English
Indonesia

Audiensi UPI dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI: Peluang Kolaborasi Strategis pada Edukasi dan Peningkatan Profesionalisme

12 Sep 2025 • Humas UPI

Universitas Pendidikan Indonesia melaksanakan pertemuan dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) pada Rabu (10/10). Pada pertemuan tersebut, UPI yang diwakili oleh Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. bersama Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., membahas berbagai peluang kolaborasi strategis yang berfokus pada edukasi dan peningkatan profesionalisme tenaga kerja Indonesia. UPI menyambut baik rencana tersebut. Sebagai universitas dengan jati diri pendidikan (The Education University) yang menekankan pada karakter edukatif dilandasi oleh integritas dan kejujuran. UPI mengambil peran untuk memberikan edukasi kepada tenaga kerja. UPI berpandangan bahwa Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan menjadi penentu untuk masa depan. Makna Pendidikan di UPI yaitu membangun komitmen sinergitas masyarakat kampus dalam pembudayaan karakter positif yang mengedepankan aspek independensi, responsibilitas, dan daya adaptabilitas. Selain itu, UPI senantiasa berupaya untuk mengedepankan nilai-nilai kehidupan bagi masyarakat kampus yang mengedepankan kesantunan dan saling menguatkan di antara elemen yang ada dalamnya (cross-fertilization). Maka dari itu, UPI berupaya untuk menciptakan kolaborasi sebagai upaya memperluas perannya di masyarakat.

UPI juga telah melaksanakan peresmian UPI Migrant Center pada tanggal 28 Agustus 2025 lalu. Kemnaker RI pada dasarnya mendukung dan menyambut baik peresmian UPI Migrant Center tersebut. Bentuk dukungan yang diberikan, salah satunya adalah sinergi melalui aplikasi SIAPkerja, BBPVP, atau BLK di setiap Provinsi/Kota/Kabupaten, khususnya di Wilayah Jawa Barat. Lebih lanjut, Kemnaker juga meminta kepada tim UPI untuk memberikan data program studi potensial dalam rangka pemenuhan lowongan kerja dalam dan luar negeri dan peluang untuk program vokasi yang berkelanjutan.

Rektor UPI pada kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa UPI mengacu pada konsep Pelopor dan Unggul (Leading and Outstanding). UPI sebagai pelopor dimaknai bahwa seluruh masyarakat kampus memiliki karakter yang kreatif dan inisiatif yang tinggi dalam pengembangan inovasi khususnya dalam bidang pendidikan. Unggul dimaknai bahwa UPI memiliki daya saing yang disertai dengan jiwa kompetitif yang tinggi dan memiliki keberanian untuk tampil dan kelebihan yang membedakan dari kancah yang lainnya di kancah nasional dan internasional. Dengan konsep tersebut UPI berkomitmen untuk turut berkontribusi dalam peningkatan profesionalisme tenaga kerja. Komitmen tersebut disambut baik oleh Kemnaker RI salah satunya dengan melibatkan tim dari UPI terkait rencana konvensi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) baru untuk tahun 2026. 

Sinergi yang terjalin antara UPI dengan Kemnaker RI diharapkan dapat terus mendukung pemenuhan lapangan kerja di Indonesia dengan sumber daya manusia yang berkualitas, berintegritas, dan jujur, sejalan dengan konsep Pelopor dan Unggul serta karakter pendidikan yang dimiliki oleh UPI.

Kontributor: Vidi Sukmayadi, Angga Hadiapurwa, dan Tim

Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Bisnis Mahasiswa, Kolaborasi Tim PkM Kewirausahaan UPI dengan OK OCE

11 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung – Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Bisnis Mahasiswa pada Kamis, 11 September 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Skema Kewirausahaan, dengan kolaborasi bersama OK OCE sebagai mitra strategis.

Pelatihan ini menghadirkan tim pelaksana dan mitra yang berkompeten:

  • Mitra OK OCE: Iim Rusyamsi., S.T., MM.
  • Ketua PKM: Dr. Lili Adi Wibowo., MM.
  • Anggota PKM: Dr. Masharyono., MM., Dr. Lisnawati., MM., dan Dr. Tika Koeswandi., MM.

Dalam sambutannya, Ketua PKM Dr. Lili Adi Wibowo., MM. menekankan bahwa pemanfaatan AI sudah menjadi kebutuhan mendesak di dunia bisnis modern.

“Mahasiswa sebagai calon entrepreneur dituntut untuk adaptif terhadap teknologi. AI dapat membantu mereka memahami pasar, membaca tren konsumen, serta merancang strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Melalui pelatihan ini, kami ingin mahasiswa memiliki keterampilan praktis dalam mengaplikasikan AI pada ide bisnis mereka.”

Sementara itu, Ketua Umum OK OCE, Iim Rusyamsi., S.T., MM., menegaskan komitmen OK OCE dalam mendukung lahirnya wirausaha baru berbasis teknologi.

“Kami percaya masa depan kewirausahaan ada di tangan mahasiswa. Dengan pemanfaatan Artificial Intelligence, mereka bisa mengembangkan bisnis yang lebih inovatif, efisien, sekaligus berdampak sosial. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata untuk melahirkan entrepreneur muda yang berdaya saing global dan relevan dengan kebutuhan zaman.” Pelatihan ini dirancang interaktif dan sistematis, sesuai dengan ketentuan 24 Jam Pelajaran (JP) dalam skema PKM. Materi dibagi menjadi tiga fokus utama:

  1. Pengenalan AI dalam Bisnis: pemahaman tentang peran AI dalam analisis pasar, perilaku konsumen, dan inovasi produk.
  2. Studi Kasus Bisnis Mahasiswa Berbasis AI: pembahasan praktik penerapan AI dalam usaha nyata mahasiswa.
  3. Simulasi & Aplikasi Praktis – mahasiswa mencoba langsung berbagai tools AI untuk validasi ide bisnis.

Kegiatan ini juga sejalan dengan visi FPEB UPI, yang telah memperoleh akreditasi internasional untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat.Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi entrepreneur muda kreatif, inovatif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan bisnis era digital, sekaligus memberi dampak positif bagi masyarakat.

Kontributor: Tika Koeswandi

Talk Show Nasional Pendidikan Pancasila & PKn 2025/2026: Pancasila sebagai Jiwa, Kewarganegaraan sebagai Gerak

11 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, 10 September 2025 – Lebih dari 10.000 mahasiswa baru dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti Talk Show Nasional Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC) Indonesia. Kegiatan berlangsung secara hybrid di Auditorium Sekolah Pascasarjana UPI, serta disiarkan melalui Zoom Meeting dan YouTube Live Streaming.

Mengusung tema “Pancasila sebagai Jiwa, Kewarganegaraan sebagai Gerak: Menjawab Tantangan Indonesia Kini”, acara ini menjadi ruang dialog yang menegaskan kembali posisi Pendidikan Pancasila dan PKn sebagai mata kuliah strategis. Isu-isu mutakhir seperti transisi pemerintahan pasca-Pemilu 2024, perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan, polarisasi sosial, keberagaman, serta keberlanjutan lingkungan menjadi latar penting yang memperkuat urgensi diskusi.

Hadir tujuh akademisi dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi yang memberikan perspektif lintas wilayah Indonesia:

  • Dr. Yuyus Kardiman, M.Pd. (UNJ) – Dimensi filosofis Pancasila
  • Dr. Asep Dahliyana, M.Pd. (UPI) – Kewarganegaraan sebagai tindakan kolektif
  • Dr. Surya Dharma, M.Pd. (Unimed) – Tantangan keberagaman & polarisasi sosial
  • Ir. H. Riadi Budiman, S.T., M.T., M.Pd., IPM, ASEAN Eng. (Untan) – Etika & literasi digital di era AI
  • Dr. Nurul Zuriah, M.Pd. (UMM) – Inspirasi gerakan kewarganegaraan
  • Dr. Mariatul Kiptiah, M.Pd. (ULM) – Integrasi nilai Pancasila dalam kearifan lokal
  • Dr. Petrus Irianto, S.H., M.Pd., M.H. (Uncen) – Perspektif Papua dalam bingkai Nusantara
  • Moderator acara adalah Dr. R. Dian Muhammad Johan Johor Mulyafdi, MH (UPI).

Antusiasme mahasiswa terlihat jelas melalui polling interaktif yang menunjukkan isu polarisasi sosial, krisis lingkungan, dan disrupsi teknologi sebagai persoalan paling mendesak. Selain itu, sesi tanya jawab, diskusi panel, hingga kuis interaktif dengan hadiah menarik membuat suasana talk show semakin hidup dan partisipatif.

Direktur GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa Pancasila adalah jiwa yang menghidupi bangsa, sementara kewarganegaraan adalah gerak nyata yang menjaga persatuan, membangun keadaban, serta menuntun Indonesia menghadapi tantangan global. Ia menekankan bahwa mahasiswa menjadi aktor kunci dalam memastikan nilai tersebut hidup dalam tindakan sehari-hari.

Talk Show Nasional ini bukan sekadar pembukaan perkuliahan, melainkan momentum kolektif untuk melahirkan generasi Pancasilais yang cerdas, inklusif, dan berdaya saing global. (Kontributor: GCC Indonesia)

Sastra Jadi Medium Terapeutik, Prodi Bahasa dan Sastra Inggris UPI Gelar Lokakarya “Writing for Healing”

11 Sep 2025 • Humas UPI
Suasana pemberian umpan balik draf life bytes yang ditulis mahasiswa UMY

YOGYAKARTA – Merespon isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa, Tim Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Sastra dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan lokakarya menulis kreatif bertajuk “Sastra Sebagai Medium Terapeutik: Pelatihan ‘Writing for Healing’ Bagi Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan menulis sebagai sarana untuk mengelola emosi dan menyalurkannya ke dalam medium yang positif.

Lokakarya yang menargetkan mahasiswa S1 UMY yang pernah atau sedang mengalami isu kesehatan mental ini diadakan sebagai respons atas banyaknya mahasiswa yang mengalami depresi. Kegiatan ini diselenggarakan dalam dua sesi selama bulan Agustus 2025, sesi daring pada tanggal 5 Agustus 2025 dan luring pada 15 Agustus 2025 yang dibimbing langsung oleh tim narasumber ahli di bidangnya. Kegiatan ini berhasil menjaring 16 orang mahasiswa, yang 11 di antaranya secara konsisten mengikuti kedua sesi.

Pembukaan dan penandatangan MoA dan IA oleh Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Kaprodi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia

Sesi Daring: Pengenalan Konsep dan Penulisan Memoar

Sesi pertama lokakarya dilaksanakan secara daring pada 5 Agustus 2025. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan konsep dan berbagai jenis teks dalam Writing for Healing. Fokus utama dari sesi ini adalah pada teknik penulisan memoar pendek, yang dirancang untuk membantu mahasiswa mengungkapkan perasaan dan pengalaman pribadi mereka.

Sebagai penutup sesi, para peserta diberi tugas untuk menyusun draf tulisan bertema “Life Bytes”, yang berisi memoar mengenai kenangan serta dampak pandemi Covid-19 terhadap pengembangan karakter mereka.

Sesi Luring: Sesi Berbagi dan Komitmen Publikasi Antologi

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi luring yang bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 15 Agustus 2025. Sesi kedua ini menjadi ajang bagi para peserta untuk berbagi dan saling memberikan umpan balik (feedback) terhadap draf tulisan yang telah mereka buat.

Momen penting dalam sesi ini adalah adanya pembahasan dan peneguhan komitmen bersama untuk mengikuti proses publikasi dalam bentuk sebuah antologi memoar mahasiswa. Seluruh rangkaian lokakarya dipandu oleh tim narasumber yang terdiri dari Prof. Bachrudin Musthafa, M.A., Ph.D., Dr. Safrina Noorman, M.A., Dr. Nia Nafisah, S.S., M.Pd., Nita Novianti, M.A., Ph.D., Ayu Fitri Kusumaningrum, S.S., M.A., dan Rendila Restu Utami, S.S., M.A.12.

Manfaat dan Luaran Berkelanjutan

Program lokakarya “Writing for Healing” memberikan dampak yang melampaui sekadar pelatihan menulis biasa. Manfaat dan luarannya secara langsung berkontribusi pada penciptaan ekosistem pendidikan yang holistik, sejalan dengan esensi dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas.

Penutupan kegiatan luring Writing for Healing

Lebih dari sekadar pelatihan, lokakarya ini memberikan dampak berkelanjutan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4, yakni Pendidikan Berkualitas. Para peserta tidak hanya dibekali kemampuan praktis untuk menulis kreatif sebagai medium penyampaian perasaan dalam bentuk memoar dan mengelola emosi secara positif, tetapi juga didorong untuk berkembang dalam lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Inisiatif ini menegaskan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan holistik mahasiswa yang menjadi fondasi utama keberhasilan belajar. Sebagai luaran jangka panjang, direncanakan akan terbit sebuah antologi memoar karya para mahasiswa peserta, yang akan menjadi platform abadi bagi suara mereka, sumber inspirasi, sekaligus portofolio nyata dari keterampilan yang telah mereka peroleh. (Kontributor: Angelita/tim KBK Sastra Inggris)

Kualifikasi Piala Asia U-23: Evaluasi untuk Federasi, Pelatih, Tim, dan Liga

10 Sep 2025 • Humas UPI

(Logo AFC U23 Asian Cup, sumber Wikipedia)

Selasa kemarin (9/9) Tim Nasional Indonesia U-23 (Timnas U-23) bertanding melawan Korea Selatan dalam laga terakhir Grup J Kualifikasi Piala Asia U-23 di stadion Gelora Delta. Sayangnya, pada pertandingan tersebut, Timnas U-23 harus menelan kekalahan dengan skor tipis 1-0 dan mengakui keunggulan Korea Selatan. Timnas U-23 hanya mampu finis di posisi kedua klasemen dengan perolehan empat poin. 

Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia (FPOK UPI), Prof. Dr. Dikdik Zafar Sidik, M.Pd., menanggapi hasil tersebut melalui siaran radio Elshinta pada Rabu (10/9). Prof. Dikdik menyoroti komparasi prestasi skuad Timnas U-23 sebelumnya dengan skuad Timnas U-23 sekarang. Ini menjadi bahan renungan bahwa seharusnya ada peningkatan prestasi Timnas U-23 setelah adanya pergantian pelatih di tahun lalu.

Prof. Dikdik juga menyoroti naluri mencetak gol pemain Timnas baik di senior maupun U-23. Hal ini perlu diperhatikan oleh PSSI dalam pembinaan. Pada saat pertandingan, kemampuan scanning situasi di lapangan menjadi kemampuan yang sangat penting dan akan sangat mempengaruhi alur pertandingan. Prof. Dikdik menilai bahwa Timnas U-23 masih harus meningkatkan kemampuan scanning tersebut agar pemain dapat mengambil keputusan di lapangan dengan tepat. 

Kalau sudah menjadi pemain sekelas nasional, seharusnya sudah memiliki kemampuan tersebut. Sehingga tidak mengambil keputusan ketika sudah menerima bola. Seharusnya sebelum menerima bola, pemain sudah tahu mau berbuat apa dan ke mana,” ungkapnya.

Melihat pola federasi, banyak pertanyaan yang muncul mengenai wacana pergantian pelatih. Namun, Prof. Dikdik memandang bahwa penggantian pelatih dalam kondisi ini tidak cukup bijak apabila dilakukan. Pelatih juga perlu diberi waktu tambahan untuk menilai para pemain dan mengatur strategi dalam menempatkan pemain. Sinkronisasi dan harmonisasi antara pelatih dan para pemain dalam proses latihan menjadi kunci dalam permainan. Prof. Dikdik menilai, komunikasi sudah tidak boleh menjadi alasan dalam proses latihan setelah berkaca dari pelatih sebelumnya dengan kesalahan fatal pada komunikasi, namun mampu mendapatkan peringkat 4 besar. 

Harmonisasi dalam tim merupakan evaluasi besar bagi PSSI dalam Timnas U-23 karena Timnas U-23 ini adalah jembatan penting masa transisi pemain usia muda ke usia elit senior. Apakah stay atau out. Ada beberapa yang memang perlu dibenahi. Saya kurang tahu juga apakah PSSI mencoba mencermati para pemain dari tingkat kecerdasannya..

Menit bermain di klub menjadi salah satu hal yang juga banyak dibahas selepas pertandingan kemarin. Para pemain Timnas U-23 didorong untuk dapat bermain lebih banyak di klub mereka masing-masing. Namun, regulasi yang dikeluarkan oleh federasi seolah-olah belum mendukung ke arah tersebut dan cenderung lebih banyak memberikan kesempatan kepada pemain asing. Prof. Dikdik menilai bahwa PSSI perlu juga belajar dari K-League atau J-League mengenai regulasi menit bermain untuk para pemain muda di klub masing-masing sebagai bentuk pembinaan dan pemberian pengalaman. 

Harus dibenahi juga kompetisinya, dibuat liga yang betul-betul PSSI punya keinginan untuk membuat para pemain muda potensial ini berkiprah di level internasional yang lebih baik,” tambahnya.

Sebagai penutup, Prof. Dikdik juga menanggapi point of view penonton yang dapat melihat lambatnya pergerakan pemain Timnas U-23. Pandangan tersebut dianggap wajar karena penonton bisa melihat dengan jangkauan yang lebih luas. Salah satu faktor yang menyebabkan pergerakan pemain yang lambat adalah pemain tengah yang kurang lincah. Prof. Dikdik juga mengharapkan agar federasi dan pelatih, mempersiapkan dengan serius skuad Timnas untuk ajang SEA Games nanti dengan harapan keberhasilan Timnas U-23 pada SEA Games sebelumnya tidak menjadi kegagalan pada saat ini.  

Kontributor: Prof. Dr. H. Dikdik Zafar Sidik, M.Pd. (melalui rekaman suara)

Pencarian