English
Indonesia

Perkuat Karakter Kebinekaan Global di Kalangan Pelajar Indonesia, GCC-Indonesia selenggarakan Pelatihan Developing Global Diversity Character

12 Jun 2024 • Humas UPI

Global Citizenship Education Cooperation Centre Indonesia (GCC-Indonesia) menyelenggarakan Pelatihan “Developing Global Diversity Character”  Pada Jumat,  7 Juni 2024. Kegiatan diselenggarakan secara hybrid, dengan lokasi utama di Hotel Santika Cirebon yang diikuti sebanyak 45 peserta yang hadir secara langsung serta 422 peserta  yang mengikuti sesi daring secara synchronous melalui Zoom Meeting. 

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA sekaligus Penasihat GCC-Indonesia. Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA menekankan pentingnya kerjasama dan komitmen bersama untuk meningkatkan mutu pelaksanaan Global Citizenship Education (GCED) di Indonesia. Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA mengapresiasi berbagai inisiatif GCC-Indonesia dalam melaksanakan kegiatan yang inovatif dan bermanfaat bagi pendidikan di era global ini.

Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si yang merupakan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus Direktur GCC-Indonesia mengatakan bahwa pelatihan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkuat karakter kebinekaan global di kalangan pelajar Indonesia. Lebih lanjut mengungkapkan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan wawasan dan keterampilan yang diperlukan dalam menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan global serta menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. 

Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si menyampaikan kegembiraan, rasa syukurnya serta apresiasi kepada APCEIU, para pemateri, panitia, mitra yang telah berkolaborasi dalam menyelenggarakan acara ini serta partisipasi aktif dari para peserta. 

Pada hari pertama kegiatan, Kadini, S.Sos selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, menekankan pentingnya pendidikan karakter kebinekaan global dalam menghadapi dinamika sosial dan budaya yang semakin beragam di Indonesia. Kadini, S.Sos mengapresiasi atas usaha GCC-Indonesia dalam mempromosikan pendidikan kewarganegaraan global yang kontekstual dengan kondisi lokal.

Hadir secara daring Dr. LIM Hyun Mook, selaku Direktur APCEIU UNESCO.  Dr. LIM Hyun Mook menyampaikan apresiasi kepada GCC-Indonesia dalam mempromosikan pendidikan kewarganegaraan global yang sesuai dengan konteks lokal Indonesia. Dr. LIM Hyun Mook berharap melalui pelatihan ini dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter global di Indonesia.

Pelatihan “Developing Global Diversity Character” yang diselenggarakan oleh Global Citizenship Education Cooperation Centre Indonesia (GCC-Indonesia) membahas berbagai materi yang disampaikan oleh para ahli yaitu Dr. Itje Chodidjah, M.A, Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D serta Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si. 

Melalu kegiatan pelatihan ini, diharapkan agar para peserta mendapatkan wawasan mendalam dan inspirasi dari para pemateri khususnya terkait dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam praktik pendidikan di masing-masing wilayah guna mempersiapkan generasi muda Indonesia menjadi warga global yang responsif dan bertanggung jawab. 

Narasumber pertama pelatihan disampaikan oleh Dr. Itje Chodidjah, M.A, yang merupakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dengan membahas topik “Urgensi Pengembangan Karakter Kebinekaan Global Pelajar Indonesia”. Dalam presentasinya, Dr. Itje Chodidjah, M.A menekankan pentingnya pembentukan karakter yang inklusif dan berkelanjutan di kalangan pelajar Indonesia. Dr. Itje Chodidjah, M.A juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan karakter global di era modern ini.

Narasumber kedua, disampaikan oleh Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D yang merupakan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia serta merupakan Deputi Direktur GCC-Indonesia, membahas topik “Membuka Pola Pikir Global dalam Menghadapi Tantangan Isu-isu Global dalam Pembelajaran”. Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D mengajak para peserta untuk mengadopsi pola pikir global dalam mengatasi berbagai isu global yang ada. Beliau juga memberikan contoh-contoh konkret mengenai bagaimana isu-isu global dapat diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran.

Narasumber ketiga, disampaikan Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si yang merupakan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus Direktur GCC-Indonesia, membahas topik “Mengidentifikasi Permasalahan Global dan Memilih Masalah untuk Kajian Kelas”. Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si fokus membahas cara mengidentifikasi dan memilih isu-isu global yang relevan untuk dikaji dalam pembelajaran di kelas. Beliau juga memberikan strategi praktis bagi para guru untuk mengintegrasikan kajian global dalam metode pengajaran mereka.

Kantor Jurnal dan Publikasi UPI Selenggarakan Internastional Student Conferenceon Education in Facing Sustainability  Development Industry 5.0

12 Jun 2024 • Humas UPI

Kantor Jurnal dan Publikasi Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan  The 7th Internastional Student Conference on Education in Facing Sustainability  Development Industry 5.0 pada Rabu (12/6/2024). Kegiatan diselenggarakan selama dua hari kerja di Gedung University Center lantai 1 Universitas Pendidikan Indonesia dan Hotel Travello yang diikuti oleh para dosen dan mahasiswa.  

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.Pd., M.A selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Usaha dan Kerjasama Universitas Pendidikan Indonesia. Menurutnya, Universitas Pendidikan Indonesia memiliki program yang berkesinambungan untuk mendorong para dosen dan mahasiswa untuk melakukan publikasi ilmiah pada jurnal terakreditasi nasional dan publikasi pada jurnal internasional bereputasi melalui kegiatan konferensi dan kegiatan ilmiah lainya. 

Menurutnya, melalui semangat yang tinggi dalam meningkatkan publikasi ilmiah ini, UPI berupaya melakukan kerjasama konferensi dengan berbagai mitra publikasi. Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.Pd., M.A berharap agar seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan sampai selesai serta memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. 

Kegiatan dipandu oleh Risti Ragadhita yang merupakan mahasiswa Program Doktor Pendidikan IPA, selaku moderator serta dihadiri dua narasumber yaitu Assoc. Prof. Dr. Nor Azwadi Che Sidik dari Editor in Chief Jurnal Ilmiah di Malaysia serta  Prof. Dr. Eng. Asep Bayu Nandiyanto, M.Eng, yang merupakan Kepala Kantor Jurnal dan Publikasi UPI sekaligus Editor in Chief The Indonesian Journal of Science and Technology (IJoST) dengan Peringkat Q1 serta The ASEAN Journal of Science and Engineering (AJSE) dengan Peringkat Q3. 

Mahasiswa Asing Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia di PGSD Kampus UPI di Purwakarta: Exploring Indonesian Culture Summer Course (EICSC) Tahun 2024

11 Jun 2024 • Humas UPI

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus di Purwakarta menyelenggarakan Exploring Indonesian Culture Summer Course (EICSC) Tahun 2024 yang diikuti oleh 10 mahasiswa asing dari Kasetsart University (Thailand), Battambang Teacher Education College (Cambodia), dan Phnom Penh Teacher Education Collage (Cambodia). Opening Ceremony EICSC 2024 dilaksanakan di Smartclass Room, Senin 10 Juni 2024.

Menurut Ketua Program Studi PGSD, Dr. Neneng Sri Wulan, M.Pd., kegiatan yang akan berlangsung selama dua pekan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia, mempelajari keindahan perbedaan budaya, memberikan pengalaman kepada mahasiswa asing yang ingin belajar tentang Indonesia, serta meningkatkan kolaborasi dengan perguruan tinggi dari negara-negara tetangga.

“Program ini juga membantu mahasiswa asing untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik di dalam kelas maupun kegiatan sehari hari”, ungkapnya.

Pada kegiatan Summer Course ini, selain mempelajari Bahasa Indonesia, mahasiswa asing pun akan belajar membuat minuman tradisional Indonesia (Jamu), menyanyi lagu berbahasa Indonesia, membatik, memasak masakan khas Indonesia, menari tari tradisional Indonesia, bermain gamelan, dll. Para pengajar program ini, adalah Dr. Neneng Sri Wulan, M.Pd., Nenden Permas Hikmatunnisa, M.Pd., M.A., Fitri Nuraeni, M.Pd., dan Tiara Yogiarni, M.Pd.

Sementara dalam sambutan Direktur UPI Kampus di Purwakarta, Prof. Dr. Yayan Nurbayan, M.Ag. menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih atas pelaksanaan summer course  dan berharap meskipun dengan waktu yang singkat, mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan keragaman budaya Indonesia. “Semoga mahasiswa dapat belajar bersama serta mendapat pengalaman dalam pertukaran antar Negara dan kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar” ujar Prof. Yayan.

Salah satu mahasiswa, Chayaphum Saelee dari Kasetsart University (Thailand), menyampaikan motivasi mengikuti kegiatan suumer cource yakni untuk menambah pengalaman juga ingin melihat keindahan Indonesia, “My motivation to join this program is to experience new knowledge and want to learn Indonesian culture, cuisine or typical food.”

(Tiara Yogiarni)

Dokumentasi

Kabar dari Perancis (36) Pendidikan Kaum Perempuan di Perancis (1)

11 Jun 2024 • Humas UPI

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Selama dua abad terakhir ini, pendidikan telah mengubah perkembangan hak-hak asasi kaum perempuan ke arah lebih baik. Di Perancis, seperti juga di Indonesia, diketahui sebelumnya hak untuk mengenyam pendidikan hanya dimiliki oleh kaum lelaki dan beberapa kaum perempuan dari kalangan bangsawan. 

Untuk mengetahui evolusi hukum dalam bidang pendidikkan, berikut ini disajikan delapan tahun penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Perancis.

1850: Hukum Falloux 

Pada tahun 1850, Undang-undang Falloux mewajibkan kota dengan lebih dari 800 penduduk untuk membuka sekolah dasar bagi anak perempuan yang berbayar namun sekolah dasar bagi anak perempuan ini tidak diwajibkan. Dengan demikian, pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak perempuan kelas menengah dan sekolah ini sebagian besar diurus oleh para biarawati.

Saat itu, sekolah anak perempuan dan laki-laki umumnya terpisah, dan pengajarannya pun dibedakan:  misalnya anak perempuan belajar keterampilan menjahit..

Nama undang-undang ini diambil dari nama seorang wartawan, sejarawan, dan politikus Perancis. Di bawah Presiden Republik Louis-Napoléon Bonaparte, dia menduduki posisi Menteri Pendidikan Umum dan Urusan Agama. Undang-undang ini ditetapkan pada tanggal 15 Maret 1850.

Frédéric Alfred Pierre de Falloux du Coudray, lahir di Angers (Maine-et-Loire) pada tanggal 8 Mei 1811 dan meninggal di Angers pada tanggal 6 Januari 1886. 

 Undang-undang ini menetapkan bahwa pendeta dan anggota ordo agama, baik kaum laki-laki maupun juga kaum perempuan, dapat mengajar tanpa menunjukkan bukti keahlian lain selain surat ketaatan yang diberikan kepada para imam yang mengajar di sekolah menengah (SMP dan SMA), Sementara  pengajar di universitas haruslah pengajar yang sekuler (laic / tidak tersangkut agama.)

Sementara itu, sekolah-sekolah dasar berada di bawah pengawasan para imam. Mengenai hukum ini, Falloux menyatakan: “Tugas pertama dari imam adalah mengajar orang-orang miskin yang tak berdaya”

1861: Pertama Kali Perempuan Lulus SMA

Pada tahun 1861, ketika gadis-gadis muda masih belum memiliki akses ke pendidikan menengah yang memungkinkan mereka mempersiapkan diri untuk menyandang ijazah SMA, Julie Daubié adalah perempuan pertama yang mendapatkan ijazah dengan gratis pada usia 37 tahun. Setelah itu, 12 tahun kemudian, terdapat 14 orang perempuan yang lulus SMA  

1881: Undang-Undang Camille See

Pada tahun 1881, ketika pendidikan menengah perempuan dimonopoli oleh gereja, Undang-undang Camille Sée mengizinkan pendirian sekolah menengah negeri sekuler untuk gadis-gadis muda. Sekolah menengah ini tidak gratis dan bukan sekolah  persiapan untuk lulus SMA.

1868 – 1908 : Sarjana Perempuan Pertama

Pada tahun 1868, Emma Chenu, mahasiswi jurusan matematika, adalah perempuan pertama yang memperoleh gelar sarjana.

Pada tahun 1875, Madeleine Brès menjadi mahasiswa kedokteran pertama, dan kemudian, pada tahun 1908, Marie Curie menjadi profesor universitas pertama.

Akses terhadap pendidikan tinggi masih sangat terbatas selama periode ini karena akses ini hanya diperuntukkan bagi segelintir perempuan dari kelas ekonomi atas.

1892: Ujian Promosi Jeanne Chauvin

Pada tahun ini, seorang perempuan yang berhasil mengakses pendidikan bergengsi  harus menghadapi sanggahan dan tantangan. Kasus ini terjadi pada Jeanne Chauvin, seorang mahasiswi doktoral pertama di bidang hukum. Saat ujian promosi disertasinya pada tahun 1892, para mahasiswa lain menyerbu ruangan untuk memprotes tuntutan Jeanne yaitu agar kaum perempuan dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi seperti mahasiswa.

1882: Undang-Undang Jules Ferry

Jules Ferry, lahir 5 April 1832 di Saint-Dié (Vosges) dan meninggal 17 Maret 1893 di Paris, adalah seorang negarawan Perancis.

Pada tahun 1870, setelah jatuhnya Pemerintahan Kaisar Napoleon III yang menjadi lawannya, Jules Ferry menjadi anggota pemerintahan sementara (Gouvernement provisoire). Dia menduduki jabatan Menteri Pendidikan Umum dan Seni Rupa (Ministre de l’Instruction publique et des Beaux-Arts ) selama beberapa kali antara tahun 1879 dan 1883. Ia adalah perancang undang-undang yang menjadikan pendidikan menjadi wajib dan gratis untuk semua orang. Ia dipandang sebagai pendukung “sekolah umum yang sekuler, gratis dan wajib”, dan dianggap setelah kematiannya sebagai salah satu pendiri identitas Republik Perancis (republikanisme adalah gagasan yang menyatakan bahwa tujuan suatu negara dan makna keberadaannya, berdasarkan keputusan yang diambilnya, haruslah demi kebaikan bersama (dalam bahasa Latin, res publica: “urusan publik”) dan harus demi kepentingan umum, bukan kemakmuran para pemimpinnya saja atau segelintiran orang yang berkoalisi dengan pemimpin-pemimpin ini.)

Dengan undang-undang Jules Ferry pada tahun 1882, kewajiban pendidikan dari usia 6 sampai 13 tahun memungkinkan anak perempuan mendapatkan pendidikan dasar. Pencampuran jenis kelamin di kelas yang sama masih dilarang. Selain itu anak perempuan dan laki-laki tidak mempunyai program pendidikan yang sama.

Menurut Jules Ferry, “sekolah dasar harus […] mempersiapkan anak laki-laki untuk bekerja di masa depan sebagai pekerja dan tentara, anak perempuan untuk mengurus rumah tangga dan pekerjaan perempuan (menjahit, merawat, dll).”

1924: Décret Léon Bérard 

Dekrit adalah keputusan yang berisi  peraturan atau secara pribadi yang diambil oleh Presiden atau Perdana Menteri. Tindakan ini merupakan salah satu wewenang yang diberikan pada kekuasaan eksekutif oleh Undang-undang (Constitution).

Sejak tahun 1924, dengan keputusan Léon Bérard, program sekolah dan jumlah jam mengajar disamaratakan baik untuk anak perempuan maupun  laki-laki. Hal ini memungkinkan anak perempuan untuk lulus SMA dan dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi.

1975: Sekolah Campuran (Laki-laki dan Perempuan) Semakin Meluas

Pada tahun 1975, pendidikan campuran yang dilakukan secara bertahap sejak masa pasca perang, menjadi umum dan meluas di semua jenjang pendidikan (dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi). Namun, beberapa grandes écolestertentu  (institut ilmiah untuk pata pemuda dan untuk masuknya sangat sulit) tidak tercampur hingga tahun 1980-an (Politeknik pada tahun 1972, Saint-Cyr pada tahun 1983). Di bidang pendidikan tinggi, berbagai sektor masih mengalami feminisasi yang sangat timpang.

Saat ini, diskriminasi karena  jenis kelamin belum hilang seratus persen; pemuda masih banyak yang menggeluti bidang ilmiah, sementara pemudi secara mayoritas mengikuti kursus pelatihan “pengasuhan/ pengobatan”. Namun walaupun demikian , dapat disimpulkan bahwa kemajuan dalam pendidikan adalah  faktor kunci dalam emansipasi perempuan.

Bagaimana dengan keadaan pendidikan sekarang di Perancis?

Menurut INSEE (L’Institut national de la statistique et des études économiques), pada awal tahun ajaran 2020, 2,78 juta siswa terdaftar di pendidikan tinggi di Perancis, 56% di antaranya adalah perempuan. Tingkat pendidikan perempuan pada pendidikan tinggi melebihi laki-laki pada semua usia. Pada tahun 2020‑2021, pada usia 18 tahun, 55% perempuan terdaftar di pendidikan tinggi, dibandingkan dengan 44% laki-laki. Baik bagi perempuan maupun laki-laki, tingkat pendidikan tinggi dimulai pada usia 19 tahun (masing-masing 62% dan 51%), kemudian menurun secara bertahap seiring bertambahnya usia. 

Menurut sumber: Mesri-Sies – SISE dan sistem informasi Pendidikan; survei terhadap lembaga pendidikan tinggi; survei khusus untuk kementerian yang membidangi pertanian, kesehatan, sosial, dan kebudayaan pada tahun 2020-2021, 28,9% mahasiswa untuk mendapatkan gelar insinyur di bidang ini adalah perempuan.

Jumlah mahasiswi sangat bervariasi tergantung pada sektor pelatihan dan spesialisasi. Mengenai pilihan orientasi mereka pada tahun terakhir SMA, perempuan lebih sedikit memilih mata kuliah ilmiah dibandingkan laki-laki, kecuali dalam bidang kesehatan. Para pelajar perempuan ini jumlahnya masih dianggap  minoritas di kelas persiapan untuk Grandes Écoles (CPGE- Classe préparatoire aux grandes écoles) (42%), persiapan untuk diploma teknologi universitas (DUT: diplôme universitaire de technologie) (41%), dan bahkan lebih menonjol lagi di sektor ilmiah (29 % dari pelatihan insinyur). 

Sebaliknya, sebagian besar dari mereka selain mengikuti pelatihan paramedis dan sosial (86%), namun mereka juga mengambil kursus bahasa, sastra, dan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan di universitas (70%). Mereka ini jumlahnya  setengah dari siswa yang mengikuti kuliah di jurusan Bisnis dan juga teknisi tingkat tinggi (Sections de Technicien Supérieur).

Dalam bidang disiplin sains di universitas, hanya ada 23% mahasiswa DUT (diplôme universitaire de technologie) di bidang produksi dan spesialisasi IT serta 31% mahasiswa di bidang ilmiah dasar dan aplikasi adalah perempuan. Di sisi lain, perempuan lebih banyak bekerja di bidang kesehatan (66%), ilmu biologi, kesehatan, ilmu tentang bumi dan alam semesta (63%), dan multisains (59%).

Mahasiswi Doctorat (S3)

Pada hakikatnya, jumlah mahasiswi di universitas-universitas tertinggi tidak banyak berubah: 46,7% mahasiswa doktoral adalah perempuan pada tahun 2020-2021, dibandingkan dengan 46,2% pada sepuluh tahun lalu. Kehadiran mahasiswi dalam disiplin gelar doktorat (S3) mencerminkan pendidikan tinggi yang dilakukan sebelumnya (jadi banyak mahasiswi melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar Doktor).

 Menurut INSEE   terdapat 23% mahasiswa doktoral di bidang matematika (doctorants en mathématiques), 27% mahasiswa doktoral di bidang ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi (sciences et technologies de l’information et de la communication), dan 30% mahasiswa doktoral di bidang ilmu teknik ingenerie. Di sisi lain, terdapat 54% mahasiswa doktoral di bidang ilmu pertanian dan ekologi (sciences agronomiques et écologiques), 55% dalam bidang ilmu kemanusian dan sosial (sciences humaines et sociales), dan 58% pada bidang biologi, kedokteran, dan kesehatan (biologie, médecine et santé).

Jadi dari persentase ini dapat disimpulkan bahwa perempuan lebih banyak dari pada pria yang meraih gelar Doktor (S3).

Tulisan berikutnya akan dibahas ulasan dari UNESCO yang berikaitan dengan kesetaraan gender.

Sumber: https://www.unesco.org

https://globaleducationcoalition.unesco.org/home

https://www.jobat.be

https://www.letudiant.fr

https://www.insee.fr/fr/statistiques/6047727?sommaire=6047805#consulter

UPI Terima Sertifikat Guinness World Record

11 Jun 2024 • Humas UPI

Bandung, UPI

Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A. menerima sertifikat Guinness World Record kategori Bermain Futsal Selama 60 Jam Nonstop, sertifikat Guinness World Record diserahkan langsung oleh Jorge Marquez selaku Ketua Yayasan Free and Safe Indonesia, Kamis, 6 Juni 2024 di Ruang Serba Guna Museum Pendidikan Nasional (Museum Diknas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jlan. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

Helaran pemecahan rekor dunia Bermain Futsal Selama 60 Jam Nonstop tesebut telah dilaksanakan pada tanggal 26-29 Mei 2024 beberapa waktu lalu, dalam event ini digelar juga berbagai kegiatan lain seperti seminar Internasional Edu Human Trafficking dengan tema Empowering Communities to Combat Human Trafficking in Indonesia.

Menurut Jorge Marquez, kegiatan ini tidak hanya sekadar olahraga biasa, melainkan juga sebagai upaya sosialisasi mengenai bahaya human trafficking yang masih merajalela di berbagai daerah terutama di Indonesia.

“Kegiatan ini bukan hanya merupakan kegiatan olahraga biasa, tapi kegiatan ini juga bertujuan sebagai sosialisasi betapa bahaya human trafficking. Banyak perempuan dan anak-anak perempuan Indonesia yang terjerat kejahatan human trafficking dimulai dari prostitusi anak di bawah umur, eksploitasi tenaga anak, dan lain sebagainya. Dengan kegiatan ini, diharapkan setiap orang menyadari bahwa kejahatan perdagangan manusia sangatlah buruk dan berbahaya. Oleh karena itu, perlunya meningkatkan kesadaran dalam menyikapi human trafficking,” ungkap Jorge Marquez dengan penuh semangat.

Kegiatan bermain futsal selama 60 jam nonstop ini melibatkan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktifis human trafficking, tenaga kependidikan di lingkungan kampus UPI komunitas futsal, hingga masyarakat umum. Selama 60 jam tersebut, para peserta bergantian memainkan permainan yang menguras fisik namun penuh semangat. Tidak hanya menjadi ajang untuk memecahkan rekor dunia, tapi juga sebagai platform untuk menyuarakan isu kemanusiaan.

Sementara itu, Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., mengatakan “Inisiatif seperti ini sangatlah penting dalam membangun kesadaran akan masalah kemanusiaan yang serius. Universitas Pendidikan Indonesia bangga menjadi tuan rumah acara ini dan berkontribusi dalam upaya perangi human trafficking.”

Semangat dan dedikasi dari semua pihak yang terlibat dalam acara ini memberikan harapan bahwa melalui kolaborasi dan kegiatan nyata, perangi human trafficking bukanlah hal yang tidak mungkin. Dengan kesadaran yang semakin meningkat, diharapkan akan tercipta masyarakat yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap isu-isu kemanusiaan yang bisa dimulai dari kehidupan di dalam kampus terutama kampus UPI.

Acara penyerahan sertifikat Guinnes World Record kategori Bermain Futsal selama 60 jam nonstop ini dihadiri oleh Sekretaris Majelis Wali Amanat UPI, Wakil Rektor UPI Bidang IKSI, Sekretaris Universitas, Direktur Direktorat DIA UPI, para Dekan Fakultas, dan para pimpinan di lingkungan kampus UPI, para tamu undangan dari berbagai kalangan serta peserta pemecahan rekor dari kalangan mahasiswa ini merupakan bukti nyata komitmen dalam memerangi perdagangan manusia, terutama di Indonesia. (RK)

Pencarian