
Bandung, UPI
Menempuh pendidikan di negara dengan bahasa dan sistem pendidikan yang berbeda menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa internasional. Bagi Kwaku Senam Agbetosu, mahasiswa asal Togo, Afrika Barat, perjalanan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi, tetapi juga pengalaman beradaptasi, membangun pertemanan, dan menemukan dukungan di lingkungan kampus.
Kwaku, yang menyelesaikan studi pada Program Studi Manajemen, Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) UPI, mengungkapkan bahwa keputusannya memilih UPI berawal dari rekomendasi anggota keluarga dekat yang sebelumnya pernah menempuh pendidikan di kampus tersebut.
“Sebenarnya, ada anggota keluarga dekat saya yang pernah berkuliah di sini. Mereka merekomendasikan UPI sebagai institusi pendidikan yang baik,” ungkapnya.
Selama menjalani perkuliahan, Kwaku merasakan pengalaman yang positif, terutama karena adanya bantuan dari dosen dan teman-teman ketika menghadapi kesulitan. Salah satu tantangan yang paling dirasakannya adalah hambatan bahasa, yang terkadang membuat proses belajar dan komunikasi menjadi lebih sulit.
Meski demikian, ia mengaku tidak merasa harus menghadapi berbagai persoalan tersebut seorang diri. Dukungan dari lingkungan kampus membantunya melewati tantangan selama menjalani pendidikan di Indonesia.
“Pengalaman saya sangat menyenangkan. Bahkan, pengalaman itu benar-benar baik karena di sini saya mendapatkan bantuan untuk berbagai kebutuhan. Meskipun terkadang sulit, misalnya karena hambatan bahasa, para dosen dan teman sekelas selalu berusaha membantu. Dengan begitu, saya tidak pernah benar-benar sendirian ketika menghadapi masalah,” tuturnya.
Selain bahasa, perbedaan sistem pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri bagi Kwaku. Ia menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan tinggi yang dijumpainya di Indonesia lebih menekankan penelitian, sehingga dirinya perlu menyesuaikan diri dengan pola pikir dan proses akademik yang berbeda dari pengalaman pendidikan di negara asalnya.
“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah perubahan sistem. Pendidikan tinggi di sini lebih banyak berfokus pada penelitian. Di negara asal saya, untuk menyelesaikan jenjang sarjana maupun magister, mahasiswa membuat dan menulis laporan. Sementara itu, di sini prosesnya lebih berfokus pada penelitian. Karena itu, menyesuaikan diri dengan pola pikir penelitian menjadi kesulitan terbesar bagi saya,” jelasnya.
Di tengah proses adaptasi tersebut, hubungan sosial menjadi salah satu faktor yang membantu Kwaku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional. Ia mengaku memperoleh banyak bantuan dari teman-teman lokal dan International Student Association (ISA), komunitas yang menurutnya menjadi sumber dukungan penting bagi mahasiswa internasional di UPI.
Kedekatan dengan teman-teman tersebut turut membantunya mengenal kehidupan mahasiswa di Indonesia. Ia juga merasa dapat beradaptasi dengan budaya setempat, termasuk makanan, karena menurutnya terdapat sejumlah kesamaan dengan budaya di Togo yang sama-sama berada di wilayah tropis.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama berkuliah di FPEB UPI adalah kesempatan mengikuti kegiatan mengajar sukarela. Bersama teman-temannya, Kwaku berkesempatan mengajar anak-anak, mulai dari tingkat prasekolah hingga sekolah menengah pertama. Di antara pengalaman tersebut, mengajar siswa sekolah menengah pertama menjadi kegiatan yang paling ia sukai.

“Kenangan favorit saya di sini sebagian besar adalah kegiatan mengajar bersama teman-teman. Terkadang, kami mendapat kesempatan untuk mengajar secara sukarela, dan pengalaman itu sangat menyenangkan. Saya sangat menyukai pengalaman berbicara dalam bahasa Inggris dengan anak-anak sekolah menengah pertama. Kemampuan bahasa Inggris mereka cukup baik, dan melihat hal itu menjadi pengalaman yang sangat memotivasi sekaligus menyenangkan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kwaku selama menempuh pendidikan di UPI. Di luar kegiatan akademik, kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat dan berkontribusi melalui kegiatan sukarela memberinya pengalaman yang berharga.
Pada momen wisuda, Kwaku mengaku merasakan pengalaman yang berkesan meskipun rangkaian acara dan persiapannya cukup melelahkan. Ia menilai pelaksanaan wisuda berlangsung megah dan memberikan perhatian kepada para wisudawan, bahkan ketika jumlah peserta cukup banyak.
“Pengalaman wisudanya menyenangkan dan megah. Saya merasa setiap mahasiswa mendapatkan perhatian yang baik, meskipun jumlah kami sangat banyak. Saya tetap merasakan adanya perhatian dan kepedulian kepada para wisudawan,” ungkapnya.
Di balik pencapaian tersebut, Kwaku menyebut kedua orang tuanya di Togo sebagai sumber dukungan terbesarnya. Komunikasi rutin melalui panggilan telepon setiap pekan menjadi cara mereka untuk saling bertukar kabar dan memastikan kondisinya selama berada di Indonesia. Selain keluarga, teman-teman dekat yang dikenalnya melalui ISA juga menjadi bagian penting dari sistem dukungan selama menjalani studi.
Bagi mahasiswa internasional yang ingin menempuh pendidikan di UPI, Kwaku menyarankan agar mereka mulai mempelajari bahasa Indonesia, setidaknya untuk percakapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemampuan menggunakan ungkapan dasar seperti salam, permisi, maaf, dan terima kasih, serta memahami angka dan harga, dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Ia juga mendorong mahasiswa internasional untuk menjalin hubungan dengan ISA dan tidak ragu berkomunikasi dengan dosen maupun pihak program studi dan fakultas ketika menghadapi kendala.
“Berbicaralah dengan dosen, program studi, maupun fakultas jika ada kebutuhan yang belum terpenuhi atau masalah yang sedang dihadapi. Mereka sangat memahami kondisi mahasiswa. Jadi, jangan takut terhadap reaksi mereka. Jika ada masalah, mereka akan mendengarkan dan membantu mencari jalan keluarnya,” pesannya.
Setelah lulus, Kwaku berencana mencari pekerjaan sebagai langkah berikutnya. Ia mengakui bahwa mencari pekerjaan di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, sehingga peluang tersebut masih akan dipertimbangkan. Apabila memiliki sumber daya yang cukup pada masa mendatang, ia juga membuka kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.
Perjalanan Kwaku dari Togo hingga menyelesaikan studi di UPI memperlihatkan bahwa pengalaman belajar di lingkungan internasional tidak terlepas dari tantangan adaptasi. Namun, dukungan keluarga, pertemanan, komunitas mahasiswa internasional, serta komunikasi dengan sivitas akademika menjadi bagian penting yang membantunya melewati proses tersebut.
Kisahnya sekaligus memberikan gambaran tentang arti lingkungan kampus yang suportif bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang: bukan hanya menyediakan ruang untuk belajar, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun relasi, berkontribusi kepada masyarakat, dan tumbuh melalui pengalaman lintas budaya. (Varrel & Fauzan Sp/Caraka Muda)

