English
Indonesia

Museum Pendidikan Nasional UPI Gaungkan Sejarah Kolonial Lewat Teknologi Imersif di Eropa

18 Feb 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menorehkan catatan positif di kancah internasional melalui kiprah Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI, yang menjadi pembicara dalam seminar internasional di Bronbeek, Arnhem, pada 6 Februari 2026, serta di Erasmus University Rotterdam pada 9 Februari 2026.

Kegiatan ini sepenuhnya didukung oleh Oost Indisch Doof sebuah lembaga kesejararahan yang dibentuk oleh Hans van den Akker dan Chris Bruggenkamp. Dalam forum tersebut, Prof. Leli mengangkat tema sejarah kolonialisme dan imperialisme dengan pendekatan teknologi imersif, yang langsung menarik perhatian para akademisi dan praktisi sejarah. Kehadiran UPI melalui Museum Pendidikan Nasional dinilai membuka peluang besar untuk kolaborasi riset lintas negara, khususnya antara Indonesia dan Belanda.

Respon positif datang dari berbagai institusi. University of Applied Sciences Rotterdam dan Periset Perkumpulan Bronbeek menyatakan minat untuk menjalin kerjasama penelitian bersama UPI. Direktur Onderwijs Museum Dordrecht bahkan berencana mengundang UPI pada Juni 2026 dengan dukungan fasilitas penuh dari pihak Belanda. Sementara itu, Rijksmuseum Amsterdam, salah satu museum terbesar di Eropa, melalui Divisi Pendidikan, juga menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan UPI. Tidak hanya itu, validasi riset UPI tentang BIMA (Bupati Zaman Kolonial, P.A.A Djajadiningrat) serta seri ke-3 kajian Berretty mendapat predikat “Excellent” dari Dr. Coen van’t Veer selaku validator dari Dutch Studies, Leiden University pada 8 Februari 2026.

Dalam catatan pribadinya, Prof. Leli menekankan bahwa kartu nama fisik masih efektif sebagai media kontak dalam forum internasional. “Tidak lama setelah seminar, saya menerima beberapa tawaran kerjasama via email, termasuk dari Rotterdam dan Bronbeek,” tulisnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Rektor UPI, Ketua Dewan Guru Besar, pimpinan LPPM/DPPM, DIHS, Kemendiktisaintek, serta jajaran kepemimpinan UPI periode 2020–2025 atas dukungan penuh terhadap kiprah internasional ini.

Kehadiran Prof. Leli di Belanda bukan hanya turut memperkuat posisi UPI sebagai pusat kajian pendidikan dan sejarah, tetapi juga membuka jalan bagi kerjasama bilateral Indonesia–Belanda di bidang penelitian sejarah kolonial. Dengan dukungan teknologi imersif, riset sejarah kini dapat dihadirkan lebih interaktif dan relevan bagi generasi muda. UPI melalui Museum Pendidikan Nasional tentu tidak akan berhenti di sini, tetapi akan terus menjadi garda terdepan dalam mengangkat sejarah Pendidikan nasional memperkuat jejaring internasional, dan menghadirkan inovasi pendidikan sejarah yang berdampak global. (Vd)

Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI Umumkan Hasil Seleksi PEKSIMINAS 2026

13 Feb 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI melaksanakan seleksi tingkat universitas guna  menjaring talenta terbaik UPI untuk mewakili kampus pada ajang PEKSIMINAS tingkat Provinsi Jawa Barat. Sebanyak 155 peserta dari berbagai fakultas dan kampus daerah mengikuti proses seleksi yang dilaksanakan secara terbuka dan berjenjang, dimulai dari seleksi tingkat fakultas hingga tingkat universitas yang dilaksanakan di Gedung Auditorium Amphiteater UPI Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Kamis (12/2/2026).

Kepala Divisi (Kadiv) yang membidangi talenta Dr. Mokh. Iman Firmansyah, S.Pd.I., M.Ag, menyampaikan bahwa pola rekrutmen tahun ini dilakukan lebih awal guna memberikan waktu pembinaan yang lebih panjang bagi para talenta terpilih. Para pemenang nantinya akan mengikuti program pembinaan intensif melalui skema “Rumah Prestasi”, yang menghadirkan dosen dan pelatih profesional, termasuk penguatan mental dan psikologis menjelang kompetisi tingkat provinsi.

“Seleksi dilakukan secara terbuka dan berjenjang. Peserta yang tampil di tingkat universitas merupakan perwakilan resmi dari fakultas dan kampus daerah. Dengan pola seleksi dini ini, kami memiliki rentang waktu yang cukup untuk melakukan coaching secara optimal,” ujarnya.

Hasil Seleksi Beberapa Tangkai Lomba

Pada cabang Menyanyi Pop Kategori Putra, juara pertama diraih oleh Fadhillah Rahmanul Hakim (FPSD) dengan skor 216, sementara kategori Putri dimenangkan oleh Devita Fauzia Zahra (FPSD) dengan skor 225.

Untuk cabang Menyanyi Dangdut, kategori Putra dimenangkan oleh Yogi Firmansyah (FPSD) dengan skor 755, sedangkan kategori Putri diraih oleh Nadia Angelina (FPSD) dengan skor 773.

Cabang Keroncong, Regina Darmawanti (FPSD) berhasil meraih juara pertama kategori Putri dengan skor 253,5. Sementara pada cabang Vocal Group, juara pertama diraih oleh Rizqi Riadil Huda (FPSD) dengan skor 257,5.

Cabang Tari kategori kelompok dimenangkan oleh Ade Kurniawan (FPSD) dengan skor 405. Pada cabang Komik Strip, juara pertama diraih oleh Chairan Nafhan Ramdhani (FPSD) dengan skor 96. Untuk Desain Poster, Alisha Putri Husnaini (FPSD) meraih juara pertama dengan skor 80,1.

Sementara itu, pada cabang Fotografi Dokumenter, juara pertama diraih oleh Farell Caleb Triana (FPIPS) dengan skor 85, dan Fotografi Artistik dimenangkan oleh Muhammad Rizky Febrian (FPSD) dengan skor 85. Pada cabang Lukis, Taris Barikan (FPSD) berhasil meraih juara pertama dengan skor 94,6.

Pada cabang Penulisan Lakon, peringkat pertama diraih oleh Lia Anggraeny dari Kampus UPI di Tasikmalaya dengan total nilai 509. Sedangkan pada cabang Monolog, peringkat pertama diraih oleh Vanesa dari Kampus UPI di Sumedang dengan total nilai 86.

Dengan hasil seleksi ini, UPI optimistis dapat berbicara banyak pada ajang PEKSIMINAS tingkat Provinsi Jawa Barat, bahkan menembus tingkat nasional. Program pembinaan yang terstruktur diharapkan mampu meningkatkan kualitas penampilan para delegasi.

UPI juga terus menggencarkan sosialisasi dan penjaringan talenta sejak dini, termasuk menjaring mahasiswa baru yang memiliki rekam jejak prestasi seni di tingkat nasional maupun internasional. Strategi ini diharapkan memperkuat tradisi prestasi seni mahasiswa UPI di tingkat regional dan nasional.

Melalui seleksi yang transparan, objektif, dan profesional, UPI menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem prestasi mahasiswa yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. (Rija/DN)

Candradimuka Tingkat Dasar PROBUMSIL UPI Angkatan XIX:Membangun Sinergi, Menumbuhkan Dedikasi, Menuju Insan Protokol UPI yang Adaptif, Inovatif, dan Kolaboratif

13 Feb 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Protokol Bumi Siliwangi (PROBUMSIL) kembali memperkuat kualitas sumber daya manusianya dengan menggelar Pendidikan Candradimuka Tingkat Dasar Angkatan XIX. Kegiatan yang berlangsung selama satu pekan, 19–25 Januari 2026 ini, dirancang untuk mencetak insan protokol yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif.

Pendidikan intensif ini diikuti oleh 82 peserta dan dilaksanakan di dua lokasi berbeda, yakni Kampus UPI Bumi Siliwangi dan Pusat Pendidikan Hukum Direktorat Hukum TNI AD (Pusdikkum Ditkumad), Bandung.

Kegiatan dibuka secara resmi pada Senin (19/1/2026) oleh Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Prof. Dr. Hj. Siti Nurbayani Kusumaningsih, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran PROBUMSIL sebagai garda terdepan dalam menjaga citra institusi.

Selama tiga hari pertama di lingkungan kampus, para peserta dibekali materi mengenai tata kelola universitas langsung dari jajaran pimpinan UPI. Tak hanya teori, peserta juga melakukan kunjungan ke sembilan fakultas dan satu sekolah pascasarjana untuk memahami struktur organisasi serta peran protokol di tingkat unit.

“Pendidikan ini menggunakan pendekatan experiential learning. Peserta dilibatkan langsung dalam simulasi dan praktik keprotokolan, seperti tata protokol, kawal protokol, dan Aide-de-Camp (ADC) atau ajudan,” tulis laporan resmi Bidang Citra PROBUMSIL UPI.

Memasuki fase kedua pada 22–25 Januari 2026, pelatihan bergeser ke Pusdikkum Ditkumad untuk menjalani Pendidikan Bela Negara. Tahap ini difokuskan pada penguatan mental, fisik, dan kedisiplinan yang dipimpin langsung oleh Komandan Pusdikkum Ditkumad, Kolonel Chk Heru Budi Susilo, S.H., M.H.

Selain latihan baris-berbaris (PBB) dan dinamika kelompok bertema “Teamwork Tangguh”, para peserta juga melakukan kunjungan wawasan kebangsaan ke Taman Makam Pahlawan dan Museum Gedung Sate. Sesi ini diperkuat dengan materi praktik dari Protokol Pemerintah Kota Bandung mengenai teknik komunikasi efektif dan manajemen acara resmi.

Penyelenggaraan Candradimuka XIX ini tidak hanya sekadar pelatihan internal, tetapi juga selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDGs nomor 4 mengenai Pendidikan Berkualitas dan SDGs nomor 16 terkait Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan nilai integritas serta tata kelola organisasi yang baik.

Rangkaian kegiatan ditutup secara resmi pada Minggu (25/1/2026) oleh Kepala Divisi Organisasi Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Dr. Hernawan, S.Pd., M.Pd. Dengan berakhirnya pendidikan ini, 82 calon insan protokol tersebut diharapkan siap menjalankan tugas strategis sebagai pelaksana protokol universitas, duta universitas, serta bagian dari “Ring 1” yang menjaga marwah dan citra Universitas Pendidikan Indonesia di mata publik. (Nanjung Insan Protokol Mulya/Bidang Citra – Asisten Koordinator Bidang Hubungan Mitra TB XVIII)

RAMADAN, GERHANA, DAN KESADARAN KOSMIK

13 Feb 2026 • Humas UPI

Oleh:

Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.

Ketua Pusat Unggulan Universitas SAINS DATA ASTRONOMI DAN

POLUSI CAHAYA (SADAR-POLYA)

Setiap tahun, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pertanyaan yang sama kembali mengemuka di ruang publik: “Kapankah 1 Ramadan dimulai?” Di Indonesia, jawaban formal atas pertanyaan tersebut ditentukan melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama pada tanggal 29 Syakban. Perhitungan atau hisab posisi Bulan (Moon) dan Matahari dalam penentuan awal bulan (month) Ramadan 1447 H/2026 M, menunjukkan bahwa pada hari terjadinya konjungsi (Selasa, 17 Februari 2026/29 Syakban 1447 H, pukul 19:01 WIB) di seluruh wilayah Indonesia Bulan terbenam lebih dulu daripada Matahari. Dengan demikian, pada Selasa malam Rabu pascaterbenamnya Matahari, masih tanggal 30 Syakban. Mengingat dalam penanggalan Hijriah jumlah hari dalam 1 bulan tidak mungkin kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari, dapat disimpulkan bahwa Sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama akan memutuskan bahwa tibanya 1 Ramadan pada Rabu malam Kamis pascaterbenam Matahari. Umat Islam Indonesia akan memulai ibadah sunnah salat tarawih malam pertama Ramadan pada 18 Februari 2026 dan menjalankan ibadah wajib puasa pada Kamis, 19 Februari 2026.

Meskipun secara ilmiah keputusan Sidang Isbat dapat diprediksikan seperti di atas, berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/Mlm/I.0/E/2025 Tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, Dan Zulhijah 1447 Hijriah, jemaah Muhammadiyah akan memulai Ramadan 1 hari lebih awal daripada keputusan pemerintah RI. Perbedaan ini muncul karena mulai 1 Muharam 1447 H, PP Muhammadiyah telah menerapkan konsep mathla’ global. Di sisi lain, pemerintah RI melalui Kementerian Agama masih menganut konsep mathla’ lokal. Apakah yang menjadi perbedaan dari kedua konsep ini?.

Mathla’ lokal yang dipedomani Kementerian Agama merupakan konsep yang membatasi wilayah keberlakuan kenampakan hilal penentu awal bulan Hijriah. Sebagai contohnya, di Indonesia, jika hilal terlihat di satu lokasi, keberlakuan hasil rukyat tersebut terbatas untuk seluruh wilayah di tanah air (dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia), kecuali bila ada kesepakatan dari negara-negara yang berada di kawasan saling berdekatan, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Ketiga negara tetangga Indonesia tersebut, sejak dekade 90-an telah bersepakat bahwa kenampakan hilal (dengan kriteria kenampakan tertentu) dari salah satu negara dapat diberlakukan di negara-negara yang telah bersepakat. Hal ini dapat dipahami, mengingat secara geografis, Indonesia yang membentang sepanjang 46 derajat dari ujung barat hingga timur di sekitar khatulistiwa, mencakup ketiga negara lain tersebut.

Sementara, mathla’ global adalah konsep yang tidak membatasi wilayah keberlakuan kenampakan hilal penentu awal bulan Hijriah. Dari manapun hilal terlihat di satu lokasi di permukaan Bumi, maka hasil rukyat tersebut berlaku untuk seluruh dunia. Konsep ini didasarkan pada kesatuan umat dengan memaknai hasil rukyat berlaku bagi seluruh muslim tanpa batasan geografis. Dengan bantuan hisab dan penggunaan Parameter Kalender Global (PKG) berupa tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8° disertai klausul tambahan, yaitu konjungsi terjadi sebelum terbit fajar di Selandia Baru, dapat diketahui bahwa lokasi dengan koordinat geografis 56° 48’ 49” LU dan 158° 51’ 44” BB telah memenuhi syarat PKG. Dengan demikian, terpenuhinya kriteria di lokasi tersebut dapat diberlakukan di seluruh bagian Bumi, meskipun hanya berdasar hasil hisab tanpa perlu melakukan rukyat, untuk menghasilkan 1 hari 1 tanggal secara konsisten.    

Fenomena Gerhana di Bulan Ramadan

Konjungsi yang mengakhiri bulan Syakban 1447 H/2026 M menjadi awal datangnya musim gerhana pada tahun ini. Dalam astronomi, awal bulan Kamariah secara teoretis berkaitan dengan peristiwa konjungsi, yaitu saat Matahari dan Bulan memiliki bujur ekliptika yang sama menurut pengamat yang berkedudukan di Bumi. Pada saat itu Bulan berada pada fase Bulan baru (new Moon) dan secara geometris terletak di antara Bumi dan Matahari. Dalam kondisi istimewa, yaitu ketika fase Bulan baru ini terjadi tepat di atau sangat dekat dengan garis simpul (garis potong bidang orbit Bulan dan bidang ekliptika), penduduk Bumi berkesempatan untuk memperoleh atraksi gerhana. Gerhana pertama dari keseluruhan empat gerhana di sepanjang tahun ini dari jenis gerhana Matahari (Gerhana Matahari Cincin – GMC, 17 Februari 2026). Sayangnya, wilayah Indonesia tidak dilalui jalur gerhana sehingga praktis tidak berkesempatan menyaksikan fenomena spektakuler ini.

Berselang dua pekan dari momen konjungsi, Bulan berada di fase purnamanya dan masih cukup dekat dengan garis simpul. Artinya, pada saat tersebut Bulan dapat berada di dalam perangkap bayang-bayang Bumi (umbra dan penumbra). Selasa, 3 Maret 2026 yang bertepatan dengan 13 Ramadan 1447 H (takwim standar Kementerian Agama), penduduk Bumi kembali disuguhi atraksi langit berupa gerhana Bulan (Gerhana Bulan Total – GBT). Kali ini, proses gerhana yang terjadi sejak sebelum Matahari terbenam di Bandung pada hari tersebut, akan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia selama cuaca mendukung. Sekaligus, GBT ini menjadi gerhana satu-satunya di sepanjang 2026 yang dapat diamati dari Indonesia. Untuk pengamat di Bandung, fase gerhana yang dapat diamati adalah mulai dari fase puncak gerhana (pertengahan fase totalitas) pada 18:33 WIB hingga akhir gerhana pada 21:33 WIB. Selain dukungan cuaca yang cerah, untuk dapat menyaksikan fase total gerhana ini juga diperlukan pandangan yang terbuka di arah timur (bebas dari halangan gedung tinggi, bukit/gunung) karena ketinggian Bulan yang masih relatif rendah (kurang dari 7° di atas ufuk).

Sesungguhnya, Gerhana Bulan Total (GBT) juga terjadi pada 14 Ramadan 1446 H silam, bertepatan dengan 14 Maret 2025, yang hanya dapat diamati dari kawasan zona waktu Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Demikian pula dengan Gerhana Bulan Penumbra (GBP) pada 15 Ramadan 1445 H/25 Maret 2024 dan Gerhana Matahari Total (GMT) 29 Ramadan 1444 H/20 April 2023. Pada momen GMT 20 April, Penulis bersama tim dari Laboratorium Bumi dan Antariksa (LBA) FPMIPA UPI kesempatan melakukan ekspedisi gerhana ke P. Biak di Papua, sebagai salah satu spot yang dilalui jalur gerhana. Berdasarkan fakta di atas, menarik untuk mengkaji seberapa seringkah fenomena gerhana (baik Matahari maupun Bulan) dapat terjadi di bulan Ramadan? Perhitungan matematis-astronomis yang telah Penulis lakukan untuk rentang waktu 100 tahun (tahun 2000 hingga 2100) mendapati 1274 fase Bulan baru dan 1274 Bulan purnama. Dalam kurun waktu yang sama terkonfirmasi kejadian 453 gerhana. Dari seluruh gerhana yang terjadi ini, 217 peristiwa dapat diamati dari Indonesia dan hanya 19 gerhana di antaranya yang beririsan dengan bulan Ramadan. Data ini memperlihatkan bahwa dinamika sistem Matahari, Bumi, dan Bulan memiliki pola periodik yang dapat dihitung dengan ketelitian sangat tinggi berbantuan pemahaman terkait mekanika benda langit. Ketelitian ini bukan sekadar capaian teknis, melainkan bukti bahwa alam semesta bekerja berdasarkan hukum yang teratur dan dapat dipahami.

Kesadaran Kosmik dan SDGs

Fenomena hilal dan gerhana bukan sekadar atraksi langit. Keduanya dapat menjadi ruang refleksi tentang kesadaran kosmik. Kesadaran kosmik ini bukan sebatas pengetahuan tentang benda-benda langit. Ia berupa kesadaran bahwa Bumi hanyalah satu planet kecil yang mengorbit bintang kelas menengah di galaksi Bima Sakti yang berisi miliaran bintang lain, dan galaksi kita hanyalah satu dari miliaran galaksi di alam semesta ini. Ketika kita memahami skala kosmik ini, perspektif kita dapat berubah. Batas-batas politik dan konflik horizontal tampak sangat kecil dibandingkan keluasan jagat raya. Dari luar angkasa, tidak ada garis pemisah antarras atau agama. Yang terlihat hanyalah satu planet biru yang menjadi rumah bersama miliaran manusia di atas permukaannya. Gerhana Bulan Total (GBT) 3 Maret 2026 yang akan berlangsung, menjadi pengingat konkret tentang keterkaitan kosmik tersebut. Ketiga benda langit harus berada pada konfigurasi yang sangat spesifik agar gerhana dapat terjadi. Demikian pula kehidupan di Bumi, bergantung pada keseimbangan sistem yang sangat kompleks dan saling terkait. Ketika kita memahami bahwa Bumi adalah sistem terbatas dalam ruang kosmik yang luas, kesadaran ekologis kita pun menjadi lebih mendalam. Atmosfer yang membuat Bulan tampak merah saat gerhana adalah atmosfer yang sama yang melindungi kehidupan dari radiasi berbahaya. Jika sistem ini terganggu, dampaknya akan bersifat global.

Pada 25 September 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mencanangkan SDGs (Sustainable Development Goals – Sasaran Pembangunan Berkelanjutan) sebagai sebuah rencana aksi global untuk menciptakan dunia yang lebih baik dengan prinsip utamanya “No one left behind“. Butir ke-4 dari SDGs menekankan pentingnya pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata. Astronomi memberikan contoh nyata bagaimana pendidikan berkualitas dapat diwujudkan. Sebagai sebuah sains observasional, astronomi menumbuhkan rasa ingin tahu. Seorang pembelajar yang menyaksikan gerhana Bulan untuk pertama kali hampir dipastikan selalu bertanya: “Mengapa Bulan berubah warna?”, “Mengapa gerhana tidak terjadi setiap bulan?”, atau “Bagaimana manusia dapat memprediksinya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas adalah titik awal pembelajaran sejati. Dari sana berkembang metode ilmiah, kemampuan berpikir kritis, ketelitian, dan kesabaran. Lebih dari itu, astronomi juga bersifat demokratis. Untuk mengamati gerhana Bulan tidak diperlukan teleskop mahal. Cukup langit yang cerah dan kemauan untuk mengamati. Inilah bentuk pendidikan inklusif yang dapat diakses oleh siapa pun.

Dalam konteks Ramadan 1447 H yang kita songsong, pembelajaran melalui langit malam memiliki dimensi spiritual sekaligus intelektual. Keduanya sama-sama mengajarkan kerendahan hati di hadapan keteraturan alam. Ia dimulai dengan betapa presisinya konjungsi dan kompleksnya visibilitas hilal. Pun dihiasi dengan Gerhana Bulan Total yang spektakuler. Alam semesta akan selalu menjadi laboratorium terbuka dan guru bagi siapa pun yang bersedia menengadah dan berpikir. Pada akhirnya, setiap kali kita menengadah ke langit, kita tidak hanya sedang menatap fenomena semata. Kita sedang membaca ulang keteraturan alam semesta. Kita sedang diingatkan bahwa pengetahuan dan kesadaran adalah dua pilar yang harus berjalan bersama. Yang dari kesadaran itulah diharapkan lahir kebijaksanaan di dalam mengelola satu-satunya rumah bersama yang kita miliki: planet Bumi. Selamat menyongsong tibanya bulan suci Ramadan. Semoga kita semua beroleh derajat takwa.

Open Visit Kampus UPI di Tasikmalaya : Meriah Penuh Antusiasme Peserta

12 Feb 2026 • Humas UPI

Tasikmalaya, UPI

Ballroom Lantai 5 Kampus UPI di Tasikmalaya dipenuhi lebih dari 100 orang guru yang berasal dari seluruh penjuru Priangan Timur pada Rabu (11/2) pagi. Kehadiran para guru ini membawa semangat dari asal sekolahnya untuk mencari informasi seputar seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Secara khusus, para guru menghadiri Open Visit Kampus UPI di Tasikmalaya dengan membawa sekurang-kurangnya dua atau tiga siswa untuk melihat kehidupan kampus.

Open Visit Kampus UPI di Tasikmalaya Tahun 2026 diawali dengan laporan pelaksanaan kegiatan oleh Vidi Sukmayadi, Ph.D. selaku Kepala Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publik (KKIPP) UPI. Dalam laporannya, Vidi menjelaskan bahwa Open Visit tahun 2026 merupakan sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan antara penyelenggaraan di kampus utama dan kampus daerah.

“Terhitung sejumlah 7.000 peserta mengikuti kegiatan Open Visit UPI tahun ini, sekitar 6.000 mengikuti di Kampus UPI Bumi Siliwangi dan 1.000 lainnya tersebar pada penyelenggaraan Open Visit UPI di Kampus Daerah. Tentu, apresiasi perlu kita sampaikan kepada segenap panitia dari Kampus UPI di Tasikmalaya yang dapat mengundang lebih dari 100 guru dan 150 siswa untuk semakin mengenal UPI,” ujar Vidi.

Rangkaian acara kemudian dibuka secara langsung oleh Dr. Lutfi Nur, S.Pd., M.Pd., M.M., selaku Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Penjaminan Mutu Kampus UPI di Tasikmalaya. Dalam sambutannya, Dr. Lutfi menyampaikan kegiatan ini memberikan akan memberikan informasi yang memadai bagi para peserta.

“Selamat datang kepada para guru serta siswa di kampus kami. Tentunya, kegiatan ini akan banyak memberikan informasi seputar penerimaan mahasiswa baru. Sebagaimana ditayangkan dalam video profil, Kampus UPI di Tasikmalaya memiliki program studi unggulan dan Bapak/Ibu dapat meyakinkan para siswa untuk memilih program studi kami dalam pendaftaran nanti,” sambut Dr. Lutfi

Kegiatan Open Visit Kampus UPI di Tasikmalaya 2026 diselenggarakan dengan tiga kegiatan utama, yakni: gelar wicara terkait dengan penerimaan mahasiswa baru, pameran pendidikan dari lima program studi di lingkungan Kampus UPI di Tasikmalaya, dan layanan konsultasi dengan program studi tujuan peserta.

Sesi gelar wicara diisi oleh Prof. Dr. rer.nat. Ahmad Mudzakir, M.Si., yang merupakan Kepala Divisi Rekrutmen Mahasiswa Baru, Direktorat Pendidikan UPI. Prof. Mudzakir menyampaikan secara komprehensif seputar tata cara pendaftaran, sistem yang berlaku, serta hal-hal yang perlu diperhatikan oleh siswa dan sekolah dalam kepesertaan SNPMB 2026. Secara khusus, Prof. Mudzakir memberikan informasi terkait dengan skema Talent Scouting sebagai salah satu bagian dari Seleksi Mandiri UPI di tahun 2026.

“Prestasi yang siswa miliki dan mencapai sekurang-kurangnya tingkat nasional sangat UPI hargai. Jalur SM Talent Scouting terbuka sebagai karpet merah bagi siswa Bapak/Ibu yang memiliki prestasi tercatat dari Puspresnas Kemdikdasmen, KONI, atau lembaga lain yang relevan. Jalur ini adalah jalur istimewa di mana UPI yang menjemput para siswa unggul menjadi mahasiswa kami tanpa perlu registrasi,” jelas Prof. Mudzakir

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Kepala KKIPP UPI yang memaparkan keunggulan UPI serta kondisi kampus terkini sebagai pertimbangan para guru. Presentasi dari seluruh program studi unggulan Kampus UPI di Tasikmalaya memberikan keluasan informasi lainnya bagi para peserta. Para guru kemudian mendapatkan penjelasan seputar prospek kerja dan kerjasama yang telah dilakukan setiap program studi.

Secara bersamaan, pada lantai 1 Gedung Kampus UPI di Tasikmalaya dilaksanakan pengenalan program studi unggulan di Kampus UPI di Tasikmalaya. Stan dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (S1 & S2), Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (S1), Kewirausahaan (S1), Bisnis Digital (S1), dan Desain Produk Industri (S1) dipenuhi oleh para pengunjung stan yang ingin berkonsultasi serta mencoba beberapa perangkat pembelajaran yang dipamerkan.

Antusiasme siswa terhadap pameran pendidikan dan layanan konsultasi sangat besar. Siswa mendapatkan pengalaman berharga untuk dapat berinteraksi dengan mahasiswa serta para dosen dalam Open Visit Kampus UPI di Tasikmalaya ini sebagaimana disampaikan oleh Azis Bahtiar, salah seorang siswa peserta Open Visit dari salah satu SMK di Kabupaten Ciamis.

“Open Visit UPI Tasikmalaya ini seru sekali. Saya jadi punya motivasi untuk kuliah dan semoga saja saya bisa menjadi mahasiswa UPI di tahun ini,” ujar Azis.

Sebagai salah rangkaian dari Open Visit UPI 2026, Kampus UPI di Sumedang akan menjadi titik terakhir penyelenggaraan. Siswa dan guru yang berminat mengikuti Open Visit Kampus UPI di Sumedang dapat mendaftar melalui tautan kd-sumedang.upi.edu/pmb . Acara akan digelar pada Sabtu (14/2) ini. (EA)

Pencarian