English
Indonesia

Pasca Idulfitri dan Spirit Badar

16 Apr 2024 • Humas UPI

Oleh Dinn Wahyudin

Idul Fitri merupakan pesan langit yang mendarat di Bumi. Bermula di kota Madinah 1 Syawal tahun ke-2 Hijriyah, bersamaan dengan tahun 624 Masehi. Itulah Idul Fitri pertama kali yang dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya di Kota Madinah Al Munawarah. Secara historis, pelaksanaan Idul Fitri tahun ini (1445 H) merupakan Idul Fitri ke 1443. Yaitu dihitung sejak pelaksanaan ibadah shaum ramadan pertama dan Idul Fitri yang dilaksanakan pada tahun ke-2 Hijriyah.

Perintah shaum diturunkan kepada Rosululloh melalui firman Allah SWT dalam Surah Al Baqarah ayat 183 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan (juga) kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Surat Al Baqarah ini diterima Rosululloh di Kota Madinah pada tahun kedua setelah Rosululloh SAW bersama sahabatnya melakukan hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah.

Puasa merupakan suatu ibadah amaliah dan badaniah yang mempunyai banyak keistimewaan dan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan umat Islam. Hikmah puasa Ramadan pada hakikatnya dapat membentuk mukmin yang mencapai tingkat ketakwaan yang sebenarnya kepada Allah SWT. Puasa ramadhan dapat melatih umat Islam berjihad melawan hawa nafsu, menyucikan diri dari perbuatan keji dan mungkar dan menghiasi diri dengan akhlak mulia serta meningkatkan semangat kecintaan untuk senantiasa beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah puasa memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan ibadah yang lain, menjaga kesucian iman dan takwa kepada Allah untuk memperoleh kebahagiaan dan keberkahan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Puasa yang bertujuan meningkatkan takwa seseorang, akan menumbuhkan ketahanan baik secara rohani ataupun jasmani.

Pengaruh puasa yang dapat melatih manusia mencapai takwa berarti dapat menyiapkan diri untuk menerima karunia Allah menuju kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Menurut Ibnu Mas’ud r.a. takwa berarti taat kepada Allah, menjauhi maksiat, ingat kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya dan tidak kufur. Sedangkan Ibnu ‘Abbas r.a. memaknakan takwa bermaksud berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang, berani menegak kan hukum, kebenaran dan keadilan terhadap diri, orang tua, anak dan keluarga. Kesempurnaan, ketinggian dan keagungan Islam tercermin melalui ibadah puasa di samping ibadah fardhu yang lain seperti shalat, zakat dan haji. Puasa juga merupakan salah satu dari rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam.

Bulan ramadan pertama telah dipilih oleh Allah dengan terjadinya peristiwa penting. Antara lain pecahnya Perang Badar yang sangat heroik. Perang Badar antara kaum Muslimin dan kaum jahiliyah terjadi di pertengahan bulan Ramadan tahun 2 H. Perang Badar inilah menjadi penciri bermulanya keruntuhan jahiliah dan tertegaknya syiar Islam melalui kalimah Allah.

Pasca Idulfitri
Tampaknya semangat Badar pada bulan suci ramadan ini masih relevan untuk terus dihembuskan pada masa kini. Idulfitri adalah hari bahagia yang menyapa segenap umat Islam di perbagai penjuru dunia untuk mengumandangkan takbir dan tahmid. Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha Agung dan segala puji bagi Allah. Idul Fitri merupakan momen untuk mengumandangkan kebesaran Allah SWT, Sang Maha Rahman dan Rahim. Di sisi lain, Idul Fitri juga mengumandangkan takbir sosial. Hablum minnanas. Untuk berbagi dengan sesama, berempati, bersinergi, dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat berlandaskan religi dan kemasyarakatan.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-2 H, sampai sekarang Idul Fitri 1445 H, In sya Allah akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Idul Fitri akan terus berkesinambungan dilaksanakan oleh umat Islam di berbagai belahan Dunia. Paling tidak, ada empat hal penting mengapa semangat Badar masih relevan untuk terus dikembangkan. Pertama, spirit Badar pasca Idul Fitri merupakan komitmen diri sebagai hamba Allah untuk terus berupaya kembali ke fitrah. Berhamba secara sungguh sungguh kepada Sang Kholik guna melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi semua yang dilarangNya. Kembali ke Fitrah memiliki makna kembali ke kemurnian, kesucian, kembali ke asal, visi misi lahirnya ke dunia, dan tentang bekal apa setelah meninggal dunia.

Kedua, spirit Badar pasca Idul Fitri memiliki makna untuk terus meningkatkan semangat fiisabilillah, yaitu berkhidmat di jalan Allah dan menguatkan prilaku mujahid atau berjuang di jalan Allah. Dalam konteks saat ini, semangat Badar memiliki untuk siap “berperang” melawan kebodohan dan keterbelakangan. Berprilaku mujahid dengan berupaya keras mempertahankan tauhid, kebenaran dan konsisten melawan kebathilan dan berjuang di jalan Allah.

Ketiga, spirit Badar pasca Idul Fitri merefleksikan esensi betapa kolaborasi dan kerjasama harmonis sebagai dream team tangguh dalam memenangkan suatu pertempuran melawan kebathilan, kekufuran, dan ketidakadilan. Spirit Badar adalah energi diri yang luar biasa untuk berkomitmen melawan kebathilan. Dalam perspektif global, spirit Idul fitri yang bercirikan peduli terhadap sesama, merupakan fondasi tumbuhnya kewargaan global (global citizenship) yang dilandasi oleh kepedulian sesama, saling hormat menghormati, dalam merawat warga dunia yang damai, sejahtera lahir batin.

Keempat, spirit Badar adalah refleksi berserah diri kepada Sang Kholik disertai dengan bekerja keras dan belajar keras. Dalam konteks kekinian, pasca Idul Fitri diperlukan pribadi yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa. Spirit badar kekinian merupakan komitmen untuk maju bersama dan memberi kemaslahatan bersama. Spirit Badar adalah komitmen diri menjadi pembelajar sejati. A long live learner yang memberi maslahat untuk umat. Rahmatan lil Alamin. Islam memberi rahmat untuk Alam semesta.

Dalam konteks di atas, esensi dalam memaknai pesan Idul Fitri, bukan sebatas pada pengungkapan rasa gembira karena berkesempatan berkumpul dengan keluarga, dan bisa saling memaafkan dengan handai taulan dan sesama. Spirit Idul Fitri juga mengekspresikan apa yang disebut dengan takaaful ijtimaa’i. Atau ibadah sosial, yaitu memelihara rasa peduli terhadap nasib orang lain. Maknanya pasca Idul fitri adalah bagaimana umat Islam, secara individu ataupun kelompok bergotong royong dan sabilulungan untuk terus mengedapankan kebersamaan (cooperativeness) untuk saing membantu dan peduli dengan sesama. Itulah makna sustainable Fitri, yaitu merawat kefitrian secara berkesinambungan sampai dengan datang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri waktu mendatang.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bikhair. Semoga Allah menerima shaum kita dan semoga kita senantiasa dalam kebaikan.

Webinar: Penguatan Numerasi dan Literasi Digital bagi Guru dan Calon

01 Apr 2024 • Humas UPI

Pembukaan oleh Kaprodi Pendidikan Matematika Prof. Al Jupri, S.Pd., M.Sc. Ph.D. dan Sambutan Oleh Prof. Dr. H. Dadang Juandi, M.Si.

Keterampilan numerasi menjadi hal yang sangat esensial dan diperlukan untuk mengambil keputusan yang akurat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kabar yang belum mengembirakan bagi kita adalah hasil studi PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 yang menunjukkan bahwa kemampuan numerasi siswa di Indonesia menunjukkan hasil yang masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, pendidik maupun calon pendidik perlu berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan pribadi dan profesionalnya. Hal ini disampikan oleh Bapak Sardin, selaku ketua panitia kegiatan webinar nasional yang telah dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2024. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa webinar nasional tersebut merupakan kegiatan pengabdian masyarakat (PKM) dengan mengangkat tema “Penguatan Numerasi dan Literasi Digital Matematika bagi Guru dan Calon Guru Matematika”.

Webinar Nasional sukses diselenggarakan oleh Mahasiswa Doktoral Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Lebih dari 300 peserta yang tercatat mendaftar pada kegiatan tersebut yang terdiri dari dosen, mahasiswa calon guru, dan guru di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi. Lembaga pendidikan yang berpartisipasi diantaranya, yaitu beberapa SMP di Pekanbaru, SMP dan SMA di Kabupaten Pasuruan, SMK Negeri 2 Wonosari, STKIP PGRI Lumajang, STKIP Surya Tangerang, IKIP Siliwangi Cimahi, Institut Pendidikan Indonesia Garut, Universitas Dayanu Ikhsanuddin Kota Baubau Sulawesi Tenggara, Universitas Malikussaleh Aceh, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjung Pinang Kepulauan Riau, Universitas Khairun Ternate, Universitas Samudra Aceh, Universitas Riau, serta Universitas Timor NTT.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Bapak Prof. Al Jupri S.Pd., M.Sc., Ph.D. selaku pembimbing kegiatan PKM sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Turut hadir pula, Bapak Prof. Dr. H. Dadang Juandi, M.Si. Dalam sambutannya, Profesor Dadang Juandi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan isu yang menarik karena semua siswa, guru, dan kita semua memerlukan kompetensi ini (numerasi). Beliau berharap guru dapat mengembangkannya agar nilai literasi dan numerasi siswa menjadi lebih baik. “Sebagai insan akademis matematika tentu saja tidak bisa diam dan selalu berjuang untuk mengupayakan kemajuan anak-anak (siswa) di masa depan, khususnya menjelang Indonesia Emas (2045)”, ungkapnya.

Ibu Wilda Syam Tonra S.Pd., M.Pd. yang merupakan pemateri pertama mengangkat judul “Penguatan Numerasi Bagi Guru dan Calon Guru”. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa orang yang memiliki numerasi yang baik, akan mampu dalam membaca data, membaca diagram, membaca infografis, mengintrepretasi informasi kuantitatif yang ada di sekitar, mampu memberikan judgement/penilaian yang beralasan, serta mampu memperkirakan/memprediksi hasil di masa depan atau fenomena di masa depan. Sejak tahun 2021, pengganti Ujian Nasional (UN) adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang tujuan utamanya adalah menilai literasi dan numerasi siswa di Indonesia. Pada materi ini, juga dibahas cara-cara dalam perencanaan instruksi numerasi, cara mempraktekkan pengajaran inti numerasi, serta contoh aktivitas pengajaran penguatan numerasi. “Langkah pertama untuk melakukan penelitian literasi, yaitu melakukan kajian baik dari buku maupun artikel terkait literasi”, ungkapnya saat menjawab pertanyaan salah satu peserta webinar.

Materi yang tidak kalah menarik pada kegiatan webinar tersebut, yaitu materi yang disampaikan oleh Bapak Roni Priyanda, S.Pd., M.Pd. dengan judul “Penguatan Literasi Digital Guru dan Calon Guru Matematika”. Dalam penguatan literasi digital, ada empat hal yang perlu ditingkatkan, yaitu digital skill (kecakapan digital), digital ethic (etika digital), digital safety (keamanan digital), digital culture (budaya digital). “Guru yang inovatif di era disrupsi 5.0 harus selalu meng-upgrade diri”, ungkapnya.

Yusuf Novmewi mahasiswa S2 universitas Indraprasta PGRI Jakarta yang merupakan salah satu peserta webinar menyatakan senang mengikuti kegiatan webinar yang telah dilaksanakan. Menurutnya, webinar tersebut memberikan pemahaman dan inspirasi untuk melaksanakan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa. Ia berharap, kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan untuk memberikan pemahaman lebih dalam, khususnya untuk guru dan calon guru.

(TIM PKM-Mahasiswa Doktoral Pendidikan Matematika-UPI)

Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Dilaksanakan untuk Sinkronisasi Kurikulum dan Pengembangan Modul Digital di Prodi PGSD dan PGPAUD UPI

01 Apr 2024 • Humas UPI

27 Maret 2024, Bandung – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk memperkuat sinkronisasi kurikulum dan pengembangan standar modul digital bagi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) di Lingkungan UPI. Acara tersebut diselenggarakan pada 25 s.d. 26 Maret 2024, bertempat di Hotel Travello Setiabudi Bandung.

FGD ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan dari Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Direktur Direktorat Pendidikan, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Wakil Dekan Bidang Akademik FIP, Para Wakil Diretur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Kampus UPI di Daerah, Kepala Divisi Pengembangan Kurikulum Direktorat Pendidikan UPI, Seluruh Ketua Prodi PGSD, PGPAUD beserta TPK Prodi PGSD dan PGPAUD di Lingkungan UPI, dan narasumber eksternal dari asosiasi yaitu: Prof. Dr. Fahrurrozi, M. Pd., selaku Ketua Asosiasi Prodi PGSD Indonesia dan Prof. Dr. Sofia Hartati, M.Si.,  selaku Ketua Asosiasi Prodi PGPAUD Indonesia.

Tujuan utama dari Workshop dan FGD ini adalah untuk mendiskusikan dan menyusun kurikulum Prodi PGSD dan PGPAUD yang ada di kampus Bumi Siliwangi dan di kampus daerah terkoordinir dengan baik. Serta merumuskan langkah-langkah strategis dalam pengembangan modul digital yang standar dan efektif.

Salah satu poin penting yang dibahas dalam workshop dan FGD adalah penilaian mendalam terhadap kurikulum yang saat ini diterapkan di Prodi PGSD dan PGPAUD UPI. Peserta juga secara aktif mengidentifikasi titik-titik sinkronisasi antara kedua program studi tersebut, sekaligus menyoroti kendala-kendala yang mungkin muncul dalam proses sinkronisasi tersebut.

Selain itu, FGD ini juga menjadi forum untuk mempresentasikan dan mendiskusikan standar modul digital yang diusulkan untuk kedua program studi. Peserta dengan antusias memberikan masukan tentang kebutuhan dan harapan mereka terkait pengembangan modul digital yang dapat mendukung proses pembelajaran yang inovatif dan inklusif.

“Dalam menghadapi perkembangan zaman dan kebutuhan pendidikan yang semakin kompleks, sinkronisasi kurikulum dan pengembangan modul digital yang berkualitas menjadi sangat penting. Melalui FGD ini, kami berharap dapat merumuskan langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Prodi PGSD dan PGPAUD UPI,” ujar Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. (Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan).

Rangkuman hasil diskusi dan rencana tindak lanjut dari FGD akan segera disusun untuk menjadi pedoman bagi pengembangan lebih lanjut di kedua program studi tersebut. Dokumentasi lengkap dari FGD ini juga akan tersedia untuk referensi dan tindak lanjut lebih lanjut.

(Insan Salman M, S.Si./Kontributor Humas UPI)

Pembahasan Kerja Sama Fakultas Kedokteran UPI dengan PT. Persib Bandung Bermartabat

01 Apr 2024 • Humas UPI

Bandung – PT. Persib Bandung Bermartabat pada hari Selasa tanggal 26 Maret 2024 mengunjungi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam rangka pembahasan kolaborasi kerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI). Kerja sama ini mendukung peningkatan performance atlet serta memajukan prestasi atlet khususnya di Jawa Barat.

Pada pertemuan ini, perwakilan dari PT. Persib Bandung Bermartabat, yaitu Teddy Tjahjono selaku Chief Sporting Officer, M. Iskandar selaku Chief Operations & Human Capital Officer, Andang Ruhiat selaku Vice President Operational, Rijki Kurniawan selaku Head of Business Department, serta hadir pula Kepala Lab Sport Science dan Perwakilan KONI Jawa Barat, Jajat Darajat.

Lab Fakultas Kedokteran UPI

Fakultas Kedokteran UPI memiliki visi yakni menghasilkan dokter yang terdepan, unggul, kompeten, dan memiliki keunggulan kedokteran olahraga (sport medicine) pada pencegahan penyakit-penyakit degeneratif melalui aktivitas fisik. Selain itu, kerja sama ini sesuai dengan misi kelima FK UPI yakni mengembangkan dan meningkatkan prestasi olahraga nasional khususnya cabang olahraga olimpiade, melalui penerapan tridharma perguruan tinggi pada bidang kesehatan dan kedokteran olahraga (sport medicine).

Salah satu misi dari Fakultas Kedokteran UPI adalah turut serta memajukan prestasi atlet Jawa Barat. Prof. dr. Hamidie Ronald Daniel Ray, M.Pd., Ph.D., selaku Dekan FK UPI menegaskan bahwa Sport Science dan Sport Medicine Institute UPI merupakan wadah terbaik dalam mengkaji dan meningkatkan performance atlet. Oleh karena itu, kerja sama dengan PT. Persib Bandung Bermartabat merupakan langkah untuk mencapai tujuan tersebut.

Kunjungan ke Sport Science Laboratory UPI

Kerja sama ini didukung oleh Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A.,  beliau menegaskan bahwa kerja sama yang erat dan saling menguntungkan antara Fakultas Kedokteran UPI dan PT. Persib Bandung Bermartabat akan memperkuat kontribusi UPI dalam dunia olahraga, khususnya di Jawa Barat. 

M. Iskandar, selaku Chief Operations & Human Capital Officer PT. Persib Bandung Bermartabat juga menyambut baik kerja sama ini. “Karakteristik masing-masing individu berbeda, dengan ilmu kedokteran para atlet biasa diarahkan terbaik, semoga bisa terwujud kerja sama antara UPI dan PT. Persib Bandung Bermartabat,” ungkapnya.

(Safira Arum Nisa)

Mengetuk beduk, cerminan karakter dan dinamika sosial masyarakat, mengenang Ahmad Bakri Guru SPG Negeri Ciamis (1967-1969)

30 Mar 2024 • Humas UPI

Oleh Sunaryo Kartadinata

Cerita “Ketika Beduk Bertalu” yang ditulis Prof. Dinn menawarkan sebuah eksplorasi mendalam tentang nilai-nilai sosial, budaya, dan religius dalam masyarakat Sunda melalui narasi yang terkait dengan penggunaan bedug.

Saya melihat satu butir saja terkait karya Ahmad Bakri. Beliau, Ahmad Bakri (alm) adalah Guru saya di SPG Negeri Ciamis (1967-1969), Guru Bahasa Sunda yang termasyhur karena novel-novel yang ditulisnya a.l. “Agul ku Payung Butut” yang disinggung pada tulisan Prof. Dinn.

Beliau sosok guru yang tegas, berwibawa, novel-novelnya sarat makna, dan acap kali disajikan dalam bentuk komedian. Semoga beliau mendapat ampunan dan tempat Mulya Jannatun Naim di sisi Alloh Subhanahu Wata’ala. Amiin. Al Fatihah.

Dalam konteks ini, Ahmad Bakri memanfaatkan bedug tidak hanya sebagai simbol keagamaan yang mengumandangkan waktu shalat atau berbuka puasa tetapi juga sebagai sarana cerminan karakter dan dinamika sosial masyarakat.

Nilai utama yang dapat diangkat dari cerita ini meliputi pentingnya kesadaran dan kepedulian komunal. Melalui insiden salah tabuh yang menyebabkan warga kampung berbuka puasa lebih awal, ceritera ini menyoroti pentingnya kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kesalahan pemuda yang “merebot” bukan hanya kegagalan individu tetapi juga refleksi dari keterputusan komunikasi dalam masyarakat.

Kritik terhadap sikap sombong dan jarak sosial. Juragan naib, dengan sikap “gila hormat” dan keengganannya untuk berbaur dengan warga, dijadikan simbol kritik terhadap individu-individu yang memisahkan diri dari komunitas karena status sosial atau kebanggaan pribadi. Sikapnya yang sombong merusak harmoni sosial dan secara tidak langsung berkontribusi pada kegagalan bersama.

Pentingnya tradisi dan simbol keagamaan. Bedug, sebagai simbol keagamaan dan kultural, ditekankan fungsinya dalam mempersatukan masyarakat, menandai momen-momen penting keagamaan, dan sebagai alat komunikasi tradisional.

Pencarian