Humas UPI Bersiap Diri Menyongsong Anugerah Diktiristek 2023
28 Feb 2023 • Humas UPI
Bandung, UPI
Sebagai rangkaian kegiatan Panitia Anugerah Diktiristek Tahun 2023, khususnya di lingkungan Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dilakukan Sosialisasi Anugerah Diktiristek Tahun 2023, serta Monitoring dan Evaluasi (Monev) di Gedung University Center Lantai 1 Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jumat (24/2/2023).
Koordinator Umum, Kerja Sama, dan Humas Sesditjen Dikti Kemdikbudristek RI Yayat Hendayana, S.S., M.Si., hadir untuk melakukan Evaluasi Anugerah Diktiristek 2022 serta mempersiapkan Anugerah Diktiristek 2023.
Dikatakan Yayat,”Kita baru saja melakukan evaluasi terkait prestasi Kehumasan UPI. Berdasarkan hasil diskusi, demi mempertahankan prestasi yang telah dicapai, ada berbagai upaya yang dapat dilakukan. Satu, tentu saja dibutuhkan komitmen pimpinan, contohnya dalam hal pendanaan. Mengalokasikan anggaran untuk pendanaan tidak harus besar, yang penting cukup untuk mendukung kinerja.”
Berikutnya adalah selalu melakukan perbaikan untuk peningkatan mutu SDM, lanjutnya, misalnya diberikan pelatihan, bimbingan dan pendampingan. Itu yang harus dilakukan.
“Lebih dari pada itu yang ketiga adalah bahwa semua pihak baik Pranata Humas maupun Pengelola Kehumasan harus tetap belajar, belajar dan belajar. Jangan malu belajar dari Perguruan Tinggi Negeri lain, karena bisa saja UPI unggul di bidang A mungkin PT lain unggul di bidang B atau C,” ungkapnya.
Jika UPI bisa melihat keunggulan dan kelemahan dirinya, lanjutnya lagi, kemudian melakukan perbandingan dengan yang lain, itu juga merupakan salah satu bentuk upaya untuk bisa melengkapi dan memperkuat prestasi yang sudah ada.
Berdasarkan kajian dalam Evaluasi Anugerah Diktiristek 2022, UPI diminta untuk sekuat tenaga mempertahankan yang memang sudah bagus, kemudian wajib melakukan improvement, pembenahan dan melakukan peningkatan kinerja.
“Saya sering mengatakan, sebetulnya penghargaan itu adalah bonus, yang penting adalah kita bekerja ikhlas dan bekerja maksimal,” ujarnya.
Namun demikian, salah satu hal yang membuat pimpinan percaya dengan kinerja adalah adanya prestasi. Jadi kalau memang UPI di tahun ini 2023 bisa menambah banyaknya penghargaan, ini artinya merupakan satu bukti bahwa Humas UPI berada pada jalur yang tepat. (dodiangga)
Kantor Jurnal dan Publikasi UPI Selenggarakan Workshop Pengelolaan Jurnal di UPI Kampus Tasikmalaya 2023
27 Feb 2023 • Humas UPI
Kantor Jurnal dan Publikasi (KJP), kantor di bawah Directorate of International Affairs dan Warek 4 UPI bidang Riset, Usaha dan Kerjasama (Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.A.), melaksankan kegiatan workshop pengelolaan jurnal di UPI Kampus Tasikmalaya pada tanggal 24-26 Feb 2023 yang diikuti oleh 15 dosen sebagai editor, tiga orang Layouter, dua orang tim sekretariat, dan 58 orang mahasiswa.
Pelaksanaan kegiatan langsung dipandu oleh Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto sebagai kepala kantor KJP dan Prof. Dr. Nandang Rusmana sebagai direktur UPI kampus daerah Tasikmalaya serta Dr. Heri Yusuf Muslihin sebagai wakil direktur UPI kampus daerah Tasikmalaya.
Workshop pengelolaan jurnal para pengelola jurnal di UPI Kampus Tasikmalaya yaitu Indonesian Journal of Primary Education (IJPE), Pedadidaktika, Agapedia, A Social Science and Entrepreneurship Journal (ASSET), Indonesian Journal of Digital Business (IJDB), Journal of Industrial Product Design Research and Studies (JIPDRS). Berikut redaksi jurnal di UPI Kampus Tasikmlaya yang mengikuti workshop pengelolaan jurnal UPI
Redaksi Indonesian Journal of Primary Education (IJPE) yang terdiri dari dosen sebagai editor Dr. Seni Apriliya, M.Pd, Anggit Merliana, M.Pd, Srie Mulyati, S.Pd., M.Pd, TB. Mohammad Irma Ari, M.Pd, Rifqy Muhammad Hamzah, M.Pd, Layouter Aji Mustajin, S.Pd, Sekretariat Yusman Mulyadin, S.P serta Mahasiswa 9 orang
Redaksi Pedadidaktika yang terdiri dari dosen sebagai Editor Dr. Ghullam Hamdu, M.Pd, Ika Fitri Apriani, M.Pd, Agnestasia RP, M.Pd, Layouter Ade Yulianto, M.Pd., Pajar Sugilar, S. Pd, serta mahasiswa 11 orang
Redaksi Agapedia yang terdiri dari dosen sebagai editor Taopik Rahman, M.Pd., H. Anggi Maulana Rizqi, Lc, M.Pd, Fauziah, M.Psi, Sekretariat Lusi Astuti, S.Pd, serta mahasiswa sebanyak 10 org
Redaksi A Social Science and Entrepreneurship Journal (ASSET), dosen sebagai editor Ery Adam Primaskara S.Pd., M.M, serta Mahasiswa: 10 Mahasiswa
Redaksi Indonesian Journal of Digital Business (IJDB) yang terdiri dari dosen sebagai editor Oding Herdiana, S.Kom., M.Kom, serta mahasiswa sebanyak 10 Mahasiswa
Redaksi Journal of Industrial Product Design Research and Studies (JIPDRS) yang terdiri dari dosen sebagai editor Alfian Azhar Yamin, M.Pd, Handayani Madania Insani S.Ds.,M.Ds serta mahasiswa 8 orang (Kontributor Humas UPI/Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto)
Cerita Santri di Negeri Monarki: Kehidupan Mahasiswa S2 di Inggris Raya
27 Feb 2023 • Humas UPI
Penulis Jejak Kaki Pertama di Inggris Raya ini adalah Zainuddin Abuhamid Muhammad yang merupakan Alumnus Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan tahun 2020. Saat ini menjadi Mahasiswa S2 program Digital Technologies, Communication, and Education University of Manchester.
Sore itu, pesawat jet berkapasitas 100 penumpang yang dioperasikan oleh maskapai Finnair mendarat menembus langit kelabu bercampur hujan. Diikuti lalu lalang manusia dari berbagai penjuru dunia yang turun menuju landasan pesawat, kemudian bergegas memadati antrian imigrasi. Aku bersama keempat temanku cemas-cemas tegang, berharap bisa melewati petugas imigrasi dengan lancar tanpa dilontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit.
Ya, saat itu, untuk pertama kalinya paspor yang telah kubuat sejak tahun 2018 akan mendapatkan bubuhan cap pertamanya di sebuah negara yang terkenal akan sepak bolanya, Inggris. Masih ingat betul, paspor ini awalnya aku buat untuk menghadiri sebuah konferensi di negeri jiran. Namun, rencana itu belum diamini oleh Tuhan. Sejak saat itu, aku bertekad cap pertama dalam paspor ini akan aku tujukan dengan niat Pendidikan. Benar saja, paspor ini mengantarkanku untuk menuntut ilmu melalui amanah yang diberikan oleh negara, yaitu beasiswa LPDP.
Syukur, berkat doa yang kubisik puluhan kali itu, aku bisa menembus batas birokrasi negeri yang baru ditinggal oleh ratunya itu. Setelah kami mendapatkan bagasi kami, kami bergegas pergi menembus hujan untuk menuju rumah yang akan kami tinggali selama satu tahun kedepan. Dari sanalah petualanganku di negeri ratu dimulai.
Sistem Pendidikan di Inggris, Apa yang Berbeda?
Dengan izin Allah, aku akan menyelesaikan studiku di negeri ini selama satu tahun. Bukan karena aku terlalu ambisius, tetapi memang hanya itulah tenggat waktu yang aku miliki untuk meraih gelar master di sini. Berbeda dengan negara lainnya, mayoritas pendidikan jenjang magister di sini ditempuh dalam waktu satu tahun, kecuali beberapa program tertentu. Namun, setelah diselami, ternyata bukan hanya durasi belajar saja yang membedakan sistem pendidikan di sini dengan di Indonesia, melainkan banyak hal lainnya.
Berbicara tentang aktivitas pembelajaran, kelas dibagi menjadi dua, yaitu lecture dan seminar. Dalam lecture, kami belajar dalam sebuah kelas berbentuk teater, di mana dosen memaparkan materi. Besarnya kelas memang menyebabkan kurangnya partisipasi mahasiswa, kecuali dalam forum tanya jawab. Sebagai gantinya, disediakan seminar, yaitu forum diskusi dalam kelompok kecil. Dalam seminar, kami diharuskan mengerjakan sebuah aktivitas yang sudah diberikan sebelumnya, lalu hasilnya didiskusikan pada kesempatan tersebut.
Terakhir, sistem yang berbeda juga terlihat pada penilaian. Di Indonesia, banyak indikator yang menentukan penilaian mahasiswa, seperti kehadiran, tugas harian, sampai penilaian sumatif seperti UTS ataupun UAS. Lain halnya di sini. Penilaian diperoleh hanya dari assessment saja. Assessment merupakan penilaian sumatif yang harus dikerjakan oleh mahasiswa dalam satu unit. Bentuk dari assessment umumnya berupa penugasan saja, namun sebagian jurusan juga terdapat tes tertulis. Dalam satu semester, hanya ada satu sampai dua assessment, sehingga bobot dari masing-masing asesmen sangatlah besar. Jadi, tugas sehari-hari sama sekali tidak berkontribusi terhadap penilaian, tetapi hanya sebagai bagian dari pembelajaran saja. Adapun Informasi mengenai assessment sudah disampaikan dari awal semester melalui LMS.
Belajar Tidak Hanya di Ruang Kelas
Rasanya jemu jika satu tahun aku habiskan hanya untuk urusan akademik saja. Apalagi, waktu perkuliahan di sini cukup ‘senggang’, meski tugas dan reading list menghantui di belakangnya. Untuk itu, aku mencari kesibukan di luar kelas. Salah satu di antaranya adalah dengan mengikuti berbagai organisasi. Sejauh ini, aku tergabung dengan dua komunitas diaspora Indonesia di kota ini, yaitu Perhimpunan Pelajar Indonesia Greater Manchester (PPIGM) dan Keluarga Islam Manchester (Karisma). Dalam dua organisasi ini, aku memegang peranan yang sama, yaitu sebagai bagian dari divisi Sosial Media. Dalam divisi ini, aku bertanggung jawab untuk memproduksi konten-konten yang akan diunggah ke dalam halaman sosial media organisasi tersebut.
Selain itu, aku juga tergabung dalam tim konten kreator resmi University of Manchester. Di sini, aku berperan sebagai kontributor video yang diunggah dalam kanal resmi universitas. Melalui seleksi yang ketat, aku tidak pernah menyangka aku dapat menjadi perwakilan mahasiswa Asia Tenggara sekaligus Muslim untuk berbagi perspektif kepada pengikut sosial media kampus. Salah satu video yang telah kubuat bertajuk ‘POV: Being a Muslim Student at The University of Manchester’, di mana aku berbagi pengalaman bagaimana rasanya menjadi mahasiswa Muslim di kampus tersebut. Tidak disangka, video tersebut mendapatkan engagement yang tinggi, hingga menjadi salah satu video dengan jumlah penonton terbanyak. Aku merasa bangga sekaligus bersyukur, seorang santri bisa menjadi wajah institusi sebesar University of Manchester.
Menemukan Keluarga Baru
Jika ditanya, apa privilise terbesar menjadi bagian dari penerima beasiswa LPDP, jawabanku adalah aku mendapatkan keluarga baru. Keluarga yang ku maksud adalah rekan-rekan sesama penerima beasiswa LPDP. Sebelum aku hijrah ke negeri ini, aku sempat merasa takut kesepian karena aku terbiasa hidup komunal dengan keluarga. Apalagi, menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari negara lain ternyata tidaklah mudah. Namun, ketakutan tersebut terpatahkan saat aku tiba di sini. Di sini, aku menjalin pertemanan dekat dengan sesama penerima beasiswa LPDP. Hari-hari banyak kulalui bersama mereka, meski kami berasal dari program studi yang berbeda. Kami belajar bersama di perpustakaan, makan bersama di akhir pekan, sampai merencanakan liburan bersama.
Kekeluargaan juga aku rasakan saat aku melancong ke luar kota. Ketika aku singgah ke kota lain, aku biasanya menghubungi rekan-rekan yang tinggal di kota tersebut untuk sekedar bertemu dan berbagi pengalaman masing-masing. Tak jarang, mereka juga menyediakan tempat untuk ‘bermalam’ apabila kota yang dituju berjarak jauh dari Manchester seperti London dan Edinburgh. Hal-hal sederhana seperti inilah yang mempererat hubungan tali persaudaraan antar penerima beasiswa di negeri perantauan, sesuatu yang tidak kalah berharga dari ilmu yang dipelajari itu sendiri. Karena persaudaraan ini tidak hanya tentang solidaritas sesama masyarakat Indonesia, tetapi banyak pelajaran yang bisa kuambil dari orang-orang yang kutemui dengan latar belakang yang berbeda.
Kita Tidak Pernah Terlalu Kecil untuk Bermimpi
Hampir setengah tahun aku di sini, rasanya masih tidak percaya bagaimana seseorang yang dibesarkan di lingkungan pesantren di pinggiran kota Bandung bisa bersanding bersama putra-putri bangsa lainnya untuk menempuh pendidikan di negeri nan jauh ini. Sebelumnya, aku berpikir kalau orang-orang yang bisa melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa hanyalah sekelompok kecil dengan prestasi mentereng bertaraf nasional hingga internasional. Sedang aku hanya berbekal pengalaman mengajar di sekolah dan pesantren yang kujalani di saat aku duduk di bangku sarjana. Namun ternyata, pengalamanku yang sederhana ini terlihat bermakna bagi sebagian yang lain, hingga mengantarkanku pada mimpi untuk melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa.
Pengalamanku mengajarkan bahwa kita tidak pernah terlalu kecil untuk bermimpi. Sebab, kita memang sudah dibekali Tuhan dengan nilai diri masing-masing, yang tidak dapat diukur dengan membandingkannya dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Tugas kita adalah mengejar mimpi kita dengan nilai yang kita miliki secara sungguh-sungguh. Syair Imam Syafii yang kukutip dari kita Talim Mutaallim berkata, وَالجَدُّ يُدني كُلَّ أَمرٍ شاسِعٍ. وَالجَدُّ يَفتَحُ كُلَّ بابٍ مُغلَقِ (kesungguhan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh dan membuka pintu yang terkunci). Jadi, tidak ada yang tidak mungkin selama kita memiliki kesungguhan. Dan yang terpenting, apa yang kita lakukan dapat memberikan dampak positif tidak hanya untuk kita, tetapi juga bagi lingkungan di sekitar kita. Karena bisa jadi doa tulus mereka adalah pupuk dari mimpi yang nanti kita akan tuai (Kontributor Humas UPI/Zainuddin Abuhamid Muhammad)
Event Pemutaran Film BISKOTA Vol 3 Diselenggarakan di Gedung Parkiran UPI
27 Feb 2023 • Humas UPI
Bandung, UPI
BISKOTA (Bioskop Kampoes Oetara) merupakan acara yang rutin dilaksanakan setiap semester oleh mahasiswa program studi Film dan Televisi Universitas Pendidikan Indonesia. Acara ini dilaksanakan untuk mewadahi dan mengapresiasi karya-karya film dari sineas Indonesia terutama FTV UPI agar dikenal oleh khalayak umum. Berbeda dengan acara BISKOTA sebelumnya yang diselenggarakan di auditorium lantai 4 gedung Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI, BISKOTA vol. 3 kali ini diselenggarakan di lantai 6B Gedung Parkiran UPI pada tanggal 18 dan 19 Februari 2023 lalu.
BISKOTA vol. 3 menyajikan 11 film yang telah dikurasi secara ketat. Hari pertama terdapat lima judul film yang ditayangkan. Tiga film pertama di bawah ini adalah film perdana karya mahasiswa baru FTV UPI 2022, sedangkan dua film yang lainnya bertemakan kepercayaan. Film “Romansa di Bawah Jemuran” oleh Aditya Wiratama bercerita tentang seorang lelaki dan perempuan yang tinggal pada satu indekos dan bertemu pertama kali saat sedang menjemur. Film ini sangat ringan dan humoris. Untuk film pertama yang dibuat oleh film-maker baru, film ini merupakan permulaan yang baik. Namun segi sinematografi dan teknis lainnya mungkin dapat ditingkatkan pada film berikutnya. “K” adalah film penuh plot-twist yang bercerita tentang sepasang kekasih mencurigakan yang disutradarai oleh Mahda Dehvan. Film ini memiliki sinematorafi dan tata artistik yang baik. Pengolahan warna pada film ini juga patut diacungi jempol. Hal yang dapat dimaksimalkan pada film selanjutnya mungkin berada pada kemampuan sutradara untuk mengarahkan aktor. Apabila para aktor dapat menjalani perannya dengan lebih alami, maka kesan canggung pada dialog akan berkurang.
Alpin Dea’a Sakti menyutradarai “Cerita Fiksi” yang mengandung makna tentang hubungan adik-kakak dan ekspektasi ideal-realita kehidupan. Terkesan ringan dan humoris, film ini membawakan makna yang lebih dalam dari kelihatannya. Penyampaian pesan yang sukses ini adalah salah satu kelebihan film. Namun, segi sinematografi dan artistik adalah hal yang dapat ditingkatkan pada film selanjutnya. Film “Berdoa, Mulai” karya Tanzilal Azizi menawarkan akting yang realistis dan cerita mengenai kepercayaan yang sangat relatable pada masa ini sebagai kelebihannya. Film ini cukup ringan dan dapat dinikmati bagi umum. Sedangkan film “Bungkeleukan” yang disutradarai oleh Agung Jakarsih adalah contoh dari eksekusi sinematografi dan konsep cerita yang luar biasa. Pada kedua film ini penulis tidak menemukan kekurangan yang mencolok, namun tentu saja ruang untuk peningkatan mutu akan selalu ada.
Sedangkan di hari kedua ditayangkan 6 film dengan sutradara Rangga Rizki Pramukti membawa “Lika-Liku Warna” sebagai pembuka. Film yang membawa isu FOMO dan perilaku konsumtif ini didukung dengan eksekusi tata pencahayaan yang unik. Namun, set dan properti yang kurang bervariasi dapat menjadi catatan untuk karya selanjutnya. Film “80’s Party” karya Aji Surya menawarkan adegan musikal yang meriah dan latar waktu 80-an dalam kemasan thriller. Artistik pada film ini patut diacungi jempol, namun akting para pemain dapat dikembangkan lagi agar dialog tidak terdengar canggung. Lucky Jaelani menyutradarai film “Taruh Nyawa” yang membawakan perasaan pasien penyakit mental dan dampaknya pada keluarga dengan gaya sinematografi yang khas. Namun, latar belakang yang kurang berkesinambungan dengan cerita dan pace yang cepat adalah poin yang dapat diperbaiki. Ketiga film ini bertemakan horror culture.
“The Man Who Can’t Kiss the Ground” karya Jason Erza membawakan potret realitas manusia tidak sempurna yang dibalut dengan genre romansa dan didukung oleh sinematografi yang sangat baik. Belum lagi makna yang dalam dan semiotika-semiotika yang membuatnya lebih menarik. Patriarki yang ada dalam rumah tangga dari sudut pandang istri adalah potret realitas yang dimuat pada karya Bihar Jafarian yang berjudul “Maybe Someday Another Day but Not Today”. Film ini memiliki segi sinematografi, akting realistis dan artistic yang sangat memanjakan mata. Sesi pemutaran film ditutup dengan film dokumenter “Kiamat Sampah” yang disutradarai oleh Enggar Asifani yang memperkenalkan cara mudah untuk mengelola sampah pada skala rumah tangga, sebelum sesi diskusi dimulai.
Venue yang Unik
Melihat sejarahnya, pemutaran film BISKOTA memang biasa dilaksanakan pada waktu sore menuju malam sehingga pemutaran film bertemakan outdoor sangat memungkinkan untuk dilaksanakan. Dengan ini, para pengunjung dapat merasakan sensasi matahari terbenam dan udara segar Bandung Utara. Akan tetapi, tentu saja muncul pertanyaan tentang alasan BISKOTA vol. 3 dilaksanakan pada Gedung Parkiran UPI. Menurut panitia, dilaksanakannya BISKOTA vol. 3 di Gedung Parkiran UPI adalah panitia ingin menawarkan suasana baru pada para pengunjung mengingat gedung auditorium FPSD UPI yang menjadi venue sebelumnya terasa sesak dan panas mengingat kurangnya sirkulasi udara ataupun pendingin udara untuk mengakomodasi para pengunjung yang kira-kira berjumlah 200 orang.
Walaupun usaha panitia untuk mengakomodasi sirkulasi udara yang baik dan suasana yang baru patut diacungi jempol, kurangnya persiapan mengenai layout venue yang kemudian harus diubah pada hari kedua mempertimbangkan diskusi yang kurang kondusif sangat disayangkan. Selain itu, gedung parkiran UPI memiliki banyak pintu masuk yang dapat menjadi celah untuk menyusup ke acara tanpa mendaftarkan diri sebagai pengunjung. Masyarakat yang juga harus melewati lantai 6B, tempat acara berlangsung, untuk menuju rooftop UPI yang menjadi tempat favorit untuk nongkrong pada sore hari juga harus diatasi agar acara berjalan lancar dan aman. Namun sekali lagi, mengingat gedung parkiran ini memang bukanlah tempat yang ideal untuk ditata menjadi bioskop, usaha panitia dalam mengatasi masalah secara spontan serta memastikan acara berjalan lancar akan selalu mendapatkan apresiasi.
Gagasan menyelenggarakan acara penayangan film di gedung parkiran sangatlah kreatif, namun kreativitas biasanya timbul untuk mengatasi sesuatu yang belum tersedia. Dalam hal ini, belum tersedianya ruangan penayangan film agar mahasiswa dapat segera mengajak audiens yang lebih luas untuk mengapresiasi karya-karya film yang telah dibuatnya pada venue yang nyaman.
Ketua pelaksana BISKOTA 3.0, Rizky Ridho, berharap pihak kampus dapat membantu untuk menyediakan fasilitas yang mudah diakses. Sebab, kampus memiliki fasilitas yang cukup baik namun sulit diakses untuk mahasiswa. Ia juga berharap acara ini terus berlanjut dan menjadi budaya program studi Film dan Televisi agar mahasiswa dapat mengenalkan diri dan karya-karyanya dapat diapresiasi oleh khalayak umum. (Angel Lika Susanto)
Sukses Tingkatkan Keahlian Mahasiswa UPI, Kemdikbudristek Buka Kembali Program Praktisi Mengajar Angkatan 2, Simak Tahapanya
27 Feb 2023 • Humas UPI
Sukses tingkatkan keahlian mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Kebudayaan,Riset, dan Teknologi membuka Kembali Pendaftaran Program Praktisi Mengajar Angkatan 2.
Praktisi Mengajar mendorong kolaborasi aktif praktisi ahli dengan dosen di perguruan tinggi khususnya di Universitas Pendidikan Indonesia agar tercipta pertukaran ilmu dan keahlian yang mendalam dan bermakna antar sivitas akademika di perguruan tinggi dan profesional di dunia kerja. Kolaborasi praktisi mengajar dengan dosen dilakukan dalam mata kuliah yang disampaikan di ruang kelas baik secara luring maupun daring.
Praktisi Mengajar bertujuan menutup kesenjangan kompetensi lulusan baru dengan kebutuhan dunia kerja. Mendorong kolaborasi perguruan tinggi dan industri dalam menyelenggarakan pembelajaran praktis dan aplikatif serta meningkatkan relevansi skill lulusan perguruan tinggi Indonesia dengan kebutuhan dunia kerja dan industr.
Bagi para dosen Universitas Pendidikan Indonesia dan para dosen di Indonesia yang tertarik bergabung praktisi mengajar, diawali dengan perguruan tinggi mendaftarkan mata kuliah dengan cara melengkapi profil perguruan tinggu dan koordinator perguruan tinggi.
Khusus bagi para praktisi, bisa mendaftar dengan tahapan berikut ini :
2. melakukan registrasi dengan mengisi nama lengkap, email, dan kata sandi (Catatan: kata sandi harus mengandung minimal 8 karakter yang terdiri atas kombinasi huruf kecil, huruf besar, angka, dan tanda baca).
3. Apabila praktisi telah berhasil melakukan registrasi, sistem Praktisi Mengajar akan mengirimkan email verifikasi ke alamat email yang telah didaftarkan sebelumnya. Email verifikasi hanya akan dikirimkan melalui [email protected]. Jika tidak menerima email di inbox Anda, pastikan cek juga folder spam.
4. Bagi Praktisi yang ingin mengatur ulang kata sandi atau lupa kata sandi yang telah terdaftar sebelumnya, dapat menekan tombol yang terletak di halaman login.
Selain mendaftar, para praktisi dapat melengkapi profil informasi pada platform pendaftaran praktisi yang terdiri atas:
1. Melengkapi Data Diri berisi NIK, gelar depan, nama, lengkap, gelar belakang, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, alamat sesuai KTP dan domisili serta nomor ponsel yang terhubung dengan WhatsApp. Praktisi juga diwajibkan untuk mengunggah dokumen KTP (dalam format.pdf) dan Foto Diri untuk kelengkapan registrasi. Bagi Praktisi dengan kewarganegaraan WNA dapat mengisi Data diri berisi tampilan form identitas praktisi seperti No Passport, gelar depan, nama lengkap, gelar belakang, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, alamat sesuai passport, alamat sesuai domisili, serta nomor ponsel yang terhubung dengan WhatsApp. Praktisi juga diwajibkan untuk mengunggah dokumen Passport (dalam format .pdf) dan Foto Diri untuk kelengkapan registrasi.
2. Melengkapi informasi pekerjaan dan pengalaman yang dimiliki oleh praktisi Program Praktisi Mengajar agar pihak Perguruan Tinggi dapat dengan mudah menyesuaikan kebutuhan mata kuliah yang diampu dengan kualifikasi pengalaman calon praktisi dengan mengisi status kepegawaian, status aktif bekerja, profesi saat ini, nama perusahaan/tempat bekerja, skala perusahaan, jabatan, pilihan sektor industri, pilihan jenis badan usaha, dan usia perusahaan. Praktisi juga akan diminta untuk mengunggah Curriculum Vitae (CV) dan dokumen Profil Perusahaan/Portfolio. Jika status kepegawaian Praktisi adalah PNS, maka Praktisi juga akan diminta untuk mengisi data pada kolom Golongan PNS. Jika semua data telah diisi, silakan klik tombol yang terletak di kanan bawah layar monitor
3. Mengisikan Media Sosial dengan menambahkan link akun media sosial yang dimiliki.
4. Mengisikan Latar Belakang berisikan informasi mengenai tab pendidikan, pengalaman kerja, keahlian dan sertifikasi yang dapat membantu perguruan tinggi untuk mengetahui gambaran lengkap riwayat pendidikan dan keahlian dari praktisi.
5. Mengisikan data Kolaborasi yang berisi informasi mengenai bentuk pembelajaran, bidang studi yang ingin diajar serta modul pembelajaran dari praktisi
6. Mengisikan data Bidang Studi dengan memilih bidang studi yang ingin diajar dengan mencentang check box pada pilihan bidang studi yang telah tersedia.
7. Mengunggah modul, bagi Praktisi yang memiliki modul pembelajaran dapat mengunggah dokumennya pada tab ‘Modul/Program Belajar’ agar dapat disesuaikan bersama dosen dengan kurikulum yang dipakai dalam perguruan tinggi. (Catatan: Hanya diisi apabila praktisi memiliki modul)
8. Mengisikan Persetujuan berisi informasi consent-consent dalam publikasi praktisi di website Praktisi Mengajar. Klik apabila seluruh bagian telah terisi.
Tertarik untuk berbagai pengalaman dan memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa melalui program praktisi mengajar, para dosen perguruan tinggi dan para praktisi dapat mendaftar diri selanjutnya melalui laman : https://praktisimengajar.kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/