Pentingnya Komunikasi Efektif dalam Pengelolaan Protokol di Perguruan Tinggi
01 Aug 2024 • Humas UPI
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional ke-3 (Rakernas) Protokol Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dengan tema “Penguatan dan Pemantapan Keprotokolan PTN-BH tahun 2024” yang telah berlangsung di Auditorium FPEB lt 6, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, (17/7/2024). Kegiatan ini mendukung dan mendorong untuk menunjukkan betapa pentingnya tugas dan fungsi protokol di perguruan tinggi.
Sekretaris Universitas, Prof. Dr. Memen Kustiawan, S.E., M.Si., M.H., Ak., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa protokol memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendukung kegiatan rutin pimpinan perguruan tinggi serta kegiatan yang berkenaan dengan universitas. “Protokol harus memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kegiatan berjalan dengan lancar, tepat, dan sesuai dengan peraturan yang ada. Dengan demikian, diperlukan komunikasi, koordinasi, dan sinegritas yang berkelanjutan, tidak hanya dalam struktur protokoler yang ada di internal perguruan tinggi, tetapi juga dengan protokoler yang berada di instansi dan organisasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, dalam keprotokolan sering dihadapkan dengan adanya miscommunication. miscommunication dapat menghambat jalannya koordinasi, sehingga dapat memengaruhi pelaksanaan acara. Oleh karena itu, penting bagi pengelola protokol untuk memiliki kemampuan komunikasi yang kuat.
“Komunikasi yang baik akan mendorong koordinasi yang efektif. Koordinasi yang efektif akan meningkatkan kualitas presentasi sebuah acara. Melalui komunikasi yang baik, koordinasi antar tim dapat berjalan dengan lancar, sehingga setiap acara dapat dipresentasikan dengan maksimal. Keberhasilan dalam komunikasi ini akan sangat membantu dalam mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat miscommunication, memastikan setiap acara berjalan sesuai rencana dan mencapai tujuan yang diharapkan,” ungkap Dr. Arciana Damayanti, M.M., yang menjadi narasumber talk show dan diskusi implementasi Permendikbudristek No. 42 Tahun 2024 tentang Keprotokolan.
Rapat Kerja Nasional ke-3 (Rakernas) Protokol PTN-BH tahun 2024 ini diisi oleh talk show dan diskusi implementasi Permendikbudristek No. 42 Tahun 2024 tentang Keprotokolan dengan narasumber Jack Haryanto, M.M., Dr. Arciana Damayanti, M.M., serta Rizki Farid Ramadan. Selanjutnya penyusunan, pembahasan dan penetapan program kerja Forum Protokol PTN-BH.
ISTEMCC 2024: Siapkan SDM Unggul Yang Kreatif Dan Inovatif
01 Aug 2024 • Humas UPI
Bandung, UPI. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Pusat Unggulan STEM Education Creativity di bawah Direktorat Inovasi dan Pusat Unggulan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sukses menyelenggarakan Indonesia Science Technology Engineering Mathematics Creativity Competition 2024 “ISTEMCC 2024” pada hari Sabtu – Minggu, 27 -28 Juli 2024 di Gedung Achmad Sanusi dan Gedung CoE Kampus UPI, Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.
Berbagai acara menarik disajikan pada event tersebut diantaranya Workshop Peserta Final: Membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan terkini; Lomba Final Capstone Project: Menampilkan rancangan pembelajaran dari guru guru hebat; Lomba Final Creativity I, II, III: Menyajikan kreativitas luar biasa dari para peserta; Lomba Final Mechatronics II dan III: Menunjukkan kemampuan teknis yang mengesankan; dan Talkshow: Diskusi inspiratif dengan guru-guru hebat yang berpengalaman dalam mengimplementasikan pembelajaran STEM.
ISTEMCC 2024 ini diadakan untuk memfasilitasi dan mendukung pendidikan STEM di berbagai tingkatan pendidikan di Indonesia, sekaligus mengembangkan pembelajaran inovatif yang akan mempersiapkan peserta didik menjadi SDM unggul di masa depan. Acara yang diikuti oleh 40 tim yang terdiri dari 86 orang peserta tersebut bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa melalui integrasi STEM dengan menggunakan media 4Dframe, serta menjaring peserta didik dan guru yang memiliki kreativitas unggul untuk mengikuti kompetisi internasional di ajang International Mathematical and Science Creativity Competition (IMSCC) 2024 yang akan diselenggarakan oleh FAS Foundation di Korea Selatan. Selain itu, kegiatan ini juga berfokus pada pengembangan pembelajaran inovatif yang solutif dalam mengatasi masalah lingkungan.
Indonesia STEM Creativity Competition 2024 juga berperan penting dalam mendukung inisiatif pemerintah menuju Generasi Emas 2045. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global di masa depan. Selain itu, acara ini selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah, dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar dan berkreasi tanpa batasan, serta mengembangkan potensi mereka secara maksimal.
Indonesia STEM Creativity Competition 2024 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga gerakan untuk memajukan pendidikan STEM di Indonesia, selain itu juga diharapkan dapat menjadi wahana untuk membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan solusi-solusi yang kreatif dan inovatif.
Acara pembukaan ISTEMCC 2024 dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dalam bidang pendidikan dan pemerintahan yang memberikan sambutan, diantaranya yaitu Kepala Pusat Unggulan STEM Education Creativity UPI Irma Rahma Suwarma, S.Si., M.Pd., Ph.D., Direktur Direktorat Inovasi dan Pusat Unggulan UPI Prof. Dr. Ida Kaniawati, M.Si., Wakil Rektor bidang Inovasi Kebudayaan, dan Sistem Informasi UPI Prof. Dr. H. Agus Rahayu, M.P., Sekertaris Daerah Provinsi Jawa Barat Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., Direktur Guru Pendidikan Dasar Dr. Drs. Rachmadi Widdiharto, M.A., dan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A. yang sekaligus membuka secara resmi acara Indonesia STEM Creativity Competition 2024.
Dalam pidatonya, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si. selaku Sekertaris Daerah Provinsi Jawa Barat menyatakan, “Indonesia emas 2045, itu insyaallah kita akan jemput dalam waktu dekat, hanya dalam waktu 20 tahun lagi, insyaallah pada 2045 indonesia akan menjadi Thebig4th develop country’s in the world, jadi Indonesia akan menjadi negara besar, negara maju, 4 besar bahkan di dunia”. Ini menurut prediksi Lembaga-lembaga dunia, konsultan-konsultan kelas dunia seperti McKinsey, IMF, World Bank, dan termasuk PricewaterhouseCoopers. Tentu ini satu hal yang insyaallah memotivasi kita, sebuah keniscayaan pada saatnya 2045 kita menjadi negara dengan sizeeconomic terbesar di dunia setelah China, India, dan Amerika.
“Harapan ini bisa terjadi terhantung pada hari ini, tergantung SDM dan penguasan STEM. Karena itu kami menyambut baik kompetisi yang di selenggarakan oleh STEM UPI ini, karena dengan STEM insyaallah kita bisa mengelola sumberdaya yang sangat kaya ini. seperti pepatah “the fast eat the slow” yang cepat akan menerkam yang lambat, dan kami mohon kepada UPI bukan hanya sebatas kompetisinya saja, justru yang harus kita dorong adalah pasca kompetisi” ujar Dr. Herman.
Menurtnya tindak lanjut setelah kompetisi ini, karena hemat kami yang harus kita lakukan terkait STEM ini harus terstruktur, systemic, dan massive. Jadi tidak bisa parsial, tidak bisa asal-asalan. “Apabila anak-anak kita menguasai STEM dengan baik, maka pada saat dia terjun pada realita kehidupan diberbagai profesi, betul-betul dia bisa berkontribusi diprofesinya tersebut, dia bukan hanya bekerja dengan baik tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Jabar menguasai STEM, insyaallah menguasai bukan hanya di kancah nasional bahkan di kancah global” tutup Sekertaris Daerah Pemprov Jabar tersebut. (DN)
The 8th Icollite 2024 Usung Tema “Embracing Digitalization in Language, Literature, Culture, and Education”
01 Aug 2024 • Humas UPI
Bandung, 24/7 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menggelar acara internasional bergengsi dalam bidang bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan, yaitu The 8th International Conference on Language, Literature, Culture, and Education (Icollite). Acara yang mengusung tema “Embracing Digitalization in Language, Literature, Culture, and Education” ini diselenggarakan secara daring dan disiarkan langsung dari Auditorium Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) UPI. Konferensi tersebut dihadiri oleh 366 presenter dari berbagai universitas dan instansi dengan 23 partisipan aktif yang turut mengikuti jalannya diskusi selama konferensi berlangsung.
Acara yang berlangsung pada hari Rabu, 24 Juli 2024 ini mengundang sejumlah pembicara terkemuka dari dalam dan luar negeri. Keynote speaker yang hadir, di antaranya, Prof. Ahmad Bukhori Muslim, M.Ed., Ph.D. dari Universitas Pendidikan Indonesia, M. Sidury Christiansen, Ph.D. dari University of Texas at San Antonio, Amerika Serikat, dan Azhar Ibrahim, Ph.D. dari National University of Singapore meskipun beliau berhalangan hadir karena kondisi kesehatan. Selain itu, beberapa pembicara fitur turut memperkaya wawasan para peserta konferensi, di antaranya Dr. Sudarsono, S.Pd., M.A., Dr. Iyen Nurlaelawati, M.Pd., Dr. Jatmika Nurhadi, S.S., M.Hum., dan Susi Septaviana R., M.Pd., Ph.D., yang semuanya berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia. Keempatnya memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai diskusi panel terkait topik-topik penting dalam bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan.
Relevansi Konferensi dalam Era Digitalisasi
Tema “Embracing Digitalization in Language, Literature, Culture, and Education” diangkat sebagai respons terhadap perkembangan digitalisasi yang makin pesat, terutama dalam dunia pendidikan, bahasa, sastra, dan budaya. Kehadiran teknologi digital telah memengaruhi cara kita berkomunikasi, mengakses informasi, memahami budaya, serta literatur dari berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, penting bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut dan memanfaatkan teknologi digital dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kajian ilmiah di bidang-bidang tersebut.
Sebagai satu di antara negara yang terus berkembang dalam bidang teknologi pendidikan, Indonesia memegang peran penting dalam diskusi global mengenai digitalisasi. UPI, sebagai institusi pendidikan terkemuka, merasa memiliki tanggung jawab untuk menginisiasi dialog-dialog akademik tentang tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh digitalisasi, khususnya dalam konteks bahasa, sastra, dan budaya.
Konferensi ini juga menjadi wadah bagi para peserta untuk berbagi hasil penelitian dan praktik terbaik terkait penggunaan teknologi dalam pengajaran bahasa, pengkajian sastra, pelestarian budaya, serta pembaharuan metode pendidikan yang lebih efektif dan relevan di era digital.
Jalannya Acara dan Berbagai Diskusi
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., yang menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman di dunia akademik. Setelah itu, sesi keynote speaker dimulai dengan paparan dari Prof. Ahmad Bukhori Muslim, M.Ed., Ph.D. dan M. Sidury Christiansen, Ph.D.
Di sesi selanjutnya, beberapa feature speaker dari UPI turut berperan aktif dalam memberikan pandangan mereka terkait berbagai isu yang dibahas, yakni Dr. Sudarsono, S.Pd., M.A., Dr. Iyen Nurlaelawati, M.Pd., Dr. Jatmika Nurhadi, S.S., M.Hum., serta Susi Septaviana R., M.Pd., Ph.D.
Partisipasi dan Antusiasme Peserta
Satu di antara yang menarik dari The 8th Icollite adalah kehadiran 366 presenter dari berbagai universitas dan instansi, yang berasal dari latar belakang akademik dan profesional yang beragam. Setiap presenter diberikan kesempatan untuk memaparkan hasil penelitian mereka, baik dalam bentuk presentasi singkat maupun dalam sesi diskusi panel yang lebih mendalam.
Sesi-sesi diskusi dalam konferensi ini berlangsung dengan interaksi yang sangat dinamis. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pandangan, dan mendiskusikan berbagai topik yang relevan dengan tema konferensi. Para presenter pun memberikan respons yang konstruktif dan informatif sehingga suasana akademik di konferensi ini terasa sangat hidup dan penuh semangat.
Konferensi ini tidak hanya berhasil mempertemukan para akademisi dari berbagai negara untuk bertukar gagasan, tetapi juga berhasil menciptakan diskusi yang bermakna tentang digitalisasi dan pengaruhnya terhadap bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan. Dengan berakhirnya The 8th Icollite, diharapkan para peserta mampu membawa pulang pengetahuan dan wawasan baru yang dapat diterapkan dalam penelitian dan praktik profesional mereka. UPI berencana untuk terus menyelenggarakan acara serupa di masa depan, dengan harapan dapat terus menjadi wadah kolaborasi bagi para akademisi dan praktisi di seluruh dunia.
Pelatihan Menulis Akademik untuk Guru BIPA Timor Leste: Sebuah Langkah dalam Memperkuat Hubungan Pendidikan Internasional
01 Aug 2024 • Humas UPI
Bandung, Juli 2024 – Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) baru saja sukses menyelenggarakan Pelatihan Menulis Akademik bagi Guru-Guru BIPA Timor Leste. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari, mulai tanggal 9 hingga 12 Juli 2024, dan diikuti oleh sejumlah guru BIPA dari Timor Leste yang antusias untuk memperdalam kemampuan menulis akademik mereka. Pelatihan ini dilaksanakan secara daring melalui platform video konferensi dan mendapatkan respon positif dari seluruh peserta.
Pelatihan yang digagas oleh Program Pendidikan BIPA Sekolah Pascasarjana UPI ini bertujuan untuk memberdayakan guru-guru BIPA dengan keterampilan menulis akademik yang mumpuni. Kemampuan ini penting bagi para pendidik dalam menyusun materi ajar, penelitian, dan pengembangan literasi akademik yang lebih efektif bagi para pelajar BIPA. Dengan sertifikat 32 JP yang diberikan kepada peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan, para guru diharapkan mampu menerapkan teknik penulisan akademik dalam pembelajaran sehari-hari.
Pelatihan ini dibimbing oleh tiga pakar di bidangnya, yaitu Dr. Nuny Sulistiany Idris, M.Pd., Dr. Diah Latifah, M.Pd., dan Dr. Suci Sundusiah, M.Pd. Para pemateri menyampaikan materi dengan sangat komprehensif, mencakup berbagai aspek teknis dan substansial dalam penulisan akademik.
Pada hari pertama, Dr. Nuny Sulistiany Idris membuka pelatihan dengan memberikan materi tentang kaidah bahasa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan morfologi dan sintaksis. Materi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar yang kokoh mengenai aturan berbahasa yang benar dalam konteks akademik. Selama sesi ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi berbagai bentuk dan struktur kalimat dalam bahasa Indonesia.
Hari kedua melanjutkan eksplorasi kaidah bahasa dengan fokus pada Ejaan yang Disempurnakan (EYD), serta diakhiri dengan sesi latihan praktik. Peserta terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi dan bahkan aktif bertanya serta berdiskusi untuk memperdalam pemahaman mereka.
Pada hari ketiga, pelatihan memasuki aspek teknis penulisan artikel ilmiah, seperti penyusunan Introduction, Literature Review, Method, Discussion, dan Conclusion. Dr. Diah Latifah memandu para peserta melalui langkah-langkah praktis dalam menulis bagian-bagian tersebut, sekaligus memberikan tips dan trik untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang baik dan efektif. Banyak peserta yang merasa terbantu dengan pendekatan praktis yang diberikan, terutama karena mereka dapat langsung mempraktikkan teknik yang diajarkan dalam sesi-sesi workshop yang interaktif.
Hari terakhir, Dr. Suci Sundusiah memberikan pelatihan mengenai penyuntingan kalimat efektif dalam artikel ilmiah. Peserta diminta untuk melakukan latihan penyuntingan, di mana mereka mengaplikasikan teori yang telah dipelajari sebelumnya. Sesi ini ditutup dengan tes penyuntingan, yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian pelatihan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan, dengan tingkat partisipasi yang tinggi pada setiap sesi diskusi dan latihan. Banyak peserta mengungkapkan rasa terima kasih dan kepuasan terhadap pelaksanaan pelatihan ini. Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk nyata komitmen UPI dalam memperkuat hubungan pendidikan antara Indonesia dan Timor Leste, khususnya dalam bidang pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. UPI sebagai lembaga pendidikan terkemuka di Indonesia berupaya untuk terus mendukung peningkatan kualitas pembelajaran BIPA di tingkat internasional.
Dengan pelaksanaan pelatihan ini, UPI berharap para guru BIPA di Timor Leste dapat lebih percaya diri dalam menulis artikel ilmiah dan mengembangkan materi pembelajaran yang lebih berkualitas. Para pemateri juga berharap agar pelatihan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi juga menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas antara UPI dan para pendidik di Timor Leste.
Secara keseluruhan, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan menulis akademik para peserta, tetapi juga mempererat hubungan pendidikan antara dua negara. Keberhasilan pelatihan ini diharapkan menjadi landasan bagi program-program serupa di masa depan yang akan terus mendukung pengembangan kemampuan guru-guru BIPA di Timor Leste.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, UPI dan seluruh tim pelaksana menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para peserta atas antusiasme dan dedikasi mereka, serta berharap agar keterampilan yang diperoleh dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan BIPA di Timor Leste.
Langit masih temaram. Di balik seragam putih abu, seorang gadis mengayuh sepedanya menuju penitipan sepeda stasiun.
Pukul 4 pagi sedianya ia sudah menyiapkan diri berangkat sekolah, supaya selepas sholat subuh bisa langsung bertolak menuju titik tuju.
Telat sedikit saja, bisa tertinggal Bus karyawan pabrik yang melaju dari Majalaya-Rancaekek menuju Cicadas. Menjemput karyawan pabrik di daerah Cicadas. Itulah mengapa busnya kosong.
Jadi, mereka mengisi kekosongan kursi dengan membayar pada sopir dan kernetnya. Pastinya jauh lebih murah dari kotrima atau kereta api. Bonusnya, tidak ada drama kesiangan karena kereta datang terlambat atau penumpang yang penuh sesak. Maklum di tahun 2001 atau 2002 moda transportasi kereta api dalam kota belum tertib dan nyaman seperti sekarang.
Lagu “syahdu” dari bang haji Rhoma Irama hampir setiap hari diputar sepanjang perjalanan. Sudah tak asing di telinga. Mula-mula terasa terganggu, tapi kami bisa apa? Hanya penumpang. Jadi, lama-lama maklum juga. Gelombang otak yang semakin rileks dari alunan irama yang mendayu, meninabobokan.
Sesekali mata terpejam, mengatasi kantuk sisa semalam. Bagaimana tidak, hampir setiap harinya gadis ini pulang sekolah pukul 14.00 WIB.
Dalam perjalanan pulang, meski rasa kantuk menghampiri, tidak pernah ia tertidur dalam kotrima. Bagi yang sudah pernah merasakan naik kotrima tentu paham, selain cara menyetirnya “ugal-ugalan”, penumpangnya penuh sesak karena moda termurah dibanding angkot, juga keamanannya yang patut diwaspadai karena sering ada copet. Atas alasan ini, ia tidak bisa tidur di kotrima.
Setelah turun dari kotrima, untuk menuju pulang dia perlu melanjutkan naik angkot lagi.
Tiba di rumahnya ia harus langsung bergegas mandi dan bersiap pergi lagi. Lepas sholat ashar pukul 15.30 terjadwal pergi mengajar privat bimbel (bimbingan belajar) untuk siswa SD. Dalam sehari dua rumah bisa ia kunjungi untuk jadwal mengajar selama 2 jam. Dari rumah satu ke rumah lainnya kadang menghabiskan waktu 2-3 jam. Alhasil kembali pulang sudah sisa tenaga.
Pukul 21.00 WIB tiba di rumah. Tidak ada waktu scrolling sosmed kala itu. Putar radio MQ FM memutar murattal Quran sudah cukup menemani malam. Setelah bersih-bersih, beranjak tidur di pukul 22.00 WIB dan bangun kembali pukul 3.00 WIB dini hari. Praktis tidur hanya 5 jam. Selama 60 menit ke depan diisi dengan tahajud, menyiapkan jadwal pelajaran, kadang belajar, membaca, dilanjutkan mandi.
Sarapan di pagi buta seadanya, kadang dibekali kotak makan berisi lauk sederhana dan nasi secukupnya, untuk istirahat di sekolah. Trik menghemat uang jajan juga. Uang yang disisihkan dapat ia jadikan modal tambahan membeli bahan baku rempeyek dan molen untuk dijual di sekolah setiap harinya.
Sabtu dan ahad jadwalnya memproduksi rempeyek. Kurang lebih 100 pcs. Dibagi 5 hari sekolah, jadi 20 pcs dijual setiap harinya.Inilah salah satu alasan, mengapa ia memilih pergi menggunakan bus karyawan daripada kereta api. Khawatir rempeyeknya hancur remuk dan kurang elok bila dijual.
Setidaknya setiap hari di pundaknya ada tas ransel berisi buku dan perlengkapan sekolah, dan tangannya menjinjing keresek besar berisi pisang molen plus 20 pcs rempeyek.
Gadis itu tidak punya alasan pasti mengapa menyulitkan diri sendiri harus membawa dagangan itu ke sekolah setiap hari. Kondisi ekonomi keluarganya memang tidak berlebih, tapi juga tidak kekurangan.
Bahkan sejak hijrah hidayah berjilbab, di 2002 tahun kedua duduk di bangku SMA nyaris gadis itu tak pernah meminta uang jajan dari ibunya. Ia menempa dirinya untuk berdikari (berdiri di kakinya sendiri) selain memberikan solusi buat teman-teman di sekolahnya di kala lapar mendera.
Ya, pertolongan pertama saat kelaparan di pagi hari pada jam brunch alias breakfast and lunch bagi teman-temannya. Itulah mengapa di kelasnya yang hanya berjarak tujuh langkah ke ruang guru itu, ia memilih duduk di samping jendela yang terbuka dekat koridor. Tepat! Untuk memudahkan transaksi jual beli dan transfer makanan melalui jendela. Sudah menjadi rahasia umum, teman-teman dari kelas lain tinggal berbisik di balik jendela, atau cukup mengirimkan secarik kertas bertuliskan pesanannya lewat celah, bayarnya nanti pada jam istirahat.
Kebiasaan ini berpola hingga ia lulus. Meski tidak ikut bimbel persiapan Ujian Nasional, namun ia bisa membuktikan bahwa aktivitas padat (Mulai dari sekolah, mengajar bimbel, berjualan rempeyek dan molen, mengajar mengaji di masjid, berorganisasi, dan tidur hanya 5 jam sehari) tidak lantas membuatnya tertinggal dari teman-teman lainnya yang mengikuti bimbel bonafid. Akhirnya, ia bisa lulus dengan Nilai Ujian Nasional Tertinggi dari jurusan IPS.
Tak lama setelah lulus, dilamar dan menikah. Lucunya, saat Ujian masuk perguruan tinggi negeri dilaksanakan, ia tidak diantar orangtua seperti peserta pada umumnya, melainkan diantar suaminya. Sejak menikah, dia sudah tidak lagi mengajar privat dari satu rumah ke rumah lain. Bimbel Dzikra Prestatif dan TK/Daycare Dzikra Kids berdiri satu atap dengan Daycare/Prasekolah dan tempat tinggal. Bisa dibayangkan, sejak pagi ramai kanak-kanak, siangnya hingga malam ramai adik-adik yang bimbel. Situasi baru hening sekitar pukul 21.00 WIB. Kondisi ini berlangsung selama kurang lebih 13 tahun. Siapa sangka, si gadis itu adalah penulis. Iya, saya!
Rasanya, hingga menikah muda, punya anak, dan kuliah S1, S2, S3 tidur menjadi sesuatu yang langka. Bahkan kurang. Selalunya kurang tidur. Bukan insomnia atau tidak bisa tidur, tetapi memang produktivitas tinggi, sibuk dan padat sekali aktivitasnya sehingga perlu begadang dan bahkan beberapa kesempatan tidak tidur sama sekali. Terlebih pada masa-masa kuliah. Beruntung bisa dilalui dengan baik.
Jadi sebenarnya, orang-orang yang bisa menjalani perkuliahan S1/ S2/S3 dengan baik itu bukan mereka yang pinter banget akademiknya, melainkan mereka yang punya keseimbangan antara kecerdasan emosional, mental dan daya juangnya.
Pagi hari ini, Sabtu 28 Juli 2024 beberapa rencana seperti berkebun (rencana menyemai, mengganti tanah dan media tanam, mengkreasi taman), memasak, beres-beres, mulai menulis ringan di akhir pekan saya lakukan tapi tidak ada yang tuntas. Terbetik ide untuk ke salon, namun mager alias males gerak. Ternyata, tubuh minta hak untuk diistirahatkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, dilanda kantuk yang sangat. Saya pun berwudhu lalu beranjak ke kamar dan langsung turu (tidur)
Dalam ni’matnya turu sesekali gangguan si kecil Uwais memecah keheningan. Terbangun sejenak, kelopak mata terbuka menatap dalam nyenyak. “Ummi bangun, ayo main”, rengeknya sambil menepuk nepuk pipi. Dalam gelombang alpha saya jawab “sebentar ya nak, ummi tidur dulu boleh yaa?”. Sepersekian detik kami saling menatap. Tapi tak lamat. Sejurus kemudian ia pun beranjak pergi menutup pintu kamar. Setelah itu saya tidak ingat karena kembali menyemai bunga tidur.
Belakangan saya tahu, bahwa ia mengatakan seperti ini pada aunty nya yang bertanya: “umminya mana dek?”, seketika dijawab uwais, “umminya lagi tidur onty, dilihat matanya merah kena azab”, dengan polosnya. Spontan mengundang gelak tawa kami saat makan siang menjelang ashar.
Turu qailulah atau istirahat siang disunnahkan nabi saw. Qailulah sendiri merupakan jenis tidur sebentar yang dilakukan di siang hari. Waktu pelaksanaannya biasanya dilakukan mulai dari pukul 11.00 siang hingga menjelang pukul 14.00. Namun, qailulah yang dianjurkan Rasulullah SAW adalah pada waktu siang hari sebelum sholat zuhur atau sesudahnya durasinya 10 – 20 menit sudah cukup. Hal ini dikutip dari buku Back To Sunnah: Teori dan Kajian Empiris Kesehatan oleh Haerawati Idris.
Turu di akhir pekan hari ini begitu berkualitas. Tiba-tiba hal kecil seperti turu ini meregresi masa-masa lalu yang rindu untuk turu, sesuatu yang lupa disadari selama ini. Ni’matnya turu tiba-tiba mengundang ingatan masa lalu.
Turu sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menyatakan kelelahan atau keinginan istirahat. Ketika hayati lelah, maka turu-lah.
Bagi yang sudah pernah berangkat umrah atau haji dan mengamati kehidupan orang-orang di Mekah dan Madinah, tentu bisa mengamati pola hidup mereka. Waktunya sebagian besar adalah menunggu jadwal sholat 5 waktu, selebihnya diisi berdagang dan bekerja. Perniagaan ditinggalkan demi sholat tepat waktu. Aktivitas mereka lebih banyak di malam hari, pagi dan siang hari rata-rata toko-toko tutup. Rumah sakit sepi warga lokal, kebanyakan diisi para pendatang jemaah umrah atau haji dari berbagai negara. Warga arab jarang sakit.
Betapa pentingnya turu dalam kehidupan manusia. Kualitas tidur menentukan kesejahteraan hidup. Sudah banyak riset tentang peran turu dari sisi psikologi atau disiplin ilmu lainnya.
Pola turu yang berantakan dapat menimbulkan kecemasan, sulit konsentrasi, turunnya motivasi, hilangnya rasa humor dan penurunan kemampuan interaksi sosial, bahkan parahnya depresi. Turu menjadi proses penyegaran energi mental.
Sakit fisik berasal dari sakit mental. Dalam headline pemberitaan dilaporkan pasien cuci darah (ginjal) meningkat 6.3% dan rata-rata masih kanak-kanak. Mencengangkan! Kebiasaan buruk dapat menjadi penyebab gagal ginjal di usia muda. Misalnya, sering mengonsumsi makanan olahan, kurang minum air putih, hingga sering begadang.
Sebagian dari anak dan remaja bahkan dewasa lebih memilih untuk mengurangi jam tidur, dibanding harus melewatkan mengakses sosial media, menulis jurnal di malam hari, menulis laporan penelitian, mengerjakan tugas, menonton drama seri di netflix, main game online, dan banyak lagi. Padahal gangguan turu menyebabkan proses inflamasi dan aktivasi saraf simpatis yang merusak membran basal glomerulus dan aparatus tubulus ginjal. Intinya, berdampak pada kesetimbangan metabolisme tubuh.
Di Jepang dan Korea selatan, dengan tingkat kesibukan tinggi, kecanduan obat tidur sudah menjadi epidemi nasional. Industri turu yang terus berkembang untuk melayani mereka yang tidak bisa tidur omsetnya diperkirakan bernilai $2,5 miliar (Rp34 triliun) pada 2019.
Betapa tidak, di Seoul hampir seluruh pusat perbelanjaan dikhususkan untuk produk turu, mulai dari sprei yang sempurna, bantal yang optimal, apotik dengan rak penuh obat turu herbal dan tonik, teknologi insomnia berupa aplikasi meditasi-kokkiri- juga ada untuk membantu anak muda yang stres. Kesibukan tinggi, bahkan menjadikan Inemuri alias kebiasaan tidur orang Jepang yang tidak sesuai tempatnya menjadi budaya unik. Mereka tidur di tempat kerja, tempat umum, transportasi publik. Pentingnya turu siang, sampai di Jepang ada pelajaram turu siang untuk anak-anak level kelas bawah (kelas 1 dan 2).
Turu di kampus, di tempat kerja. Pada jam yang disunnahkan nabi saw. Berhenti sebentar. Istirahat yang penuh kesadaran. Berhenti sejenak memungkinkan kita untuk mengalihkan frekuensi batin kita dari frekuensi sehari-hari yang selalu sibuk ke frekuensi yang lebih tenang, sehingga memungkinkan kita untuk melihat lebih dalam. Ini adalah langkah yang diperlukan dalam perjalanan untuk melepaskan diri dari “lingkaran pikiran” dan reaksi serta tindakan otomatis, terutama yang menghalangi untuk berada di tempat yang diinginkan.
Ingat lagu kebangsaan kaum rebahan, dari mbah surip rahimahullah. Sekilas syairnya seperti lelucon. “Bangun tidur, tidur lagi”, padahal maknanya mendalam. Bahwa ujung dari kehidupan manusia, adalah Turu. “Itulah manusia, ada hidup ada mati, ada bangun ada tidur…”
Masih ingat lagu kanak-kanak “bangun tidur”, ciptaan pak Kasur? Apakah sebutan “kasur” ada hubungannya dengan judul lagu “bangun tidur”, kebetulan penciptanya bernama Soerjono. Seorang tokoh pendidikan Indonesia. Julukan “kak Soer” yang biasa digunakan anak buahnya di gerakan kepanduan. Lama-lama terdengar kasur dan akhirnya terbiasa dipanggil pak kasur.
Ada lagu turu yang sejak 1800 an populer di Indonesia. Judulnya Nina Bobo. Ya, lagu pengantar tidur yang bercitrakan irama keroncong. Tak hanya di Indonesia, nampaknya Nina bobo ini pun dikenal di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri lagu Nina bobo dipopulerkan oleh Anneke Grönloh dan Wieteke van Dort. Nina sendiri bukan merujuk pada sebuah nama orang. Serapan dari bahasa portugis “menina” yang berarti gadis. Bobo, serapan bahasa Tionghoa dari tidur. Belakangan lagu ini jadi “horror” setelah diangkat menjadi judul film layar lebar. Dikaitkan dengan misteri meninggalnya gadis belanda karena malaria.
Mari kita lihat pola kehidupan nabi Muhammad saw. (1) Magrib (18.00-19.00) Persiapan ibadah. Tutup pintu & Jendela. (2) Isya (19.00-20.00): Tidak tidur sebelum Isya. Tidak begadang kecuali: menuntut ilmu dan bercengkrama dengan istri. (3) Tidur (Turu (21.00-02.00). (4) Qiyamul Lail (02.00-04.00). Quality time with Allah (5) Subuh (04.00-05.30). Tidak meninggalkan tempat sholat hingga Syuruq. (6) Syuruq (06.00-07.00). Couple Time (7) Dhuha (07.30-10.30). Aktivitas harian: Kerja; Dakwah; Belajar Mengajar. (8) Qoilulah (11.00-13.00): Istirahat. Tidur. (9) Dzuhur (13.00-15.00): Melanjutkan aktivitas harian. Seperti itulah kurang lebih gambaran manajemen waktu hariannya nabi saw. Ada suri teladan yang baik pada diri nabi saw (lihat QS. Al Ahzab 21).
Nabi saw yang menjadi orang paling berpengaruh sepanjang zaman saja menempatkan turu siang sebagai aktivitas penting, sementara kita?
Tidur siang itu sunnah, tidak wajib. Artinya tidak sampai berdosa kalau ditinggalkan, tinggal siapa yang mampu dan punya kesempatan menunaikannya. Tentunya jika kebijakan sederhana dari sekolah, kampus, kantor memfasilitasi ini maka sudah menyelamatkan mental generasi bangsa lebih sehat mental dan fisiknya, menguatkan produktivitas ibadah.
“Tidurlah qailulah (tidur siang) karena setan tidaklah mengambil tidur siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb 1: 12; Akhbar Ashbahan, 1: 195, 353; 2: 69. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1647)
Bagaimana pengalaman turu anda? Apakah anda merasa bersalah karena turu di siang hari? Jika anda pengambil kebijakan di sebuah lembaga, apakah memungkinkan bagi anda untuk membudayakan tidur qailulah alias turu siang di lembaga anda? Ceritakan pendapat anda!
Waktu hening dimulai…
Ahad, 28 Juli 2024/ 22 Muharram 1446H.
Salam biblioterapi, Bunda Susan @susan_motherpreneur (Dosen Biblioterapi di Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Depkurtekpen, FIP UPI Bandung. Founder Komunitas Biblioterapi Indonesia. Penulis buku seri biblioterapi untuk pengasuhan, biblioterapi untuk kecemasan dsb. Penyedia layanan biblioterapi) follow IG @bibliotherapy.id email koresponsensi: [email protected].