Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Pepatah lama Afrika masih lantang terucap, “It takes a village to raise a child”. Butuh warga sekampung, untuk mendidik seorang anak.

Di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dari dulu juga sudah mewanti-wanti hal senada lewat “Tri Pusat Pendidikan”.  Pendidikan itu ‘gawean keroyokan’ antara rumah, sekolah, dan lingkungan. Pendidikan tidak pernah bisa berdiri sendiri di dalam ruang kelas yang terisolasi, melainkan butuh ekosistem yang saling menguatkan demi membentuk karakter dan kecerdasan anak secara utuh.

Saat ini, ada kecenderungan banyak masyarakat yang keburu “lepas tangan”. Begitu anak berseragam, sekolah dianggap bengkel ajaib. Anak diserahkan pagi hari, berharap sorenya langsung keluar jadi malaikat yang pintar matematika, paham adab, dan tahan banting. Padahal guru cuma mendidik anak beberapa jam sehari. Sisanya? Ya diserahkan ke “sekolah sore dan malam” bernama algoritma TikTok, obrolan tongkrongan, dan konten medsos yang kerap kali jauh berlangsung sampai larut malam.

Beberapa dasawarasa lalu, modal sosial berupa gotong royong itu nyata. Ada tetangga yang berani menegur kalau kita main keluyuran lewat magrib, atau tokoh Masyarakat dan pemuka agama yang membimbing anak anak mengajdi di surau tua. Sekarang? Jangankan menegur anak tetangga, mau mengingatkan anak sendiri yang asyik main game sampai malam, banyak orangtua yang kurang peduli.

Di era abad 21, mendidik anak zaman sekarang tidak cukup hanya mengandalkan dinding kelas dan buku paket, atau pun belajar dalam jaringan. Pendidikan saat ini, sangat memerlukan ekosistem. Sebuah pendidikan untuk semesta, dengan melibatkan banyak pihak.  Konsep ekosistem ini melampaui batas fisik kampung tradisional. Alam, laut, pasar, tempat kerja, hingga ruang siber adalah kampus nyatanya. Sektor swasta jangan cuma pamer program CSR demi foto liputan. Masyarakat jangan cuma jago mengkritik tanpa memberi solusi atau keteladanan. Mendidik itu investasi keroyokan. Menyiagakan lingkungan untuk mendidik anak bukan lagi sekadar nostalgia budaya. Mendidik anak dengan berpijak pada kearifan lokal patut dipandang sebagai upaya survive di era modern.

Pepatah lama Afrika “it takes a village to raise a child” dan gagasan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sama-sama mengingatkan kita bahwa mendidik anak bukanlah tugas tunggal sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Di tengah gempuran arus modernisasi dan ruang siber, kita tidak bisa lagi lepas tangan atau sekadar bernostalgia dengan modal sosial masa lalu. Membangun ekosistem pendidikan yang berlandaskan kolaborasi nyata antara keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah kunci mutlak agar generasi muda tumbuh dengan karakter kuat, cerdas, serta siap menghadapi tantangan zaman.

Menyiagakan “satu desa” untuk mendidik anak bukan lagi sekadar nostalgia budaya, melainkan syarat mutlak untuk bertahan di era modern. Pendidikan adalah kerja panjang yang tak bisa dilakukan secara instan atau diserahkan ke satu pihak semata. Ketika keluarga kembali menjadi benteng moral, sekolah menjadi ruang cerna ilmu, dan masyarakat menyediakan ekosistem yang sehat, di situlah gerakan semesta menemukan bentuk aslinya.

Generasi emas tidak akan pernah lahir dari masyarakat yang apatis; ia hanya tumbuh di tanah tempat semua orang rela bahu-membahu menanam kebaikan.