musikal dan penampilan mereka.
“Lembur Bitung itu bagi saya pribadi sangat legendaris. Karena kita untuk berkarya tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sama fasilitas,” kenangnya.
Kegiatan di Lembur Bitung juga mengajarkan mahasiswa untuk mengelola pertunjukan secara mandiri. Mereka tidak hanya tampil sebagai pemain, tetapi turut mengatur jalannya pementasan dan mendiskusikan konsep pertunjukan bersama rekan-rekan satu jurusan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang tidak berhenti pada teori. Mahasiswa belajar memainkan musik sekaligus memahami kerja kolektif yang dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah pertunjukan.
Yujeng juga mengenang gedung Pentagon, bangunan yang dahulu digunakan untuk berbagai aktivitas mahasiswa, termasuk kegiatan Himpunan Mahasiswa Seni Musik dan perkuliahan mata kuliah umum. Tempat itu menjadi salah satu penanda kehidupan kampus pada awal 2000-an.
Di antara latihan, perkuliahan, dan kegiatan bersama teman-teman, kehidupan mahasiswa berjalan dengan segala dinamikanya. Bagi Yujeng, pengalaman tersebut menjadikan masa kuliah sebagai periode yang penuh kenangan, meskipun ia membutuhkan waktu sekitar delapan tahun untuk menyelesaikan pendidikannya dan lulus pada 2009.
Meniti jalan dari musik ke televisi
Ketertarikan Yujeng terhadap seni telah tumbuh sejak remaja. Dalam wawancara dengan KapanLagi.com pada 2016, ia menceritakan bahwa kecintaannya terhadap seni bermula ketika duduk di bangku SMP. Ketika teman-temannya menyukai musik bergenre lain, ia justru tertarik membentuk grup musik dangdut bernama Atenos, yang namanya diambil dari kebalikan Soneta, grup musik yang ia gemari.
Perjalanannya memasuki dunia televisi dimulai sekitar 2005. Dalam wawancara yang sama, Yujeng menceritakan pengalamannya mengikuti audisi band lawak bersama kelompok bernama Markus, singkatan dari Mari Kita Usaha. Kelompok tersebut meraih juara pertama, tetapi tidak berlanjut menjadi grup profesional.

Kesempatan lain datang pada 2008 ketika ia diminta menggantikan pemusik dalam program Opera Van Java. Awalnya hanya sebagai pengganti, Yujeng kemudian mendapat kesempatan untuk terus terlibat dalam program tersebut. Ia mengaku menjalani pengalaman itu hingga sekitar 2013 sebelum berkiprah dalam Ini Talkshow.
Di dunia hiburan, kemampuan bermusik menjadi bekal yang membawanya ke berbagai ruang kreatif. Ia tidak hanya tampil sebagai pemusik pengiring, tetapi juga terlibat dalam penciptaan karya. Salah satunya adalah lagu “Orkes Prediksi” milik kelompok selebritas The Prediksi yang dirilis pada 2021. Andre Taulany, dalam pemberitaan Kompas.com, menyebut Yujeng sebagai pencipta lagu tersebut.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa keterampilan yang diasah melalui pendidikan seni dapat berkembang menjadi modal untuk berkarya di industri hiburan. Musik tetap menjadi titik temu antara pengalaman akademik Yujeng dan aktivitas profesionalnya.
Kampus, persahabatan, dan kisah kehidupan
Kenangan Yujeng tentang UPI tidak seluruhnya berhubungan dengan pelajaran dan pertunjukan. Kehidupan kampus juga mempertemukannya dengan orang-orang yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan pribadinya.
Di lingkungan mahasiswa seni, ia bertemu dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Sang istri merupakan mahasiswa seni tari angkatan 2005. Pertemuan yang tumbuh di tengah aktivitas berkesenian itu menjadi salah satu cerita personal yang ia kenang dari masa kuliah.
Lembur Bitung, dengan kegiatan latihan dan pertemuan antarmahasiswanya, bukan hanya menjadi ruang pengembangan keterampilan, tetapi juga tempat berbagai hubungan terjalin. Mahasiswa berjumpa dalam latihan, bekerja bersama dalam pertunjukan, dan saling membantu saat menghadapi ujian.
Hubungan seperti itu turut membentuk pengalaman berkuliah yang berkesan. Ketika bangunan kampus berubah dan generasi mahasiswa berganti, cerita tentang pertemanan, kerja kreatif, dan kehidupan personal tetap menjadi bagian dari ingatan alumni.
Pesan untuk mahasiswa masa kini
Saat melihat perkembangan UPI, Yujeng juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, terutama mereka yang menjalani perkuliahan dengan banyak kegiatan praktik.
Ia memahami bahwa sistem pembelajaran kini memiliki dinamika berbeda dari masa kuliahnya. Namun, menurutnya, mahasiswa perlu tetap bersemangat dan memperoleh kesempatan belajar secara langsung, khususnya untuk bidang studi yang membutuhkan keterampilan praktik.
“Yang penting mah semangat,” pesannya.
Ia menilai, bagi mahasiswa seni, pertemuan langsung dengan dosen dan kesempatan berlatih menggunakan fasilitas menjadi bagian penting dari proses belajar. Video pembelajaran memang dapat membantu, tetapi pengalaman berinteraksi dan mempraktikkan keterampilan secara langsung memiliki peran tersendiri.
“Tidak ada yang menggantikan pertemuan langsung,” tuturnya dalam percakapan saat mengenang kehidupan kampus.
Pesan tersebut sejalan dengan pengalamannya sendiri. Kemampuan bermusik tidak dibentuk dalam satu kali latihan, tetapi melalui proses panjang, kedisiplinan, dan kesempatan terus-menerus untuk mencoba.
Pada momentum Dies Natalis ke-72 UPI, Yujeng menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan bagi almamater yang pernah menjadi ruang tumbuhnya sebagai mahasiswa Seni Musik FPBS UPI angkatan 2001. Ia berharap UPI terus berkembang, mencetak pendidik berkualitas, dan menjadi perguruan tinggi yang diakui atas keunggulannya.
“Selamat ulang tahun. Semoga UPI bisa mencetak para pendidik dan menjadi kampus yang leading and outstanding,” ujar Yujeng saat ditemui di sela pagelaran wayang golek dalam rangka Dies Natalis ke-72 UPI, Jumat (23/10/2026).
Ucapan tersebut menjadi bentuk perhatian Yujeng terhadap perkembangan almamaternya. Setelah menempuh perjalanan dari bangku kuliah hingga berkiprah di dunia hiburan, ia berharap UPI terus melahirkan generasi pendidik yang berkualitas dan membawa harum nama universitas.
Bagi Yujeng Hensem, perjalanan dari Lembur Bitung ke panggung hiburan merupakan bagian dari kisah yang tidak terpisahkan dari masa kuliahnya di UPI. Bangunan dan suasana kampus boleh berubah seiring waktu, tetapi pengalaman belajar, berkarya, dan membangun hubungan selama menjadi mahasiswa tetap menjadi kenangan yang melekat dalam perjalanan hidupnya. (RK)

