Selayang Pandang dari Perancis

Seri 1

Bahasa Isyarat (La Langue des signes)

Oleh

Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Di setiap pidato resmi di TV Perancis saat ini selalu tampil penerjemah dengan bahasa isyarat. Pengakuan dan pemakaian resminya bahasa isyarat ini relatif baru.

Penyandang tunarungu, seperti semua orang, membutuhkan berkomunikasi. Awalnya, mereka menggunakan tangan, wajah, dan tubuh mereka untuk mengekspresikan gagasan, emosi, dan kebutuhan. Secara bertahap, gerakan-gerakan ini menjadi lebih terorganisir dan membentuk bahasa sejati dengan aturan-aturan tertentu.

Di zaman kuno (Antiquity, l’Antiquité), kecerdasan dianggap hanya dimiliki oleh kemampuan berbicara. Aristoteles (384 SM-322 SM) mengesampingkan nilai apa pun yang ada hubungannya  dengan orang-orang tunarungu termasuk bahasa isyarat.  Ia mengklasifikasikan  kaum tunarungu dan bisu sebagai hewan, bukan manusia. 

Memang, pada zaman itu, ucapan dan kemampuan berbicara seseorang dipandang sebagai karakteristik  manusia. Jadi orang tunarungu  pada zaman itu tidak dianggap manusia.

“Kemampuan belajar dimiliki oleh makhluk yang, selain ingatan, juga dikaruniai indra pendengaran.” – Aristoteles

Plato (427 SM -347 SM) adalah orang pertama yang mendokumentasikan dan mengamati bahasa isyarat.

Para penyandang tunarungu, yang terisolasi dari orang lain, tidak dapat memperkaya bahasa isyarat mereka dan harus puas dengan gerakan-gerakan sederhana. Tanpa pendidikan, mereka dianggap sebagai orang yang bodoh.

Sejak abad ke-16 dan seterusnya, pelukis tunarungu seperti Navarette dan Pinturicchio mulai diakui. Di Spanyol, berkat kerja para tutor seperti Pedro Ponce de Leon, anak-anak tunarungu dari keluarga bangsawan memiliki akses ke pendidikan, khususnya melalui alfabet manual (l’alphabet manuel notamment).  Juan de Pablo Bonet (1573-1633), seorang pendeta Spanyol, merupakan salah seorang pelopor pendidikan bahasa lisan untuk tunarungu dan penulis buku panduan terapi bercakap dan fonetik pertama di Eropa.

Pada tahun 1760, di Perancis, Charles-Michel de l’Épée, yang kerap dipanggil sebagai Abbé del’Épée (pendeta dalam sebuah Monasteri) adalah orang non-tunarungu yang tertarik pada cara komunikasi yang digunakan oleh tunarungu.  Beliau mengamati dua anak perempuan kembar tunarungu yang berkomunikasi satu sama lain dengan isyarat. Pendeta ini menyadari  keberadaan bahasa isyarat. Dengan penuh keyakinan, pendeta ini  lalu menggunakan beberapa isyarat dari bahasa ini, serta isyarat ciptaannya sendiri, yang kemudian disebut “signes méthodiques” (isyarat metodis) yang digunakan untuk mengilustrasikan tata bahasa Perancis dalam mendidik anak-anak tunarungu. Kemudian L’Abbé de L’Epée membuka sekolah untuk tunarungu, yang kemudian menjadi Institut Nasional untuk Pemuda Tunarungu, yang sekarang dikenal sebagai Institut Saint-Jacques, di Paris. Saat ini, Abbé de l’Épée dikenal oleh komunitas tunarungu di seluruh dunia.

Pada periode yang sama, gerakan ”oraliste” (pembicara lisan) menentang penggunaan bahasa isyarat. Mereka yakin bahwa penyandang tunarungu perlu belajar berbicara agar dapat berintegrasi di dalam masyarakat. Kongres Milan (Le congrès de Milan) tahun 1880 menetapkan bahwa “metode murni oral/berbicara harus lebih diutamakan.” Beberapa alasan diberikan, pada saat itu agar kaum tunarungu tidak memakai bahasa isyarat : bahasa isyarat bukanlah bahasa yang sebenarnya sehingga tidak memungkinkan untuk berbicara dengan Tuhan, dan isyarat dapat menghambat pernapasan penyandang tunarungu, sehingga meningkatkan risiko tuberkulosis.

Keputusan Kongres Milan ini berakibat sangat buruk bagi kaum tunarungu. Selama 100 tahun, bahasa isyarat dilarang digunakan di dalam lembaga-lembaga. Guru-guru penyandang tunarungu, yang pada dasarnya  tidak dianggap perannya dan mereka dijadikan sekedar tutor, kemudian dipecat demi  memaksakan pengajaran bahasa lisan semata. Namun bahasa isyarat ini secara diam-diam tetap digunakan di asrama, di sudut-sudut lapangan bermain, dan di luar dunia pendidikan. Keadaan ini semakin meminggirkan dan meremehkan bahasa tersebut. Abad “oralisme” memiliki konsekuensi serius bagi evolusi bahasa isyarat, dan tentu saja menghambat perkembangannya.

Tokoh terkenal Seperti Victor Hugo memberi tanggapan: “Apa bedanya jika telinga tidak mendengar namun pikiran mendengar? Satu-satunya ketunarunguan, ketunarunguan sejati, ketunarunguan yang tak tersembuhkan, adalah ketunarunguan akal budi.” – Victor Hugo

Pandangan Victor Hugo ini menyimpulkan bahwa kecacatan tidak menimbulkan kebodohan.

Bahasa Isyarat Perancis adalah sebuah bahasa—bukan sistem tutur dan merupakan bahasa yang berbeda dari bahasa Perancis. LSF (Langue des signes française) merupakan bahasa tersendiri karena memiliki tata bahasanya sendiri, yang sangat berbeda dari bahasa Perancis. LSF memiliki struktur sendiri berupa penetapan waktu, kemudian tempat, subjek, dan akhirnya tindakan.

Dengan demikian, setiap bahasa isyarat seperti juga bahasa bahasa lisan yang ada, memiliki sifatnya sendiri-sendiri.

Penting untuk diketahui bahwa bahasa isyarat tidak universal.  Bahasa isyarat bukan sekadar pantomim karena bahasa ini adalah bahasa sungguhan dengan tata bahasanya sendiri. Bahasa isyarat berkembang berkat komunitas tunarungu.

Keberadaan komunikasi tunarungu tidak diketahui sejak kapan. Dengan demikian sangat sulit untuk mengatakan negara mana yang pertama yang menerima bahasa isyarat ini. Seperti kita ketahui, para penyandang tunarungu selalu menggunakan isyarat untuk berkomunikasi, di setiap negara.

Negara Perancis, berkat Abbé de l’Épée yang telah mendirikan sekolah umum gratis pertama untuk anak-anak tunarungu di Paris, dianggap sebagai negara pertama yang secara resmi menerapkan dan mengajarkan bahasa isyarat. Pendeta ini menggunakan dan mengembangkan bahasa isyarat yang digunakan oleh warga Paris yang tunarungu.

Berkat Abbé de l’Epée, kemudian, negara-negara lain menciptakan bahasa isyarat mereka sendiri (misalnya: LSF di Perancis, ASL di Amerika Serikat, SIBI- Sistem Isyarat Bahasa Indonesia, sebuah sistem isyarat yang digunakan dalam pengajaran di Sekolah Luar Biasa Tunarungu SLB/B) dan Bisindo di Indonesia).  

l’Abbé de l’Epée meninggal dalam keadaan miskin dan lemah, setelah mengorbankan dirinya demi murid-muridnya. Setelah kematiannya, murid-muridnya, l’Abbé Sicard dan Laurent Clerc, mengekspor metodenya ke Eropa dan Amerika Serikat.

Sedikit klarifikasi, seperti dinyatakan sebelumnya, Sebelum Perancis, di Spanyol, pada abad ke-17, seorang biarawan yang bernama Juan Pablo Bonet telah menulis sebuah buku tentang pendidikan tunarungu dan alfabet manual. Namun Perancis adalah negara pertama yang benar-benar menyusun dan menyebarluaskan pendidikan bahasa isyarat dalam skala besar.

Perkembangan Bahasa Isyarat di Negara Lainnya

Di Amerika Serikat,  pada awal tahun 1800-an, seorang Amerika bernama Thomas Gallaudet datang ke Perancis untuk belajar cara mengajar penyandang tunarungu. Ia kembali ke Amerika Serikat bersama seorang guru tunarungu Perancis, Laurent Clerc. Pada tahun 1817, mereka membuka sekolah pertama untuk penyandang tunarungu di Amerika Serikat. Oleh karena itu, Bahasa Isyarat Amerika (ASL) sebagian besar didasarkan pada Bahasa Isyarat Perancis (LSF) yang dikombinasikan dengan isyarat yang sudah digunakan di Amerika. Kerja sama dalam bahasa isyarat dua negara ini, membuat sampai sekarang seorang tunarungu Amerika dan seorang tunarungu Perancis dapat saling mengerti. Lain halnya antara seorang tunarungu Inggris dengan tunarungu Amerika misalnya.

Di Inggris, sekolah untuk tunarungu sudah ada sejak tahun 1700-an. Bahasa Isyarat Britania (BSL) berkembang secara terpisah. BSL sangat berbeda dari Bahasa Isyarat Perancis (LSF) dan Bahasa Isyarat Amerika (ASL).

Di belahan dunia lainnya, Banyak negara telah menciptakan bahasa isyarat mereka sendiri. Beberapa bahasa isyarat dipengaruhi oleh Perancis, dan yang lain berkembang secara independen. Di beberapa negara, bahasa isyarat baru diakui secara resmi baru-baru ini.

Penting untuk diketahui, terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat di dunia. Bahasa isyarat sama kaya dan lengkapnya dengan bahasa lisan.

Meskipun setiap negara memiliki bahasa isyaratnya sendiri, penyandang tunarungu dari berbagai negara tetap dapat berkomunikasi melalui ekspresi dan gerak-gerik tubuh yang alami. Banyak ekspresi wajah, gerak tubuh sederhana, dan tindakan mudah dipahami (makan, tidur, senang, sedih, dll.) Hal ini tentu saja sangat membantu mereka dan mempermudah mereka untuk komunikasi.

Berkat Bahasa Isyarat Internasional, terdapat suatu bentuk komunikasi yang disebut Bahasa Isyarat Internasional yang bukan merupakan bahasa resmi yang lengkap, melainkan sistem yang disederhanakan yang digunakan dalam pertemuan internasional (kongres, perjalanan, acara olahraga).

Bahasa Isyarat Internasional menggunakan:

  • isyarat yang sangat visual dan sederhana
  • gerakan yang dipahami oleh banyak budaya
  • adaptasi tergantung pada situasi

Komunikasi visual membantu penyandang tunarungu yang pada umumnya sangat terbiasa dalam hal mengamati, menyesuaikan isyarat mereka, atau menirukan gerakan jika perlu, bahkan dengan menggunakan tunarungusan atau telepon untuk membantu komunikasi visual ini. Jadi, meskipun bahasanya berbeda, mereka sering menemukan cara untuk saling memahami. Situasi ini mirip seperti dua orang yang tidak berbicara bahasa yang sama, dan mereka menggunakan isyarat, kata-kata sederhana, dan saling beradaptasi.

Sebagai contoh : saat dua orang penyandang tunarungu yang berasal dari negara yang berbeda dan tidak mengetahui bahasa isyarat yang sama, mereka memperkenalkan diri dimulai dengan isyarat sederhana dan universal, Ketika merujuk pada negara, sering kali tanda negara dikenal secara internasional. Untuk usia, mereka menunjukkan angka dengan jari mereka. Begitu pun dengan pekerjaan mereka menirukan gerakan (misalnya: mengetik di keyboard untuk mengatakan “Saya bekerja dengan komputer”). Jika mereka tidak saling mengerti, mereka dapat mengulanginya lebih perlahan, menyederhanakannya, menggambar, atau menulis di telepon.

Keberhasilan komunikasi antarbangsa ini berhasil karena bahasa isyarat sangat visual. Kita  dapat dengan mudah beradaptasi, menirukan gerakan, dan menjelaskan dengan tubuh kita (bahasa tubuh).

Hal yang paling sulit ketika dua penyandang tunarungu dari negara yang berbeda berkomunikasi adalah pembicaraan yang sifatnya abstrak. Hal-hal konkret (makan, tidur, rumah) mudah diperagakan dengan gerakan tubuh tetapi, pembicaraan tentang politik, filsafat, emosi yang kompleks, atau humor/candaan lebih rumit dan jauh lebih sulit untuk dimengerti.

Mengapa tidak menciptakan bahasa isyarat universal bagi tunarungu di dunia?

Gagasan ini sangat masuk akal tetapi pada kenyataannya  sangat rumit dikerjakan. Bahasa tidak mudah ”dibuat”. Bahasa lahir secara alami dalam suatu komunitas. Bahasa berkembang seiring dengan budaya, sejarah, dan  keadaan masyarakat pengguna bahasa tersebut.

Bahasa sangat terkait dengan identitas dari komunitas pemakainya. Bahasa isyarat adalah bagian dari identitas budaya kaum tunarungu. Kalau beralih ke bahasa universal, hal ini dapat menghapus budaya dan sejarah. Hal terpenting yang perlu diingat adalah: ketunarunguan bukan hanya masalah medis, melainkan juga sebuah komunitas dengan identitas dan bahasanya sendiri.

Jika Anda pernah bertemu dengan penyandang tunarungu, senyuman sederhana, isyarat, atau menulis di telepon dapat menciptakan hubungan yang indah.

Di Perancis, ada beberapa cara bagi anak-anak tunarungu untuk bersekolah; tergantung kebutuhan mereka, keluarga mereka, dan tingkat pendengaran mereka. Banyak anak tunarungu bersekolah di sekolah umum (bersama anak-anak yang mendengar) dengan didampingi seorang asisten pengajar untuk siswa penyandang disabilitas (AESH), penerjemah bahasa isyarat, atau dilengkapi peralatan yang disesuaikan (mikrofon khusus, sistem FM, materi tertunarungus, dll.)

Anak-anak tunarungu ini mengikuti kurikulum yang sama dengan anak-anak lainnya yang memiliki pendengaran yang baik.

Penggunaan atau penempatan atau kecocokan yang dibutuhkan seorang siswa tunarungu ditentukan oleh pilihan orang tua  dengan bantuan MDPH /Maison Départementale des Personnes Handicapées (Pusat Departemen untuk Penyandang Disabilitas) dan tim pendidikan khusus.

Di tahun 1980-an, komunitas yang disebut komunitas Tunarungu bangkit « réveil Sourd ».

Bahasa isyarat mulai menaik kembali gengsinya dengan adanya  ahli bahasa William Stokoe, yang mempelajari bahasa isyarat  sebagai bahasa sejati. Para peneliti di bidang linguistik dan sosiologi, seperti Christian Cuxac dan Bernard Mottez, melanjutkan upaya ini dengan mengutamakan budaya tunarungu dan hal-hal yang terkait dengan ketunarunguan. Lebih jauh lagi, kegiatan kebudayaan untuk tunarungu disodorkan oleh Jean Gremion (penulis, jurnalis, dan sutradara) dan Alfredo Corrado (seniman penyandang tunarungu dari Amerika). Pada tahun 1976, mereka mendirikan Teater Visual Internasional/l’International Visual Theatre (IVT). Sejak saat itu, mereka berupaya menilai kembali bahasa isyarat. Bersamaan dengan itu, pendidikan bagi siswa tunarungu mulai dipikirkan. Gagasan pendekatan dwibahasa Bahasa Isyarat Perancis (LSF) mulai digalakkan.

Pada tahun 1980, asosiasi “2 Bahasa untuk Pendidikan/ 2LPE” didirikan.

Pada tahun 1988, Pusat 2LPE ( 2 Langues pour une éducation) Ouest (barat), di Poitiers, berusaha mendirikan kelas bilingual (dua bahasa), mempromosikan dan mengakui bahasa isyarat sebagai bahasa yang berdiri sendiri, dalam konteks legislatif dan sosiologis dengan susah payah.

Pada tahun 1990-an, kaum tunarungu dan Bahasa Isyarat Perancis (LSF) mulai diterima masyarakat umum. Film, drama, dan komitmen beberapa asosiasi untuk meningkatkan kesadaran akan budaya tunarungu mengakibatkan pengakuan yang meningkat mengenai hak-hak kaum tunarungu. Pada tahun 1993, artis tunarungu Emmanuelle Laborit menerima Penghargaan Molière dalam bidang teater. Pada tahun yang sama, film dokumenter Nicolas Philibert “The Land of the Deaf/ Le Pays des sourds” membeberkan dunia tunarungu, yang sama sekali tidak dikenal oleh orang-orang yang mendengar.

Pada tahun 2014, ditayangkan film La Famille Bélier dengan Anne Peichert, yang dikenal sebagai Louane adalah seorang penyanyi, musisi, dan aktris Perancis. Ia memenangkan pada tahun 2013 di acara pencarian bakat televisi The Voice: La Plus Belle Voix, dan kemudian menjadi tenar pada tahun 2014 berkat peran utama pertamanya dalam film La Famille Bélier, yang membuatnya memenangkan Penghargaan César untuk Aktris Paling Berbakat pada tahun 2015. Louane mempelajari bahasa isyarat selama beberapa bulan untuk berperan dalam film “La Famille Bélier” ini.

Film ini menceritakan di keluarga Bélier, semua penyandang tunarungu kecuali Paula yang berusia 16 tahun, penerjemah bagi orang tuanya. Berbakat dalam bernyanyi dan didukung oleh guru musiknya, ia mempersiapkan diri untuk sebuah kompetisi bergengsi.

Bagaimana seorang artis dapat mempelajari bahasa isyarat dengan relatif cepat? karena guru dan profesi penerjemah Bahasa Isyarat Perancis (LSF)/Bahasa Perancis menjadi lebih profesional dan diresmikan dengan diberikannya ijazah atas kemampuan ini. Salah satu kemudahan ini yang memungkinkan seorang artis tak mengenal tunarungu bisa memerankan dan menggunakan bahasa isyarat dalam film yang sangat kompleks.

Di Januari 1991, Undang-Undang Fabius diperbaiki: “Dalam pendidikan anak-anak tunarungu, kebebasan untuk memilih antara komunikasi bilingual – bahasa isyarat dan bahasa Perancis – dan komunikasi lisan diakui sebagai hak.” Pandangan terhadap bahasa isyarat secara bertahap berubah. Perjuangan yang dilakukan selama 25 tahun untuk pengakuan bahasa isyarat mulai membuahkan hasil: Undang-Undang tanggal 11 Februari 2005 mengakui LSF sebagai “bahasa yang berdiri sendiri.

Pada Februari 2005, setelah lebih dari 120 tahun tidak terlihat, Bahasa Isyarat Perancis diakui sebagai bahasa tersendiri. Namun perlu dicatat bahwa, tidak seperti Finlandia, Portugal, dan Spanyol, Perancis belum mengakui bahasa isyarat LSF dalam hukum konstitusional.

Pada tahun 2008, Bahasa Isyarat Perancis (LSF) menjadi pilihan untuk ujian Baccalaureate (setara dengan SMA), seperti bahasa lainnya.

Pada tahun 2010, CAPES (sertifikasi pengajaran kompetitif) dalam LSF diadakan untuk guru tunarungu.

Terlepas dari semua kemajuan ini, posisi kaum tunarungu dalam masyarakat tetap sulit untuk bisa dibilang memuaskan: Dalam sistem sekolah, hanya 5% anak-anak tunarungu menerima pengajaran Bahasa Isyarat. Perancis hanya memiliki 13 kelas yang memungkinkan anak-anak tunarungu untuk melanjutkan pendidikan mereka dalam LSF dari taman kanak-kanak (prasekolah) hingga kelas lima, serta hanya terdapat 4 sekolah menengah pertama dan 4 sekolah menengah atas yang memberi pelajaran bahasa isyarat ini.

Di Perancis, 7 juta orang mengalami ketunarunguan atau gangguan pendengaran. Dengan demikian, lebih dari satu dari sepuluh warga Perancis, yang bisa menjadi korban atau saksi keadaan darurat. Namun bagi mereka, menghubungi layanan darurat secara langsung (15, 17, 18 atau 112) sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan.

Untuk mengatasi kurangnya aksesibilitas ini dan mencegah hilangnya kesempatan untuk bisa diselamatkan ketika ada bahaya, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri meluncurkan nomor darurat tunggal pada tahun 2011: 114. Nomor ini dioperasikan oleh Rumah Sakit Universitas Grenoble-Alpes. Layanan darurat publik gratis ini tersedia 24 jam dan dikhususkan untuk orang-orang tunarungu, tunanetra, gangguan pendengaran, dan afasia  (buta tunarungu) yang berada  dalam kesulitan. Layanan ini memungkinkan mereka untuk menghubungi layanan darurat terdekat menggunakan sistem percakapan lengkap (video, teks, suara, gambar). Mereka dapat menggunakan aplikasi “Urgence 114”, situs web www.urgence114.fr, atau SMS.

Akses yang mulai diluncurkan bulan Maret 2025 ini adalah kesempatan untuk mengingatkan mereka yang tersangkut dan orang-orang yang peduli akan kecacatan bahwa adanya layanan darurat ini dapat menyelamatkan nyawa mereka dalam upaya tindakan pencegahan risiko.

Kesimpulannya bahwa sama halnya dengan deskripsi audio atau takarir dalam film, Bahasa Isyarat Perancis (LSF) adalah alat dan sarana penting bagi setiap orang untuk mengakses kehidupan budaya negara mereka. Oleh karena itu, LSF merupakan sarana bagi semua orang untuk memiliki akses yang sama seperti warga negara yang dapat mendengar.

Walaupun jerih payah ini,  hingga saat ini, hanya 4% penyandang Tunarungu di Perancis yang mampu akses ke pendidikan tinggi, dan 50% menganggur saat dewasa. 

Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) diterapkan sebagai alat komunikasi  di Indonesia. Bahasa isyarat BISINDO tumbuh secara alami di kalangan komunitas tunarungu. BISINDO menjadi salah satu dari 100 bahasa isyarat tumbuh secara alami di kalangan masyarakat tunarungu. SIBI adalah Bahasa isyarat yang dikembangkan pemerintah Indonesia dan menjadi Bahasa isyarat yang digunakan untuk pengajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB). SIBI dibuat oleh orang yang bisa mendengar sedang BISINDO berkembang di tengah masyarakat tunarungu.  

Meski ada perbedaan dalam penggunaannya, dan asal usulnya,  SIBI dan BISINDO memiliki tujuan yang tak berbeda, yaitu merupakan alat komunikasi untuk memudahkan kontak antara tunarungu  dan juga dengan orang yang bisa mendengar.

Sumber : https://www.signesetformations.com/

LEKSIKON

Alfabet manual : Alfabet manual Prancis adalah alfabet yang digunakan untuk Bahasa Isyarat Prancis (LSF), baik untuk membedakan kata-kata LSF maupun untuk mengisyaratkan kata-kata Perancis dalam LSF. Alfabet ini memiliki huruf-huruf yang sebagian besar mirip dengan huruf-huruf alfabet manual Amerika.

Abbé : Kepala suatu biara

Signes méthodiques: Isyarat metodis diciptakan oleh Abbé de l’Épée dengan bantuan para biarawati tunarungu pada tahun 1760. Bahasa ini bukanlah bahasa isyarat, melainkan mengkodekan gestur dari bahasa Perancis yang bertujuan untuk mengajarkan bahasa Perancis kepada anak-anak tunarungu.

CAPES adalah Sertifikat mengajar di pendidikan menengah (yang singkatan umumnya, CAPES yang diberikan pada orang-orang yang berhasil melewati kompetisi / Ujian nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Perancis (le ministère l’Éducation nationale français). 

Kongres Milan/Le Congrès de Milan

Kongres MIlan adalah kongres ke-3 untuk memperbaiki nasib para tunarungu. Kongres pertama  berlangsung di Paris, selama Pameran Dunia (Universal) tahun 1878 dan kongres kedua diadakan di Lyon pada tahun 1879, Kongres Milan dihadiri ahli dalam pengajaran tunarungu, yang dihadiri banyaknya oleh para ahli Italia (kongres berlangsung di Italia) dan orang Perancis, sedangkan perwakilan internasional lainnya yang jumlahnya sangat minoritas (Jerman, Swiss, Inggris, Skandinavia dan Amerika).

Yang lebih memprihatinkan adalah, dari lebih dari 255 peserta, hanya tiga orang tunarungu yang hadir, dua di antaranya adalah tunarungu berbahasa Perancis. Tidak ada penerjemah yang disediakan untuk mereka, meskipun diskusi tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, Jerman, Inggris, dan Perancis.

Kongres Milan adalah kongres internasional yang ketiga untuk peningkatan kesejahteraan kaum tunarungu, berlangsung di Milan dari tanggal 6 hingga 11 September 1880. Meskipun tidak memiliki kekuatan mengikat, kongres ini menyebabkan penerapan metode pengajaran lisan di Eropa, yang merugikan bahasa isyarat. Hanya negara-negara Anglo-Saxon yang terus mempertahankan bahasa isyarat.

AESH

Accompagnant des élèves en situation de handicap (AESH)

Staf Pendukung untuk Siswa Penyandang Disabilitas (AESH)

Staf pendukung memberikan bantuan kepada siswa penyandang disabilitas. Di bawah pengawasan pedagogis guru, peran mereka adalah untuk mendorong kemandirian siswa, tanpa menggantikan siswa jika memungkinkan.

Staf pendukung untuk siswa penyandang disabilitas (AESH) adalah pegawai yang bertanggung jawab untuk memberikan dukungan manusiawi. Misi mereka adalah untuk mendorong kemandirian siswa penyandang disabilitas, baik mereka memberikan pertolongan secara perorangan (privat), maupun pertolongan yang ditawarkan asuransi kesehatan, ataupun  pertolongan  secara berkelompok/ disatukan.

MDPH /Maison Départementale des Personnes Handicapées

Pusat Departemen untuk Penyandang Disabilitas (MDPH) adalah kantor yang memudahkan akses untuk meraih hak dan manfaat bagi penyandang disabilitas/ cacat (baik anak-anak maupun orang dewasa). MDPH menjalankan beberapa misi, seperti: menyambut, memberi informasi, mendukung, dan memberi nasihat kepada penyandang disabilitas dan keluarga mereka, memastikan pengorganisasian dan pengoperasian tim penilaian multidisiplin,  membantu dalam pengembangan rencana hidup penyandang disabilitas,  meningkatkan kesadaran tentang disabilitas pada semua orang, menyelenggarakan kegiatan koordinasi dengan layanan kesehatan dan sosial lainnya.

Teater Visual Internasional/l’International Visual Theatre (IVT)

IVT – International Visual Theatre adalah rumah budaya untuk budaya tunarungu, didirikan oleh Jean Grémion dan Alfredo Corrado.  Di IVT Rumah budaya terdapat tiga kegiatan: teater, pusat pelatihan dan penerbitan, yang terhubung dalam misi bersama transmisi dan penyebaran Bahasa Isyarat Perancis (LSF) dan budayanya.

Integrasi teater dengan pengajaran Bahasa Isyarat Perancis (LSF) memungkinkan penghargaan terhadap ragam bahasa yang berbeda dengan menyediakan materi kerja dan pedagogi yang unik. Bersama dengan Tyst Teater (sv) di Swedia, Teater Nasional Tuna Rungu di Amerika Serikat, dan Teater Manu  di Norwegia, IVT merupakan pusat di Perancis untuk penyebaran dan penciptaan teater bahasa isyarat, pertunjukan visual dan fisik (tubuh).

Pada tahun 1977, International Visual Theatre, perusahaan teater pertama untuk aktor tunarungu, berkat kolaborasi Perancis-Amerika dengan International Theatre Institute didirikan. Mereka merekrut Bill Moody, seorang penerjemah ASL berbahasa Inggris dan pendiri Chicago Deaf Theatre, yang menjadi penerjemah pertama IVT. Pembentukan IVT bertepatan dengan kebangkitan gerakan tunarungu melalui teater.