Bandung, UPI

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengolah limbah perca denim menjadi produk fesyen multifungsi melalui usaha RAW2WEAR. Selain memanfaatkan kembali sisa bahan konveksi, inovasi ini melibatkan ibu rumah tangga di Cipadungwetan, Bandung, dalam pengerjaan sulaman bermotif Mega Mendung khas Jawa Barat.

Produk RAW2WEAR diperkenalkan dalam Expo RISE UP 2026 di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI, Bandung, pada 26–27 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi wadah pengembangan kewirausahaan mahasiswa sekaligus ruang promosi bagi produk kreatif dan inovatif yang dikembangkan di lingkungan kampus.

Najiya Nur Sabila, mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) UPI angkatan 2023, menjelaskan bahwa RAW2WEAR dikembangkan sejak 2025 melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Tim yang terdiri atas empat mahasiswa tersebut memilih denim karena melihat potensi sisa bahan konveksi untuk diolah menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai jual.

Salah satu produk unggulannya adalah Denim Toast, rompi yang dapat diubah menjadi tas jinjing (tote bag). Produk ini dirancang dengan menggabungkan potongan denim berbeda warna melalui teknik patchwork, sehingga menghasilkan desain khas sekaligus memberikan pemanfaatan baru bagi kain yang berpotensi terbuang.

Keunikan RAW2WEAR tidak hanya terletak pada desain multifungsi, tetapi juga pada detail sulamannya. Najiya menjelaskan bahwa tim melibatkan ibu-ibu di Cipadungwetan untuk mengerjakan sulaman tangan bermotif Mega Mendung. Motif tersebut menghadirkan unsur budaya lokal dalam produk fesyen sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam proses produksi.

“Ini juga ada sulaman Mega Mendung namanya, sulaman tangan. Ini hasil pemberdayaan kami kepada ibu-ibu rumah tangga, pemberdayaan kami kepada masyarakat,” ujar Najiya.

Upaya memanfaatkan bahan dilakukan hingga ke bagian kecil produk. Selain mengolah perca denim menjadi pakaian dan tas, RAW2WEAR membuat gantungan kunci dari sisa kain berukuran kecil. Produk-produknya juga dilengkapi hang tag berbahan kertas daur ulang yang dapat ditanam karena mengandung benih tanaman.

Melalui pendekatan tersebut, RAW2WEAR berupaya memberi nilai baru pada bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah. Proses produksinya juga mempertemukan kreativitas mahasiswa dengan keterampilan ibu rumah tangga di Cipadungwetan. Perpaduan ini menjadikan produk tidak hanya membawa gagasan pemanfaatan kembali bahan tekstil, tetapi juga memberi ruang bagi keterampilan masyarakat untuk menjadi bagian dari usaha kreatif.

Najiya mengatakan produk RAW2WEAR telah dipasarkan dan mendapat respons dari konsumen dengan latar belakang beragam. Tim berharap usaha yang dirintis tidak berhenti pada kompetisi atau masa perkuliahan, tetapi terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat serta lingkungan.

Upaya tersebut menjadi salah satu contoh penerapan kewirausahaan berkelanjutan di kalangan mahasiswa, dengan menggabungkan pemanfaatan bahan yang berpotensi terbuang, nilai budaya lokal, dan keterlibatan masyarakat dalam proses produksi. (RK)