Magdalena Rojas Lynch, memberikan materi dalam acara Workshop Public Speaking untuk Pimpinan Akademik UPI (Foto: DN/ KKIPP 2025)

Bandung, UPI — Guna meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa internasional bagi civitas akademik dan unsur pipinan akademik serta dalam rangka kegiatan Linguasphere 2025 dan peringatan Bulan Bahasa, Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Workshop Public Speaking untuk Pimpinan Akademik UPI dengan tema Speak to Inspire: Public Speaking for Academic Leaders, Senin (27/10), di Gedung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI, Bandung.

Kegiatan ini diikuti oleh para pimpinan di lingkungan UPI, dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi profesional saat berinteraksi dengan tamu maupun mitra dari luar negeri. Workshop menghadirkan narasumber internasional Magdalena Rojas Lynch, seorang fellow dari Regional English Language Office (RELO), Amerika Serikat, yang berkolaborasi dengan Balai Bahasa UPI.

Kepala Balai Bahasa UPI, Prof. Ika Lestari Damayanti, S.Pd., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara UPI dan RELO dalam meningkatkan kapasitas komunikasi akademik internasional para pimpinan universitas.

Kepala Balai Bahasa UPI, Prof. Ika Lestari Damayanti, S.Pd., M.A., Ph.D., (Foto: DN/ KKIPP 2025)

“Pesertanya adalah para pimpinan di UPI. Tujuannya agar mereka lebih percaya diri ketika memberikan presentasi atau berinteraksi dengan tamu-tamu dari luar, terutama yang berskala internasional,” ujar Prof. Ika.

Ia menambahkan, meskipun Balai Bahasa UPI telah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan dalam rangka International Language Day dan Bulan Bahasa, namun workshop public speaking khusus untuk para pemimpin akademik baru pertama kali diadakan tahun ini.

“Sebelumnya kami rutin menggelar seminar dan kegiatan kebahasaan. Tapi untuk workshop public speaking yang dikhususkan bagi para-academic leaders, baru sekarang. Kami merasa ini saat yang tepat karena kami mendapatkan dukungan dari RELO dan kehadiran fellow Magdalena Rojas Lynch yang bersedia membantu kami,” jelasnya.

Prof. Ika menilai bahwa kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Melalui metode pelatihan yang aplikatif, para pimpinan diberikan contoh praktik langsung oleh pemateri, kemudian melakukan simulasi, dan memperoleh umpan balik secara personal.

“Respon peserta sangat baik. Dengan sistem workshop seperti ini, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung berlatih dan mendapat feedback dari pemateri. Saya yakin kegiatan ini akan berdampak positif terhadap peningkatan kepercayaan diri para peserta,” ungkapnya.

Menurutnya, sebagian besar peserta sudah memiliki dasar kemampuan bahasa Inggris yang baik. Namun melalui pelatihan ini, kemampuan komunikasi mereka akan semakin meningkat, khususnya dalam konteks interaksi akademik internasional.

“Sebenarnya mereka sudah punya dasar yang kuat dalam berbahasa Inggris, hanya perlu lebih percaya diri. Feedback dari native speaker tentu sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri itu,” tambah Prof. Ika.

Lebih lanjut, Prof. Ika mengungkapkan bahwa sesi public speaking ini direncanakan menjadi program reguler Balai Bahasa UPI karena banyak permohonan dari kalangan pimpinan dan pejabat di lingkungan UPI yang tertarik mengikuti kelas serupa secara berkala.

“Harapan saya, sesi public speaking ini akan menjadi program reguler Balai Bahasa. Sudah banyak pimpinan dan pejabat UPI yang menyampaikan keinginan untuk mengikuti kursus seperti ini. Jadi, kegiatan hari ini bisa menjadi awal untuk membuka kelas public speaking di UPI,” katanya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UPI memperkuat kapasitas komunikasi global civitas akademika, sekaligus mendukung Program “Kampus Berdampak” yang menekankan peningkatan kompetensi dan kesiapan universitas menghadapi tantangan internasionalisasi pendidikan tinggi.

Melalui workshop public speaking ini, UPI melalui Balai Bahasa menegaskan perannya sebagai universitas pelopor yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga adaptif terhadap dinamika global. Kemampuan komunikasi efektif dan berkelas dunia menjadi modal penting dalam membangun jejaring internasional dan memperluas kolaborasi lintas negara.

“Melalui kegiatan ini, kita belajar bahwa bahasa bukan sekadar kata, tetapi kekuatan yang mampu menyatukan dunia,” tutup Prof. Ika. Rk (10/25)