Warga Berharap Program UPI Berdampak Rutin Dilaksanakan
07 Nov 2025 • Humas UPI
Asep Suparman,Ketua RW 03 Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap Kota Bandung mengapresiasi kepedulian UPI terhadap kebersihan lingkungan sekitar kampus, Jumat (7/11) Foto: KKIPP UPI 2025
Bandung, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan kegiatan “UPI Berjalan Serempak dan Berdampak” sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-71 UPI. Salah satu agenda utama kegiatan ini adalah program bersih-bersih lingkungan yang dilaksanakan di sekitar kampus UPI dengan tagline “Langkah Bersama untuk Kampus Hijau dan Masyarakat Lestari”, Jumat (7/11).
Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari dan diikuti oleh sivitas akademika dari berbagai fakultas ini menyisir titik lokasi pembersihan, meliputi area-area yang berbatasan langsung dengan kampus, diantaranya Kelurahan Ledeng, Geger Kalong, Cibangbara, Cipaku, Panorama, Cilimus, dan Negla Hilir. Aksi bersih-bersih ini difokuskan pada pengumpulan sampah di ruang publik yang kemudian diangkut oleh koordinator lapangan untuk penanganan lebih lanjut.
Mahasiswa FPTI UPI bersama warga membersihkan sampah di Gang Bapak Eni, Kelurahan Ledeng, Jumat (7/11) Foto: KKIPP UPI 2025
Di Kelurahan Ledeng, dua tim menyusuri jalan dan gang perumahan warga untuk membersihkan dan memungut sampah, dua tim yang terlibat yaitu tim dari Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) dan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Ketua RW 03 Kelurahan Ledeng, Asep Suparman, menyampaikan apresiasi tinggi atas kepedulian UPI terhadap lingkungan sekitar. “Kami mengucapkan terima kasih, ini bantuan dari mahasiswa UPI yang didukung oleh fakultas dan jurusan. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat dilanjutkan secara rutin dalam bentuk pengabdian masyarakat di RW 03 Ledeng,” ujarnya.
Mahasiswa FPSD UPI membersihkan sampah di sebuah Jalan Sersan Surip Kelurahan Ledeng, Jumat (7/11) Foto: KKIPP UPI 2025
Menurutnya, kerja sama seperti ini penting terutama karena wilayah Ledeng berada di sekitar terminal dan termasuk rawan permasalahan sampah. “Meskipun kami sudah memiliki program pengomposan dan kebersihan lingkungan, persoalan sampah tetap menjadi masalah nasional. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan warga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan,” tambahnya.
Program ini merupakan bentuk nyata komitmen UPI dalam mewujudkan visi sebagai kampus berdampak, yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga peduli terhadap pembangunan sosial dan lingkungan.
Menutup pesannya, Asep Suparman mengucapkan selamat ulang tahun kepada UPI. “Mudah-mudahan UPI tambah sukses, lebih berprestasi, dan kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini semakin unggul di masa depan,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif membangun sinergi dengan masyarakat sekitar serta berkontribusi langsung dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. (RK)
Bandung, UPI — Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-71, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan kegiatan “UPI Berjalan Serempak dan Berdampak” pada Jumat (7/11). Kegiatan ini dimulai sejak pukul 06.00 WIB di Stadion UPI yang diawali dengan senam bersama, dilanjutkan jalan sehat dan aksi bersih-bersih lingkungan di dalam dan sekitar kampus. Seluruh sivitas UPI yang terdiri dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Agar efektif, terdapat pembagian enam kelompok utama aksi bersih-bersih. Setiap kelompok terdiri atas unsur pimpinan dan perwakilan fakultas atau sekolah pascasarjana dengan rute berbeda di sekitar kampus UPI. Misalnya, Kelompok 1 dipimpin oleh Rektor bersama Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Fakultas Kedokteran (FK), sedangkan kelompok lainnya mencakup kombinasi fakultas seperti FPIPS, FPBS, FPEB, FPSD, FPTI, FPOK, dan SPs.
Melalui pembagian kelompok ini, kegiatan bersih-bersih menjadi lebih terkoordinasi dan menyeluruh hingga mencakup area dalam kampus hingga lingkungan masyarakat sekitar. Selain itu, setiap unit juga memiliki Green Spot sebagai titik aksi bersih dan ruang interaksi sivitas UPI.
Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen UPI terhadap lingkungan berkelanjutan serta semangat kolaborasi bersama masyarakat sekitar. “Langkah bersama ini tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menguatkan kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan dan kelestarian kampus,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UPI meneguhkan diri sebagai kampus yang tidak hanya berjalan serempak, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan. Gerakan kebersamaan ini menjadi simbol komitmen UPI dalam mewujudkan green campus yang bersih, sehat, dan lestari sekaligus menginspirasi sivitas UPI untuk terus menumbuhkan budaya peduli lingkungan dalam setiap langkah.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, UPI juga mengadakan Lomba Vlog Kebersihan “UPI Asih, UPI Bersih” serta penilaian rombongan peserta terkreatif dan terkompak, yang menambah semarak peringatan Dies Natalis ke-71. (CS)
UPI Hadirkan Hiburan dan Pertunjukan Seni untuk Dukung Well-Being
07 Nov 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus berupaya menciptakan lingkungan kampus yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan mahasiswa atau student well-being. Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-71, UPI menghadirkan berbagai hiburan dan pertunjukan seni sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan mental dan kebahagiaan mahasiswa yang dilaksanakan di Stadion Sepak Bola UPI Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Kamis (6/11/2025).
“Mahasiswa tidak hanya harus belajar, tapi juga harus bahagia. Karena manusia pada dasarnya membutuhkan hiburan,” ujar Prof. Didi Sukyadi M.A. Menurutnya, hiburan seperti konser dan pertunjukan seni memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan kesehatan mental mahasiswa.
Selama ini, sumber hiburan mahasiswa banyak diperoleh dari media digital seperti YouTube dan gadget, yang justru bisa menimbulkan kelelahan atau fatigue. Oleh karena itu, UPI berupaya menghadirkan hiburan yang lebih sehat dan interaktif, seperti kegiatan olahraga, konser musik, dan pertunjukan seni tradisional.
“Saat ini kita sudah mulai menghadirkan pertunjukan seni, dan nanti juga akan ada wayang golek. Tujuannya supaya mahasiswa tidak hanya sehat jasmani, tetapi juga sehat rohani,” tambahnya.
Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan seni juga diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi mahasiswa terhadap nilai-nilai budaya dan estetika. “Kalau mereka sehat badannya, sehat rohaninya, pasti belajarnya juga akan lebih semangat dan cepat selesai,” kata Rektor UPI.
Menanggapi antusiasme mahasiswa terhadap konser Juicy Luicy, Prof. Didi Sukyadi menyampaikan bahwa tahun depan UPI berencana menghadirkan hiburan yang lebih besar dan menarik. “Banyak mahasiswa yang suka Juicy Luicy, tapi kalau tahun depan ada band lain yang lebih digemari anak muda, tentu akan kita upayakan. Saya sudah minta Bank BSI untuk tetap mendukung. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih besar dan lebih baik,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd. selaku ketua pelaksana kegiatan menyampaikan “Saya sangat berbahagia melihat antusiasme seluruh sivitas akademika UPI menyambut dan merayakan Dies Natalis kita yang ke-71. Harapannya, melalui kegiatan yang bermakna ini, kita dapat terus bergerak serempak menuju UPI Gemilang di masa depan,” ujar Prof. Dini.
Beragam kegiatan diselenggarakan untuk memperkuat rasa kebersamaan, mulai dari acara akademik hingga hiburan yang memberikan ruang “healing” bagi mahasiswa. Menurut Prof. Dini, keseimbangan antara kegiatan akademik dan hiburan menjadi penting untuk menjaga semangat belajar mahasiswa.
“Kegiatan akademik tetap harus dipertahankan, tetapi kegiatan seperti ini juga diperlukan untuk penyegaran. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa memberikan suguhan yang lebih luar biasa,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dini juga menyinggung rencana kerja sama berkelanjutan antara UPI dan mitra, termasuk potensi menghadirkan penampilan musisi terkenal pada perayaan berikutnya “Ada permintaan dari mahasiswa agar tahun depan kita bisa menghadirkan Sheila On 7 atau musisi lainnya. Mudah-mudahan bisa terwujud,” ujarnya sambil tersenyum.
Perwakilan BSI Nasori – Head Area Manager BSI Bandung menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk berpartisipasi dalam momen penting tersebut. “Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini BSI menjadi satu-satunya sponsor dalam kegiatan Dies Natalis UPI yang menghadirkan berbagai kegiatan inspiratif. Harapan kami, kebersamaan dan kerja sama ini dapat terus terjalin dengan baik di masa mendatang,” ujarnya.
BSI berkomitmen memberikan layanan terbaik dalam bidang transaksi keuangan kepada sivitas akademika UPI. “Kami berharap seluruh sivitas akademika UPI baik mahasiswa, rektorat, maupun pegawai dapat memanfaatkan berbagai layanan dan fasilitas yang disediakan oleh BSI,” lanjutnya.
Lebih jauh, pihak BSI juga membuka peluang untuk terus memperluas kolaborasi di tahun-tahun berikutnya. “Selama kerja sama ini berjalan baik dan sesuai prinsip keuangan syariah, insya Allah kami akan terus mendukung kegiatan UPI di masa depan,” tegasnya.
BSI juga mengimbau mahasiswa untuk melakukan pembayaran UKT dan berbagai transaksi keuangan kampus melalui layanan BSI. “Kami berharap seluruh transaksi keuangan UPI dapat dilakukan melalui BSI agar kami bisa memberikan dukungan penuh bagi kegiatan kampus, termasuk perayaan Dies Natalis berikutnya,” tutupnya.
Rangkaian Dies Natalis UPI ke-71 tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga momentum mempererat solidaritas dan memperkuat komitmen menuju UPI yang semakin unggul, inspiratif, dan berdampak bagi masyarakat. (Rija)
UPI Melalui DPMP Perkuat Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Lewat Seminar Akreditasi
06 Nov 2025 • Humas UPI
Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc., Ph.D., memberikan materi Implementasi Akreditasi Perguruan Tinggi di Auditorium DPPM UPI, Kamis (6/11)
Bandung, UPI — Direktorat Penjamin Mutu dan Pemeringkatan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Implementasi Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi Sesuai Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025” di Auditorium Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI, Jln. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung, Kamis (6/11). Acara ini menghadirkan Direktur Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc., Ph.D., sebagai narasumber utama.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya memahami regulasi akreditasi terbaru dan berharap para peserta dapat menyimak paparan narasumber secara mendalam. “Saya berharap para peserta dapat menyimak apa yang akan disampaikan oleh Direktur Eksekutif BAN-PT agar proses akreditasi yang akan diupayakan dapat berjalan lancar dan sesuai ketentuan terbaru,” ujar Rektor.
Seorang peserta dalam sesi tanya jawab Seminar Nasional “Implementasi Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi, Kamis (6/11)
Seminar ini dihadiri oleh para pimpinan, dosen, pengelola program studi dari berbagai fakultas dan sekolah pascasarjana di lingkungan UPI, serta perwakilan dari perguruan tinggi lain. Kegiatan bertujuan memberikan pemahaman mendalam terkait regulasi terbaru mengenai penjaminan mutu pendidikan tinggi, khususnya implementasi kebijakan akreditasi yang tertuang dalam Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025.
Dalam paparannya, Prof. Ari menegaskan pentingnya penjaminan mutu yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi global. “Mutu pendidikan tinggi bukan hanya dipenuhi melalui regulasi administratif, namun harus diwujudkan melalui budaya akademik yang kuat dan tata kelola yang akuntabel,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan sejumlah perubahan kunci dalam regulasi akreditasi terbaru, termasuk penetapan status akreditasi yang dibedakan menjadi “Terakreditasi”, “Terakreditasi Unggul”, dan “Tidak Terakreditasi”. Prof. Ari menekankan bahwa Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 memberi landasan kuat bagi penguatan sistem penjaminan mutu baik melalui audit internal maupun asesmen eksternal yang terintegrasi dengan data PDDikti dan sistem informasi lainnya.
“Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) tetapi juga mampu melampauinya melalui inovasi tridarma dan kolaborasi strategis,” tambah Guru Besar IPB University yang kini menjabat sebagai Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT periode 2021—2026 tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, para peserta menyampaikan berbagai pertanyaan seputar prosedur perpanjangan akreditasi, mekanisme pemantauan melalui SAPTO 2.0, hingga strategi menghadapi evaluasi berbasis data. Prof. Ari juga mengimbau perguruan tinggi untuk memastikan seluruh data akreditasi telah diperbarui dan dilengkapi hingga akhir tahun 2025 agar status akreditasi selanjutnya dapat diproses tepat waktu.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, UPI menegaskan komitmennya untuk selalu berada di garis depan dalam tata kelola mutu pendidikan tinggi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya institusi dalam memastikan keselarasan antara kebijakan pendidikan nasional dan implementasi di tingkat perguruan tinggi.
Membuka halaman demi halaman buku karya Prof. Dr. Mubiar Agustin, M.Pd (Abu Raihan) saya merasakan sebuah perjalanan yang menyentuh sekaligus membuka mata tentang bagaimana sesungguhnya pendidikan anak seharusnya dilakukan. Buku ini bukan sekadar kumpulan teori pedagogik atau panduan parenting biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang metode pendidikan yang telah teruji selama empat belas abad lamanya.
Penulis membuka diskusi dengan fondasi yang sangat kuat: keharusan menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan terbaik sepanjang masa. Bagian awal ini terasa sangat fundamental karena tidak langsung melompat ke teknik-teknik praktis, tetapi terlebih dahulu membangun kesadaran filosofis mengapa kita perlu kembali kepada figur Rasulullah. Saya menemukan bahwa pendekatan ini sangat penting, karena tanpa pemahaman akan urgensi meneladani beliau, segala metode yang dijelaskan kemudian hanya akan menjadi resep tanpa ruh.
Yang menarik dari pembahasan tentang konsekuensi menjadikan Nabi sebagai teladan adalah bagaimana penulis merinci lima aspek yang saling terkait: beriman, mentaati perintah, membenarkan apa yang disampaikan, menjauhi larangan, dan beribadah sesuai syariat. Kelima hal ini bukan sekadar daftar kewajiban, tetapi membentuk sebuah kerangka berpikir yang utuh dalam memandang sosok Rasulullah sebagai guru agung.
Ketika masuk ke bagian mengenal metode mendidik cara Nabi Muhammad, saya mulai merasakan transisi dari konsep ke praktik. Penulis menekankan pentingnya mengenalkan Nabi sejak dini kepada anak-anak, bukan hanya sebagai tokoh sejarah yang jauh, tetapi sebagai figur yang dekat dan relevan dengan kehidupan mereka. Pembahasan tentang sifat dan metode mendidik Rasulullah terasa membumi, menunjukkan bahwa beliau mengajar bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan hidup yang nyata.
Bagian tentang profil murid-murid Nabi Muhammad memberikan perspektif yang menarik. Melalui kisah-kisah para sahabat yang dididik langsung oleh Rasulullah, pembaca dapat melihat bukti konkret bagaimana metode pendidikan beliau menghasilkan generasi luar biasa yang mengubah peradaban dunia. Ini bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi bukti empiris yang menguatkan argumen penulis tentang efektivitas metode prophetic education.
Namun, puncak dari buku ini, menurut saya, terletak pada bagian “Potret Nabi Bersama Anak-anak”. Di sinilah buku ini benar-benar bersinar dan memberikan nilai tambah yang signifikan. Penulis berhasil menghadirkan sosok Nabi Muhammad bukan sebagai figur yang kaku dan jauh, melainkan sebagai pendidik yang penuh kehangatan, kelembutan, dan kebijaksanaan.
Sembilan aspek interaksi Nabi dengan anak-anak yang dipaparkan sangat menyentuh hati. Bayangkan, seorang pemimpin umat, seorang nabi yang membawa risalah besar, namun tidak pernah merasa terlalu sibuk untuk mengucap salam kepada anak-anak yang ia jumpai. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai anak sebagai individu yang bermartabat, bukan sekadar makhluk kecil yang belum sempurna.
Senyuman Nabi kepada anak-anak, kecupan dan usapan penuh kasih sayang di kepala mereka, kesediaan beliau bermain dan bercanda—semua ini menggambarkan pendekatan pendidikan yang holistik. Nabi tidak hanya mendidik akal, tetapi juga memelihara emosi dan jiwa anak. Dalam dunia yang semakin keras dan kompetitif ini, pembelajaran tentang kelembutan dalam mendidik terasa sangat relevan dan dibutuhkan.
Yang paling mengena bagi saya adalah bagian tentang bagaimana Nabi tidak pernah menolak permintaan anak-anak. Ini berbicara tentang kesabaran luar biasa dan penghargaan terhadap kebutuhan psikologis anak untuk merasa didengar dan dihargai. Sebagai pembaca yang juga orang tua, saya merenungkan betapa sering kita, dalam kesibukan dan kelelahan, dengan mudah menolak atau mengabaikan permintaan anak-anak kita.
Aspek memberikan hadiah, menjenguk dan berempati ketika anak sakit, membentuk jasmani anak melalui aktivitas fisik, hingga menanamkan cinta ilmu—semuanya menunjukkan komprehensivitas metode pendidikan Nabi. Beliau tidak hanya fokus pada satu aspek perkembangan anak, tetapi memperhatikan keseluruhan dimensi: spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan fisik.
Buku ini membawa saya pada kesadaran bahwa pendidikan anak dalam Islam bukan sekadar mengajarkan hafalan doa atau rukun Islam, tetapi tentang membangun karakter melalui keteladanan dan kasih sayang. Prophetic education, sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, adalah pendidikan yang memanusiakan manusia, yang melihat setiap anak sebagai amanah berharga yang perlu diperlakukan dengan penuh kehormatan dan kelembutan.
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuan penulis menghadirkan ajaran Islam tentang pendidikan anak dalam bahasa yang hangat dan aplikatif. Tidak terasa menggurui, namun mengajak pembaca untuk berefleksi dan bercermin pada praktik pengasuhan kita sehari-hari. Setiap halaman seperti mengingatkan kita untuk kembali pada kesederhanaan dan ketulusan dalam mendidik, jauh dari tekanan pencapaian akademik semata atau obsesi mencetak anak-anak “juara”.
Sebagai penutup pembacaan saya, buku “Prophetic Education” ini sangat saya rekomendasikan bukan hanya untuk orang tua Muslim, tetapi juga untuk para pendidik, konselor anak, dan siapa saja yang peduli dengan masa depan generasi muda. Buku ini mengingatkan kita bahwa metode pendidikan terbaik telah dicontohkan empat belas abad yang lalu, dan tugas kita adalah mempelajari, memahami, dan mengimplementasikannya dengan penuh kesadaran dan cinta. Di tengah kebingungan berbagai teori parenting modern, buku ini menawarkan kompas yang jelas: kembali kepada sunnah Nabi, di mana pendidikan dimulai dari hati ke hati, dari kasih sayang yang tulus, bukan dari tuntutan dan tekanan. (dodiangga)