Bandung, UPI

Dewan Guru Besar menggelar kegiatan Wicara Dewan Guru Besar yang menyoroti peran strategis profesor sebagai academic leader dalam penguatan kepemimpinan, tanggung jawab, serta tata kelola universitas. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai kontribusi Guru Besar dalam menjawab tantangan akademik dan sosial di perguruan tinggi yang dilaksanakan di Auditorium FPBS Lt. 4 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (14/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi M.A menyampaikan bahwa peran Guru Besar tidak dapat dibatasi hanya pada publikasi ilmiah dan riset semata. Lebih dari itu, profesor dituntut hadir sebagai figur teladan yang mampu mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian sosial.

“Guru Besar memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Selain peran akademik dan sosial, Guru Besar juga memiliki posisi penting dalam tata kelola universitas. Keterlibatan mereka tersebar di berbagai unsur strategis, mulai dari Dewan Guru Besar, Senat Akademik, Majelis Wali Amanat, hingga jajaran pimpinan universitas. Kondisi ini diharapkan mampu memperkuat kualitas kebijakan dan arah pengembangan institusi ke depan.

Masukan dari para Guru Besar, baik yang disampaikan secara formal maupun informal, dinilai sangat penting dalam merespons isu-isu aktual yang berkembang di tengah masyarakat. Rekomendasi tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi pimpinan universitas dalam merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif dan tepat sasaran.

Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof. Dadang Sunendar, menegaskan bahwa peran guru besar tidak dapat dibatasi hanya pada capaian publikasi ilmiah dan penelitian bereputasi. Menurutnya, guru besar memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas sebagai teladan dan pemimpin di lingkungan akademik maupun masyarakat.

“Peran guru besar bukan hanya menjadi peneliti dan melahirkan jurnal-jurnal bereputasi, tetapi lebih dari itu harus menjadi teladan serta pemimpin yang baik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah guru besar secara nasional yang masih relatif kecil sekitar 3 persen dari total dosen di Indonesia membuat posisi mereka sangat strategis dalam menentukan arah kemajuan pendidikan nasional. Harapan masyarakat dan negara terhadap para guru besar pun sangat besar karena kualitas peradaban bangsa salah satunya ditentukan oleh mutu pendidikan.

Prof. Dadang berharap hasil diskusi ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diterapkan secara konkret oleh seluruh guru besar di Indonesia, khususnya di lingkungan UPI.

“Harapannya, apa yang disampaikan dalam forum ini dapat diterapkan dan didiseminasikan oleh kita semua, sehingga para guru besar memberikan kontribusi besar sesuai amanat undang-undang dan cita-cita pendidikan nasional,” tambahnya.

Selain membahas dimensi kepemimpinan dan tanggung jawab moral, forum juga menyinggung hadirnya regulasi baru dari kementerian terkait pengembangan karier dosen hingga jenjang guru besar. Regulasi tersebut dipandang sebagai bagian dari implementasi kebijakan pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan kualitas jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi.

Melalui forum ini, Dewan Guru Besar UPI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan peran strategis guru besar sebagai motor penggerak kemajuan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, serta penjaga nilai-nilai akademik dan kebangsaan. (Rija/DN)