Bandung, UPI

Tim peneliti Program Studi Pendidikan Tata Boga Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Training of Trainers (ToT) penggunaan aplikasi pemantauan gizi digital bagi guru PJOK sekolah dasar se-Kota Bandung pada Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini berlangsung di Center of Excellence Kampus UPI Bandung sebagai bagian dari upaya pencegahan obesitas anak usia sekolah.

Pelatihan ini merupakan bagian dari riset skema Program Hibah Pengembangan Inovasi dan Hilirisasi UPI Tahun 2026 (DIPUU) di bawah sub-skema Inovasi Sosial Terapan. Program yang dibiayai oleh Direktorat Inovasi, Hilirisasi, dan Science Techno Park (DIHSTP) UPI ini diketuai oleh Prof. Dr. Cica Yulia, S.Pd., M.Si.

Dalam pelaksanaannya, tim lintas keilmuan yang mencakup bidang tata boga, gizi, pendidikan multimedia, dan bahasa ini menggandeng Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) Provinsi Jawa Barat sebagai mitra utama.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur DIHSTP UPI, Dr. Lili Adi Wibowo, S.Pd., S.Sos., M.M. Pelatihan terbagi menjadi dua sesi utama, yakni pemaparan masalah gizi lebih pada anak SD oleh Prof. Dr. Cica Yulia, dilanjutkan pengenalan teknis aplikasi oleh pengembang aplikasi Agus Juhana, S.Pd., M.T. Pada sesi berikutnya, pakar gizi Habibah Abidin, S.Pi., M.Gz. membedah cara membaca status gizi anak serta langkah tindak lanjut bersama orang tua.

Aplikasi ini hadir menjawab tantangan pemantauan gizi sekolah yang selama ini masih bersifat manual dan belum terintegrasi. Lewat sistem digital ini, guru, orang tua, dan siswa terhubung secara langsung sehingga risiko gizi lebih dapat terdeteksi lebih awal.

Inovasi ini juga mendukung pilar Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).

Agar pencegahan obesitas anak di sekolah berjalan berkelanjutan, tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah. Pertama, pemantauan gizi digital diintegrasikan ke dalam program kesehatan peserta didik di sekolah, seperti Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kedua, guru yang telah dilatih diberi peran sebagai pelatih bagi rekan guru lain secara berjenjang. Ketiga, keterlibatan orang tua diperkuat agar pola makan dan aktivitas fisik anak terjaga di rumah. Keempat, dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dan mitra diperlukan agar model ini dapat direplikasi di lebih banyak sekolah.

Usai pelatihan ini, tim peneliti bersiap melanjutkannya dengan tahap implementasi lapangan di sekolah mitra serta penyusunan rekomendasi kebijakan (policy brief) guna menyebarluaskan penggunaan aplikasi secara lebih luas. (DN)