English
Indonesia

Bangkitkan Resiliensi Siswa Pasca-Banjir Aceh, Tim BK UPI Terapkan Metode Berbasis Kearifan Lokal

24 Apr 2026 • Humas UPI

Kab. Aceh Utara, UPI

Tim dosen, alumni, dan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali melaksanakan program pemulihan psikososial (trauma healing) tahap kedua bagi siswa terdampak bencana banjir di wilayah Aceh. Pada Rabu (22/4/2026), kegiatan difokuskan di MIN 10 Bireuen dengan menyasar peningkatan resiliensi siswa melalui pendekatan berbasis kearifan lokal.

Program ini merupakan respon berkelanjutan atas bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 29 November 2025 lalu. Pengalaman kehilangan dan ketidakpastian pascabencana dinilai berisiko menghambat perkembangan emosional dan proses belajar anak-anak jika tidak mendapatkan penanganan psikologis yang tepat.

Tim UPI menerapkan model Adventure Based Counseling (ABC), sebuah pendekatan konseling berbasis pengalaman di alam terbuka. Sebanyak 45 siswa kelas 5 MIN 10 Bireuen diajak mengikuti berbagai aktivitas kelompok yang dirancang secara edukatif, reflektif, namun tetap menyenangkan.

Ketua Tim Pelaksana, Prof. Dr. Nandang Rusmana, M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan mengacu pada kerangka bimbingan kelompok Gladding (1995). Tahapan tersebut meliputi beginning (membangun rasa aman), transition (adaptasi aktif), working (regulasi emosi), hingga termination (refleksi dan pemaknaan).

“Program ini dirancang untuk membantu anak-anak membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri. Melalui ruang yang aman untuk mengekspresikan emosi, mereka diharapkan mampu mengembangkan kemampuan coping secara sehat,” ujar Prof. Nandang.

Keberhasilan program ini didukung oleh sinergi kuat antara akademisi dan komunitas lokal. Selain Tim UPI dan Tim Aceh Berdaya, relawan dari komunitas SABIR Bireuen, Yayasan Sosial Aceh Peduli (YSAP), dan Rangkang Pustaka turut terjun langsung sebagai fasilitator utama dalam sesi permainan.

Keterlibatan berbagai komunitas ini tidak hanya mempercepat proses pemulihan siswa, tetapi juga menjadi wahana pengembangan kapasitas bagi para relawan lokal dalam memberikan pendampingan psikososial berbasis komunitas secara mandiri di masa depan.

Implementasi di MIN 10 Bireuen ini merupakan kelanjutan dari rangkaian program yang diawali dengan Training of Trainer (ToT) pada Februari 2026 serta aksi lapangan di SMAN 1 Samudera sebelumnya.

Tim pelaksana dari UPI terdiri dari tenaga ahli dan praktisi, di antaranya Ahmad Zaky Firsa, S.Pd., Adri Mochammad Ihsan, S.Pd., serta tim pendukung administrasi dari jenjang S1 hingga S3 Program Studi Bimbingan dan Konseling UPI.

Melalui kontribusi nyata ini, UPI menegaskan komitmennya dalam upaya kemanusiaan dan pemulihan sosial masyarakat terdampak bencana di Indonesia. Diharapkan, daya resiliensi siswa di Aceh Utara dan sekitarnya semakin kuat sehingga mereka dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan optimal. (DN)

Pulihkan Trauma Siswa Korban Banjir, UPI Terapkan ‘Adventure Based Counseling’ di Aceh Utara

24 Apr 2026 • Humas UPI

Kab. Aceh Utara, UPI

Tim Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan program pemulihan psikososial (trauma healing) bagi siswa terdampak bencana banjir di Kabupaten Aceh Utara, Senin (21/4/2026). Menggunakan model Adventure Based Counseling (ABC) berbasis kearifan lokal, program ini bertujuan meningkatkan resiliensi siswa pascabencana besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025 lalu.

Kegiatan tahap kedua ini difokuskan pada pendampingan psikososial di lingkungan sekolah, tepatnya di SMAN 1 Samudera. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Program Studi Bimbingan dan Konseling UPI, Tim Aceh Berdaya, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasyiah.

Berbeda dengan konseling konvensional, metode ABC mengajak siswa melakukan aktivitas edukatif dan reflektif di alam terbuka. Pendekatan ini dirancang untuk membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan coping (penyesuaian diri) secara sehat.

Pelaksanaan kegiatan ddilakukan melalui empat tahapan utama diantaranya Beginning: Membangun rasa aman dan kebersamaan. Transition: Membantu peserta beradaptasi dan terlibat aktif. Working: Mengembangkan regulasi emosi. Tahap terakkhir Termination: Refleksi dan pemaknaan mendalam atas pengalaman yang didapat.

Dalam implementasinya, 21 siswa perwakilan kelas 10 dan 11 terlibat dalam suasana yang ramah dan partisipatif. Sebanyak 10 mahasiswa relawan dari UIN Sultanah Nahrasyiah berperan sebagai fasilitator utama di lapangan, didampingi oleh dosen dari Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) serta Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Ketua Tim Pelaksana UPI, Prof. Dr. Nandang Rusmana, M.Pd., menjelaskan bahwa kehadiran tim UPI berfungsi sebagai pendamping proses secara keseluruhan guna memastikan setiap tahapan berjalan terstruktur dan aman.

“Program ini adalah wujud nyata kontribusi UPI dalam upaya kemanusiaan. Kami ingin memastikan anak-anak usia sekolah di Aceh Utara memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi pascabencana,” ujar Prof. Nandang.

Bencana banjir pada 29 November 2025 tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi meninggalkan jejak trauma psikologis pada anak-anak. Jika tidak ditangani, hal ini dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan emosi dan proses belajar mereka.

Melalui trauma healing tahap kedua ini, para siswa diharapkan mampu mengurangi dampak psikologis secara bertahap dan memperkuat daya lenting (resilience) mereka. Selain itu, program ini menjadi sarana pengembangan kapasitas bagi relawan lokal untuk memberikan pendampingan berkelanjutan di masa depan.

Selain Prof. Nandang Rusmana, tim pelaksana UPI turut melibatkan alumni Ahmad Zaky Firsa dan Adri Mochammad Ihsan, serta tim pendukung administrasi lintas jenjang pendidikan (S1, S2, dan S3) Bimbingan dan Konseling UPI. (DN)

Dari Alumni Menjadi Pengantar Mimpi: Perjalanan Yasir Mengawal Siswa Tunanetra Menuju Kampus Impian

23 Apr 2026 • Humas UPI

Pagi belum sepenuhnya terang ketika perjalanan dimulai dari Cimahi menuju Bandung Utara. Di dalamnya, tersimpan harapan besar yang tak selalu terlihat oleh mata. Muhammad Yasir, seorang guru dari SLB Negeri A Citeureup Cimahi, telah bersiap sejak dini hari. Bersama dua siswanya, ia menembus dinginnya pagi demi satu tujuan: mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) hari Kamis, 23 April 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Bagi Yasir, perjalanan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada ikatan emosional yang lebih dalam. Ia sendiri adalah alumni UPI, lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2007 yang menyelesaikan studinya pada 2011. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, ia kembali ke kampus yang sama—bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai pendamping perjuangan anak didiknya.

Sejak 2015, Yasir mengabdikan diri sebagai guru di SLB Citeureup Cimahi. Pengalamannya sebagai guru pendamping di sekolah inklusi sebelumnya membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan: bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki peluang yang sama untuk berkembang.

Hari itu, ia mendampingi dua siswa tunanetra: Raisa Narendra dan Salis. Keduanya datang dengan mimpi besar yang mereka rajut dalam keterbatasan. Raisa menargetkan Pendidikan Agama Islam di UPI sebagai pilihan utama, sementara Salis menjadikan Pendidikan Khusus UPI sebagai pilihan keduanya.

Perjalanan menuju ruang ujian mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi mereka, ada persiapan panjang yang tak terlihat. Yasir menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah mobilitas, melainkan aspek teknis pembelajaran.

“Anak-anak kami menggunakan komputer berbasis NVDA yang mengandalkan suara. Itu harus terus dilatih,” ujarnya.

Selain itu, perbedaan kurikulum antara sekolah luar biasa dan sekolah reguler menjadi tantangan tersendiri. Untuk menjembataninya, pihak sekolah memberikan program pemantapan sejak akhir kelas 11 hingga awal kelas 12. Tambahan jam belajar diberikan agar siswa mampu mengejar ketertinggalan dan bersaing dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Usaha itu perlahan membuahkan hasil. Sejak 2023, siswa dari SLB tersebut mulai mengikuti UTBK. Pada tahun berikutnya, beberapa di antaranya berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri, termasuk UPI.

“Artinya, kalau dilatih sejak dini, anak-anak disabilitas juga punya peluang yang sama,” kata Yasir dengan nada penuh keyakinan.

Kini, harapan kembali bertumpu pada Raisa dan Salis. Keduanya memilih jalur pendidikan yang mencerminkan impian mereka. Namun, di balik ambisi itu, Yasir menyadari bahwa perjuangan terbesar bukan hanya soal akademik, melainkan mental.

“Anak-anak biasanya tegang. Jadi saya lebih banyak menguatkan mereka, meminta mereka berdoa, mendekatkan diri kepada Allah. Ikhtiar dan doa harus berjalan bersama,” tuturnya.

Saat Raisa dan Salis tengah berjuang di dalam ruang ujian, Yasir hanya bisa duduk menunggu di luar dengan harapan yang tak putus. Sebagai guru, ia tentu ingin melihat siswanya berhasil menembus perguruan tinggi negeri. Namun, ia juga menanamkan pemahaman bahwa hasil bukanlah satu-satunya tujuan.

 “Kalau belum berhasil, masih ada jalur lain. Yang penting mereka sudah berusaha maksimal,” katanya.

Lebih dari sekadar ujian masuk perguruan tinggi, perjalanan ini adalah tentang keberanian melawan batas diri. Tentang keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Di akhir percakapan, Yasir menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna, khususnya bagi para penyandang disabilitas yang masih ragu melangkah.

“Jangan patah hati, jangan malu, dan tetap semangat. Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Jangan mudah menyerah.”

Di tengah riuhnya UTBK dan ribuan peserta yang bersaing, kisah mereka mungkin tak banyak terdengar. Namun justru di sanalah letak kekuatannya—sebuah perjuangan sunyi yang mengajarkan arti keteguhan, harapan, dan kemanusiaan. (RK)

Melihat dengan Hati: Kisah Raisa dan Salis Menembus Batas di Ruang UTBK UPI

23 Apr 2026 • Humas UPI

Suara dari screen reader terdengar berulang di dalam ruang ujian itu—cepat, ritmis, dan penuh tekanan. Raisa Narendra mencoba menenangkan napasnya. Dengan bantuan pendamping dari Divisi Difusi Inklusi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jari-jarinya bergerak hati-hati di atas keyboard, sementara degup jantungnya tak kalah cepat dari suara soal yang dibacakan di balik earphone yang terpasang di telinga. Di kursi tak jauh darinya, Salis merasakan hal yang sama: tegang namun penuh harapan. Bagi mereka, Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di UPI hari Kamis, 23 April 2026 bukan sekadar ujian, Ini adalah pertaruhan mimpi.

Raisa dan Salis, dua siswa tunanetra dari SLB Negeri A Citeureup Cimahi, datang ke UPI dengan satu tujuan yang sama—melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Di balik langkah mereka hari itu, ada perjalanan panjang yang tak sederhana.

Sejak pagi, mereka telah berangkat dari Cimahi. Didampingi Yasir, guru yang telah mengabdikan diri sejak 2015, keduanya membawa lebih dari sekadar kesiapan akademik—mereka membawa doa, dukungan keluarga, dan keberanian untuk melampaui keterbatasan.

Di dalam ruang ujian, ketegangan menjadi hal yang tak terelakkan. Raisa mengaku, momen itu menjadi salah satu yang paling menantang dalam hidupnya.

“Rasanya sangat menegangkan. Tadi sempat deg-degan dan stres, tapi sekarang sudah lebih lega setelah selesai,” ujarnya dengan nada ringan setelah keluar dari ruangan.

Salis, di sisi lain, masih menyimpan kegelisahan yang belum usai.

“Deg-degannya masih ada, karena hasilnya belum keluar,” katanya jujur.

Bagi keduanya, ujian ini bukan hanya tentang menjawab soal. Mereka harus “mendengar” setiap pertanyaan melalui teknologi pembaca layar, lalu merespons dengan ketelitian ekstra. Bantuan dari pendamping hanya sebatas teknis, seperti membantu menemukan tombol tertentu.

“Soalnya didengarkan. Kalau ada yang tidak tahu letaknya, baru dibantu,” jelas Salis.

Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan tekad yang kuat. Raisa memiliki alasan yang begitu personal mengapa ia memilih Pendidikan Khusus.

“Saya ingin kembali ke sekolah saya nanti, mengajar di SLB,” ungkapnya.

Sementara Salis melihat pendidikan sebagai jalan untuk memperluas dirinya.

“Saya ingin lebih bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan banyak orang,” katanya.

Perjalanan mereka tidak lepas dari peran keluarga. Sebelum berangkat, pesan sederhana namun bermakna diberikan orang tua mereka.

“Jangan terburu-buru dan tetap semangat,” kata Raisa, mengingat pesan yang ia terima.

“Yang penting sudah berusaha maksimal,” tambah Salis, mengulang nasihat yang ia pegang erat.

Di balik itu semua, ada sosok Muhammad Yasir yang menjadi penguat di setiap langkah mereka. Sebagai guru sekaligus alumni UPI, ia memahami betul jalan yang sedang ditempuh anak didiknya.

Ia tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menanamkan mental dan keyakinan. Program pemantapan, latihan penggunaan teknologi hingga penguatan konsep menjadi bagian dari perjuangan yang ia bangun bersama para siswa.

“Yang penting mereka siap, terutama mental. Anak-anak biasanya tegang. Jadi saya lebih banyak menguatkan mereka, meminta mereka rajin solat, berdoa, mendekatkan diri kepada Allah. Ikhtiar dan doa harus berjalan bersama,” tuturnya.

Hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam di dalam ruang ujian. Namun bagi Raisa dan Salis, perjalanan menuju kursi itu telah ditempuh selama bertahun-tahun—melalui latihan yang tak mudah, keterbatasan yang harus diterima, dan keberanian untuk terus melangkah.

Di luar ruangan, langkah mereka kembali terdengar pelan. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada perayaan. Hanya napas yang mulai tenang, dan harapan yang masih menggantung di antara kemungkinan.

Raisa memilih percaya bahwa jalan hidupnya akan membawanya kembali ke tempat ia berasal—sebagai seseorang yang kelak bisa memberi cahaya bagi yang lain. Sementara Salis, dengan segala kegelisahannya, tetap memegang satu keyakinan sederhana: bahwa usaha tidak pernah sia-sia.

Di sisi mereka, Muhammad Yasir berdiri sebagai saksi sekaligus penguat. Ia tahu, perjuangan ini tidak berhenti di hari itu. Namun ia juga percaya, setiap langkah kecil yang mereka ambil hari ini adalah bagian dari masa depan yang lebih besar.

“Yang penting mereka sudah berusaha maksimal,” begitu prinsip yang ia tanamkan.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari perjuangan ini berada—bukan pada hasil akhir semata, tetapi pada keberanian untuk mencoba, meski dunia tidak selalu memberi kemudahan.

Dalam sunyi yang mereka jalani, Raisa dan Salis telah membuktikan satu hal: bahwa mimpi tidak membutuhkan penglihatan untuk bisa terlihat. (RK)

UPI Kembangkan Kerangka Pedagogik Program Makan Bergizi Gratis

23 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan seminar bertajuk “Menggali Potensi Pedagogik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Pengalaman Belajar di Sekolah Dasar” pada Kamis (23/4) di Auditorium B Lantai 4 FPBS UPI. Kegiatan ini menjadi bagian dari peluncuran gagasan dan Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan kerangka pedagogik dalam implementasi program MBG di satuan pendidikan.

Seminar ini dihadiri oleh akademisi, peneliti, perwakilan pemerintah, guru, serta mahasiswa. Kegiatan tersebut bertujuan menggali potensi program MBG agar tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai pengalaman belajar yang mampu membentuk karakter dan kebiasaan positif siswa sejak dini.

Ketua pelaksana seminar, Prof. Ika Lestari Damayanti, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa program MBG memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang kontekstual. Aktivitas makan di sekolah dinilai dapat menjadi ruang edukasi untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kebersamaan, serta kesadaran akan pola hidup sehat.

“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar pemenuhan nutrisi, tetapi dapat menjadi pengalaman belajar yang menumbuhkan kesadaran akan konsumsi sehat, tanggung jawab, serta nilai-nilai kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, UPI juga meluncurkan gagasan Kerangka Pedagogik Program Makan Bergizi Gratis sebagai Pengalaman Belajar di Sekolah. Gagasan ini merupakan hasil penelitian berbasis kebutuhan nyata di lapangan yang diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan (policy brief) bagi pemerintah dan satuan pendidikan. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya mendukung peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat upaya pembentukan kebiasaan hidup sehat di kalangan peserta didik.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menjelaskan bahwa inisiatif ini dilatarbelakangi oleh perlunya integrasi nilai pedagogis dalam pelaksanaan program MBG yang selama ini masih berfokus pada aspek pemenuhan gizi.

“Kami melihat program MBG sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya memuat nilai pedagogis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menghasilkan panduan agar MBG menjadi aktivitas yang bermakna dan mampu membangun karakter siswa,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh pemerintah sebagai bahan rekomendasi kebijakan, tetapi juga oleh sekolah dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan satuan pendidikan menjadi faktor penting dalam memastikan program ini berjalan efektif dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan perannya dalam menghadirkan inovasi pendidikan berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Upaya ini sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan generasi yang sehat, berkarakter, dan adaptif terhadap tantangan masa depan. (RK)

Pencarian