English
Indonesia

One Lecture One Scopus 2024 : FPEB UPI Tingkatkan Kolaborasi dan Publikasi Para Dosen  di 13 Fakultas Ekonom Perguruan Tinggi Negeri

03 Jun 2024 • Humas UPI

Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia bekerjasama dengan tiga belas Fakultas Ekonomi perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Negeri Malang, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksa), Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Makasar, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta,  Universitas Negeri Manado menyelenggarakan kegiatan One Lecture One Scopus  Tahun 2024 di Bandung (30/6/2024).

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Vanessa Gaffar, SE.Ak. MBA menjelaskan One Lecture One Scopus diselenggarakan selama dua hari kerja pada tanggal 30-31 Mei 2024 yang diikuti oleh 249 dosen tiga belas perguruan tinggi negeri. Artikel yang terkumpul sebanyak 103 artikel yang selanjutnya akan dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi scopus. 

Kegiatan dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, MA, Dekan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis UPI Prof. Dr. Eeng Ahman, M.S, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makasar. Juga para dosen tiga belas Fakultas Ekonomi perguruan tinggi negeri.

Pada kegiatan One Lecture One Scopus Tahun 2024 ini, kegiatan dibagi hari. Hari pertama terdiri dari dua sesi yaitu kegiatan materi coaching klinik dari tiga narasumber yaitu Prof. Iman Harymawan, Ph.D yang merupakan Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Arika Artiningsih, M.Acc., M.Com, M.Res,Ph.D, CFE yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Asep Bayu Dani Nandiyanto, M.Eng yang merupakan dosen Universitas Pendidikan Indonesia. 

Para narasumber membahas penulisan artikel ilmiah pada jurnal internasional terindek scopus. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi para dosen tiga belas perguruan tinggi negeri yang dibagi sesuai bidang keahlian dan kepakaran masing-masing dosen yang membahas kerjasama riset dan publikasi.  Pada hari kedua, kegiatan diskusi bersama Asosiasi Fakultas Ekonomi (AFE) LPTK dan penandatangan kerjasama tiga belas Fakultas Ekonomi dan program studi perguruan tinggi negeri. One Lecture One Scopus Tahun 2024

UPI Sajikan Produk Inovasi di Festival Pendidikan Jawa Barat 2024

30 May 2024 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia turut serta meriahkan kegiatan Festival Pendidikan Jawa Barat 2024, kegiatan yang bertemakan “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar” tersebut diselenggarakan pada tanggal 29 sampai 31 Mei 2024 di Sabuga ITB bertempat di Jl. Tamansari No. 73, Kota Bandung, Jawa Barat. Festival Pendidikan Jawa Barat menampilkan pameran inovasi dari berbagai perguruan tinggi sebagai salah satu target capaian perguruan tinggi. Selain Pameran Inovasi dari berbagai perguruan tinggi, terdapat beberapa rangkaian kegiatan seperti Talkshow Kepemimpinan PAUD, Simposium Science, Technology, Engineering, and Math (STEM), Talkshow Mindful Parenting, Talkshow Festival Kurikulum Merdeka, hingga Donor Darah.

Pada kesempatan tersebut, Universitas Pendidikan Indonesia yang fokus pada bidang Pendidikan menampilkan produk inovasi unggulan yang dihasilkan melalui penelitian dosen dan mahasiswa. “UPI sangat mendukung kegiatan seperti ini, sehingga pada pameran kali ini kami menampilkan produk-produk inovasi hasil penelitian civitas akademika UPI contohnya di bidang pendidikan ada media pembelajar digital, macam-macam aplikasi pembelajaran”, ujar Wakil Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A saat menyempatkan waktunya untuk mengunjungi stand pameran Universitas Pendidikan Indonesia.

Menurutnya kegiatan dalam rangka menyemarakan hari Pendidikan Nasional ini perlu didukung oleh para stakeholder dimana pun karena momen seperti ini merupakan momen bagi para lembaga Pendidikan untuk mengenalkan jati diri masing-masing lembaga kepada masyarakat luas. Sehingga sudah selayaknya UPI turut berpartisipasi pada kegiatan ini tentunya sesuai ranah yang bisa UPI lakukan yaitu terkait layanan pendidikan tinggi.

Melihat animo masyarakat yang berkunjung, Prof. Didi Sukyadi sangat mengapresiasi kegiatan Festival Pendidikan Jawa Barat kali ini, hal ini menandakan bahwa melalui kegiatan ini yang dikemas secara inovatif bisa meningkatkan minat masyarakat lebih tinggi pada bidang Pendidikan mengingat kegiatan ini diselenggarakan dengan berbagai lomba, seminar, dialog serta pameran hasil inovasi.

“Ini sangat bagus karena menunjukan antusiasme masyarakat yang luar biasa untuk menggali lebih banyak tentang dunia Pendidikan, oleh karena itu kegiatan seperti ini harus terus berjalan serta melibatkan bidang bidang lain sehingga banyak inovasi inovasi karya anak bangsa yang dihadirkan pada kegiatan seperti ini”, ujarnya.

Ia berharap melalui kegiatan ini para stakeholder pendidikan baik itu para pelajar yang akan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi bisa mengenal UPI, sehingga kiprah UPI bisa dirasakan oleh masyarakat Jawa Barat umumnya masyarakat Indonesia. Selain itu melalui kegiatan Festival Pendidikan Jawa Barat ini masyarakat bisa memahami dan merasakan manfaat dari program merdeka belajar.

Sementara itu, Festival Pendidikan Jawa Barat 2024 ini merupakan hasil kolaborasi melibatkan 11 Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Satuan Kerja (Satker) Wilayah Jawa Barat termasuk Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV. Serta melibatkan berbagai Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah maupun Komunitas.

Acara ini menjadi ajang sosialisasi keberlanjutan Merdeka Belajar sesuai dengan pesan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim. Acara ini bertujuan untuk menguatkan ekosistem pendidikan dan kebudayaan serta membangkitkan semangat kolaborasi dalam melanjutkan gerakan Merdeka Belajar di Provinsi Jawa Barat.

Dengan diselenggarakannya Festival Pendidikan Jawa Barat 2024 diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh insan pendidikan di Provinsi Jawa Barat terhadap penting dan strategisnya pendidikan dalam membangun peradaban dan daya saing bangsa. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk mendekatkan layanan-layanan UPT dan Satuan Kerja Wilayah Jawa Barat ke publik. (DN)

Pengabdian kepada Masyarakat di Luar Negeri (PKM-LN) dalam Upaya Peningkatan Nasionalisme Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Johor Bahru, Malaysia

28 May 2024 • Humas UPI

Foto Bersama di KJRI Johor Bahru

Jumat – Sabtu,  24–25 Mei 2024, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Luar Negeri (PKM-LN) yakni Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., dan Dr. Yuliawan Kasmahidayat, M.Si. Tim PKM bertolak ke Malaysia untuk melaksanakan kegiatan pengabdian di Johor Bahru selama 2 hari tersebut tepatnya di Gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru. Dadang Sunendar selaku ketua dari tim PKM, menjelaskan latar belakang dari kegiatan ini. Menurutnya, setiap warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di luar negeri memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam hal bela negara, sesuai dengan konstitusi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hak dan kewajiban ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang berada di dalam negeri, tetapi juga bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negeri. Dadang mengutip pasal 30 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 yang menyatakan, “Tiap-tiap warga negara berhak dan ikut serta dalam pertahanan dan keamanan negara.” Hal ini menegaskan bahwa kontribusi terhadap pertahanan dan keamanan negara adalah tanggung jawab semua warga negara tanpa terkecuali. Dalam konteks ini, PMI harus menjalankan peran bela negara sesuai dengan profesi mereka masing-masing dengan penuh tanggung jawab.

Lebih jauh lagi, Dadang menekankan bahwa pelaksanaan bela negara bagi PMI bukan hanya sebatas kewajiban formalitas, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menunjukkan loyalitas dan dedikasi terhadap Indonesia. Para PMI, melalui profesi dan keahlian mereka, dapat memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bentuk, seperti peningkatan citra positif Indonesia di luar negeri, partisipasi dalam kegiatan sosial, serta menjaga dan mengembangkan budaya Indonesia di tempat mereka bekerja. Dengan demikian, PMI tidak hanya memenuhi kewajiban mereka, tetapi juga memperkuat hubungan antara Indonesia dan negara Malaysia, serta memperkuat rasa nasionalisme dan solidaritas di antara komunitas diaspora Indonesia.

Kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan pertemuan Forum LPPM ALPTKNI di Kantor KJRI Johor Bahru ini, dibuka oleh sambutan dari Konsul Jenderal Johor Bahru yakni Sigit Suryantoro Widiyanto. Beliau menyampaikan bahwa Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Johor Bahru ini adalah terbanyak di antara wilayah lain di Malaysia. PMI di wilayah kerja Johor Bahru memiliki karakteristik pekerjaan seperti buruh perkebunan, buruh pabrik, pelayan restoran, konstruksi, cleaning service, dan asisten rumah tangga dengan beberapa kondisi yang tidak memiliki izin tinggal dan izin kerja serta hanya dibayar harian. Hal ini tentu menjadi problematika yang harus diperhatikan oleh Universitas Pendidikan Indonesia salah satunya sebagai sektor akademisi.

Sambutan Konsul Jenderal KJRI Johor Bahru

Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bekerja sama dengan KJRI Johor Bahru, dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil pengabdian. Salah satu isu utama yang diangkat dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kurangnya pemahaman ini berdampak pada rendahnya tingkat perlindungan terhadap PMI itu sendiri. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh UPI bertujuan untuk menunjukkan kepedulian terhadap PMI yang bekerja di Malaysia, khususnya di Johor Bahru. Kegiatan ini memiliki urgensi yang tinggi karena bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman PMI tentang hak dan kewajiban mereka. Dengan meningkatkan pemahaman ini, diharapkan PMI dapat lebih terlindungi dan mampu menjalankan peran mereka sebagai bagian dari bela negara.

Selain itu, kegiatan pengabdian ini juga bertujuan untuk memperkuat rasa nasionalisme di kalangan PMI di Johor Bahru. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hak dan kewajiban mereka, PMI dapat berkontribusi lebih signifikan dalam menjaga citra dan kehormatan Indonesia di luar negeri. UPI melalui tim PKM dan LPPM nya menyerahkan bantuan berupa kebutuhan sarana prasarana penunjang bagi para PMI di sektor pekerjaan masing-masing. Sarana yang diberikan berupa satu unit laptop serta satu buah kipas angina. Tim PKM UPI berharap melalui kegiatan ini, PMI tidak hanya akan merasa lebih terlindungi tetapi juga lebih bangga dan bersemangat dalam menjalankan tugas mereka, sehingga dapat memberikan dampak positif baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi negara Indonesia.

Serah terima Cinderamata antara Tim PKM UPI dengan KJRI Johor Bahru

Pada hari berikutnya, Tim PKM bersama Forum LPPM ALPTKNI melakukan kunjungan ke Putra Business School (PBS) di Universitas Putra Malaysia, yang terletak di Serdang, Selangor, Malaysia. Kegiatan ini menjadi kesempatan penting untuk menjalin silaturahmi antara berbagai institusi di Indonesia, termasuk UPI, dengan UPM. Pertemuan ini dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk memperkuat kerja sama, baik antar fakultas maupun program studi yang terkait.

Selain itu, kunjungan ini juga dilakukan penandatangan MoA antara Universitas Pendidikan Indonesia dengan Putra Business School (PBS) Universitas Putra Malaysia mengenai Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Tentunya ini akan membuka peluang untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kedua universitas, yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dapat tercipta berbagai program magang bersama, pengembangan kurikulum, penelitian kolaboratif, seminar internasional, dan pertukaran mahasiswa dan dosen, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan meningkatkan reputasi akademik di kancah internasional.

Foto Bersama dan Penandatangan MoA antara UPI dan UPM

Dokumentasi Kegiatan

Penulis: Heru Mahmud/Kontributor Humas UPI

Kabar dari Perancis (35) Mengapa orang Perancis tidak lagi terbiasa dan tidak tahu lagi cara menulis yang baik?

25 May 2024 • Humas UPI

Oleh Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis), Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

“Pour saisir le monde aujourd’hui, nous usons d’un langage qui fut établi pour le monde d’hier. Et la vie du passé nous semble mieux répondre à notre nature, pour la seule raison qu’elle répond mieux à notre langage” Antoine de Saint Exupéry,

”Demi memahami dunia saat ini, kita menggunakan bahasa yang telah tetapkan untuk dunia masa lalu. Dan kehidupan di masa lalu tampaknya merespons lebih baik terhadap naluri kita, karena satu-satunya alasan adalah naluri kita merespons lebih baik terhadap bahasa kita. Antoine de Saint Exupéry,

Tayangan berita di  BFM TV pada tanggal 6 Februari 2024 menampilkan bukti nyata yang mengecewakan bahwa ternyata orang Perancis masih mengalami masalah dengan ejaan dalam bahasa Perancis, khususnya saat menulis di media sosial, padahal sebagai orang yang terdidik, seharusnya hal ini tidak terjadi. 

Orang Perancis mulai mencari penyebab masalah banyaknya “typo”  ini dan sekarang fokus pada dampaknya yang dianggap dapat menjadi bencana besar!

Di Perancis, bahasa merupakan hal yang penting. Pandainya seseorang bertutur-kata dan menulis adalah salah satu garansi ia akan mendapatkan tempat di lingkungan masyarakat Perancis. Menulis kepada seseorang dengan kesalahan ejaan atau sintaksis yang salah  dapat dianggap tidak sopan dan orang lain akan menyimpulkan bahwa ia tidak menghargai lawan bicaranya. Akhlak seseorang dinilai dari benar tidaknya atau tepat tidaknya dalam menggunakan tata bahasa yang digunakan pada saat berbicara. Kesalahan tertentu dalam berbahasa ini tidak dapat ditoleransi sama sekali dan kesannya orang tersebut dapat dianggap tidak kompeten, walaupun terkadang hal ini tidak selalu benar. 

Di Perancis, penguasaan ejaan merupakan penanda sosial yang kuat. Penguasaan teknik menulis merupakan tanda kecerdasan, keseriusan dan keandalan. Hal ini juga merupakan tanda penataan pemikiran yang baik karena menunjukkan bahwa mereka telah mengasimilasi logika dan kaidah bahasa dengan baik. Padahal, walaupun orang Perancis mengetahui aturan konjugasi dan tata bahasa namun terkadang mereka masih melakukan kesalahan yang ceroboh tanpa disengaja. Jika terdapat kesalahan pada surel, surat, dan lain-lain, hal ini pertanda  kesembronoan atau bukti bahwa mereka belum mengoreksi ulang tulisan mereka sendiri. Joëlle Dutillet, wartawan Perancis majalah ”30 millions d’Amis”, selalu mewanti-wanti penulis untuk berbicara dan menulis tanpa kesalahan. Kesalahan dalam menulis bahasa Perancis dapat merusak kredibilitas seseorang, karena akan timbul pertanyaan bagaimana mungkin mereka dapat mempercayai seseorang yang tidak memiliki ketelitian.

Di era digital, orang Perancis menganggap tulisan yang salah sebagai spam atau dianggap sebagai surat penipuan (yang sering dikenal dari rendahnya keterampilan berbahasa). Oleh karena itu, mengirimkan surat yang mengandung kesalahan akan merusak kredibilitas dan kepercayaan yang seharusnya diberikan kepadanya. Dengan cara yang sama, situs web yang mengandung kesalahan dapat membuat calon pelanggan kabur.

Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?  Tidak ada kata terlambat untuk melakukan antisipasi. Salah satu cara termudah adalah membaca ulang tulisan sampai kita yakin bahwa tidak ada kesalahan tulisan alias “typo”. Namun terkadang kita tidak menyadari bahwa masih ada  kesalahan. Dengan demikian, sebelum mengirimkan surat atau mengunggah komentar di media sosial, atau memublikasikan sesuatu secara daring,  bacalah ulang dengan cermat atau mintalah dibaca ulang oleh orang yang berkompeten karena, seperti yang diketahui, jauh lebih mudah melihat  kesalahan orang lain daripada kesalahan kita sendiri!

“Kekhilafan hanya akan menjadi sebuah kesalahan jika kita menolak untuk memperbaikinya”. “Une erreur ne devient une faute que si l’on refuse de la corriger.” – John Fitzgerald Kennedy 

Apakah kita harus menyederhanakan ejaannya?  Terjadi perbedaan pendapat di antara para ahli bahasa di Perancis mengenai perlu atau tidaknya penyederhanaan ejaan bahasa Perancis.  Sekelompok ahli bahasa mengusulkan untuk menyederhanakan ejaan dan mengecam kesalahpahaman tentang bahasa Perancis. Mereka menyusun buku yang berjudul: “Bahasa Perancis berjalan sangat baik, terima kasih” Le français va très bien, merci” (Gallimard). Mereka yang  menginginkan pengantian ejaan ini adalah 18 orang yang terdiri atas akademisi, ahli bahasa, dan profesor yang membela gagasan bahwa kesalahan ejaan bukan hal yang serius. Mereka beranggapan bahwa bahasa Perancis sebelum menjadi bahasa Perancis adalah bahasa Latin lisan yang  dipenuhi kesalahan.

“Kami, para ahli bahasa dari Perancis, Belgia, Swiss dan Kanada, benar-benar terkejut dengan luasnya penyebaran anggapan yang salah tentang bahasa Perancis ini.”

Anggapan yang salah tentang bahasa Perancis, yang tersebar di media ini harus diluruskan. Ada perbedaan antara kesalahan (menulis, mengeja, dll)  dan evolusi (perubahan suatu bahasa) yang penggunaannya berulang-ulang dalam waktu jangka panjang. Para ahli bahasa menyangkal anggapan bahwa ejaan bahasa Perancis tidak dapat diubah. Bahasa Perancis adalah bahasa yang dimiliki Perancis, dan semua orang memiliki suatu aksen, atau bahkan beberapa aksen ..

Beberapa gagasan diberikan untuk memberikan alasan mengapa harus mengubah tata bahasa Perancis sekarang. Contohnya misalnya dalam bahasa Latin, keju disebut Formaticum. Terjadi perubahan dalam bahasa Perancis yaitu menjadi “fromage” dan dalam bahasa Italia “Formaggio”. Perubahan ini awalnya merupakan sebuah kesalahan namun kini tidak lagi menjadi kesalahan karena sudah menjadi hal yang umum. Ahli bahasa menjelaskan bahwa yang memvalidasi evolusi bahasa adalah penggunaan jangka panjang. Menurut pendapat mereka, hal inilah yang mendorong perkembangan ke arah ejaan yang lebih sederhana.

Semua orang tidak meragukan bahwa ejaan bahasa Perancis sangat rumit. Contohnya berapa banyak huruf c dan m pada kata “accommoder (menampung)”? Berapa banyak t dan p dalam “attraper” (menangkap)? Dalam buku “Le français va très bien, merci” penulis mengajukan pertanyaan: mengapa hanya ada satu huruf ’t’ pada kata ”compote” (bubur buah)  tetapi ada dua  dua ’t’ pada kata ”carotte” (wortel)? Mengapa kita menerima kedua perbedaan ejaan tersebut? Hal ini mungkin tampak seperti siksaan, tetapi ide utamanya adalah mengubah hubungan orang Perancis dengan bahasanya. Saat ini, para ahli bahasa beranggapan, orang Perancis terjepit di antara cinta dan ketakutan. Ketakutan yang dimaksud adalah ketakutan melakukan kesalahan yang menghalangi untuk mencintai bahasa Perancis tanpa batas. Untungnya, dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, sekarang ini orang-orang diselamatkan oleh adanya korektor otomatis. Apalagi kini kita semakin jarang menulis dengan pena, semakin sedikit menulis manuskrip, dan semakin sering menggunakan papan ketik (keyboard), dengan menggunakan perangkat lunak (software) yang mengoreksi tulisan. 

Para ahli bahasa berpendapat bahwa mulai dari sekolah dasar, anak-anak lebih baik diajari untuk menggunakan alat-alat modern dengan benar daripada menyuruh mereka melakukan dikte untuk membiasakan menulis dengan baik dan benar. Gagasan untuk lebih mencanggihkan diri dengan alat-alat modern, membuat para pembela ejaan dan dikte mengeluh. Salah satu keluhan dilonarkan oleh Pap Ndiaye, Menteri Pendidikan lama, yang pada masa tugasnya memberikan instruksi kepada guru sekolah untuk melakukan dikte setiap hari di sekolah dasar.

Buku ”Le Français va très bien, merci” ini telah memicu tanggapan dari para ahli bahasa ortodoks.  Ahli bahasa yang kuno ini menanggapinya dengan menandatangani sebuah artikel di Le Figaro yang berjudul: “Le français ne va pas si bien, hélas“. (Sayangnya, bahasa Perancis tidak dalam keadaan baik-baik saja). Mereka menantang setiap argumen dalam buku ini. Setiap titik pendapat  yang ditayangkan dimulai dengan menyatakan kontradiksi bahwa bahasa Perancis tidak dalam keadaan sehat. Mereka juga menentang penulisan inklusif (l’écriture inclusive) yang sama sekali tidak bisa dianggap sebagai kemajuan. Penulisan inklusif adalah perubahan tata bahasa Perancis yang didasarkan untuk mengikuti perubahan zaman. Tujuan dari  mengubah tata bahasa Perancis ini adalah sebagai berikut.

  • Untuk melawan kesenjangan dalam masyarakat (antara lelaki dan perempuan) karena dalam bahasa Perancis jenis kelamin le (artikel masculin) lebih banyak dari pada la (artikel feminin).
  • Untuk menyusupkan ke dalam teks-teks hal-hal yang tidak terlihat oleh masyarakat Perancis.
  • Masyarakat berkembang dan bahasa Perancis juga harus mengikuti perkembangannya.
  • Perubahan tata bahasa  merupakan revolusi intelektual yang penting.
  • Bahasa adalah kunci pemahaman tentang dunia, dan jika “yang maskulin menang atas yang feminin”, bagaimana kita bisa mengharapkan perubahan dalam masyarakat?

Pertentangan antara yang ingin mengubah tata bahasa Perancis berhadapan dengan kaum yang ingin melestarikan bahasa Perancis apa adanya dari dulu sampai sekarang. Ahli bahasa yang berasal dari linguis ortodoks  menyangkal akan anggapan bahwa  bahasa Perancis bisa berubah. Anggapan bahwa l’académie française ( akademi Perancis) tetap berpegang pada tata bahasa yang berasal dari tahun 1932, padahal pada tahun 1990 terdapat perbaikan yang walau bukan suatu perubahan yang besar. Dan juga tidak benar bahwa bahasa Perancis dicemari oleh bahasa Inggris.

**Fondation l’Académie Française didirikan oleh Richelieu pada tahun 1635 yang merupakan peristiwa penting dalam sejarah kebudayaan Perancis, karena untuk pertama kalinya perdebatan sekelompok ahli bahasa dianggap berperan penting dalam sejarah kebudayaan Perancis, masa depan masyarakat dan bangsa.

Fakta bahwa bahasa Perancis ini rumit dalam bidang ejaan, penulisan dan tata bahasa ini memberi daya tarik dan level elegant yang tinggi. Bahasa Perancis bukan Hanya sebuah bahasa alat berkomunikasi tetapi juga memedam keindahan dan structure yang berbobot. Mungkin itulah salah satu alasan kalau Emmanuel Macron menyerukan pada hari Senin tanggal 30 Oktober 2023 untuk “tidak menyerah pada pergantian zaman” ketika berbicara tentang bahasa Perancis, dan untuk tetap “juga menjaga fondasi, dasar tata bahasanya, dan kekuatan sintaksisnya”. “Dalam bahasa ini, yang maskulin menjadikan yang netral. Kita tidak perlu menambahkan titik di tengah kata, atau tanda hubung, atau sesuatu agar mudah dibaca,” imbuhnya, menegaskan, saat memberikan pidato pada kesempatan peresmian Kota Internasional Bahasa Perancis, di Villers. -Cotterêts, bahwa bahasa Perancis  telah “menempa bangsa Perancis”. Dengan Pidato Macron,  Presiden Perancis ini menolak perubahan penulisan inclusif ”écriture  inclusive” Perancis yang ingin menandai penyederhanakan tata Bahasa Perancis sesuai mengikuti Jaman. Jadi tata bahasa bahasa Perancis sekarang tidak ada perubahan. Yang harus dirubah adalah system pendidikkan anak anak untuk semakin banyak ditempa belajar menulis dan menggalakan membaca supaya mereka tahu dan mengenal dengan baik tata bahasa Perancis. 

Sumber:

 lesobservateurs

https://rmc.bfmtv.com

https://education.toutcomment.com/article/ecriture-inclusive-definition-regles-et-exemples-14472.html#anchor_0

https://www.lemonde.fr/politique/article/2023/10/30/

Tim Pengembang Modul Digital selenggarakan Workshop RPS dan Modul Digital

24 May 2024 • Humas UPI

Bandung – UPI

Pada hari Senin dan Selasa, (20-21/05/2024), 9 Tim Dosen Mata Kuliah MKPKKA-21, MKPDK, dan MKPKA UPI mengikuti workshop penyusunan RPS dan Modul Digital UPI yang bertempat di Auditorium FIP B Lt. 10 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Acara ini diselenggarakan dalam rangka pengembangan RPS dan modul digital untuk menyongsong proses perkuliahan pada semester yang akan datang secara sinkronous dan asinkronous. Acara ini dihadiri Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ahmad Yani, M.Si. Kepala Divisi Pengembangan Kurikulum dan Program Pendidikan, Prof. Dr. Rudi Susilana, M. Si. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Gema Rullyana, M.I.Kom. tim pengembang Modul Digital.

Acara ini diawali dengan sambutan oleh pembawa acara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan sekaligus pembukaan dari Wakil Rektor PK, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. Acara pertama dimulai dengan penyajian materi dari Prof. Dr. Ahmad Yani, M. Si. terkait dengan Penyusunan RPS Kurikulum Baru (2024) Universitas Pendidikan Indonesia. Ahmad Yani memberikan gambaran terkait bagaimana proses pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Pemaparan pada hari ke dua berkaitan dengan proses dan praktik pengembangan Modul Digital yang disampaikan oleh Gema Rullyana, M.I.Kom. Pematerian kali ini di tambah dengan proses praktik secara langsung dengan para peserta pelatihan dibantu oleh para fasilitator. Proses praktik dititik beratkan kepada bagaimana proses produksi media video untuk pembelajaran.

Kemudian pemaparan materi dilanjutkan oleh Dr. Saripudin, S.Pd., M.T. berikaitan dengan Pengelolaan Modul Digital pada LMS SPOT UPI. Materi ini disampaikan untuk memberikan gambaran bagaimana proses mengelola LMS SPOT UPI yang nantinya akan di tambahkan media Modul Digital. Materi yang diberikan juga memberikan tahapan dari awal masuk LMS SPOT UPI sampai dengan selesai terkelolanya Modul Digital dalam LMS SPOT UPI tersebut.

Kegiatan terakhir dengan melakukan review terkait media modul digital yang telah dikembangkan berupa media video deskripsi mata kuliah pada setiap mata kuliah yang diberikan Workshop. Setiap kelompok menunjukan hasil video yang telah dibuat. (FIP UPI, Kontributor Humas UPI, Ed Hn)

Pencarian