English
Indonesia

UPI Melalui DPMP Perkuat Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Lewat Seminar Akreditasi

06 Nov 2025 • Humas UPI
Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc., Ph.D., memberikan materi Implementasi Akreditasi Perguruan Tinggi di Auditorium DPPM UPI, Kamis (6/11)

Bandung, UPI — Direktorat Penjamin Mutu dan Pemeringkatan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Implementasi Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi Sesuai Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025” di Auditorium Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI, Jln. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung, Kamis (6/11). Acara ini menghadirkan Direktur Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc., Ph.D., sebagai narasumber utama.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya memahami regulasi akreditasi terbaru dan berharap para peserta dapat menyimak paparan narasumber secara mendalam. “Saya berharap para peserta dapat menyimak apa yang akan disampaikan oleh Direktur Eksekutif BAN-PT agar proses akreditasi yang akan diupayakan dapat berjalan lancar dan sesuai ketentuan terbaru,” ujar Rektor.

Seorang peserta dalam sesi tanya jawab Seminar Nasional “Implementasi Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi, Kamis (6/11)

Seminar ini dihadiri oleh para pimpinan, dosen, pengelola program studi dari berbagai fakultas dan sekolah pascasarjana di lingkungan UPI, serta perwakilan dari perguruan tinggi lain. Kegiatan bertujuan memberikan pemahaman mendalam terkait regulasi terbaru mengenai penjaminan mutu pendidikan tinggi, khususnya implementasi kebijakan akreditasi yang tertuang dalam Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025.

Dalam paparannya, Prof. Ari menegaskan pentingnya penjaminan mutu yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi global. “Mutu pendidikan tinggi bukan hanya dipenuhi melalui regulasi administratif, namun harus diwujudkan melalui budaya akademik yang kuat dan tata kelola yang akuntabel,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan sejumlah perubahan kunci dalam regulasi akreditasi terbaru, termasuk penetapan status akreditasi yang dibedakan menjadi “Terakreditasi”, “Terakreditasi Unggul”, dan “Tidak Terakreditasi”. Prof. Ari menekankan bahwa Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 memberi landasan kuat bagi penguatan sistem penjaminan mutu baik melalui audit internal maupun asesmen eksternal yang terintegrasi dengan data PDDikti dan sistem informasi lainnya.

“Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) tetapi juga mampu melampauinya melalui inovasi tridarma dan kolaborasi strategis,” tambah Guru Besar IPB University yang kini menjabat sebagai Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT periode 2021—2026 tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, para peserta menyampaikan berbagai pertanyaan seputar prosedur perpanjangan akreditasi, mekanisme pemantauan melalui SAPTO 2.0, hingga strategi menghadapi evaluasi berbasis data. Prof. Ari juga mengimbau perguruan tinggi untuk memastikan seluruh data akreditasi telah diperbarui dan dilengkapi hingga akhir tahun 2025 agar status akreditasi selanjutnya dapat diproses tepat waktu.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, UPI menegaskan komitmennya untuk selalu berada di garis depan dalam tata kelola mutu pendidikan tinggi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya institusi dalam memastikan keselarasan antara kebijakan pendidikan nasional dan implementasi di tingkat perguruan tinggi.

Prophetic Education

06 Nov 2025 • Humas UPI

Meneladani Nabi Muhammad dalam Mendidik Anak

Membuka halaman demi halaman buku karya Prof. Dr. Mubiar Agustin, M.Pd (Abu Raihan) saya merasakan sebuah perjalanan yang menyentuh sekaligus membuka mata tentang bagaimana sesungguhnya pendidikan anak seharusnya dilakukan. Buku ini bukan sekadar kumpulan teori pedagogik atau panduan parenting biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang metode pendidikan yang telah teruji selama empat belas abad lamanya.

Penulis membuka diskusi dengan fondasi yang sangat kuat: keharusan menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan terbaik sepanjang masa. Bagian awal ini terasa sangat fundamental karena tidak langsung melompat ke teknik-teknik praktis, tetapi terlebih dahulu membangun kesadaran filosofis mengapa kita perlu kembali kepada figur Rasulullah. Saya menemukan bahwa pendekatan ini sangat penting, karena tanpa pemahaman akan urgensi meneladani beliau, segala metode yang dijelaskan kemudian hanya akan menjadi resep tanpa ruh.

Yang menarik dari pembahasan tentang konsekuensi menjadikan Nabi sebagai teladan adalah bagaimana penulis merinci lima aspek yang saling terkait: beriman, mentaati perintah, membenarkan apa yang disampaikan, menjauhi larangan, dan beribadah sesuai syariat. Kelima hal ini bukan sekadar daftar kewajiban, tetapi membentuk sebuah kerangka berpikir yang utuh dalam memandang sosok Rasulullah sebagai guru agung.

Ketika masuk ke bagian mengenal metode mendidik cara Nabi Muhammad, saya mulai merasakan transisi dari konsep ke praktik. Penulis menekankan pentingnya mengenalkan Nabi sejak dini kepada anak-anak, bukan hanya sebagai tokoh sejarah yang jauh, tetapi sebagai figur yang dekat dan relevan dengan kehidupan mereka. Pembahasan tentang sifat dan metode mendidik Rasulullah terasa membumi, menunjukkan bahwa beliau mengajar bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan hidup yang nyata.

Bagian tentang profil murid-murid Nabi Muhammad memberikan perspektif yang menarik. Melalui kisah-kisah para sahabat yang dididik langsung oleh Rasulullah, pembaca dapat melihat bukti konkret bagaimana metode pendidikan beliau menghasilkan generasi luar biasa yang mengubah peradaban dunia. Ini bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi bukti empiris yang menguatkan argumen penulis tentang efektivitas metode prophetic education.

Namun, puncak dari buku ini, menurut saya, terletak pada bagian “Potret Nabi Bersama Anak-anak”. Di sinilah buku ini benar-benar bersinar dan memberikan nilai tambah yang signifikan. Penulis berhasil menghadirkan sosok Nabi Muhammad bukan sebagai figur yang kaku dan jauh, melainkan sebagai pendidik yang penuh kehangatan, kelembutan, dan kebijaksanaan.

Sembilan aspek interaksi Nabi dengan anak-anak yang dipaparkan sangat menyentuh hati. Bayangkan, seorang pemimpin umat, seorang nabi yang membawa risalah besar, namun tidak pernah merasa terlalu sibuk untuk mengucap salam kepada anak-anak yang ia jumpai. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai anak sebagai individu yang bermartabat, bukan sekadar makhluk kecil yang belum sempurna.

Senyuman Nabi kepada anak-anak, kecupan dan usapan penuh kasih sayang di kepala mereka, kesediaan beliau bermain dan bercanda—semua ini menggambarkan pendekatan pendidikan yang holistik. Nabi tidak hanya mendidik akal, tetapi juga memelihara emosi dan jiwa anak. Dalam dunia yang semakin keras dan kompetitif ini, pembelajaran tentang kelembutan dalam mendidik terasa sangat relevan dan dibutuhkan.

Yang paling mengena bagi saya adalah bagian tentang bagaimana Nabi tidak pernah menolak permintaan anak-anak. Ini berbicara tentang kesabaran luar biasa dan penghargaan terhadap kebutuhan psikologis anak untuk merasa didengar dan dihargai. Sebagai pembaca yang juga orang tua, saya merenungkan betapa sering kita, dalam kesibukan dan kelelahan, dengan mudah menolak atau mengabaikan permintaan anak-anak kita.

Aspek memberikan hadiah, menjenguk dan berempati ketika anak sakit, membentuk jasmani anak melalui aktivitas fisik, hingga menanamkan cinta ilmu—semuanya menunjukkan komprehensivitas metode pendidikan Nabi. Beliau tidak hanya fokus pada satu aspek perkembangan anak, tetapi memperhatikan keseluruhan dimensi: spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan fisik.

Buku ini membawa saya pada kesadaran bahwa pendidikan anak dalam Islam bukan sekadar mengajarkan hafalan doa atau rukun Islam, tetapi tentang membangun karakter melalui keteladanan dan kasih sayang. Prophetic education, sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, adalah pendidikan yang memanusiakan manusia, yang melihat setiap anak sebagai amanah berharga yang perlu diperlakukan dengan penuh kehormatan dan kelembutan.

Kekuatan buku ini terletak pada kemampuan penulis menghadirkan ajaran Islam tentang pendidikan anak dalam bahasa yang hangat dan aplikatif. Tidak terasa menggurui, namun mengajak pembaca untuk berefleksi dan bercermin pada praktik pengasuhan kita sehari-hari. Setiap halaman seperti mengingatkan kita untuk kembali pada kesederhanaan dan ketulusan dalam mendidik, jauh dari tekanan pencapaian akademik semata atau obsesi mencetak anak-anak “juara”.

Sebagai penutup pembacaan saya, buku “Prophetic Education” ini sangat saya rekomendasikan bukan hanya untuk orang tua Muslim, tetapi juga untuk para pendidik, konselor anak, dan siapa saja yang peduli dengan masa depan generasi muda. Buku ini mengingatkan kita bahwa metode pendidikan terbaik telah dicontohkan empat belas abad yang lalu, dan tugas kita adalah mempelajari, memahami, dan mengimplementasikannya dengan penuh kesadaran dan cinta. Di tengah kebingungan berbagai teori parenting modern, buku ini menawarkan kompas yang jelas: kembali kepada sunnah Nabi, di mana pendidikan dimulai dari hati ke hati, dari kasih sayang yang tulus, bukan dari tuntutan dan tekanan.   (dodiangga)

UPT Layanan Kesehatan UPI Sukses Gelar Yoga dan Seminar Gizi dalam HEALTHY HARMONY

06 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Tercatat, sebanyak seratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan tendik di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengikuti kegiatan Yoga dan Seminar “Healthy Harmony: Seimbangkan Piringmu, Seimbangkan Pikiranmu”. Kegiatan ini diinisiasi oleh UPT Layanan Kesehatan UPI, berlangsung pada Selasa, (4/11/2025) di Auditorium Gedung JICA Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung.

Hadir Dosen Program Studi Gizi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI Ahmad Hisbullah Amrinanto, S.Gz, M.Si., sebagai pemateri dalam Seminar Gizi. Adapau materi yang disampaikannya adalah Fuel Your Fitness: Rahasia Asupan Tepat, Defisit Kalori Aman, dan Olahraga Untuk Performa Maksimal.

Dalam paparannya, Ahmad Hisbullah Amrinanto mengingatkan kepada kita untuk memahami energi tubuh, karena tubuh itu ibarat mesin, butuh bahan bakar untuk bekerja optimal. Untuk diketahui, energi berasal dari makanan, terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak. Ditegaskannya,”Demi menjaga keseimbangan performa dan berat badan, maka kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara energi masuk dengan energi yang keluar.”

Untuk menciptakan defisit kalori dengan aman, lanjutnya, maka kurangi 10% hingga 20% dari kebutuhan energi harian. Gabungkan pengaturan asupan dengan aktivitas fisik. Fokus pada kehilangan lemak, bukan otot. Ingat, cepat belum tentu sehat, yang penting berkelanjutan.

Dikatakannya,”Terapkanlah menu seimbang harian, gunakan pola Isi Piringku. Menu terbaik adalah yang bisa dijalankan secara terus menerus, kemudian bangun kebiasaan makan konsisten, fokus pada pola, bukan pantangan. Terapkan prinsip 80/20 Rule, yaitu 80% sehat dan 20% fleksibel. Perkuat dengan tidur cukup, kelola stres, dan makan dengan sadar atau mindful eating. Dengan demikian, kunci keberhasilannya adalah konsistensi dan kenyamanan.”

Lebih lanjut Ahmad menjelaskan bahwa energi berfungsi sebagai bahan bakar tubuh. Energi adalah bahan bakar yang memungkinkan tubuh manusia untuk berfungsi secara optimal. Tanpa energi, jantung tidak dapat berdetak, otot tidak bisa bergerak, dan otak tidak mampu berpikir dengan baik. Energi diperoleh dari makanan yang kita konsumsi setiap hari.

“Sumber energi berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein. Energi yang masuk dari makanan akan diubah oleh tubuh menjadi ATP (adenosine triphosphate), yaitu bentuk energi kimia yang dapat langsung digunakan oleh sel. ATP ini menjadi mata uang energi untuk berbagai aktivitas, seperti menjaga fungsi organ vital seperti jantung, paru, dan otak; mengatur suhu tubuh; menggerakkan otot untuk aktivitasharian maupun olahraga; dan mendukung proses perbaikan jaringan dan pertumbuhan,” ungkapnya.

Diungkapkan lebih lanjut bahwa faktor penentu kebutuhan energi terdiri atas Basal Metabolic Rate (BMR), yaitu jumlah energi (kalori) minimum yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar saat istirahat total, seperti bernapas, sirkulasi darah, dan menjaga suhu tubuh. Kedua, Physical Activity Level yaitu tingkat aktivitas fisik seseorang yang diukur dengan rasio pengeluaran energi harian total (TEE) dibandingkan dengan pengeluaran energi saat istirahat (REE).

Ketiga, Thermic Effect of Food (TEF) yaitu jumlah energi yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna, menyerap, dan memetabolisme makanan yang kita makan. Peningkatan laju metabolisme setelah mengonsumsi makanan. Keempat, faktor tambahan, yaitu pertumbuhan, hamil, suhu, penyakit.

Sementara itu, lanjutnya, untuk melakukan defisit kalori yang aman dan efektif, dalam konteks pengaturan berat badan, maka defisit kalori yang dimaksud adalah jumlah energi yang masuk lebih kecil daripada energi yang dikeluarkan tubuh. “Harus dilakukan secara terukur dan aman, karena energi tidak hanya dibutuhkan untuk bergerak, tetapi juga untuk menjaga fungsi vital seperti pernapasan, kerja otot jantung, dan fungsi otak. Defisit 10% sampai 20% dari total kebutuhan energi harian aman dan efektif menghasilkan penurunan berat badan sekitar 0,25– 0,5 kg per minggu,” ungkapnya.

Adapun resiko jika melakukan defisit terlalu ekstrem yaitu berdampak pada fisiologis, seperti penurunan massa otot, gangguan metabolisme, gangguan hormone, dan penurunan densitas tulang. Kemudian dampaknya terhadap performa dan kesehatan yaitu cepat merasakan lelah, daya tahan menurun, pemulihan otot lambat setelah latihan, resiko cedera meningkat, gangguan konsentrasi dan mood, serta terjadinya penurunan system imun sehingga mudah sakit.

Oleh karena itu, lanjutnya, siapkan strategi untuk mencapai defisit aman dengan memprioritaskan makanan padat gizi, kontrol porsi makan, fokus pada protein, dan batasi makanan ultra proses dan gula tinggi.

“Tingkatkan aktivitas fisik dengan olahraga teratur, kombinasikan latihan aerobic dengan latihan kekuatan, serta bergerak lebih aktif. Tidur 7 sampai 9 jam per hari, hindari begadang dan hindari stress berlebihan,” pungkasnya.

Kesehatan fisik dan mental merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan kesejahteraan hidup. Dalam lingkungan akademik, keseimbangan tersebut menjadi hal yang sangat penting, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga bagi dosen dan tenaga kependidikan yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dan pelayanan di kampus.

Pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktifitas fisik serta tekanan pekerjaan dan akademik seringkali menjadi faktor yang menurunkan kualitas kesehatan dan produktivitas civitas akademika. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat secara menyeluruh, maka UPT Layanan Kesehatan UPI menyelenggarakan kegiatan HEALTHY HARMONY – Seimbangkan Piringmu – Seimbangkan Pikiranmu yang memadukan edukasi gizi seimbang dengan praktek yoga relaksasi.  (dodiangga)

UPI Naik Peringkat di QS World University Rankings 2026

06 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Berdasarkan hasil QS World University Rankings (WUR) 2026 yang dirilis pada November 2025, UPI berhasil menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam pemeringkatan terbaru tersebut, UPI menempati posisi #76 di QS Asian University Rankings: South-Eastern Asia, naik satu peringkat dari posisi #77 tahun sebelumnya. Selain itu, UPI juga berhasil naik ke posisi #=391 di QS Asian University Rankings 2026, setelah sebelumnya berada pada rentang #441–450.

Peningkatan ini menjadi bukti nyata dari komitmen UPI dalam menghadirkan pendidikan berkualitas, riset berdaya saing global, serta pengabdian yang berdampak bagi masyarakat. UPI terus memperkuat langkahnya sebagai Kampus Pelopor dan Unggul, dengan mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan dan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam bidang pendidikan bermutu dan kemitraan global.

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan apresiasi kepada seluruh Sivitas UPI, alumni, dan mitra strategis atas dedikasi dan kolaborasi yang telah mengantarkan UPI mencapai prestasi ini.

“Kenaikan peringkat ini adalah hasil kerja bersama seluruh keluarga besar UPI. Kami akan terus berinovasi dan berkontribusi agar UPI menjadi kampus yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat dan dunia,” ujarnya.

Dengan capaian ini, UPI memperkuat posisinya sebagai salah satu universitas terkemuka di Asia Tenggara dan terus melangkah menuju universitas bereputasi dunia. (CS)

Kemanusiaan dalam Era Kecerdasan Buatan di Pendidikan Akuntansi

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), pendidikan akuntansi tidak boleh kehilangan esensinya sebagai sarana pembentukan manusia yang beretika, kritis, dan berempati. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Heni Mulyani, S.Pd., M.Pd., Guru Besar dalam bidang Pedagogik Akuntansi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025, Rabu (5/11), di Gedung Achmad Sanusi, Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229, Bandung.

Dalam orasinya yang berjudul “Transformasi Pedagogi Akuntansi Di Era Artificial Intelligence: Menjaga Relevansi Ilmu dan Nilai”, Prof. Heni menekankan bahwa visi masa depan pedagogik akuntansi tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi digital, tetapi juga pada pembentukan manusia pembelajar yang berpikir kritis, beretika, dan berempati di tengah dominasi algoritma dan otomatisasi.

“Tugas utama pendidikan bukan sekadar mempersiapkan mahasiswa untuk menguasai AI, tetapi untuk memanusiakan penggunaannya menjadikan teknologi sebagai katalis pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan bermakna,” ujar Prof. Heni di hadapan sivitas akademika UPI dan tamu undangan.

Menurutnya, AI harus dipandang bukan sebagai pengganti pendidik atau pengambil keputusan profesional, melainkan mitra reflektif yang dapat memperluas kemampuan berpikir kritis, analisis etis, dan kolaborasi manusia.

“Teknologi dapat menghitung dengan cepat, tetapi hanya manusia yang mampu menimbang dengan hati,” tegasnya.

Prof. Heni menjelaskan, pendidikan akuntansi berorientasi nilai perlu membekali mahasiswa agar mampu berinteraksi dengan teknologi secara bijak menggunakan AI untuk memperkuat moral intelligence, bukan menggantikannya. Dalam pandangannya, masa depan pedagogik akuntansi harus bergerak menuju koevolusi antara kecerdasan buatan dan kecerdasan moral, di mana dosen dan mahasiswa belajar bersama, tidak hanya from AI, tetapi juga through AI untuk memahami nilai kemanusiaan yang lebih mendalam.

Paradigma baru ini, lanjutnya, membutuhkan ekosistem pembelajaran reflektif yang melibatkan seluruh komponen pendidikan mulai dari kurikulum, pedagogi, pendidik, hingga jejaring sinergi antar aktor pendidikan, industri, dan profesi.

Kurikulum yang terintegrasi dengan teknologi AI, kata Prof. Heni, tetap harus dikawal oleh nilai etika dan kemanusiaan. Sementara itu, pedagogi perlu dikembangkan menjadi praktik pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk bereksperimen, berkolaborasi, dan merenung, sedangkan pendidik dituntut berperan sebagai mentor nilai dan kurator kebijaksanaan.

“Pendidikan akuntansi di masa depan harus menjadi laboratorium kemanusiaan di tengah kecerdasan buatan,” ungkapnya.

Dalam visi tersebut, mahasiswa akuntansi diharapkan tidak hanya belajar menghitung nilai ekonomi, tetapi juga menimbang nilai moral di balik setiap keputusan. Mereka diajak memahami bahwa laporan keuangan bukan sekadar rangkaian angka, melainkan refleksi dari prinsip keadilan, tanggung jawab, dan integritas.

Prof. Heni menambahkan, lulusan pendidikan akuntansi masa depan tidak hanya disiapkan menjadi akuntan, auditor, konsultan, analis keuangan, atau pendidik, melainkan juga pemimpin dan wirausahawan sosial yang berpikir dengan nurani, bertindak dengan etika, serta memimpin dengan tanggung jawab.

“Dalam dunia yang serba otomatis, kemanusiaan justru menjadi keunggulan utama karena hanya manusia yang dapat mengajarkan cinta, tanggung jawab, dan kebijaksanaan,” pungkasnya. (DN/Rija/Cawal/Ratih)

Pencarian