Museum Pendidikan Nasional Kembangkan Koleksi Digital Berbasis Sejarah Lokal untuk Dukung SDGs dengan Pembiayaan Bima DPPM Kemendiktisaintek
29 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui berbagai strategi, diantaranya melalui pengembangan koleksi digital. Kisah-kisah sejarah lokal memiliki potensi menjadi kekayaan sejarah yang penting untuk dikembangkan. Penggunaan teknologi digital semacam Artificial Intelligency (AI) dapat memaksimalkan daya tarik pengunjung.
Untuk memperkaya dan menguatkan konten tersebut, Tim dari Museum Pendidikan Nasional melakukan kegiatan heuristik atau pengumpulan sumber-sumber sejarah ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 14-15 Juli 2025 dan 22-23 Juli 2025.
Kegiatan heuristik ini merupakan bagian dari program penelitian yang berjudul ”Pengembangan Koleksi Digital Museum Berbasis Edutourism melalui ArtificialIntelligency Kisah Fenomenal P.A.A Djajadiningrat untuk Meningkatkan Engagement dan HistoricalConsciousness” yang didanai oleh BIMA DPPM Kemendiktisaintek. Penelitian ini juga merupakan kerja sama antara Museum Pendidikan Nasional, EducationalCulturalSustainabilityNetwork dan PT. RMI yang diketuai oleh Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd. (Kepala Museum Diknas UPI). Beranggotakan Prof. Dr. Isma Widiaty, M.Pd. (Kaprodi PTK FPTI UPI), Dr. Oka Agus Kurniawan Shavab, M.Pd. (Dosen Pendidikan Sejarah UNSIL), Maulana Noor Fajri Al Hajar (Dosen Agroindustri FPTI UPI), Billy Ardiansyah (PT. RMI) serta Staff Museum Diknas UPI.
Pengembangan koleksi digital museum secara langsung mendukung beberapa poin dalam SDGs diantaranya adalah SDG 4 berkaitan dengan pendidikan berkualitas (Quality Education) dan SDG 11 berkaitan dengan kota dan komunitas yang berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities). Fokus utama kegiatan ini adalah untuk pelacakan, pengumpulan, dan pendokumentasian arsip, dokumen, literatur sejarah yang berkaitan dengan tokoh P.A.A. Djajadiningrat. Tim Museum Pendidikan Nasional melakukan penelusuran sumber sejarah di unit koleksi buku langka, arsip zaman kolonial Belanda, arsip kartograf, arsip foto langka yang terdapat di ANRI dan Perpusnas. Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd. selaku ketua tim penelitian, menjelaskan bahwa proses ini sangat penting dilakukan sebagai fondasi valid dalam membangun narasi sejarah yang kuat dan berbasis sumber primer.
Melalui kegiatan heuristik ini, Museum Pendidikan Nasional UPI menegaskan komitmen dalam menjadikan museum sebagai pusat pembelajaran sejarah yang dinamis, terbuka, dan berbasis riset yang kuat. (kontributor)
UPI Kampus Sumedang Gelar Kegiatan “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis AI dengan Pendekatan Attachment Theory untuk Optimalisasi Deep Learning”
29 Jul 2025 • Humas UPI
Sumedang, 21 Juli 2025
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam memperkuat kapasitas guru dan calon guru menghadapi tantangan pembelajaran berbasis teknologi di era digital. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan kegiatan bertajuk “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Artificial Intelligence (AI) dengan Pendekatan Attachment Theory untuk Optimalisasi Deep Learning.”
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid—luring di Ruang G3 UPI Kampus Sumedang dan daring melalui platform Zoom—ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif kepada peserta mengenai integrasi teknologi AI dalam pengembangan bahan ajar, tanpa melupakan aspek psikologis pembelajar, khususnya melalui pendekatan Attachment Theory. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya pembelajaran yang adaptif, relevan, dan bermakna bagi peserta didik.
Acara diawali dengan registrasi peserta, pembukaan oleh MC Siti Nurlatifah, M.Pd., pembacaan doa oleh Firda Tri Mahbubatul, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kegiatan resmi dibuka oleh Dr. Cucun Sunaengsih, S.Pd., M.Pd., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan guru dan calon guru dalam merespons perkembangan teknologi, tanpa mengabaikan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.
Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Aan Komariah, M.Pd., yang menguraikan pentingnya Attachment Theory sebagai landasan dalam proses pembelajaran modern. Ia menegaskan bahwa keamanan emosional dan keterikatan positif antara guru dan siswa menjadi fondasi utama bagi terwujudnya deep learning yang berkualitas. Guru perlu hadir sebagai secure base bagi siswa—menciptakan lingkungan belajar yang suportif, aman, dan membangun kepercayaan diri.
Prof. Aan juga menekankan pentingnya penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek, diskusi, simulasi, dan pemecahan masalah yang kontekstual. Strategi ini tidak hanya mengaktifkan peran peserta didik dalam pembelajaran, tetapi juga memperkuat ikatan emosional mereka terhadap proses belajar. Selain itu, pendekatan ini mendorong pemahaman lebih dalam terhadap kebutuhan emosional peserta didik, memperkuat komunikasi antara guru dan orang tua, serta penggunaan asesmen formatif yang responsif dan humanis.
Materi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Dedy Achmad Kurniady, M.Pd., yang membahas secara mendalam peran teknologi kecerdasan buatan dalam pengembangan bahan ajar. Menurutnya, peran guru di era AI mengalami transformasi signifikan—tidak lagi hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, inovator, mentor literasi digital, serta pengarah etika pemanfaatan teknologi.
AI, lanjutnya, memiliki potensi besar dalam penyusunan bahan ajar yang personal, kontekstual, dan adaptif melalui berbagai fitur seperti analisis data siswa, personalisasi konten, hingga evaluasi otomatis berbasis data. Berbagai aplikasi seperti chatbot edukatif, sistem pembelajaran adaptif, serta teknologi pengenalan suara dan visual kini dapat diintegrasikan sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang lebih canggih dan inovatif.
Namun demikian, Prof. Dedy juga menegaskan bahwa implementasi AI dalam pendidikan harus mempertimbangkan tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kesenjangan digital, serta keberagaman budaya lokal. AI harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti hubungan manusia dalam proses pendidikan. Peran guru sebagai pendidik, pembimbing nilai, dan penjaga relasi emosional tetap tak tergantikan.
Kegiatan ini dipandu oleh moderator Syifa Hanifa Salsabil, M.M. dan Zaini Hafid, M.Pd., dengan suasana diskusi yang berjalan dinamis dan interaktif. Para peserta—yang terdiri dari guru dan calon guru—antusias mengikuti sesi tanya jawab, membahas berbagai isu aktual terkait pengintegrasian teknologi dengan pendekatan humanistik dalam pembelajaran.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyelenggarakan sesi doorprize bagi peserta aktif, dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama. Kegiatan resmi ditutup oleh M. Irvan Gunawan, S.Pd., dan diakhiri dengan kegiatan Operasi Semut sebagai bentuk budaya kerja kolaboratif sivitas akademika UPI Kampus Sumedang.
Melalui kegiatan ini, UPI Kampus Sumedang menegaskan kembali visinya untuk menyiapkan pendidik masa depan yang adaptif, inovatif, dan mampu menggabungkan kemajuan teknologi dengan pemahaman psikologi pendidikan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diimplementasikan dalam praktik pembelajaran nyata, baik melalui pengembangan bahan ajar berbasis AI maupun dalam menciptakan relasi positif yang mendukung proses deep learning.
Kegiatan ini tidak hanya membuka wawasan baru tentang teknologi pendidikan, tetapi juga menggarisbawahi bahwa peran guru tetap vital dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, transformasi pendidikan yang inklusif, kontekstual, dan berorientasi masa depan dapat diwujudkan secara berkelanjutan. (kontributor)
Kontribusi Dr. Asri Wibawa Sakti dalam Festival Seni Disabilitas Jawa Barat 2025
29 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, 26 Juli 2025
Plaza Balai Kota Bandung menjadi panggung utama bagi terselenggaranya Festival Seni Disabilitas Jawa Barat 2025, sebuah kegiatan inklusif yang mengusung tema “Melintasi Batas, Menghargai Keberagaman”. Lebih dari 750 peserta turut ambil bagian, yang terdiri dari siswa SLB jenjang SD hingga SMA, siswa sekolah umum inklusif, orang tua, pendamping, serta perwakilan masyarakat dan mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung Raya. Festival dibuka secara resmi oleh Yeti Rosmiati, S.Sos., M.Si., Pamong Budaya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. Sambutan tersebut diikuti oleh penampilan pembuka dari siswa disabilitas sebagai simbol semangat kreativitas dan keberdayaan.
Rangkaian acara diwarnai dengan parade lomba tata rias dan fashion show, serta pertunjukan seni dari berbagai SLB, seperti angklung oleh SLB Kasih Ibu, Rampak Kendang oleh SLB Pajajaran, hingga tarian dan lagu tradisional dari SLB Bina Kasih selaku penyelenggara. Penampilan kolaboratif dari Band Senggara dan Bilik Udjo dengan angklung interaktifnya berhasil memukau para pengunjung. Selain itu, kompetisi menggambar, mewarnai, serta pameran kriya dan kuliner hasil karya siswa disabilitas turut memperkaya suasana. Salah satu momen penting dalam festival ini adalah penilaian lomba rias dan fashion show yang melibatkan Dr. Asri Wibawa Sakti, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai juri utama.
Dr. Asri dikenal luas sebagai akademisi dan praktisi yang berdedikasi pada pengembangan pendidikan tata rias. Keterlibatannya tidak hanya memperkuat kualitas penjurian dari sisi estetika dan teknik, tetapi juga mempertegas komitmen UPI dalam mendukung seni untuk semua kalangan. Selain Dr. Asri, jajaran dewan juri juga terdiri atas Ghalih Djati Munggaran dan Noviyanti Estiya, S.E., serta para profesional dari kalangan akademisi, seniman, dan perwakilan institusi pendidikan tinggi seperti UPI, Unla, Uninus, dan UBP Karawang. Hadir dalam festival ini berbagai tokoh penting, seperti perwakilan dari PKLK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, serta jajaran dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tingkat kota dan provinsi. Dukungan penuh juga datang dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, LPDP, serta Dana Indonesiana.
Lebih dari sekadar perayaan seni, festival ini menjadi ruang strategis untuk membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya inklusi sosial dan pelestarian budaya lokal. Peran aktif akademisi, termasuk Dr. Asri Wibawa Sakti dari UPI, menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan ruang ekspresi yang adil dan setara bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Semoga semangat kolaboratif ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam menghadirkan ruang-ruang seni yang merayakan keberagaman dan memuliakan nilai-nilai kemanusiaan. (kontributor)
Tim PPK Ormawa Lingkar Indonesia Pintar (LINTAR) Kampus UPI Tasikmalaya Gelar Pembukaan Program HALILINTAR di Desa Nanggerang Tahun 2025
29 Jul 2025 • Humas UPI
Tasikmalaya, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya kembali menunjukkan kiprahnya sebagai prestasi tinggi yakni dalam pengabdian kepada masyarakat dengan berhasil lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) tahun 2025. Lintar menjadi salah satu ormawa yang berhasil meraih prestasi tersebut. Lintar mengambil topik desa cerdas yang menginisiasi program unggulan dengan judul “HALILINTAR (Haluan Literasi Indonesia Pintar) berbasis Ethnopreneur untuk Peningkatan Literasi dan Wirausaha di Desa Nanggerang.”
HALILINTAR hadir sebagai solusi pemecahan dari permasalahan yang ada. Program dirancang untuk meningkatkan literasi dan kecakapan hidup masyarakat di Desa Nanggerang guna mengoptimalkan potensi dan kreativitas masyarakat baik itu dalam bidang sosial, edukasi, maupun ekonomi. Program HALILINTAR terdiri dari 5 Pojok yaitu Pojok Literang (Literasi Bersama Desa Nanggerang), Pojok Edutatif (Edukasi Tani Produktif), Pojok Wirdana (Wirausaha Desa Nanggerang), Pojok Jejak (Jelajah Edukasi Kreatif), dan Pojok Educas (Edukasi Sampah Cerdas).
Acara Pembukaan PPK Ormawa Lintar (HALILINTAR) dilaksanakan pada hari Jum’at, 25 Juli 2025 bertempat di Aula Desa Nanggerang. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Kampus UPI Tasikmalaya, Dosen Pembimbing PPK Ormawa Lintar, Kepala Desa Nanggerang beserta jajaran perangkat desa, Ketua Karang Taruna, para pelaku UMKM lokal, tokoh masyarakat, serta tim pelaksana, tim Ormawa, dan tim volunteer PPK Lintar.
Dalam sambutannya, Alya Rahman, selaku Ketua Pelaksana PPK Ormawa Lintar, menyampaikan “Kami sadar bahwa keberhasilan program ini tidak akan mungkin tercapai tanpa dukungan dan keterlibatan aktif dari seluruh warga desa. Untuk itu, izinkan kami mengajak Bapak/Ibu semua untuk bersama-sama berpartisipasi, berdiskusi, dan saling menguatkan demi tercapainya tujuan bersama.”
Resi Resviani, selaku Ketua Ormawa Lintar, menyampaikan “Program ini bukan sekadar kegiatan, tetapi sebuah gerakan bersama untuk membangun masa depan. Kami, sebagai organisasi mahasiswa, ingin hadir bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di tengah masyarakat membawa ide, solusi, dan semangat kolaborasi.”
Bapak Agus Suwarlan, selaku Kepala Desa Nanggerang, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program HALILINTAR. “Kami sangat menyambut baik kehadiran para mahasiswa dari UPI Tasikmalaya yang membawa semangat perubahan melalui program ini. Literasi dan wirausaha adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa. Semoga Halilintar menjadi titik awal perubahan di Nanggerang,” ujar beliau.
Senada dengan itu, Dosen Pembimbing PPK Ormawa Lintar, Bapak Muhammad Rijal Wahid Muharram, S.Pd., M.Pd menyampaikan “Program ini tidak hanya hadir untuk mengajar, tapi juga untuk belajar bersama masyarakat. Dukungan dari seluruh pihak akan sangat menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program HALILINTAR.”
Selanjutnya, Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Kampus UPI Tasikmalaya menyampaikan “Program ini diajukan dari kementrian pendidikan tinggi dimana salah satu taglinenya yakni kampus berdampak. Maka dari itu, dalam menjalankan PPK Ormawa yang ada kehidupan sosial masyarakat harus betul-betul berkolaborasi”.
Tim pelaksana PPK Ormawa Lintar berharap melalui pelatihan, pendampingan, dan edukasi yang menyeluruh, masyarakat Desa Nanggerang dapat mengalami peningkatan kemampuan literasi serta membangun usaha yang berdaya saing namun tetap berbasis kearifan lokal. Pada akhirnya, HALILINTAR diharapkan dapat mewujudkan Desa Nanggerang sebagai desa literat dan mandiri secara ekonomi, sekaligus menjadi model desa berbasis ethnopreneurship di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Busana UPI Tampil di Ajang 23 Community Fashion Week “Unboxing Bandung Finest”
29 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, 27 Juli 2025
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) turut ambil bagian dalam ajang fashion berskala komunitas bertajuk 23 Community Fashion Week: “Unboxing Bandung Finest” yang berlangsung di Atrium Langit, Paskal 23 Hyper Square, Kota Bandung. Ajang ini menghadirkan lebih dari 30 desainer muda, yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI), Universitas Kristen Maranatha, dan Telkom University, serta desainer independen.
Mahasiswa UPI yang berhasil tampil dalam ajang ini yaitu Aurellia Riza Muliadi (angkatan 2019), Rhea Avila (angkatan 2021), Mutiara Rizka Fitriani (angkatan 2022), Faridah Salma Dzakiyyah (angkatan 2022) dan Ghina Khalida Pasya (angkatan 2022). Kehadiran mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Busana UPI dalam acara ini didampingi langsung oleh Dr. Asri Wibawa Sakti, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Kemahasiswaan Program Studi Pendidikan Tata Busana (HIMASANA), yang memberikan pendampingan selama kegiatan berlangsung serta memastikan mahasiswa tampil dengan percaya diri dan profesional. Adapun karya yang ditampilkan oleh para mahasiswa UPI merupakan hasil dari dua jalur kreatif: sebagian berasal dari tugas perancangan dalam Mata Kuliah Busana Etnik yang diampu oleh Dra. Pipin Tresna Prihatin, M.Si., dan sebagian lagi merupakan karya mandiri mahasiswa yang dikembangkan secara personal dan berhasil lolos seleksi kurasi.
Ajang ini menjadi wadah aktualisasi diri mahasiswa dalam menampilkan gagasan desain, teknik konstruksi, dan eksplorasi estetika busana yang sesuai dengan tren dan karakter lokal. Selain sebagai sarana ekspresi seni, kegiatan ini juga berfungsi sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri kreatif, sekaligus memperluas portofolio dan jejaring profesional mahasiswa. Partisipasi aktif mahasiswa UPI dalam acara ini menjadi bukti bahwa Prodi Pendidikan Tata Busana FPTI UPI berkomitmen kuat untuk mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa di luar ruang kelas, melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan kreatif berskala luas. Sinergi antara pendampingan dosen dan inisiatif mahasiswa dalam ajang ini diharapkan dapat terus mendorong lahirnya desainer muda yang inovatif, adaptif, dan siap berkontribusi di industri mode Indonesia. (kontributor)