Cinefuture 2024 yang berlangsung pada 9-13 Desember 2024 menjadi saksi lahirnya inovasi seni yang menggugah dari Universitas Pendidikan Indonesia (13/12/2024). Studio Animasi Prodi Film dan Televisi FPSD UPI berhasil mencuri perhatian melalui karya-karya yang dihasilkan melalui meja akademik berbasis riset intermedia animasi merespon tema besar cinefuture tentang Tubuh Sinema, kebanyakan Karya yang dihasilkan menghadirkan wahana interaktif yang melibatkan tubuh manusia sebagai medium eksplorasi emosi melalui teknologi animasi.


Wahana interaktif yang dihadirkan dalam pameran ini memungkinkan pengunjung merasakan pengalaman unik di mana tubuh dan emosi menjadi bagian integral dari seni. Melalui medium animasi yang interaktif, pengunjung diajak untuk mengekspresikan berbagai emosi – seperti teriakan, kesedihan, dan kekesalan – yang kemudian diolah secara langsung menjadi visual animasi dinamis. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan pengalaman artistik yang personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana seni animasi dapat menjadi medium refleksi emosional.
Menurut Fuji Nugraha salah satu mahasiswa studio animasi Prodi Film dan Televisi UPI, karya ini lahir dari riset mendalam tentang intermedia animasi, pendekatan design thinking, dan pengujian pasca karya tercipta. Tujuan utama dari proyek ini adalah mengeksplorasi bagaimana tubuh manusia dapat menjadi sumber utama penciptaan seni, dengan animasi sebagai perantara yang menyuarakan emosi yang terpendam.




“Saya ingin menciptakan seni yang tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi juga melibatkan pengunjung secara fisik dan emosional. Dalam karya ini, tubuh manusia bukan hanya objek, tetapi subjek aktif yang berinteraksi langsung dengan seni. Teriakan, kesedihan, dan kekesalan adalah ekspresi universal yang mampu menyentuh siapa saja,” ucap Fuji Nugraha.

Karya ini memanfaatkan teknologi sensor suara untuk menangkap ekspresi dan perasaan pengunjung. Data yang terkumpul kemudian diterjemahkan menjadi visual animasi yang bergerak dan berubah sesuai intensitas dan jenis emosi yang disampaikan. Proses ini menciptakan dialog langsung antara tubuh, teknologi, dan seni, menghadirkan pengalaman yang unik bagi setiap individu.
Banyak dari mereka mengungkapkan bahwa pengalaman ini memberikan perspektif baru tentang seni dan emosi. Salah satu pengunjung, Adiw menyebut bahwa karya ini berhasil mengajaknya merenungkan kembali cara tubuh dan emosi saling berhubungan.
“Saya merasa seperti menjadi bagian dari karya seni itu sendiri. Ketika saya berteriak atau bergerak, saya melihat bagaimana tubuh saya diterjemahkan ke dalam animasi. Rasanya sangat personal dan menggugah emosi saya,” ujar Adiw.
Dosen pengampu mata kuliah intermedia animasi Salsa Solli Nafsika menuturkan “Keberhasilan karya ini menunjukkan bahwa animasi tidak hanya terbatas pada media hiburan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai medium eksplorasi artistik yang melibatkan emosi dan interaksi langsung. Dalam konteks seni intermedia, animasi mampu melampaui batas-batas visual statis dan menjadi alat komunikasi yang dinamis.” Pungkasnya.
Karya berbasis riset intermedia animasi dari Prodi Film dan Televisi UPI ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang bagi pengunjung untuk merenungkan hubungan antara tubuh, emosi, dan seni. Melalui pendekatan yang interaktif dan inovatif, karya ini menjadi salah satu sorotan utama di Cinefuture 2024 (Salsa Solli Nafsika/Dosen Prodi FTV FPSD UPI/Kontributor Humas UPI)

